LOGINAqila, gadis manja yang terpaksa menerima perjodohan dengan seorang CEO tampan-Azka. Awalnya tidak ada cinta di hati Qila, tapi seiring berjalannya waktu, rasa itu mulai tumbuh. Azka, yang menyimpan rasa suka tetap berusaha menutupi. Mereka saling menutupi satu sama lain. Perlakuan Azka yang terkadang membuat Qila merasa sangat kesal, malah membuat gadis itu merasa rindu saat Azka jauh dari dirinya.
View More"Selamat pagi, Aqila. Gimana tidurnya tadi malam?" Azka tidur menyamping menghadapku, sampai embusan napasnya terasa di wajah."Jangan dekat-dekat, napasmu bau," ujarku pelan sambil tetap menutup mata."Bangun. Kamu tidak ingin jalan-jalan?" tanyanya sambil mengerucutkan bibirku dengan tangannya."Azka, jangan ganggu. Aku masih ngantuk," ujarku tetap dengan nada pelan."Baiklah. Aku akan segera mandi dan jalan-jalan di pantai sendirian. Bisa saja banyak bule di sini." Azka berucap sambil melangkah turun dari kasur."Biarin!" tekanku padanya.Meskipun masih dengan mata terpejam, tapi aku sama sekali tidak tidur. Hanya sedang malas saja untuk bangkit. Aku bisa mendengar suara gemericik air di kamar mandi, juga saat Azka mengganti pakaian di kamar."Kamu bener nggak mau ikut aku jalan-jalan?" tanyanya lagi. Wangi parfum suamiku itu menguar di udara."Nggak, ah. Ngantuk," jawabku tanpa membuka mata.
"Azka, kita beneran mau ke Bali?""Menurutmu?""Mana kutahu. Kan, kamu yang bilang sendiri mau ngajakin ke Bali. Gimana sih kamu.""Ciiee ... berharap banget honeymoon ke Bali.""Ck ... ya, udah. Nggak usah ke sana. Aku nggak jadi ikut!""Wah, ngambekan nih?" Azka mencubit gemas hidungku."Sakit, Azka!""Siap-siap sekarang, kita berangkat.""Ke Bali?""Enggak. Ke Bandara.""Iya, tapi mau ke Bali, kan?""Nggak tahu, deh. Liat ntar aja.""Ih, Azka! Suka banget, deh. Sehari aja nggak jahil gimana?""Ntar kamu kangen.""Kepedean!""Emangnya enggak?""Kangen.""Nah? Udahlah, mau ke Bali nggak?""Mau dong.""Aku tunggu di mobil."Akhirnya, hanya dengan sebuah kata ingin ke Bali saja, Azka langsung membawaku ke sana. Keinginan yang selalu aku impikan sedari kecil, baru hari ini tercapai.Benar saja, kami ke Bali menggunak
"Semoga kamu tidak akan mengingat masa lalumu lagi saat di Bali nanti. Tapi, maaf kalau harus ditunda dua hari lagi. Ada keperluan mendadak di perusahaan.""Tidak apa-apa. Aku mengerti. Maaf, Azka. Sebenarnya aku malu menceritakan ini. Tapi, percayalah kalau kehormatanku sebagai wanita masih kujaga sampai saat ini."Tanpa diduga, Azka malah memelukku dengan erat. Ia menciumi pucuk kepalaku dengan lembut berulang kali. Berulang kali pula kata maaf terucap dari bibirnya."Aku sudah berusaha, bahkan mempelajari semuanya. Tapi, bayangan saat orang itu memaksaku membuat aku ketakutan.""Maafkan aku yang selalu memaksakan kehendak. Aku tidak tahu masalahmu sangat berat. Aku tidak tahu dengan trauma yang kamu rasakan selama ini, Qila.""Tidak apa-apa. Ke depannya, aku akan semakin berusaha. Aku akan mencoba menjadi istri yang baik dan sempurna untukmu.""Jangan memaksakan diri. Aku mencintaimu dan menikahimu bukan hanya karena itu. Meski tida
"Bunda, Qila kangen Bunda," lirihku sambil terus mengusap air mata yang mengalir di pipi.Bagaimana caranya aku mengatakan pada Azka tentang trauma masa laluku itu? Aku takut Azka berpikir, ini semua hanya karena aku ingin menghindar darinya.Ya Allah, tolong bantu Qila.Aku terus saja terisak, hingga tanpa sadar sebuah tangan membelai rambutku dengan lembut."Bunda!" seruku dan berbalik."Azka? Sejak kapan kamu di sini?" tanyaku lagi saat melihat Azka sudah duduk di tepi ranjang."Sejak tadi. Aqila, ada apa denganmu? Maafkan aku sudah terlalu memaksamu untuk keinginanku.""Tidak apa-apa. Bukankah wajar seorang suami meminta haknya pada istrinya? Tapi, a-aku bukan ha-hanya tidak siap. Melainkan ...," ucapku terjeda."Melainkan apa?""Azka, maukah kamu mendengar ceritaku? Tapi, aku mohon jangan membenciku setelah ini.""Tidak mungkin aku membencimu, Qila. Ceritakan saja, aku siap
Aku masih duduk di ruang tunggu. Tidak lama, dokter ke luar dari ruangan Ayah. Aku yang spontan berdiri menemui dokter hampir saja terjatuh, kalau saja Azka tidak segera menangkap tubuhku."Hati-hati, Qila. Tetaplah tenang," ujarnya khawatir.Aku mengangguk menatap penuh
"Aqila, aku hanya memintamu melayaniku untuk mengambilkan aku makanan di dapur. Aku lapar, Qila,""A-apa? Makanan?""Hahaha ... jadi, kamu berpikir apa?""A-aku pikir--""Sudah. Ayo, aku temani ke dapur." Azka berdiri, menaruh peci dan melipat sajadah.Ia ke luar lebih
Paginya, aku bangun terlambat. Memang selalu begitu kalau malamnya tidur telalu larut malam. Selepas mandi dan berpakaian, aku ke luar dan berencana ikut membantu bunda menyiapkan sarapan."Pagi, Bunda," sapaku saat melihat bunda tengah membuat teh."Pagi, Sayang. Nyenyak tidu
"Sudah siap, Sayang? Masyaallah, anak Bunda cantik sekali," puji Bunda saat masuk ke kamar.Aku hanya termangu menatap Bunda yang berdiri di ambang pintu, menatap dengan mata penuh takjub. Rasanya baru kemarin aku bercerita pada Bunda soal kegugupan ini, tapi ternyata hari di mana aku












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore