LOGINLaki-laki itu yang kini berdiri tepat di depannya membeku sesaat.
Tatapannya tajam, tajam sekali, bukan seperti pria mabuk di klub, tapi seperti seseorang yang terbiasa memerintah dan mengintimidasi. Ia menatap Wilona tanpa berkedip, dan ketika matanya menangkap jelas wajah cantik gadis itu… ia tanpa sadar menelan saliva. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut entah karena kecantikan Wilona, penampilan berani gadis itu, atau karena ia mengenal seseorang yang mirip dengannya. “Kenapa kamu bisa di sini?” tanyanya datar, low and dangerous. Nada suaranya terdengar bukan sekadar heran… tapi seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh. Wilona terkekeh, tubuhnya hampir jatuh ke depan sebelum pria itu menahan pinggangnya. “Aku mau cari sugar daddy…” ucapnya manja, mendengungkan suaranya seperti sengaja menggoda. Dan sebelum pria itu sempat menghindar, tangan lentik Wilona terulur, mengusap dada bidang pria itu dari kerah kemejanya, turun perlahan ke arah perut. “Wow…” gumam Wilona terpukau. “Keras banget…” Kontrol diri pria itu langsung goyah. Urat di lehernya menegang, rahangnya mengeras. Dan dalam sekejap tanpa bisa menahan diri ia mencengkram pergelangan tangan Wilona, menghentikan gerakan itu. “A—ahhhh! Sakit!” keluh Wilona, bibir manyun, matanya berkaca-kaca menatapnya. Dan entah bagaimana, ekspresi mabuk Wilona itu justru membuat dada pria itu bergemuruh. Ia mengusap wajah, seolah memaksa dirinya tetap waras. Seketika itu, seorang pria lain datang menghampiri, Dirga yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan. Dirga tampak seperti asisten, pakaian rapi, dan ekspresinya panik melihat interaksi bosnya dengan perempuan mabuk. “Yudh, pak Bambang udah di dalem, kita—“ Laki-laki itu mengangkat tangan tanpa menoleh. “Kamu temui Pak Bambang sendiri. Bilang sama dia… aku ada urusan mendadak.” Nada suaranya dingin, final, tak bisa dibantah. Dirga menghela napas panjang, sudah pasrah dengan perangai bosnya. ‘’Baiklah!’’ Begitu Dirga pergi, pria itu membungkuk sedikit, mengait tubuh Wilona dengan mudah seperti tidak ada berat sama sekali. “Kita pulang,” ucapnya pendek. “Gak mau pulang! Aku mau Happy!’’ ‘’Aku mau cari sugar daddy duluuuu…” Wilona memukul pundaknya pelan dengan tangan lemas. Tapi pria itu mengabaikan rengekan Wilona dan mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan bridal style. Dengan langkah lebar dan wajah gelap, ia melangkah keluar dari kerumunan. Dari kejauhan, Vera dan Tika yang akhirnya berhasil menerobos lantai dansa langsung membelalak. Mereka melihat dengan jelas bagaimana seorang pria asing mengangkat Wilona seperti barang baru dibeli. “Nah, kena bungkus beneran tuh bocah,” celetuk Vera tanpa filter, tangannya langsung menutup mulut. Tika mencubit lengan Vera. “Ini bukan lucu woy!!! Itu bahaya kalau dibungkus beneran!” “Ya makanya ayo KEJAR!!” Mereka berdua langsung lari menembus kerumunan, setengah berteriak, setengah panik setengah mati. “WILONA!!!” “LEPASIN TEMEN AKU!!” “ANJIR ITU SIAPA! BADANNYA GEDE BANGET!” Tapi pria itu sudah melangkah keluar dari klub, menggendong Wilona dengan mantap, seolah gadis itu sudah menjadi miliknya. ** Lift apartemen mewah itu berbunyi pelan saat pintunya terbuka. Laki-laki itu menggendong Wilona yang masih sempoyongan, wajahnya merah, matanya setengah terpejam. Aroma alkohol tajam keluar dari tubuhnya, bercampur dengan parfum manis yang entah bagaimana justru membuat Yudha semakin tidak tenang. Sesampainya