LOGINAnanta Wiriyo terbangun di sebuah kamar hotel dengan laki-laki asing yang tidak dia kenal. Padahal pernikahannya dengan sang tunangan, Alan Samudera akan segera digelar. Suatu ketika, videonya yang sedang menggila di klub malam bocor. Keluarga besarnya marah besar dan rencana pernikahannya pun dibatalkan. Dia diusir dari rumah. Baru saja hidup di luar, Ananta mendapati dirinya hamil. Beberapa tahun berlalu, dia bertemu kembali dengan sang pria asing yang telah menghabiskan malam mendebarkan dengannya di masa lalu. Dia adalah Mikael Alexander yang merupakan klien spesial yang diminta oleh bos Ananta untuk dilayani. Lalu, apa yang akan dilakukan oleh Ananta?
View MoreJULIAN
The cold was a living, breathing entity. It burned the back of my throat with every ragged pull of oxygen, settling deep into my lungs sharp and cold. Ten seconds. The scoreboard suspended high above the center ice glared down in unforgiving crimson. My university team, the Falcons, trailed by one agonizing point. The roar of the packed arena was a deafening tidal wave, but I tuned it out. I had to. Discipline was my religion; the ice was my church. Here, beneath the blinding halogen lights, there was no room for emotion. There was only the objective. But the objective was currently being guarded by the devil himself. Kael Sterling. Even through the scuffed plexiglass visor of my helmet, Kael’s dark, mocking eyes found mine. He wore the black and silver jersey of the Vipers, our bitter rivals, but he wore it like a king draped in armor. He was arrogance incarnate, a volatile, explosive star player who treated the rink like his personal hunting ground. He was everything I despised: reckless, undisciplined, and infuriatingly talented. The referee blew the whistle for the final face-off. I crouched, my gloved hands tightening around the composite shaft of my stick. My thighs burned. My focus narrowed to the small black disc resting on the scarred ice. The puck dropped. I lunged, my reflexes razor-sharp, but Kael was already there. It wasn’t a play for the puck; it was a play for destruction. Kael’s shoulder dropped, and he drove straight into my chest. The hit sent me stumbling back, my skates slipping on the ice. I crashed into the boards hard. The impact rang through me, sharp enough to blur my vision for a second. I tasted blood, sharp and metallic, as I fought to stay upright. Through the dizzying haze, I watched Kael steal the puck, spin with effortless, mocking grace, and send it flying down the ice just as the final buzzer screamed. The game was over. The Vipers had won. I leaned heavily against the boards, my chest heaving, my jaw set so tight my teeth ached. I refused to show weakness. I was the captain of the Falcons. I had an NHL scout sitting in section 104 to impress, a team to lead, and a future to secure. I pushed myself off the fiberglass, my eyes catching Kael’s one last time. He was celebrating with his team, but his gaze was locked on me, thar infuriating smirk curving his lips. I turned away. The hatred I felt for Kael Sterling cemented deep in my chest. An hour later, the visitors’ locker room was completely empty, save for me. The rest of the team had already shuffled out to the bus, heads hung low in defeat. I had stayed behind, letting the scalding water of the showers beat down on my bruised muscles until the tank ran cold. I sat on the wooden bench, fully dressed in my dark jeans and a plain grey hoodie, methodically taping my hockey stick. It was a grounding exercise. A way to restore the perfect, controlled order I demanded of myself. "You always were a sore loser, Vance." My hands stopped. The tape tore with a sharp rip. I didn't need to look up to know who was standing in the doorway. The scent of wintergreen, sweat, and expensive cologne preceded him. I slowly raised my head. Kael was leaning casually against the metal doorframe, dressed in a tailored black leather jacket that emphasized the broad, muscular line of his shoulders. His dark hair was still damp from the showers, falling messily over his forehead. "This is a restricted area, Sterling," I said, my voice flat, betraying none of the adrenaline suddenly spiking in my veins. "You should leave.." Kael pushed off the frame, stepping into the room with a slow, deliberate swagger. The space instantly felt too small. "Or what, Captain? You'll call a penalty on me? The game's over. And you lost. Again." I stood up, my six-foot-two frame matching his, inch for inch. I closed the distance between us, my posture rigid, my hands curled into tight fists at my sides. "You played like a street thug. You have absolutely no respect for the sport, no respect for the ice." "And you played like a robot, Julian," Kael shot back. "You’re so obsessed with your perfect little rules and your perfect little captain badge that you forgot how to actually play. You don't have a pulse." He added, closing the final few inches between us. He was so close I could feel the heat coming off him. "Don't come any closer," I warned, my voice dropping to a dangerous baritone. Kael’s eyes darkened, dropping for a split second to my mouth before snapping back to my eyes. The tension between us tightened, sharp and charged. It had always been like this. For three years, our rivalry had been a violent, bitter clash of opposites. But beneath the hatred, buried under layers of discipline, was something darker that I refused to name. "I'll do whatever I want," Kael murmured, his voice losing its mocking edge, turning low and rough. He reached out, his large, calloused fingers gripping the strings of my hoodie. He didn't pull, but the contact was enough to make my breath hitch. "You think you're untouchable. I think you're just terrified." "I'm not terrified of anything, let alone you," I sneered, swatting Kael’s hand away with entirely too much force. Kael let out a dark, breathless laugh. "Prove it. I'm proposing a bet." My eyes narrowed. "I don't make bets with the likes of you." "Scared much?" Kael taunted. "The regional finals are in exactly one month. Both our teams will be there. If you win the MVP title, I'll hand you the draft spot on a silver platter." I froze. A guaranteed spot. It was everything I had worked for. It was the financial security my mother desperately needed. "And if you win?" Kael’s gaze turned heavy, his smirk fading into something more intent. "If I win, you do whatever I say. No rules. No perfect captain facade. You submit to me." The words hit me hard, leaving me momentarily breathless. My heart pounded fast against my chest. It was a sick, twisted proposition. It violated every boundary, every rule I had ever set for myself. It meant agreeing to whatever Kael would come up with. But I was a Vance afterall. And my pride was a fatal flaw. "You're on," I spat, my voice cold. "Be sure to keep to your word, Sterling." "We'll see," Kael whispered. He took a step back, his eyes lingering on my chest before he turned and disappeared into the darkened corridor. I stood alone in the locker room for a long time, my hands trembling slightly, my skin still warm where Kael’s gaze had lingered.Justin pun segera menjelaskan lebih lanjut perihal cara menelepon Alan Samudera. Keesokan harinya, di hadapan sama orang, kecuali putranya, Sean, Ananta melakukan sebuah panggilan pada Alan. Terlihat Mikael awalnya tidak suka melihat istrinya menelepon mantan pacarnya dulu tetapi dia tidak bisa memprotesnya. "Alan, ini aku ... maaf, aku harus melakukan ini," kata Ananta mengawali panggilan itu. Tentu saja dalam layar itu Alan terlihat begitu sangat terkejut. Tetapi, laki-laki itu malah langsung bertanya, "Vina. Bagaimana keadaan Vina, Nanta?" Anehnya wajah laki-laki itu terlihat begitu sangat sedih sehingga Ananta cepat-cepat menceritakan masalah tentang Vina. Betapa terkejutnya pria itu kalau mendengar kondisi mantan istrinya itu, tanpa menunda-nunda lagi dia berkata, "Aku akan segera pergi ke Indonesia dan menjenguk dia." Tak disangka-sangka oleh keluarga Wiriyo, Alan Samudera tampak tak menghindar dari mereka dan bahkan telah memutuskan untuk membantu mereka. "Aku tidak meny
