Share

Mendadak Miskin
Mendadak Miskin
Author: Gilva Afnida

Ide Gila

Author: Gilva Afnida
last update publish date: 2022-04-16 11:33:59

Suara tawa terdengar menggema di ruang santai milik pria berambut coklat bernama Liam. Tangannya menepuk keras bahu kawannya yang bernama Rafa-duduk di sampingnya. Rafa tak menggubris Liam yang masih tertawa bahagia di atas penderitaannya. Wajahnya masih bertekuk masam sambil memandang malas ke arah TV yang masih menampilkan acara pacuan kuda.

"Kau sudah janji padaku, Rafa. Esok aku ingin kau sudah menjadi gelandangan di jalanan," ujar Liam.

"Berisik!" jawabnya sambil beralih dari tempatnya duduk.

"Eh! Mau kemana?" Liam membuntuti kawannya yang enggan untuk menjawab.

Ternyata Rafa hanya menuju ke arah dapur, mengambil soda kaleng dingin yang berada di dalam kulkas dan meminumnya, berharap dapat mendinginkan kepala dan hatinya yang mulai panas. "Bagaimana kalau hukumannya ku ganti dengan saham perusahaan 10%? Bukankah itu terdengar lebih menggiurkan?"

Liam menyilangkan kedua tangan di depan dada. Tubuhnya menyender di kulkas besar miliknya sambil menatap Rafa dengan tatapan mengejek. "Kenapa diganti? Takut?"

"Apa? Tidak mungkin! Seorang Rafa dikatakan takut hanya karena menjalankan hukumannya? Cuih." Rafa membuat gerakan ludah ke lantai.

"Terus, kenapa minta diganti?"

"Realistis saja, Liam. Kalau aku menjadi gelandangan, siapa yang akan mengurus perusahaan, hah?"

"Itu mudah. Aku akan memberikan satu drama menarik untukmu. Kau umumkan pada orang-orang bahwa aku telah berkhianat merebut perusahaanmu, lalu kau dapat melihat siapa kawan dan siapa lawan."

Ucapan Liam membuat Rafa tersedak soda yang sedang ditenggaknya hingga terbatuk-batuk. "Kau gila?"

"Ya! Aku memang gila. Gila karena berkali-kali aku memberitahu betapa busuknya istri yang kau banggakan itu, tapi nyatanya otak udangmu itu telah dipenuhi oleh cinta buta."

Amarah mulai membuncah dalam dada. Dia tak terima istrinya yang paling cantik dan ia banggakan di fitnah oleh Liam. "Sialan kau, Liam! Pekerjaan Pevita adalah selebgram dan model papan atas! Jadi sudah sewajarnya jika ia dekat dengan pria-pria lain di luar sana."

Liam mendengus tak percaya. "Dan kau percaya padanya setelah kau sudah mengetahui itu semua?"

"Ya! Aku percaya, karena hubungan mereka tidak lebih dari rekan kerja." Rafa lebih percaya dengan istri yang sangat disayanginya.

Liam sekali lagi tertawa, lalu menatap Rafa dengan tatapan mengejek. "Bagaimana kalau hubungan mereka lebih dari sekedar rekan kerja?"

Ucapan Liam membuat Rafa tertohok. Tapi secepat mungkin ia menepis segala perasaan buruk tentang Pevita. "Gak mungkin! Pevita adalah wanita yang baik."

"Lakukan saja hukumanmu, Rafa. Jika Pevita memang tidak sebusuk yang kau kira, maka aku berjanji tidak akan pernah ikut campur dengan segala permasalahan asmaramu lagi," tukas Liam membuat negosiasi. Bagaimanapun caranya, dia harus membuat Rafa tersadar dari cinta buta yang mampu menenggelamkan hidupnya.

"Oke!" Rafa membuang kaleng bekas soda yang sudah habis isinya ke dalam sampah. Lalu beranjak dari apartemen Liam dengan menyambar kasar jaket denimnya.

Liam hanya menghela napas panjang ketika sudah melihat supercar ferrari California milik Rafa dari balik jendela kaca besar apartemennya, pergi menjauh. Dia masih teringat ucapan ibu angkat sekaligus ibu kandung Rafa yang memintanya untuk menjaga Rafa setelah kepergiannya. "Mama tahu kalau permintaan mama terlalu berat untukmu, Liam. Tapi mama yakin kalau kau pasti bisa melakukannya. Hanya satu hal yang mama minta darimu, tolong jaga Rafa layaknya saudara kandungmu dari segala hal bahaya. Bukan dari bahaya rampok ataupun kemalingan, tapi dari bahaya kecerobohan dan kebodohan yang selalu dilakukan tanpa disadarinya."