di kamar, Yudha mendorong pintu dengan bahu dan masuk. Tanpa banyak pikir panjang, ia meletakkan Wilona di atas kasur king size. Bruk! “AWWW!” Wilona mengaduh dramatis sambil memegangi pantatnya. Ia langsung duduk tegak, rambut acak-acakan menutupi sebagian wajahnya. “Kenapa kamu nyiksa aku, hahhh!” teriaknya sambil menunjuk Yudha dengan telunjuk yang bahkan tidak bisa tegak lurus. “Aku kan mau happy, kenapa malah dibanting-banting!” Yudha mengusap wajahnya kasar, napasnya berat. Ia tidak mengerti bagaimana hidupnya mendadak kacau hanya karena gadis ini masuk klub untuk pertama kalinya. “Aku mau disayang sugar daddy malah dibungkus kuli beras! Nyebelinn!’’ Yudha menahan diri agar tidak melemparkan bantal ke wajah Wilona. Daripada semakin pusing, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak butuh lama, sambungan tersambung. “Halo, sayang,” suara seorang wanita terdengar manja dari seberang. “Aku nemuin Wilona di klub,” katanya datar, “Hah? Kamu yakin itu Wilo?” Suara wanita itu terdengar kaget, tapi tidak terlalu percaya. “Hemm.” Yudha melirik Wilona yang kini sedang duduk bersila di kasur sambil mencoba menyambar lampu tidur yang ia kira gelas minuman. “BUAHAHAHAHAHA!!! Sayang, jangan bercanda,” wanita itu tertawa terbahak-bahak. “Wilona nggak mungkin masuk tempat seperti itu!” Yudha memijit pelipisnya keras. “Nyatanya ini memang Wilona. Dia mabuk. Di klub. Dan sekarang ada di apartemen.’’ Dari seberang terdengar suara wanita itu berusaha menahan tawa lagi. “P-Pffttt… Astaga… kok bisa sih dia mabuk di klub! Wilo itu bahkan minum jamu pahit aja muntah!” “Entahlah,” Yudha menarik napas panjang. “Kamu jemput dia di sini.” “Aduh sayang… maafin aku.” Nada suara wanita itu berubah manja, licin, penuh alasan. “Aku nggak bisa jemput dia.” ‘’Kenapa ?’’ Dahi Yudha berkerut. “Kamu di mana sekarang?” “Hehehe…” tawa kecil yang terdengar seperti pertanda buruk. “Aku baru aja landing.” “Kamu di mana?” tanya Yudha penasaran. “Dubai.” Yudha menutup mata. Menghela napas panjang dan kasar. Wilona yang masih mabuk hanya duduk diam, memeluk bantal sambil bernyanyi tidak jelas. Wanita itu kembali bicara, santai seolah tak ada yang salah. “Yudha, sayangku… Aku titip ponakan laknatku itu dulu ya. Besok pagi, aku suruh Papa jemput ke sana.” “TERSERAH!” potong Yudha tajam, lalu tanpa basa-basi langsung memutus panggilan. Ia berdiri mematung beberapa detik, rahangnya mengeras. Kesal. Marah. Kecewa sampai ke tulang. Untuk kesekian kalinya, Evelyn kekasih yang ia cintai bertahun-tahun pergi ke luar negeri tanpa pamit. Padahal siang tadi mereka masih makan bersama, tersenyum, bercanda seperti pasangan normal. Yudha menatap Wilona yang kini mulai tertidur setengah duduk, kepalanya menggeleng-geleng seperti ayam mabuk. Ia pun berinisyatif membenarkan posisi tidur gadis itu agar ia tidak tercekik selimut. Ia mendekat, menunduk sedikit, tangan besarnya terulur pelan ke arah bahu Wilona. Namun, saat jemarinya hampir menyentuh kulit Wilona, Tangan mungil itu tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Yudha dan menariknya. Deg. Sekujur tubuh Yudha kaku seketika. Mata Wilona terbuka perlahan, sayup dan berair, tapi tetap mengunci pandangannya pada pria di depannya. Mereka berdua saling menatap. Hening. Begitu dekat hingga Yudha bisa merasakan hembusan napas hangat bercampur aroma alkohol dari bibir Wilona. Dengan berani, Wilona mengusap rahang kokoh Yudha. Sentuhannya lembut tapi mematikan. Turun perlahan melewati