MasukDemi memastikan kebenaran, Rafa tak kembali ke kontrakannya yang sempit. Ia membelokkan motornya menuju ke arah jalanan perumahan mewah miliknya.Motor Rafa terparkir di pelataran sebuah hunian megah. Rumah mewah berpagar tinggi itu sudah cukup lama tidak ia tinggali sejak ia memutuskan menyamar sebagai rakyat biasa demi menuntaskan janjinya pada Liam.Langkahnya yang tergesa-gesa memicu derap sepatu yang bergema di atas lantai."Tuan Rafa?!"Diba terperanjat kaget dari balik pintu utama. Matanya berbinar gembira melihat kepulangan sang majikan. "Tuan akhirnya pulang! Saya kaget banget. Tuan sudah mau tinggal di rumah lagi? Saya siapkan kamar dan makan malam, ya?"Namun, Rafa tidak menggubris sama sekali sambutan itu. Pandangannya lurus, memancarkan raut emosi yang campur aduk. Tanpa mengeluarakan sepatah kata pun, ia melewati Diba begitu saja dan melangkah cepat menuju tangga lantai dua, meninggalkan Diba yang berdiri mematung penuh tanda tanya.Rafa berhenti di depan sebuah pin
"Anggap aja aku sebagai kakakmu, Dika. Kebetulan, aku nggak punya saudara karena aku anak tunggal."Dika terkekeh pelan seraya mengacungkan jempolnya. "Siap."Kemudian Dika ingat jika belum menyuguhkan apapun pada Rafa. "Bentar ya, Mas Rafa. Aku buatkan teh manis dulu buat Mas Rafa. Nggak enak banget tamu jauh-jauh datang cuma disuguhin angin.""Eh, nggak usah! Duduk aja, kamu kan masih lemas," tolak Rafa. "Aku ke sini mau jenguk kamu, bukan mau bertamu. Lagian aku juga nggak haus-haus amat.""Jangan gitu," tolak Dika terkekeh pelan. Ia memaksakan diri berdiri dan melangkah pelan menuju dapur kecil di sudut ruangan. "Mama dulu selalu ngajarin, sesederhana apa pun rumah kita, tamu yang datang dengan niat baik harus dilayani dengan baik. Apalagi Mas Rafa udah bela-belain bawain bubur sama obat."Mendengar Dika membawa-bawa ajaran almarhumah ibunya, Rafa tak tega untuk menolak lagi. Ia menghela napas pasrah seraya tersenyum tipis, membiarkan Dika membuatkan minuman.Sambil menunggu, R
Selesai jam kerja, Rafa langsung memacu motornya menyusuri jalanan yang mulai padat oleh kendaraan pulang kantor. Mengikuti petunjuk alamat dari Pak Agus, ia mengarahkan kendaraannya menuju area pemukiman padat penduduk di pinggiran kota.Begitu sampai di gang yang dituju, jalanan berubah menjadi lorong-lorong sempit yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Kanan dan kirinya diapit oleh dinding-dinding rumah yang saling berdempetan, serta jemuran warga yang melintang di atas kepala.Rafa memelankan laju motornya, matanya bergerak teliti memperhatikan nomor-nomor rumah yang tak berurutan. Karena kebingungan melewati gang yang berbelok-belok, ia akhirnya memutuskan berhenti di depan sebuah warung kelontong kecil."Permisi, Ibu," sapanya ramah dari atas motornya. "Mau tanya, kalau rumah Mas Dika Arfian sebelah mana, ya?"Seorang ibu bertubuh gempal yang sedang menata barang dagangan mendongak. "Oh, Dika anak almarhumah Mbak Rini? Mas terus aja sampai ketemu pertigaan pohon mangga,
"Aku nggak sedang bikin kekacauan, Dewi. Aku cuma ingin menunjukkan ketulusanku," sahut Rafa."Ketulusan macam apa sampai harus bawa-bawa barang mahal begini?!" tegur Dewi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia merasa tertekan oleh situasi ini, terlebih di hadapan Budhe dan Pakdhenya yang kini menatap mereka dengan penuh rasa ingin tahu dan kecurigaan. "Kamu itu cuma bikin rumit semuanya, Rafa! Aku sudah bilang kemarin, kita udah nggak ada hubungan apa-apa lagi!"Joko yang sejak tadi diam memperhatikan fisik ayam jantan di keranjang, akhirnya berdehem untuk menengahi perdebatan."Sudah, sudah! Jangan ribut di depan rumah, nggak enak dilihat tetangga!" bentaknya seraya melambaikan tangan. Sorot matanya berpaling ke arah Rafa, lalu ke arah keranjang ayam di atas meja. "Rafa, kalau kamu emang bukan maling dan punya niat baik, buktikan lewat kelakuanmu, bukan cuma bawa barang-barang begini."Lina dengan cepat menyambar kotak merah berisikan gelang emas itu sebelum ada yang sempat me
Malam harinya, Rafa langsung mendatangi rumah keluarga Dewi. Ia menyusuri gang kompleks hingga berhenti di depan sebuah rumah milik Pak Joko.Dari dalam, terdengar suara TV yang menyala pelan. Rafa bersyukur dalam hati saat menyadari motor matic Dewi tidak ada di halaman. Sepertinya wanita itu masih menyelesaikan shift malam di toko tempatnya bekerja. Ini saat yang tepat untuk bicara langsung dengan Pak Joko dan Bu Lina.Rafa mengetuk pintu dengan pelan. "Permisi... Assalamu’alaikum."Tak lama kemudian, pintu terbuka. Joko keluar dengan sarung yang terikat di pinggang, namun wajahnya seketika berubah kaku begitu melihat siapa yang berdiri di ambang pintu."Mau ngapain kamu ke sini?!" Suara melengking Lina langsung terdengar dari arah dalam.Wanita bertubuh gempal itu muncul di belakang suaminya dengan berkacak pinggang, menatap Rafa seperti hendak menelannya bulat-bulat."Mas, usir orang ini! Nggak sudi aku kalau rumah kita dikotorin sama dia!""Pergi kamu, Rafa! Sebelum saya pan
Begitu jam kerja usai dan ganti pakaian, Rafa segera pulang. Matanya berbinar saat melihat sosok anak laki-laki kecil berkaos biru sedang asyik menendang bola bersama teman-temannya di lapangan dekat kompleks.Rafa memarkir motornya di pinggir jalan lalu melangkah mendekati lapangan. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak mainan mobil-mobilan remote control yang sengaja ia beli tadi saat dalam perjalanan."Rafi!" panggil Rafa, mengulas senyum hangat.Bocah kecil itu menghentikan jalannya bola lalu menoleh. "Om Rafa!" serunya dengan polosnya, berlari kecil mendekati Rafa sementara teman-temannya tetap bermain."Lagi main bola, ya?" tanya Rafa seraya berlutut agar tingginya sejajar dengan sang putra. Hatinya bergetar saat menyadari wajah mungil Rafi yang ternyata sangat mirip dengannya itu. "Nih, Om punya sesuatu buat Rafi."Mata Rafi seketika berbinar gembira. "Wah, mobil-mobilan! Buat Rafi, Om?""Iya, buat Rafi—""RAFI! NGAPAIN KAMU DI SITU?!"Sebuah suara melengking mendadak
Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke a
Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil
Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak
Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.







