Mag-log inPagi harinya, sinar matahari yang merambat masuk lewat celah tirai perlahan-lahan mulai menyentuh wajah Wilona.
Suasana kamar apartemen terasa hangat, namun berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Di luar, bunyi samar kendaraan yang melintas terdengar seperti dengungan jauh. Tiba-tiba— TRRTT TRRTT! Alarm dari ponsel Wilona berbunyi nyaring dan memecah keheningan. “Eughhh…” gerutunya setengah sadar. Masih dalam kondisi setengah bermimpi, ia meraba-raba ranjang mencari sumber suara. Namun bukannya menemukan benda persegi, jemari Wilona malah menyentuh sesuatu yang hangat… dan berotot. Alisnya langsung berkerut. “A—apa ini? Kok… keras… tapi bukan HP?” Perlahan, Wilona membuka mata. Dan seketika itu juga— “HUAAAAAAAAAA!” Jeritan melengkingnya mengguncang seluruh kamar. Ia bangkit dengan sigap, mencengkram selimut erat-erat seperti orang yang baru saja kabur dari penculikan. Di sebelahnya, seorang laki-laki ikut bangun dengan kepala sedikit pening. Rambutnya berantakan, matanya setengah terbuka. Yudha menarik napas panjang sebelum akhirnya menoleh. “Kamu udah bangun?” tanyanya pelan, seolah hal ini bukan kejadian langka sama sekali. Wilona menganga. “O—OM YUDHA NGAPAIN DI KAMAR WILO!!” jeritnya panik, suaranya naik dua oktaf. “Om… om apain Wilo! Om culik Wilo ya? Ya Tuhan, jangan bilang—” Yudha buru-buru mengangkat sebelah tangan, menghentikannya sebelum imajinasi Wilona semakin liar. Dengan santai, ia menegakkan tubuhnya, bersandar pada headboard. “Kamu lihat baik-baik,” katanya tenang namun tegas, “ini kamar siapa sebenarnya?” Wilona menatap sekeliling. Dinding abu lembut, rak buku minimalis, sofa hitam, bukan dekorasi kamarnya. Jantungnya makin berdebar. “Ini… bukan kamar aku? Om… Om bawa Wilo kesini? Om culik Wilo? Om—” CETAKK! Sentilan mendarat mulus di dahi Wilona. “AUHHH! Sakit, om!” pekiknya sambil menutup dahinya dramatis. Yudha memutar bola mata, wajahnya untuk sekali ini tampak hidup bukan datar seperti biasanya. “Ngapain kamu sampai ke klub segala? Terus mabuk pula?” omelnya, suara beratnya menumpahkan kekesalan yang sejak semalam ia tahan, ‘’Gimana kalua kamu ketemu orang jahat? Kamu piker klub itu bisa buat kamu main main hah!’’ Wilona membeku. Hanya bisa bengong. Karena… ini pertama kalinya dalam hidupnya ia mendengar Yudha Pranata laki-laki super dingin itu mengomel. Biasanya Yudha selalu bicara seperlunya, gesturnya kaku, wajahnya datar seperti patung marmer. Tapi sekarang… ia terlihat seperti om yang benar-benar kepalanya pecah menghadapi keponakan bandel. Wilona mengerjap beberapa kali, masih sulit memahami situasi. “Om marah ya?” “Menurut kamu?” Yudha membalas ketus. Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil kausnya di kursi, dan memakainya dengan gerakan cepat namun teratur. Sebelum keluar kamar, ia menoleh lagi sambil menunjuk pintu kamar mandi. “Mandi. Habis itu sarapan,” perintahnya singkat. Wilona hanya bisa memandangi punggung lebar laki-laki itu yang menjauh. Pintu tertutup. Dan barulah ia menyadari sesuatu yang membuat pipinya panas sampai telinga, Ia masih mengenakan pakaian semalam yang kusut luar biasa, eyeliner belepotan, dan rambut awut-awutan. “Oh my God…” gumamnya mortifikasi. “Aku ngapain aja semalem… sama Om Yudha…” Wilona berdiri terpaku di depan cermin kamar mandi. Wajahnya masih terlihat kusut, rambut acak-acakan dan eyeliner hampir putus asa bertahan di sudut mata. Ia meraba pipinya, kemudian menurunkan tangan ke leher dan dada memastikan tidak ada tanda-tanda aneh. Semuanya utuh. Semuanya lengkap. Tidak ada yang hilang, tidak ada yang berubah… Kecuali satu. Ia mencondongkan wajah lebih dekat ke cermin, mengerutkan kening. “Kenapa bibirku begini?” gumamnya pelan, menatap bibirnya yang tampak merah dan sedikit bengkak. Ia menyipit, seolah detektif yang baru mendapat petunjuk penting. “Jangan-jangan… aku di cipok sama Om Yudha semalem?” Wajahnya langsung memanas. Namun bukannya malu, ia lebih terlihat kesal bercampur geli sendiri. “Iks iksss… dasar om-om mesum,” gerutunya sambil mencubit pipinya sendiri, “nafsuan juga dia ternyata!” Ia mengacak rambutnya frustasi. “Duh Wilona, Wilona… apa yang kamu lakukan semalem…” Tak mau memikirkan lebih jauh karena kepalanya masih sedikit berat Wilona akhirnya masuk ke shower. Air hangat yang