Share

Bab 67. Teh Aroma Pertikaian

Penulis: nanadvelyns
last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-13 00:02:35

Selir Shofia tengah menyuapi sup jahe dengan penuh kehati-hatian pada Pangeran Keempat yang masih terbaring lemah di ranjangnya.

Uap hangat dari mangkuk sup perlahan mengepul, membawa aroma jahe yang tajam namun menenangkan.

Tangan Selir Shofia tidak gemetar, tetapi matanya jelas memendam kecemasan yang belum sepenuhnya pergi.

Kemerahan di kulit putranya memang sudah jauh mereda.

Ruam-ruam yang sebelumnya tampak mengerikan kini tinggal bekas samar, seolah kulit itu baru saja melewati peperangan panjang.

Namun rasa gatal dan panas yang menusuk masih sering membuat Deon mengerang pelan, terutama saat malam tiba.

“Pelan-pelan, Nak,” ucap Selir Shofia lembut, menyuapkan sesendok kecil sup ke bibir putranya. “Minum ini dulu. Setelahnya kau bisa beristirahat lagi.”

Deon menurut, meski wajahnya sedikit berkerut menahan rasa tidak nyaman. Selir Shofia menatapnya dengan dada terasa sesak. Hatinya masih dipenuhi amarah yang be
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 67. Teh Aroma Pertikaian

    Selir Shofia tengah menyuapi sup jahe dengan penuh kehati-hatian pada Pangeran Keempat yang masih terbaring lemah di ranjangnya. Uap hangat dari mangkuk sup perlahan mengepul, membawa aroma jahe yang tajam namun menenangkan. Tangan Selir Shofia tidak gemetar, tetapi matanya jelas memendam kecemasan yang belum sepenuhnya pergi.Kemerahan di kulit putranya memang sudah jauh mereda. Ruam-ruam yang sebelumnya tampak mengerikan kini tinggal bekas samar, seolah kulit itu baru saja melewati peperangan panjang. Namun rasa gatal dan panas yang menusuk masih sering membuat Deon mengerang pelan, terutama saat malam tiba.“Pelan-pelan, Nak,” ucap Selir Shofia lembut, menyuapkan sesendok kecil sup ke bibir putranya. “Minum ini dulu. Setelahnya kau bisa beristirahat lagi.”Deon menurut, meski wajahnya sedikit berkerut menahan rasa tidak nyaman. Selir Shofia menatapnya dengan dada terasa sesak. Hatinya masih dipenuhi amarah yang be

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 66. Krim Wajah dan Retakan Lama

    Diana mendorong tubuh Arthur dengan satu tangan, tidak keras namun cukup tegas untuk menciptakan jarak. Ia lalu buru-buru berdiri dari duduknya, seolah semakin lama berada di posisi itu akan membuat pikirannya berlari ke arah yang tidak semestinya.“Lukanya sudah selesai aku obati,” katanya cepat sambil merapikan peralatan medis. “Perban akan diganti setiap dua kali sehari. Yang Mulia jangan lupa menggunakan krim wajah sebelum tidur.”Arthur yang melihat sikap Diana jelas menghindari pertanyaannya tidak langsung mengatakan apa pun. Ia hanya mengamati punggung wanita itu sesaat sebelum akhirnya bersuara datar, “Bukankah malam ini kau yang melayaniku?”Diana langsung melotot kaget. Wajahnya memerah dalam sepersekian detik.“Melayani apa? Kita—!”Arthur memotong ucapannya sambil menatap Diana dengan raut jijik yang dibuat-buat. “Hal kotor apa yang kau pikirkan? Jelas kau harus membantuku mengolesi krim wajah. Aku tidak su