Pria berkulit kuning langsat, berusia 33 tahun itu memang jauh lebih dewasa di banding Rafa meskipun usia mereka sama. Tumbuh bersama selama belasan tahun membuat Liam mengerti, bahwa uang dan kekuasaan dapat membutakan segalanya. Rafa memang pria yang pandai berbisnis dan mempunyai hoki di dalamnya. Tapi tidak dengan lingkungan yang penuh toxic di sekitarnya. Liam merasa harus membuka paksa mata bodoh Rafa yang tidak bisa melihat jelas siapa kawan dan siapa lawan yang sebenarnya.

***

Sesampainya di penthouse mewah dua lantai, Rafa mendengus kesal ketika hanya mendapati seorang asisten pribadi bernama Diba yang sudah melayaninya sejak kecil. Diba sendiri terheran mendapati majikannya yang pulang jam 9 malam. Biasanya, majikannya itu akan pulang tengah malam atau bahkan jam 1 atau 2 dini hari.

"Kemana Pevita?" tanya Rafa ketika dia berjalan melewati anak tangga. Diba berada di belakang membuntutinya.

"Nyonya masih belum pulang, Tuan." Pandangan Diba menunduk. Enggan menunjukkan wajahnya di depan Rafa yang tengah menoleh ke arahnya.

Rafa mendengus kesal. "Apa biasanya dia memang pulang selarut ini?"

"Benar, Tuan."

"Kenapa tidak ada yang memberitahuku?"

"Karena Nyonya yang menginginkannya, Tuan." Meskipun Diba takut pada kemarahan Pevita, tapi dirinya lebih takut melihat kemurkaan majikan yang berada dihadapannya itu.

Wajah Rafa menggelap setelah mendengarnya. "Baiklah, siapkan air hangat untukku. Aku akan mandi," titahnya pada Diba.

Tepat ketika tengah malam. Pevita terlihat datang dengan jalan sempoyongan di bawah penerangan yang remang-remang. Lampu ruang tengah memang dimatikan karena sudah tak ada orang yang beraktivitas, namun samar-samar Rafa yang tengah duduk si sofa ruang tengah dapat melihat bahwa yang tengah berjalan adalah sang istri.

Ketika langkah Pevita akan menaiki anak tangga, mendadak langkahnya terhenti karena lengannya di cekal oleh tangan berotot.

"Kenapa baru pulang jam segini? Darimana saja, hah?"

Pevita memicingkan mata untuk menelusuri siapa gerangan yang beraninya menanyai dirinya dengan nada tinggi. "Oh! Rafa? Kau sudah pulang?"

Tercium bau alkohol yang begitu menyengat, membuat kening Rafa mengernyit. "Bau apa ini? Kau mabuk?"

Pevita tak menghiraukan pertanyaan Rafa. "Lepasin, Rafa! Aku mau masuk kamar dulu, aku udah ngantuk."

Rafa membuntuti Pevita yang masih jalan sempoyongan ketika lanjut menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar, Pevita langsung menghamburkan diri di atas ranjang tanpa melepas sepatu dan mengganti pakaiannya.

"Vita! Mandi dulu! Badanmu bau alkohol!" titah Rafa pada istrinya.

Pevita hanya menggeliatkan badan dan bergumam tak jelas.

"Pevita!"

Kali ini Rafa tak sabar. Dia menyalakan lampu kamar dan membalikkan istri badannya untuk membangunkannya. Namun betapa terkejutnya ia melihat banyak bekas cupang yang menghiasi leher dan dada istrinya.

"Ini... siapa yang melakukannya, Vita!" teriak Rafa. Wajahnya terlihat murka.

Pevita terduduk dengan mata tertutup. Dia mengacak rambutnya kasar. "Ah, kau berisik, Rafa! Kenapa menanyakan hal yang biasanya tidak kau tanyakan?" tanyanya tanpa dosa. Lalu berlalu melewati Rafa untuk menuju ke kamar mandi.

