Share

Bab 40. Harga Dari Sebuah Diam

Penulis: nanadvelyns
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-31 00:01:35

Aroma herbal segar memenuhi ruangan kecil di kediaman pribadi Putri Mahkota.

Rak kayu dipenuhi kantung kain berisi daun kering, akar, dan bunga-bunga yang telah dikeringkan dengan teliti.

Di atas meja panjang, Diana duduk bersila dengan postur tegak, kedua tangannya cekatan memilah daun-daun herbal baru.

Sesekali ia mengangkat satu helai daun ke hidungnya, mengendus perlahan, memastikan aroma dan tingkat kekeringannya.

Sorot matanya fokus dan tenang, seperti seorang tabib yang sedang berada di dunia miliknya sendiri.

Ketukan pintu terdengar.

Tok.

Tok.

Tok.

Diana tidak menoleh.

Ketukan itu terdengar lagi, sedikit lebih ragu, seolah sang pemilik suara sudah tahu bahwa dirinya tidak akan disambut dengan hangat.

Suara pelayan yang beberapa hari terakhir terus datang membawa kabar yang sama akhirnya terdengar dari balik pintu.

“Yang Mulia Putri Mahkota, hamba—”

Belum s
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 55. Riuh Peresmian

    Hari peresmian cabang baru restoran Alon akhirnya tiba, membawa serta hiruk-pikuk yang sejak awal sudah membuat kepala Diana berdenyut. Sejujurnya, sejak pagi Putri Mahkota itu sama sekali tidak memiliki niat untuk datang. Bahkan, jika boleh jujur, ia lebih memilih menghabiskan waktu seharian penuh menggiling tinta di ruangan Arthur daripada harus melihat wajah Alon lagi.Namun niat hanyalah niat.Kenyataan datang dengan cara yang selalu menjengkelkan.“Putri,” lapor Embun dengan napas sedikit tergesa saat memasuki ruangan Diana, “tuan muda Alon sudah lebih dulu berbicara dengan banyak tamu undangan. Katanya… Anda pasti akan datang ke acara peresmian teman kecil Anda.”Diana yang tengah duduk di depan meja rias seketika menghentikan gerakan tangannya. Alisnya berkedut, lalu keningnya berkerut dalam.“Apa yang barusan kau katakan?” suaranya terdengar datar, tetapi Embun sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa itu adala

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 54. Ambisi Di Balik Kanvas

    Di tempat yang berbeda, jauh dari hiruk-pikuk istana Putra Mahkota dan pertikaian sunyi yang dipenuhi sindiran tajam, Harsa duduk dengan tenang di dalam kediaman pribadinya. Ruangan itu berada di sayap timur istana, cukup terpencil, seolah sengaja dipilih agar jauh dari lalu-lalang pejabat dan pengawasan berlebihan. Cahaya sore masuk dari jendela besar yang terbuka setengah, menerpa lantai kayu dan kanvas besar yang berdiri di tengah ruangan.Di hadapan kanvas itu, Harsa memoles lukisan terbarunya dengan penuh konsentrasi. Jemarinya yang ramping memegang kuas dengan mantap, menyapukan warna biru keabu-abuan di sudut langit lukisan. Goresannya halus, penuh perasaan, seolah setiap sapuan kuas adalah napas yang ia hembuskan perlahan untuk menjaga kewarasannya.Lukisan itu menggambarkan hamparan padang rumput luas dengan seorang figur kecil berdiri di tengahnya, membelakangi dunia. Tidak ada mahkota. Tidak ada istana. H

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 53. Kata Yang Terlanjur Terucap

    Kereta kuda berhenti perlahan di halaman Istana Putra Mahkota. Roda kayunya mengeluarkan suara lirih saat gesekan terakhir dengan batu marmer halaman yang luas dan bersih. Para penjaga istana segera berdiri tegak, menundukkan kepala dengan penuh hormat ketika pintu kereta dibuka.Arthur turun lebih dahulu, langkahnya mantap dan terukur seperti biasa. Topeng emas di wajahnya memantulkan cahaya matahari siang dengan dingin. Diana menyusul beberapa detik kemudian, turun dengan gerakan anggun namun jelas tanpa antusiasme. Begitu kakinya menginjak tanah, ia menghela napas kecil, seolah menyadari satu kenyataan yang tak bisa dihindari.Kepulangannya kali ini terlalu cepat. Terlalu… siang.Belum sempat Diana melangkah jauh, seorang pelayan laki-laki mendekat dan membungkuk hormat. “Yang Mulia Putra Mahkota, Yang Mulia Putri Mahkota. Makan siang telah disiapkan.”Arthur mengangguk singkat. “Baik.”Diana ikut mengangguk, tetapi matanya bergeser malas ke arah Arthur. Tidak ada alasan untuk

