LOGINBab 93“Aku minta maaf.”Chacha tertegun mendengar kalimat yang barusan diucapkan oleh suaminya. Kalimat yang sudah Birru susun rapi di kepala nyatanya tak mampu terucap dengan lancar begitu Birru berhadapan langsung dengan istrinya.Pria itu duduk di samping Chacha sambil menunduk. Kurang lebih satu jam posisinya seperti itu di sana dari sebelum Chacha bangun.“Apa bener semua yang aku denger, mas?” tanya Chacha dengan bibir yang bergetar.Di sampingnya Birru mengangguk kecil, entah bagaimana raut mukanya karena dari posisinya saat ini Chacha tidak bisa menilai apapun.“Bener soal donor itu,” jawab Birru pelan.“Lalu soal kamu yang sengaja nikahin aku karena alasan jantung itu, bener juga?” Chacha mencecarnya. Air mata yang sedari kemarin berhasil ia sembunyikan, hari ini tumpah sudah.“Masalah itu, mungkin saja. Begitu aku liat kamu pertama kali kerja di klinik, aku sudah punya rasa ingin menikahi kamu. Terlepas dari masalah donor itu karena saat itu aku belum tahu.”“Tapi akhirn
Bab 92***Keesokan paginya ruang rawat Chacha terasa jauh lebih nyaman. Aroma soft rose dari diffuser selain membuat ruangan jadi harum juga udara terasa lebih bersih. Lalu Chacha sedikit memiringkan kepalanya, ada dua buket bunga baby breath dan mawar putih di sana.Dua bola mata sayunya terus mengitari sekitar. Nara pasti sedang shift pagi dan bisa ia tebak siapa yang sudah berusaha mendekorasi kamar rawatnya.Bukannya membaik, suasana hati Chacha justru makin berantakan. Semakin Birru bersikap baik padanya semakin terasa menyayat hatinya juga.Belum selesai Chacha mengamati perubahan kamarnya, telinganya menangkap suara pintu yang terdorong masuk.“Assalamu’alaiikum, sayang.”Sapaan hangat yang biasanya sangat Chacha sukai, kini terasa seperti sebuah alkohol yang tersiram pada luka menganga di dadanya.Chacha tersenyum kecut, “Wa’alaikum salam, umma.”Chacha bukan orang yang tidak tahu terima kasih, selama ini umma dan seluruh keluarga pesantren sudah sangat baik padanya. Terlepas
Bab 91Malam semakin larut, Chacha masih duduk di tepian jendela menatap langit malam kota yang tampak cerah. Bertolak belakang dengan suasana hatinya yang muram. Sangat muram dan gelap.Nara baru saja kembali dari rumah untuk mengambil baju ganti dan beberapa camilan yang mungkin bisa masuk ke dalam perut Chacha. Semua makanan dari rumah sakit tidak bisa masuk perutnya. Begitu juga dengan apa yang Birru belikan, mungkin karena Chacha tahu itu pemberian Birru jadi ia tidak mau memakannya.“Ra, sorry udah bikin kamu ribet dengan masalah aku,” Chacha merasa besalah sudah menyeret Nara juga untuk ikut masuk dalam masalah yang menimpanya.“Hei, justru gue bakal marah banget kalau misal lo nggak bilang apa-apa soal masalah lo. Gue pokoknya harus jadi orang pertama yang tahu. Sekarang aku bikinin hot chocolate nih, kita minum bareng sambil kamu cerita, ok?”Chacha duduk di sofa memeluk lututnya, menghirup aroma cokelat hangat buatan Nara sedikit cukup mentransfer mood baik untuknya.“Ra,
Bab 90Dilihat dari tidak adanya air mata yang luruh sedikitpun dari matanya. Bisa Nara tebak, sehancur apa perasaan Chacha. Rasa kecewa dan luka yang teramat dalam biasanya justru mampu membuat seorang wanita hanya diam, tanpa air mata. Hatinya mendadak mati rasa.Chacha bergeming setengah melamun, dia tidak menyangka akan ada fakta yang datangnya begitu menyakitkan secara tiba-tiba seperti ini. Fakta yang tidak pernah Chacha perkirakan sama sekali sebelumnya.“Ra, kamu pernah nyangka nggak kalau mas Birru punya rahasia besar yang selama ini disimpan begitu rapi padahal jelas-jelas itu menyangkut hidup dan mati aku?” Chacha bertanya lirih masih dengan tatapan pandangan yang kosong.Terpekur sesaat, Nara mencoba mencerna setiap ucapan Chacha yang terlontar tanpa adanya skenario tambahan, setidaknya itu yang ia tangkap dari ungkapan Faris.“Wait, Birru punya rahasia apaan? Kok ada hubungannya sama lo? Kalian bukannya baru ketemu, yaa di pesantren itu?”Ada perih yang sulit Chacha jelas
Bab 89Faris datang lagi ke klinik tepat menjelang makan siang. Hari itu pesantren kedatangan seorang donatur baru sekaligus yang akan bekerja sama menjadi distributor untuk perkebunan organik yang dikelola di sana.Yang diminta untuk menerima tamu tersebut tentu saja Birru. Abbah dan eyang memanggilnya bukan hanya untuk menyambut tamu, sekaligus juga memperkenalkannya sebagai penerus pesantren. Saat itulah emosi Faris tersulut makin panas.Tidak ada yang melibatkan Faris di sana. Pria itu menatap sekeliling seolah semua orang adalah musuhnya. Ia melangkah kasar menuju klinik. Kebetulan sekali, saat itu jam makan siang jadi klinik biasanya lebih sepi karena tahu itu jam istirahat semua pekerja.“Bang Faris?!” Chacha hampir terlonjak dari kursinya, ketika Faris tba-tiba masuk ruang jaga tanpa salam atau mengetuk pintu.“Dok.” Suaranya tidak lagi meninggi seperti pembicaraan mereka kemarin. Dari raut wajahnya tampak seperti orang yang begitu prihatin.“Bang Faris mau membicarakan ke
*** Bab 88Wajah tampan yang biasanya selalu menenangkan saat ditatap itu, sekarang tampak sendu, lelah dan kalut. Chacha menyadarinya, tapi hanya bisa menatap iba bercampur bimbang.“Kamu lagi banyak pikiran, mas? Sampai cedera gini, ini kenapa?” tanya Chacha pelan. Tagannya bergerak pelan menagkup wajah Birru, menolehkan ke kiri dan kanan guna melihat kondisinya siapa tahu ada luka lain yang belum ia obati.“Iyaa, mikirin kamu seharian ini.”“Halahh, gombal. Mikirin aku kenapa? Aku baik-baik aja, kok.”Birru menggeleng, mengambil salah satu tangan istrinya untuk ia ciumi. Chacha terkesiap, tidak mengira jika sang suami akan melakukan hal tersebut.“Maafin aku, yaa?” ucap Birru parau.“Kamu bikin salah apa, mas? Kamu…” tuduhan Chacha menggantung sampai dia berdiri dari duduknya hanya untuk menatap suaminya gusar bercampur heran.“Jangan bilang kamu tergoda salah satu cegil kamu, mas? Kamu mulai goyah sama rayuan mereka?” tuduhnya. Terdengar sarkas tapi menurut Birru itu lebih terk