Rafa mengacak rambutnya frustasi. Sial! Hal yang biasa katanya?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Miskin   45. Ending

    ​"Saya punya ucapan terima kasih kecil buat Budhe dan Pakdhe," sambung Rafa.​Ia menoleh ke arah Dika yang sigap melangkah mendekat seraya menyerahkan sebuah folder dokumen berstempel emas.​"Sebagai rasa terima kasih saya," tutur Rafa seraya menyerahkan dokumen itu ke tangan Joko, "Saya sudah menyiapkan satu unit rumah dua lantai beserta tanahnya di kawasan perumahan elite tak jauh dari kediaman utama kita. Seluruh balik nama atas nama Budhe Lina dan Pakdhe Joko."​Joko dan Lina seketika melongo. Mulut Lina menganga lebar, matanya membelalak tak percaya.​"G-Gusti Allah... R-rumah elite?!" pekik Lina parau, tangannya gemetar memegang dokumen tersebut.​"Bukan cuma itu, Budhe," potong Rafa seraya tersenyum hangat. "Saya tahu Pakdhe Joko dari dulu punya impian ingin membuka usaha kuliner sendiri. Saya sudah membelikan satu ruko dua lantai di pusat kota dengan modal usaha dan tim manajemen awal. Jadi Pakdhe tinggal mengelola restoran tanpa perlu pusing memikirkan modal."​Joko hampir me

  • Mendadak Miskin   44. Hutang Budi

    ​Napas Starla tersengal. Rasa cemas, takut, dan tertekan yang sempat menghimpit mendadak menguap. Rafa bukan hanya menyelamatkan nama baik keluarga dan perusahaannya, tetapi juga memberi penghormatan pada martabatnya sebagai seorang pebisnis.​Starla menghembuskan napas panjang. ​"Terima kasih, Pak Rafa... Mulai hari ini, Berlian Group dan seluruh pengaruh yang saya miliki... sepenuhnya berada di pihak Anda."​Rafa menyunggingkan senyum tipis, lalu mengulurkan tangannya. "Selamat bergabung dalam aliansi baru kita, Bu Starla."​Starla menjabat tangan Rafa dengan tersenyum. "Saya akan meminta tim hukum saya menyiapkan draf perjanjian kerja sama resmi malam ini juga, Pak Rafa. Persoalan likuiditas dan penanganan sepupu saya... saya akan serahkan detailnya pada tim Anda."​"Liam yang akan mengawal semuanya secara langsung," sahut Rafa. "Anda tidak perlu khawatir, Bu Starla. Nama baik keluarga Berlian dan stabilitas perusahaan Anda berada di tangan yang aman."​"Terima kasih... sungguh, te

  • Mendadak Miskin   43. Pertemuan dengan Starla (2)

    ​Rafa menyunggingkan senyum. "Selamat sore, Bu Starla. Terima kasih sudah meluangkan waktu di tengah kesibukan Anda," balasnya tak memedulikan sindiran Starla.​"Saya rasa kita tidak perlu berbelit-belit, Pak Rafa," ujar Starla. "Kalau tujuan Anda mengundang saya ke sini adalah untuk membicarakan tawaran kerja sama seperti sebelum-sebelumnya, jawaban saya masih sama. Perusahaan saya tidak tertarik untuk bersekutu dengan perusahaan Anda."​"Saya menghargai ketegasan Anda, Bu Starla," balas Rafa dengan tenang. "Dan saya tahu kenapa Anda selalu menolak proposal kami. Xavier memang culas dan cara berbisnisnya sangat merugikan. Tapi... bagaimana jika saya katakan bahwa alasan kedatangan saya hari ini bukan untuk meminta kerja sama, melainkan untuk memberikan pertolongan?"​Starla tertawa kecil. "Pertolongan? Pertolongan seperti apa, Pak Rafa? Perusahaan kami sangat stabil dan mandiri."​Rafa memberi isyarat pada Liam. Dengan sigap, Liam menggeser map kulit hitam itu ke hadapan Starla.​"Si

  • Mendadak Miskin   42. Pertemuan dengan Starla

    Rafa kali ini mendengus sinis. ​"Kesempatan? Kamu nggak pernah menyesal atas apa yang kamu perbuat padaku, Pevita. Kamu cuma menyesal karena pria yang kamu anggap miskin ini ternyata masih memegang kekuasaan."​"Nggak, Rafa! Nggak gitu!" racau Pevita histeris, air matanya meleleh merusak riasan tebal di wajahnya. "Aku beneran nyesel! Aku masih cinta sama kamu, Rafa!"​"Sudah terlambat," potong Rafa dingin. "Penyesalanmu nggak ada artinya lagi. Di hatiku, cuma ada Dewi dan Rafi. Dan mereka adalah alasan aku berdiri di sini hari ini."​Rafa memalingkan wajahnya, lalu menatap dua petugas keamanan gedung yang berdiri tak jauh dari pintu utama.​"Satpam, tolong kondisikan area lobi. Pastikan orang-orang yang tidak berkepentingan tidak mengganggu ketertiban gedung ini."​"Baik, Pak Rafa!" sahut kedua satpam itu sigap.Mereka segera melangkah mendekati Pevita dan memegangi kedua lengannya.​"Rafa, tolong! Rafa! Dengerin aku dulu, Rafa!" jerit Pevita seraya diseret keluar dari gedung.Usai Pe

