Share

Dibungkus om-om

Author: Mommy_Ar
last update Last Updated: 2025-12-19 17:26:34

Laki-laki itu yang kini berdiri tepat di depannya membeku sesaat.

Tatapannya tajam, tajam sekali, bukan seperti pria mabuk di klub, tapi seperti seseorang yang terbiasa memerintah dan mengintimidasi.

Ia menatap Wilona tanpa berkedip, dan ketika matanya menangkap jelas wajah cantik gadis itu… ia tanpa sadar menelan saliva.

Ada sesuatu yang membuatnya terkejut entah karena kecantikan Wilona, penampilan berani gadis itu, atau karena ia mengenal seseorang yang mirip dengannya.

“Kenapa kamu bisa di sini?” tanyanya datar, low and dangerous.

Nada suaranya terdengar bukan sekadar heran… tapi seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh.

Wilona terkekeh, tubuhnya hampir jatuh ke depan sebelum pria itu menahan pinggangnya.

“Aku mau cari sugar daddy…” ucapnya manja, mendengungkan suaranya seperti sengaja menggoda.

Dan sebelum pria itu sempat menghindar, tangan lentik Wilona terulur, mengusap dada bidang pria itu dari kerah kemejanya, turun perlahan ke arah perut.

“Wow…” gumam Wilona terpukau. “Keras banget…”

Kontrol diri pria itu langsung goyah. Urat di lehernya menegang, rahangnya mengeras.

Dan dalam sekejap tanpa bisa menahan diri ia mencengkram pergelangan tangan Wilona, menghentikan gerakan itu.

“A—ahhhh! Sakit!” keluh Wilona, bibir manyun, matanya berkaca-kaca menatapnya.

Dan entah bagaimana, ekspresi mabuk Wilona itu justru membuat dada pria itu bergemuruh. Ia mengusap wajah, seolah memaksa dirinya tetap waras.

Seketika itu, seorang pria lain datang menghampiri, Dirga yang dari tadi memperhatikan dari kejauhan.

Dirga tampak seperti asisten, pakaian rapi, dan ekspresinya panik melihat interaksi bosnya dengan perempuan mabuk.

“Yudh, pak Bambang udah di dalem, kita—“ Laki-laki itu mengangkat tangan tanpa menoleh.

“Kamu temui Pak Bambang sendiri. Bilang sama dia… aku ada urusan mendadak.”

Nada suaranya dingin, final, tak bisa dibantah. Dirga menghela napas panjang, sudah pasrah dengan perangai bosnya.

‘’Baiklah!’’

Begitu Dirga pergi, pria itu membungkuk sedikit, mengait tubuh Wilona dengan mudah seperti tidak ada berat sama sekali.

“Kita pulang,” ucapnya pendek.

“Gak mau pulang! Aku mau Happy!’’

‘’Aku mau cari sugar daddy duluuuu…” Wilona memukul pundaknya pelan dengan tangan lemas.

Tapi pria itu mengabaikan rengekan Wilona dan mengangkat tubuhnya ke dalam gendongan bridal style.

Dengan langkah lebar dan wajah gelap, ia melangkah keluar dari kerumunan.

Dari kejauhan, Vera dan Tika yang akhirnya berhasil menerobos lantai dansa langsung membelalak.

Mereka melihat dengan jelas bagaimana seorang pria asing mengangkat Wilona seperti barang baru dibeli.

“Nah, kena bungkus beneran tuh bocah,” celetuk Vera tanpa filter, tangannya langsung menutup mulut.

Tika mencubit lengan Vera. “Ini bukan lucu woy!!! Itu bahaya kalau dibungkus beneran!”

“Ya makanya ayo KEJAR!!”

Mereka berdua langsung lari menembus kerumunan, setengah berteriak, setengah panik setengah mati.

“WILONA!!!”

“LEPASIN TEMEN AKU!!”

“ANJIR ITU SIAPA! BADANNYA GEDE BANGET!”

Tapi pria itu sudah melangkah keluar dari klub, menggendong Wilona dengan mantap, seolah gadis itu sudah menjadi miliknya.