leher, hingga menyentuh dada bidang Yudha yang hanya tertutupi kemeja tipis. Napas Yudha tersengal. Jakunnya bergerak naik turun tajam. “Om…” suara Wilona parau, serak, dan menggoda tidak sengaja. “jadi sugar daddy Wilo mau gak?” Jantung Yudha hampir berhenti. Ia refleks menggenggam pergelangan tangan Wilona. “Wilona, sadar, Saya ini siapa?” Bukan menjawab, Wilona justru tersenyum tipis. tangannya mengalung keleher Yudha dan tanpa aba-aba Wilona mengecup bibir laki-laki itu, membuat Yudha langsung terkejut. "Om, aku masih perawan, touch me,"Malam itu, pelataran sebuah *resort* mewah di kawasan perbukitan Bandung disulap menjadi taman surgawi. Lampu-lampu *warm white* menggantung cantik di antara pepohonan, menciptakan pendar keemasan yang memantul di permukaan kolam renang. Aroma bunga sedap malam dan melati menyerbak, menyambut para tamu yang hadir untuk merayakan satu dekade perjalanan cinta yang tak biasa. Di tengah panggung kecil yang dekorasinya didominasi warna putih dan emas, berdiri Yudha dan Wilona. Sepuluh tahun telah berlalu, namun tatapan Yudha pada istrinya tidak pernah berubah tetap penuh perlindungan dan kekaguman. Wilona tampil anggun dengan gaun satin yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, sementara Yudha tetap terlihat gagah meski guratan kedewasaan semakin tegas di wajahnya. Perbedaan usia sepuluh tahun lebih di antara mereka kini tak lagi terasa sebagai jurang, melainkan sebagai penyeimbang yang kokoh. "Terima kasih sudah ber
Malam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi. Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang berayun-ayun, sesekali saling sikut namun tetap berusaha tenang karena tahu "otoritas tertinggi" rumah akan segera tiba. Terdengar suara deru mobil memasuki garasi, disusul suara pintu yang tertutup. Detik berikutnya, langkah kaki mantap terdengar menuju ruang makan. "Ayahhhh!" Vero dan Varo serempak melompat dari kursi mereka. Seperti anak panah yang meluncur, keduanya berlari menghambur ke arah pintu, memeluk kaki pria yang masih mengenakan kemeja kerja
Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja
Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa
"Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.
"Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i
Wilona buru-buru merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Ponselnya hampir terjatuh, tapi ia tangkap lagi dengan panik. Ia langsung menekan nomor ibunya, nomor yang hafal di luar kepala.Nada sambung… lalu mati.Tidak aktif.Wilona menahan napas, lalu mencoba lagi. Nada sambung bahk
“Yuyu…” gumam Wilona pelan. Suaranya serak, bingung, panik, semuanya campur jadi satu. Telapak tangannya dingin, tenggorokannya seperti tersumbat. “Yuyu itu… Yura! Iya, Yura!” Revan mengerutkan kening, masih menatap layar ponsel Wilona. “Siapa Yura?” Wilona refleks menendang pelan betis Vera
Yudha baru saja menghentikan mobilnya di depan gerbang kompleks perumahan. Suasana siang itu terik, matahari seakan menusuk kulit. AC mobil yang masih menyala membuat kontras rasa dingin–panas semakin jelas ketika Wilona buru-buru melepas seatbeltnya.“Stop Om, berhenti di sini aja!” seru Wilona
Sementara itu, di depan rumah Wilona, suasana justru jauh berbeda dengan yang terjadi di rumah Yudha.Evelyn duduk di kursi teras sambil menatap jalanan sepi komplek. Tangan kanannya mengetuk-ngetuk pahanya tak sabar, sementara kaki kirinya sudah sejak tadi bergetar gelisah.“Astaga Wil,