  • Mendadak Miskin   41. Pevita memohon kembali

    Usai mengakhiri pidatonya, Rafa turun dari podium. Di sampingnya, Liam dan Dika berjalan mengawal.​Namun, saat Rafa baru saja melewati pintu kaca otomatis menuju area lobi luar, langkahnya mendadak terhenti saat melihat wajah yang amat ia kenali.​"Rafa?! Sedang apa kamu di sini?"​Seorang wanita dengan gaun merah mencolok dan kacamata hitam besar melangkah masuk dengan gaya menantang. Sudah lama Rafa tidak melihat Pevita. Wanita masih terlihat angkuh, berjalan meliuk dengan tas bermerek di lengannya, serta melempar pandangan jijik dari ujung kaki hingga ujung kepala Rafa.​"Coba lihat... penampilanmu sok rapi begitu," cibir Pevita seraya bersedekap dada, terkekeh geli. "Kenapa? Kamu dipecat dari petugas cleaning service sampai harus pinjam jas murahan begitu buat melamar pekerjaan lain?"​Liam yang berdiri di belakang Rafa mengepalkan tangannya, hendak maju. Namun, Rafa menahannya dengan mengangkat satu tangan, memberi isyarat agar sahabatnya tetap tenang.​"Ada keperluan apa kamu k

  • Mendadak Miskin   40. Kembalinya Rafa

    Dika menatap Xavier lurus-lurus, lalu menyunggingkan senyum tenang. "Saya di sini bukan untuk mengacau, Pak Xavier. Saya cuma membukakan pintu untuk pimpinan tertinggi yang sebenarnya."​Sebelum Xavier sempat memaki lagi, Rafa melangkah masuk ke dalam ruangan.​Keheningan seketika mencengkeram seluruh isi ruangan. Beberapa komisaris spontan berdiri dari kursi mereka dengan mata membelalak tak percaya.​Xavier membeku di tempatnya, wajahnya memucat saat matanya bertabrakan langsung dengan tatapan tajam nan mengintimidasi milik Rafa.​Rafa?!" gagap Xavier, suaranya bergetar. "Kenapa... kenapa kamu—"​"Kenapa saya ada di sini dengan jas ini, Xavier?" potong Rafa dengan suara dingin. Ia berjalan santai menuju ujung meja, tepat bertatap muka dengan Xavier.​Rafa melempar map kulit di tangannya hingga mendarat keras di hadapan Xavier.​"Permainan penyamaranku sudah selesai," bisik Rafa tajam, membuat napas Xavier tercekat seketika. "Dan hari ini, riwayatmu di perusahaan ini resmi berakhir."

  • Mendadak Miskin   Bertemu dengan Dewi

    Hari ini adalah hari kedua Rafa akan menjalani tugasnya sebagai Cleaning Service. Tidak ada semangat seperti kemarin, karena seharian nanti, dia akan berada di wc lantai 2 dan 3. Ketika dia sudah bersiap berdiri di depan pintu luar dengan mengenakan seragamnya, tiba-tiba ada bola kecil

  • Mendadak Miskin   Lina si Tubuh Gempal

    Suara dentingan sendok beserta garpu yang beradu dengan piring terdengar di seluruh ruangan kantin. Riuh ramah orang berbincang pun nampak berpadu apik dengan suara dentingan sendok tersebut. Berbeda dengan para staf dan karyawan yang menyantap makan siang dengan para kawannya, Rafa menyantap mak

  • Mendadak Miskin   Cleaning Service

    Hari berganti, Rafa sudah bersiap menaiki sepeda motor maticnya untuk berangkat ke perusahaannya. Bukan lagi sebagai CEO, melainkan sebagai cleaning servis sesuai yang diinginkan Liam.Sial! Liam benar-benar sedang mengerjaiku! umpatnya dalam hati jika mengingat pekerjaannya sekarang.

  • Mendadak Miskin   Mendadak Miskin

    Keesokan harinya, Pevita terbangun dari tidurnya ketika mendengar gedoran pintu yang mengusik ketenangannya. "Ada apa, sih?" teriaknya dari dalam, enggan untuk beranjak dari kasur."Maaf mengganggu, tapi saya harus menyampaikannya. Tuan sedang ada masalah dan nyonya harus turun segera ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status