**

Lift apartemen mewah itu berbunyi pelan saat pintunya terbuka.

Laki-laki itu menggendong Wilona yang masih sempoyongan, wajahnya merah, matanya setengah terpejam.

Aroma alkohol tajam keluar dari tubuhnya, bercampur dengan parfum manis yang entah bagaimana justru membuat Yudha semakin tidak tenang.

Sesampainya di kamar, Yudha mendorong pintu dengan bahu dan masuk. Tanpa banyak pikir panjang, ia meletakkan Wilona di atas kasur king size.

Bruk!

“AWWW!”

Wilona mengaduh dramatis sambil memegangi pantatnya. Ia langsung duduk tegak, rambut acak-acakan menutupi sebagian wajahnya.

“Kenapa kamu nyiksa aku, hahhh!” teriaknya sambil menunjuk Yudha dengan telunjuk yang bahkan tidak bisa tegak lurus.

“Aku kan mau happy, kenapa malah dibanting-banting!”

Yudha mengusap wajahnya kasar, napasnya berat.

Ia tidak mengerti bagaimana hidupnya mendadak kacau hanya karena gadis ini masuk klub untuk pertama kalinya.

“Aku mau disayang sugar daddy malah dibungkus kuli beras! Nyebelinn!’’

Yudha menahan diri agar tidak melemparkan bantal ke wajah Wilona.

Daripada semakin pusing, ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Tak butuh lama, sambungan tersambung.

“Halo, sayang,” suara seorang wanita terdengar manja dari seberang.

“Aku nemuin Wilona di klub,” katanya datar,

“Hah? Kamu yakin itu Wilo?” Suara wanita itu terdengar kaget, tapi tidak terlalu percaya.

“Hemm.” Yudha melirik Wilona yang kini sedang duduk bersila di kasur sambil mencoba menyambar lampu tidur yang ia kira gelas minuman.

“BUAHAHAHAHAHA!!! Sayang, jangan bercanda,” wanita itu tertawa terbahak-bahak. “Wilona nggak mungkin masuk tempat seperti itu!”

Yudha memijit pelipisnya keras. “Nyatanya ini memang Wilona. Dia mabuk. Di klub. Dan sekarang ada di apartemen.’’

Dari seberang terdengar suara wanita itu berusaha menahan tawa lagi.

“P-Pffttt… Astaga… kok bisa sih dia mabuk di klub! Wilo itu bahkan minum jamu pahit aja muntah!”

“Entahlah,” Yudha menarik napas panjang. “Kamu jemput dia di sini.”

“Aduh sayang… maafin aku.” Nada suara wanita itu berubah manja, licin, penuh alasan. “Aku nggak bisa jemput dia.”

‘’Kenapa ?’’ Dahi Yudha berkerut. “Kamu di mana sekarang?”

“Hehehe…” tawa kecil yang terdengar seperti pertanda buruk. “Aku baru aja landing.”

“Kamu di mana?” tanya Yudha penasaran.

“Dubai.”

Yudha menutup mata. Menghela napas panjang dan kasar. Wilona yang masih mabuk hanya duduk diam, memeluk bantal sambil bernyanyi tidak jelas.

Wanita itu kembali bicara, santai seolah tak ada yang salah. “Yudha, sayangku… Aku titip ponakan laknatku itu dulu ya. Besok pagi, aku suruh Papa jemput ke sana.”

“TERSERAH!” potong Yudha tajam, lalu tanpa basa-basi langsung memutus panggilan. Ia berdiri mematung beberapa detik, rahangnya mengeras.

Kesal.

Marah.

Kecewa sampai ke tulang.

Untuk kesekian kalinya, Evelyn kekasih yang ia cintai bertahun-tahun pergi ke luar negeri tanpa pamit.

Padahal siang tadi mereka masih makan bersama, tersenyum, bercanda seperti pasangan normal.

Yudha menatap Wilona yang kini mulai tertidur setengah duduk, kepalanya menggeleng-geleng seperti ayam mabuk.