Ananta memejamkan matanya seolah mencoba untuk tetap kuat. Dia tak boleh terlihat lemah di depan suaminya itu, meskipun kenyataannya dia saat ini memang sedang melemah.Wanita itu tak membalas sepatah kata pun perkataan suaminya hingga kemudian Mikael Alexander menghentikan ucapannya sendiri. Dia tak lagi melanjutkan perkataan kejamnya.Ketika dia melihat istrinya sedang menutup matanya dan bahkan dia bisa melihat bagaimana tubuh Ananta sedikit bergetar karena mendengarkan perkataannya itu, Mikael segera mundur ke belakang dan memegang kepalanya dengan rasa frustrasi yang sangat mengganggunya."Astaga, apa yang sudah aku lakukan?" gumam Mikael yang kini menatap istrinya dengan penuh penyesalan.Ananta bahkan belum berani membuka mata sehingga Mikael kini kembali melangkah ke depan lalu mendekati istrinya dengan perlahan. Dia ingin merengkuh istri tercintanya itu dan menenangkannya."Sayang, maafkan aku. Aku-""Tidak apa-apa," ucap Ananta yang langsung mundur ke belakang setelah dia ta
"Begini, Madam. Kami bisa membantu Anda dengan membuat sebuah tawaran kerjasama dengan perusahaan beliau," kata Justin.Ananta segera mengerutkan keningnya, "Maksud Anda? Anda berniat untuk menawarkan sebuah kerjasama palsu pada Alan?"Justin berdeham kecil saat idenya itu dikatakan demikian, tetapi dia tidak memiliki hak untuk tersinggung karena memang sebutan itu memang tepat."Ini demi menjaga kerahasiaan tujuan Anda, Madam," ucap Justin dengan nada yang terdengar sedikit agak malu.Sebagai seorang detektif, sudah menggunakan berbagai cara dan bahkan dengan cara yang kotor sekalipun untuk menuntaskan kasus-kasusnya.Tidak sekali hanya dua kali dia kerap melakukan sebuah tipu daya agar dia bisa menjebak orang yang dia incar. Akan tetapi, baru sekarang ini dia merasa begitu sangat malu dan tidak nyaman setelah mendengar ucapan dari Ananta Alexander.Dia tidak mengerti. Yang dia ketahui pendapat wanita itu seakan langsung mudah membuatnya goyah.Ada apa denganmu sebenarnya, Justin? Ka
"Luar negeri. Aku yakin dia tidak mungkin berada di Indonesia. Jadi, memang satu-satunya tebakan yang mungkin paling benar adalah dia berada di luar negeri selama ini," kata Alma. "Itu masuk akal. Kalau hanya di dalam negeri tak mungkin informan kita sampai tak berhasil melacak keberadaannya walaupun hanya sedikit," kata Johan. Belinda menganggukkan kepalanya setelah dia memahami semua itu. "Kalau begitu detektif swasta yang disewa oleh Ananta sangatlah bagus karena mereka bisa menemukan keberadaan Alan hanya dalam waktu yang cukup singkat." Sementara itu Ananta yang masih di tengah jalan mengemudikan mobilnya dengan tidak sabar. Dia ingin segera mengetahui informasi tentang Alan dan ingin melakukan apa yang dia inginkan. Begitu sampai di kantor detektif swasta tersebut yang tak terlalu jauh dari rumahnya atau hanya sekitar 15 menit perjalanan menggunakan mobil tanpa kemacetan, Ananta melihat Vincent yang sedang duduk di depan seolah sedang bersantai. Vincent segera berdiri ketik
Sebuah gurat keheranan pasti terbentuk di dahi Mikael.Tak biasanya putranya tidur dengan istrinya seperti itu kecuali di saat-saat tertentu, sebagai contoh ketika putranya sedang begitu sangat merindukan ibunya.Namun, Mikael yang kelelahan tidak mau berpikir panjang sehingga dia segera meletakkan be
Kelly membelalakkan matanya ketika mendengar saran Justin tersebut.Sungguh reaksi Justin di luar dugaannya.Gadis muda itu menatap Justin dengan penuh kekecewaan, "Justin, aku tahu aku telah berbuat salah kepadamu dan aku pun juga sudah meminta maaf kepadamu. Mengapa kamu tidak mau memaafkan aku dan
Ananta terdiam selama beberapa saat dan dia pun juga paham bila apa yang dikatakan oleh Haruka memang benar. Jenniver memang tak pernah sekalipun mendengarkan percakapan antara Mikael dan wanita itu. Dia hanya pernah melihat keduanya bertemu dan kemudian makan bersama. Hanya sebatas itu karena dia p
"Kenapa Papa terlihat merasa aneh ketika mendengar mama sedang membeli baju?" Akhirnya pertanyaan itu diungkapkan oleh Sean pada papanya.Mikael sontak berkata, "Maksud Papa, mamamu kan jarang keluar rumah. Kalau pun dia keluar rumah, selalu dengan Papa, Nak.""Oh, begitu. Anggap saja mama ingin mengh












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore