共有

Bab 132

作者: Mommy_Ar
last update 最終更新日: 2026-03-09 10:41:55

Keributan di sudut ruangan restoran itu semakin menarik perhatian banyak orang.

Beberapa pengunjung bahkan sudah berdiri dari kursinya, namun tidak ada yang benar-benar berani ikut campur.

Di tengah lantai yang dingin itu, Vera masih terduduk dengan pakaian yang basah oleh minuman.

Rambutnya menempel di pipi, sementara tangannya gemetar menahan sakit dan rasa malu yang menyesakkan dada.

Di hadapannya berdiri seorang gadis dengan raut wajah penuh kesombongan.

“Kak, harusnya kamu itu sadar dir
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (1)
goodnovel comment avatar
Mmh_Ara😊😊
ada apa nih dengan Vera. kok bisa sepupunya jahat seperti itu...??
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 138

     Makan malam itu akhirnya selesai dengan suasana yang cukup hangat. Tidak seperti biasanya, meja makan malam itu terasa lebih hidup karena kehadiran tamu.Setelah beberapa lama berbincang, pasangan tamu itu akhirnya bersiap untuk pulang. Vera ikut berdiri dari kursinya dan mengantar mereka sampai ke ruang depan.Udara malam terasa lebih sejuk ketika pintu rumah dibuka. Di depan pintu, Vera tersenyum sopan sambil sedikit menundukkan kepalanya.“Terimakasih ya Tante, sudah berkunjung,” ucapnya tulus.Wanita paruh baya yang sejak tadi bersikap sangat ramah itu langsung tersenyum lembut.“Sama-sama sayang,” katanya hangat. “Tante juga terima kasih banget karena kamu sudah menemani tante.”Ia melirik sekilas ke arah suaminya yang berdiri di sampingnya. “Kamu tahu sendiri… laki-laki kalau sudah bahas pekerjaan suka lupa segalanya.”Vera langsung terkekeh pelan mendengar itu. Tapi belum sempat ia menjawab, pria paruh baya di se

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 137

    Pagi di kantor berjalan seperti biasanya.Begitu tiba di gedung perusahaan, Vera langsung menata kembali fokusnya. Semua pikiran tentang semalam ia paksa disimpan jauh-jauh di sudut kepalanya.Di kantor, ia bukan gadis yang menangis di balkon. Ia adalah sekretaris profesional yang harus bekerja dengan rapi dan cepat.Suara ketukan keyboard, dering telepon, serta langkah para karyawan memenuhi ruangan kerja yang sibuk itu.Vera baru saja duduk di mejanya hingga tak lama Jordi datang membawa setumpuk map. “Ver, selesaiin proposal ini ya?” katanya sambil meletakkan berkas itu di meja Vera.Vera langsung membuka halaman pertama sambil mengangkat alis. “Ini buat kapan?”“Masih besok pagi kok!”Vera mengangguk santai. “Oke.”Ia mulai membolak-balik dokumen itu dengan teliti. Namun belum sempat ia membaca terlalu jauh, Jordi kembali berbicara.“Oh ya,” katanya seolah baru ingat sesuatu. “Hari ini cancel semua jadwal pak Revan yang keluar ya.”“L

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 136

    Sinar matahari pagi perlahan masuk melalui celah tirai jendela kamar. Cahaya hangat itu jatuh tepat di wajah Vera, membuat alisnya sedikit berkerut karena silau.“Eughhh…”Vera mengerang pelan sambil menggerakkan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya terasa sedikit berat, mungkin karena semalam ia tertidur terlalu larut setelah menangis cukup lama.Perlahan ia membuka mata. Beberapa detik pertama, ia hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.“Kok aku di sini?” gumamnya pelan.Vera mengedipkan matanya beberapa kali, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang masih setengah mengantuk.Lalu ia menoleh ke kanan. Kemudian ke kiri. Keningnya langsung berkerut bingung.Kamar ini… bukan kamar tamu. Tatapannya menyapu seluruh ruangan.Interior kamar itu terlihat rapi, maskulin, dengan warna-warna netral yang dominan. Lemari besar di sudut ruangan, meja kerja minimalis, serta aroma parfum pria yang samar-samar masih terasa di udara.Beberapa detik kemudian mata Vera membola. Ia la

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 135

    Keheningan malam semakin larut. Angin tipis yang berhembus dari balkon membawa udara dingin yang menyentuh wajah mereka. Lampu-lampu kota masih berkelip di kejauhan, tetapi suasana di balkon apartemen itu terasa tenang, bahkan terlalu tenang.Setelah menumpahkan semua isi hatinya, Vera akhirnya terdiam. Dadanya tidak lagi terasa sesak seperti sebelumnya. Ada kelegaan kecil yang perlahan merambat di dalam dirinya.Selama ini ia selalu menahan semuanya sendiri. Tidak pernah benar-benar menceritakan kepada siapa pun.Namun malam ini… entah kenapa kata-kata itu mengalir begitu saja. Mungkin karena terlalu lelah.Mungkin juga karena Revan hanya mendengarkan tanpa menghakimi. Tanpa ia sadari, matanya mulai terasa berat.Kepalanya perlahan condong ke samping. Beberapa detik kemudian, tubuh Vera sudah terlelap di kursi balkon.Kepalanya bersandar di bahu Revan. Napasnya teratur, menandakan ia benar-benar tertidur.Revan yang merasakan beban ringan di bahunya menoleh sedikit. Ia melihat wajah

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 134

    Di dalam apartemen milik Revan, lampu ruang tamu sudah diredupkan. Suasana sunyi, hanya sesekali terdengar suara kendaraan jauh di bawah jalan raya kota. Namun Vera tidak bisa tidur.Berkali-kali ia mencoba memejamkan mata di kamar tamu, tetapi bayangan kejadian di restoran terus kembali menghantuinya.Akhirnya ia menyerah. Vera keluar dari kamar dan berjalan pelan menuju balkon apartemen.Udara malam langsung menyambutnya ketika ia membuka pintu kaca. Ia duduk di salah satu kursi balkon.Kakinya ia tekuk ke atas kursi, kedua lengannya memeluk lututnya, sementara kepalanya bersandar lemah di sana.Dari lantai setinggi itu, lampu-lampu kota terlihat seperti lautan bintang kecil.Namun mata Vera tidak benar-benar melihat pemandangan itu. Tatapannya kosong. Menerawang jauh.Berulang kali ia menghela napas panjang, seolah ada beban berat yang menekan dadanya dan tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.Beberapa menit berlalu dalam kesunyian itu. Hingga tiba-tiba ada suara yang mengejutka

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 133

    Mobil yang dikendarai Revan melaju pelan menyusuri jalanan malam yang mulai lengang. Lampu-lampu kota memantul di kaca depan mobil, menciptakan kilatan cahaya yang berganti-ganti di wajah keduanya.Tangis Vera perlahan mereda, meski sesekali isak kecil masih terdengar. Matanya merah dan sembab, sementara jemarinya masih menggenggam jas milik Revan yang menutupi bahunya.Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Revan akhirnya melirik sekilas ke arah gadis di sampingnya sebelum membuka suara.“Ini kamu mau pulang kemana?” tanya Revan.Vera terdiam sejenak. Pertanyaan sederhana itu justru membuat dadanya terasa semakin berat.Ia menunduk.“Aku gak tahu… aku gak mau pulang ke rumah,” jawab Vera pelan.Suaranya terdengar lelah. Bukan hanya karena kejadian malam ini, tetapi juga karena sesuatu yang jauh lebih lama ia pendam.Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan.“Biasanya aku ke rumah Tika,” imbuh Vera lirih. “Tapi dia lagi keluar kota.”Ucapan itu membuat Revan ikut terdiam. Tanga

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status