mengalir membuat tubuhnya lebih rileks, meskipun ia masih ingin memaki dirinya sendiri setiap dua menit sekali. ** Begitu selesai mandi dan merapikan diri, ia melangkah ke ruang makan. Aroma gurih langsung menyambut hidungnya bahkan sebelum ia menuruni tangga kecil dari kamar tamu. Saat tiba di ruang makan, matanya langsung membesar. Di meja sudah tersaji sepiring penuh nasi goreng udang panas yang aromanya menggugah jiwa. Yudha duduk di kursi dengan wajah datar khasnya, namun Wilona bisa melihat sedikit lelah di bawah mata laki-laki itu mungkin efek dari begadang gara-gara dia. “Hemmm wangi banget… bikin laper!” seru Wilona sambil menelan ludah. Perutnya ikut memberikan suara persetujuan. “Makanlah,” ujar Yudha singkat, nada suaranya tenang namun tetap tegas. “Makasih Om! Tahu aja kesukaan Wilo!” katanya riang sambil langsung duduk. Tanpa basa-basi dan tanpa sopan santun khas wanita kalangan atas, Wilona langsung menyerbu piring itu seperti sudah menahan lapar tiga hari. Sendok demi sendok masuk ke mulutnya. “Enak bangeeet,” gumamnya dengan mulut penuh. Setelah lima suapan pertama, ia baru teringat sesuatu. “Oh ya, om Yudha beli nasi goreng dimana pagi-pagi?” tanyanya sambil memiringkan kepala. Yudha mengangkat sebelah alis. “Beli?” Wilona mengangguk mantap. “Iya lah. Kalau nggak beli, siapa yang masak? Kayaknya dari tadi Wilo nggak lihat ada mba-mba disini!”Malam itu, pelataran sebuah *resort* mewah di kawasan perbukitan Bandung disulap menjadi taman surgawi. Lampu-lampu *warm white* menggantung cantik di antara pepohonan, menciptakan pendar keemasan yang memantul di permukaan kolam renang. Aroma bunga sedap malam dan melati menyerbak, menyambut para tamu yang hadir untuk merayakan satu dekade perjalanan cinta yang tak biasa. Di tengah panggung kecil yang dekorasinya didominasi warna putih dan emas, berdiri Yudha dan Wilona. Sepuluh tahun telah berlalu, namun tatapan Yudha pada istrinya tidak pernah berubah tetap penuh perlindungan dan kekaguman. Wilona tampil anggun dengan gaun satin yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, sementara Yudha tetap terlihat gagah meski guratan kedewasaan semakin tegas di wajahnya. Perbedaan usia sepuluh tahun lebih di antara mereka kini tak lagi terasa sebagai jurang, melainkan sebagai penyeimbang yang kokoh. "Terima kasih sudah ber
Malam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi. Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang berayun-ayun, sesekali saling sikut namun tetap berusaha tenang karena tahu "otoritas tertinggi" rumah akan segera tiba. Terdengar suara deru mobil memasuki garasi, disusul suara pintu yang tertutup. Detik berikutnya, langkah kaki mantap terdengar menuju ruang makan. "Ayahhhh!" Vero dan Varo serempak melompat dari kursi mereka. Seperti anak panah yang meluncur, keduanya berlari menghambur ke arah pintu, memeluk kaki pria yang masih mengenakan kemeja kerja
Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja
Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa
"Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.
"Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i
Wilona buru-buru merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Ponselnya hampir terjatuh, tapi ia tangkap lagi dengan panik. Ia langsung menekan nomor ibunya, nomor yang hafal di luar kepala.Nada sambung… lalu mati.Tidak aktif.Wilona menahan napas, lalu mencoba lagi. Nada sambung bahk
“Apa Revan di sini?” tanya Evelyn dengan nada ragu, alisnya saling bertaut.Wilona langsung kaku.Jantungnya berdegup kencang sampai rasanya mau meloncat keluar dari dada. Tangannya mengepal tanpa sadar, kuku-kukunya menekan telapak sendiri.“B—bukan siapa-siapa, Kak,” jawab Wilona te
Tubuh Wilona yang semula meronta akhirnya melemah. Nafasnya tersengal, jemarinya gemetar hebat, dan beberapa detik kemudian matanya perlahan terpejam. Revan yang sejak tadi berada paling dekat langsung menangkap tubuhnya sebelum jatuh membentur tanah.“Wil… Wilona!” panggilnya panik.
“Wil, tunggu dulu, ih!” Vera berhasil mengejar Wilona yang sudah melangkah cepat menuju pintu keluar mall. Nafasnya sedikit terengah, tapi ia tetap berusaha mengejar sahabatnya. Wilona menoleh sekilas, mata berbinar kesal.“Kamu ngambek lagi?” tanya Vera setengah geli, setengah khawatir.