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 52. Menghancurkan Tangga Kekuasaan

    “Sa—salam, Pangeran dan Putri Mahkota….”Pelayan pribadi Selir Shofia membungkuk dengan canggung, suaranya sedikit bergetar. Jelas sekali ia merasa muncul di waktu yang tidak tepat, terlebih setelah merasakan sisa-sisa ketegangan yang belum sepenuhnya menguap di udara sekitar kereta.Diana terbatuk pelan. Ia dengan cepat merapikan ekspresinya, menarik kembali semua emosi yang barusan hampir tumpah. Dalam sekejap, wajahnya kembali menjadi Putri Mahkota yang anggun dan tenang. Ia menoleh, menatap pelayan itu dengan senyum ramah yang terukur.“Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lembut.Pelayan itu tampak lega. Ia tersenyum kecil, lalu kembali membungkuk. “Yang Mulia Selir menitipkan ucapan terima kasih kepada Anda karena telah menolong Pangeran Keempat hari ini. Serta… permintaan maaf karena tidak mengucapkan terima kasih secara langsung, karena masih harus mendampingi beliau.”Diana mengangguk pelan, gesturnya penuh pengertian.“Beliau juga berpesan,” lanjut pelayan itu hati-hati, “

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 51. Api Kecil di Balik Topeng Emas

    “Yang Mulia?” tanya Diana dengan senyum lembut yang nyaris sempurna. Ia melangkah mendekati Arthur tanpa ragu, lalu melingkarkan tangannya di lengan pria itu seolah tindakan tersebut sudah menjadi kebiasaan yang tak perlu dipertanyakan.Arthur sedikit terkejut.Bukan karena sentuhan itu sendiri, melainkan karena refleks tubuhnya yang hampir menegang. Namun seperti biasa, ia tidak menampilkan reaksi apa pun. Topeng emasnya tetap menyembunyikan ekspresi, sementara matanya justru turun menatap tangan Diana yang melingkar erat di lengannya.“Kalau tahu Yang Mulia ada di sini,” lanjut Diana dengan nada lembut bercampur cemas, keningnya sedikit terlipat dan mata birunya berbinar seolah sedang menatap kekasih sungguhan, “aku akan memilih untuk menunggu lebih lama.”Arthur terbatuk pelan. Ia mengalihkan pandangannya dari Diana dan kini menatap Alon yang berdiri beberapa langkah di depan mereka, memperhatikan interaksi itu dengan raut w

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 50. Jejak yang Tertinggal di Hadapan Kaisar

    “Maafkan aku karena membuatmu menunggu lama, Putri Mahkota.”Suara Kaisar terdengar hangat ketika pria paruh baya itu akhirnya melangkah masuk ke Paviliun Barat. Jubah kebesarannya bergoyang ringan mengikuti langkahnya, sementara wajahnya menunjukkan sisa kelelahan dari majelis pagi yang jelas tidak berjalan sederhana.“Majelis pagi ini berjalan lebih rumit dari biasanya,” lanjut Kaisar sambil duduk di hadapan meja rendah berlapis ukiran emas.Diana tersenyum anggun. Dengan gerakan tenang, ia menuangkan teh ke dalam cangkir porselen emas, aroma daun teh perlahan memenuhi udara paviliun. “Bukan masalah besar, Yang Mulia,” jawabnya lembut. “Sebaliknya, justru saya yang tidak sopan karena mendadak ingin menemui Yang Mulia seperti ini.”Kaisar tertawa pelan, nada suaranya terdengar tulus. “Kau menantuku. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak permintaanmu.” Ia mengangkat cangkir tehnya. “Katakan, apa yang kau inginkan? Apa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status