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 65. Dua Ego

    “Salam, Putri Mahkota.”Sai yang pertama kali menyadari kedatangan Diana segera membungkuk hormat seperti biasa. Gerakannya tetap rapi dan terlatih, namun kali ini sepasang matanya tak bisa menyembunyikan kebingungan. Tatapannya sekilas terangkat, mencuri pandang ke wajah Diana—raut yang jelas tidak biasa. Terlalu pucat. Terlalu dingin. Terlalu… menekan.Diana berhenti beberapa langkah dari kereta kuda. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari sosok Arthur dan kereta di belakangnya. Tanpa basa-basi, tanpa intonasi bercanda, ia bertanya lugas, “Itu Selir baru Yang Mulia?”Pertanyaan itu jatuh seperti pedang.Sai terbatuk pelan, refleks. Wajahnya langsung berubah. Terkejut, panik, dan seolah rohnya melayang sesaat meninggalkan raga.“Bu—bukan, Putri,” jawabnya tergagap. “Wanita itu adalah—”Belum sempat Sai menyelesaikan kalimatnya, suara wanita yang asing namun nyaring terdengar dari dalam kereta kuda.“Sai! Apa kau mau aku mati di tangan Putra Mahkota? Cepat bantu aku!”Diana terp

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 64. Putra Mahkota Membawa Pulang Wanita!

    Diana membuka dua surat itu satu per satu dengan tenang, meskipun jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia duduk di tepi ranjang kediamannya, cahaya sore menyusup masuk melalui jendela berukir, membuat kertas di tangannya tampak berkilau lembut.Ia membuka surat pertama.Meskipun tidak ada nama pengirim yang tertulis di sana, Diana tahu betul dari mana asalnya. Aroma tinta dan gaya bahasa yang terlalu berhati-hati itu sangat khas.Istana Selir Shofia.Pandangan Diana menyusuri barisan kalimat pendek yang tertulis rapi.“Saya harap setelah hari bakti berakhir, Putri bersedia memenuhi undangan Selir ini untuk meminum teh bersama di Istana.”Hanya satu kalimat. Tidak lebih. Tidak kurang.Namun Diana justru tersenyum tipis, senyum yang perlahan mengembang di bibirnya. Jari-jarinya mengepal lembut di atas kertas itu.“Begitu rupanya…” gumamnya pelan.Undangan itu bukan sekadar ajakan minum teh biasa. Itu adalah sebuah pernyataan sikap. Artinya Selir Shofia telah mengamb

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 63. Daftar Nama dan Jarak yang Mengganggu

    “Apa yang kau lakukan di sini?”Suara Arthur terdengar datar, dingin, dengan kening yang terlipat sedikit. Nada itu cukup untuk membuat para pelayan yang berada di sekitar halaman menunduk lebih dalam, sementara udara pagi yang semula terasa ringan mendadak menegang tanpa alasan yang jelas.Diana yang baru saja menata ekspresi manisnya seketika menoleh ke arah Arthur. Tatapan matanya sempat melirik sekilas ke arah rombongan peti-peti besar yang masih terus diangkut masuk ke dalam istana, lalu kembali menatap pria di hadapannya dengan senyum sopan yang dipaksakan.“Ah… ini…” Diana menunjuk samar ke arah peti-peti itu. “Aku sedang mengawasi bahan herbal serta alat pembuatan obat baru.”Nada suaranya terdengar santai, seolah ia hanya sedang mengawasi pengiriman kain atau perhiasan biasa. Namun sebelum Arthur sempat bereaksi atau melontarkan komentar pedas seperti biasanya, Diana dengan sigap menambahkan kalimat lanjutan,

  • Mendadak Jadi Istri Pangeran Buruk Rupa   Bab 62. Ada Apa Dengan Putra Mahkota?

    Pagi itu, halaman depan Istana Putra Mahkota tampak jauh lebih ramai dibanding hari-hari biasanya. Sejak matahari baru saja naik dan sinarnya menimpa atap-atap bangunan istana, para pelayan sudah lalu-lalang dengan langkah cepat dan wajah penuh konsentrasi. Beberapa di antara mereka memanggul peti-peti besar dari kayu tebal, sementara yang lain membantu membuka jalan atau memberi aba-aba agar barang-barang itu tidak saling berbenturan.Deretan peti besar itu disusun rapi, satu per satu diangkat melewati gerbang utama menuju bagian dalam istana. Dari luar saja sudah terlihat bahwa isinya bukan barang biasa. Kayunya kokoh, diikat kuat dengan tali tebal, dan beberapa peti bahkan diberi tanda khusus berupa kain merah kecil di sudutnya—penanda barang penting yang harus diperlakukan ekstra hati-hati.Diana duduk santai di kursi yang sudah disiapkan pelayan di sisi halaman. Kakinya menyilang anggun, tangannya menopang dagu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status