Ia pun berinisyatif membenarkan posisi tidur gadis itu agar ia tidak tercekik selimut. Ia mendekat, menunduk sedikit, tangan besarnya terulur pelan ke arah bahu Wilona.

Namun, saat jemarinya hampir menyentuh kulit Wilona, Tangan mungil itu tiba-tiba menangkap pergelangan tangan Yudha dan menariknya.

Deg.

Sekujur tubuh Yudha kaku seketika.

Mata Wilona terbuka perlahan, sayup dan berair, tapi tetap mengunci pandangannya pada pria di depannya.

Mereka berdua saling menatap.

Hening.

Begitu dekat hingga Yudha bisa merasakan hembusan napas hangat bercampur aroma alkohol dari bibir Wilona.

Dengan berani, Wilona mengusap rahang kokoh Yudha. Sentuhannya lembut tapi mematikan.

Turun perlahan melewati leher, hingga menyentuh dada bidang Yudha yang hanya tertutupi kemeja tipis.

Napas Yudha tersengal. Jakunnya bergerak naik turun tajam.

“Om…” suara Wilona parau, serak, dan menggoda tidak sengaja. “jadi sugar daddy Wilo mau gak?”

Jantung Yudha hampir berhenti. Ia refleks menggenggam pergelangan tangan Wilona.

“Wilona, sadar, Saya ini siapa?”

Bukan menjawab, Wilona justru tersenyum tipis. tangannya mengalung keleher Yudha dan tanpa aba-aba Wilona mengecup bibir laki-laki itu, membuat Yudha langsung terkejut.

"Om, aku masih perawan, touch me,"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Neneng Gejora
heh,,ngadi² si Wilona ini,,, dia pacarnya tantemu weehh...‍♀️...‍♀️...‍♀️
goodnovel comment avatar
diah nursanti
waduh berarti nanti pacarku di embat ponakanku ...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Apa dia anakku?

    Sejak kepulangannya dari rumah sakit, suasana memang selalu dipenuhi kewaspadaan semua orang berjalan pelan, bicara lirih, seolah takut mengusik ingatan yang belum kembali.Bel berbunyi.Pelayan membuka pintu, dan seorang pria berdiri rapi di sana.“Selamat malam, Pak,” sapa Dirga sopan ketika akhirnya ia berhadapan langsung dengan Yudha di ruang tamu.Sudah lama ia ingin datang. Tapi baru sekarang, ia bisa menjenguk langsung.Yudha menatapnya beberapa detik. Tatapannya kosong, menilai, seperti mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu.“Kamu siapa?” tanya Yudha datar.Dirga menelan ludah pelan, tapi tetap menjaga sikap profesional.“Saya Dirga, Pak. Asisten pribadi Pak Yudha di kantor.”Beberapa detik hening.Yudha mengangguk kecil, seolah mencatat informasi itu dalam kepalanya yang kini seperti buku kosong.“Apa kamu bisa kupercaya?”Pertanyaan itu membuat Dirga sedikit terkejut. Namun ia langsung menunduk hormat.“InsyaAllah bisa, Pak.”Yudha menatapnya sekali lagi, lalu tanpa berk

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Sulit mengingat

    Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pagi itu. Evelyn menyusul tak lama kemudian. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak seperti biasanya yang glamor dan penuh sorotan kamera, hari itu ia tampil sederhana. Matanya pun masih sembab entah karena kurang tidur atau terlalu sering menangis.Perawat membantu Yudha duduk di kursi roda. Tatapannya tenang, tapi kosong. Ia melihat ketiganya bergantian, seolah sedang berusaha mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.“Kita pulang ya, Nak,” ucap Ola lembut, berusaha terdengar ceria.Yudha hanya mengangguk pelan.Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa canggung. Andika menyetir. Ola di kursi depan. Sementara Yudha d

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Aku pacar kamu!

    Ada jeda sepersekian detik. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Evelyn menyadarinya.“Kenapa kamu tanya begitu?” balas Ola.“Apa yang sebenarnya terjadi, Tante?” Evelyn menelan ludah. “Kenapa Yudha hanya mengingat nama Wilo? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan Tante? Pasti ada sesuatu yang Eve gak tahu…”Kalimat itu menggantung di udara. Ola menggenggam tangan Evelyn. Genggamannya erat, hampir terlalu erat.“Kamu percaya sama Tante?” Evelyn terdiam. “Kamu tahu kan Tante sayang sama kamu, Eve? Tante cuma mau yang terbaik buat kamu dan Yudha.”“Maksud Tante?” tanya Evelyn pelan.Ola menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Sudahlah. Kamu tidak perlu lagi memikirkan adik kamu itu.”Kalimat itu membuat jantung Evelyn berdegup lebih kencang.Bukan “kita cari bersama.”Bukan “kita lapor polisi lagi.”Tapi, Tidak perlu memikirkan.“Tolong fokuslah pada Yudha,” lanjut Ola dengan suara lembut namun mengandung tekanan yang kuat. “Dan segera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kebohongan Olla

    Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menoleh ke arah Evelyn.Ola juga.Tatapan mereka sama-sama terkejut. Evelyn berdiri tegak, meski jantungnya seperti diremas. Tangannya dingin. Tapi ia tidak ingin bersembunyi lagi di balik diam.“Wilona adalah adikku,” ulangnya lebih pelan, menatap langsung ke mata Yudha. “Kenapa kamu mencarinya?”Ada getar halus di suaranya.Bagaimana mungkin…?Pria yang ia tunggu sebulan penuh untuk sadar, pria yang hampir ia nikahi, justru membuka mata dan menyebut nama perempuan lain.Nama adiknya sendiri. Yudha memandang Evelyn lama. Wajah itu cantik. Lembut. Penuh kesedihan.Tapi tetap saja, Tidak ada kenangan.“Adik kamu?” ulang Yudha pelan. “Di mana dia sekarang?”S

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kenapa Wilona?

    Bunyi mesin monitor berdetak pelan memenuhi ruang ICU yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sudah hampir satu bulan Yudha terbaring tanpa kesadaran. Tubuhnya terpasang berbagai selang dan alat bantu. Wajahnya pucat, namun tetap menyimpan garis tegas yang dulu begitu hidup. Dan pagi itu… jari-jarinya bergerak. Pelan. Sangat pelan. Alisnya berkerut. Napasnya berubah lebih berat. Lalu perlahan… matanya terbuka. Pandangan Yudha masih kabur. Lampu putih di langit-langit terasa menyilaukan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Bibirnya yang kering bergerak pelan. “W–Wilona…” Nama itu keluar begitu saja. Refleks. Seolah tertanam dalam kesadarannya yang paling dalam. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka pelan. Evelyn masuk membawa tas kecil di tangannya. Ia datang seperti hari-hari sebelumnya menemani, berbicara pada tubuh yang tak pernah

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Evelyn frustasi

    Langit Jakarta terlihat mendung, seolah ikut memayungi hati Evelyn yang tak tenang. Mobilnya meluncur menuju kantor Yudha dengan kecepatan stabil, tapi pikirannya kacau.Ucapan Vera dan Tika terus terngiang. Wilona sering manggil Mas Yudha… Beberapa kali dijemput Dirga… Udah cukup lama sih, Kak…Tidak.Ia hanya ingin memastikan. Hanya itu. Gedung kantor yang menjulang tinggi dengan dinding kaca itu berdiri megah di pusat kota. Biasanya tempat itu membuatnya bangga, tempat calon suaminya bekerja. Tempat masa depan mereka disusun rapi.Hari ini terasa asing. Evelyn turun dari mobil, langkahnya mantap meski dadanya sesak. Resepsionis langsung berdiri ketika melihatnya.“Selamat siang, Nona Evelyn.”“Saya mau bertemu Dirga,” ucapnya tenang.“Baik, Nona. Beliau ada di ruangan.”Lift eksekutif membawanya ke lantai atas. Ting!Pintu terbuka. Beberapa staf menunduk hormat saat ia melintas.Tok tok.“Masuk,” suara tegas terdeng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status