Share

Bab 3

Author: Mommy_Ar
last update Last Updated: 2025-12-19 17:27:29

Pagi harinya, sinar matahari yang merambat masuk lewat celah tirai perlahan-lahan mulai menyentuh wajah Wilona.

Suasana kamar apartemen terasa hangat, namun berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Di luar, bunyi samar kendaraan yang melintas terdengar seperti dengungan jauh.

Tiba-tiba—

TRRTT TRRTT!

Alarm dari ponsel Wilona berbunyi nyaring dan memecah keheningan.

“Eughhh…” gerutunya setengah sadar.

Masih dalam kondisi setengah bermimpi, ia meraba-raba ranjang mencari sumber suara. Namun bukannya menemukan benda persegi, jemari Wilona malah menyentuh sesuatu yang hangat… dan berotot.

Alisnya langsung berkerut.

“A—apa ini? Kok… keras… tapi bukan HP?”

Perlahan, Wilona membuka mata. Dan seketika itu juga—

“HUAAAAAAAAAA!”

Jeritan melengkingnya mengguncang seluruh kamar. Ia bangkit dengan sigap, mencengkram selimut erat-erat seperti orang yang baru saja kabur dari penculikan.

Di sebelahnya, seorang laki-laki ikut bangun dengan kepala sedikit pening. Rambutnya berantakan, matanya setengah terbuka.

Yudha menarik napas panjang sebelum akhirnya menoleh.

“Kamu udah bangun?” tanyanya pelan, seolah hal ini bukan kejadian langka sama sekali.

Wilona menganga.

“O—OM YUDHA NGAPAIN DI KAMAR WILO!!” jeritnya panik, suaranya naik dua oktaf. “Om… om apain Wilo! Om culik Wilo ya? Ya Tuhan, jangan bilang—”

Yudha buru-buru mengangkat sebelah tangan, menghentikannya sebelum imajinasi Wilona semakin liar.

Dengan santai, ia menegakkan tubuhnya, bersandar pada headboard.

“Kamu lihat baik-baik,” katanya tenang namun tegas, “ini kamar siapa sebenarnya?”

Wilona menatap sekeliling. Dinding abu lembut, rak buku minimalis, sofa hitam, bukan dekorasi kamarnya.

Jantungnya makin berdebar.

“Ini… bukan kamar aku? Om… Om bawa Wilo kesini? Om culik Wilo? Om—”

CETAKK!

Sentilan mendarat mulus di dahi Wilona.

“AUHHH! Sakit, om!” pekiknya sambil menutup dahinya dramatis.

Yudha memutar bola mata, wajahnya untuk sekali ini tampak hidup bukan datar seperti biasanya.

“Ngapain kamu sampai ke klub segala? Terus mabuk pula?” omelnya, suara beratnya menumpahkan kekesalan yang sejak semalam ia tahan, ‘’Gimana kalua kamu ketemu orang jahat? Kamu piker klub itu bisa buat kamu main main hah!’’

Wilona membeku.

Hanya bisa bengong.

Karena… ini pertama kalinya dalam hidupnya ia mendengar Yudha Pranata laki-laki super dingin itu mengomel.

Biasanya Yudha selalu bicara seperlunya, gesturnya kaku, wajahnya datar seperti patung marmer.

Tapi sekarang… ia terlihat seperti om yang benar-benar kepalanya pecah menghadapi keponakan bandel.

Wilona mengerjap beberapa kali, masih sulit memahami situasi.

“Om marah ya?”

“Menurut kamu?” Yudha membalas ketus. Ia bangkit dari tempat tidur, mengambil kausnya di kursi, dan memakainya dengan gerakan cepat namun teratur.

Sebelum keluar kamar, ia menoleh lagi sambil menunjuk pintu kamar mandi.

“Mandi. Habis itu sarapan,” perintahnya singkat.

Wilona hanya bisa memandangi punggung lebar laki-laki itu yang menjauh.

Pintu tertutup.

Dan barulah ia menyadari sesuatu yang membuat pipinya panas sampai telinga, Ia masih mengenakan pakaian semalam yang kusut luar biasa, eyeliner belepotan, dan rambut awut-awutan.

“Oh my God…” gumamnya mortifikasi. “Aku ngapain aja semalem… sama Om Yudha…”

Wilona berdiri terpaku di depan cermin kamar mandi. Wajahnya masih terlihat kusut, rambut acak-acakan dan eyeliner hampir putus asa bertahan di sudut mata.

Ia meraba pipinya, kemudian menurunkan tangan ke leher dan dada memastikan tidak ada tanda-tanda aneh.

Semuanya utuh.

Semuanya lengkap.

Tidak ada yang hilang, tidak ada yang berubah…

Kecuali satu.

Ia mencondongkan wajah lebih dekat ke cermin, mengerutkan kening.

“Kenapa bibirku begini?” gumamnya pelan, menatap bibirnya yang tampak merah dan sedikit bengkak.

Ia menyipit, seolah detektif yang baru mendapat petunjuk penting. “Jangan-jangan… aku di cipok sama Om Yudha semalem?”

Wajahnya langsung memanas. Namun bukannya malu, ia lebih terlihat kesal bercampur geli sendiri.

“Iks iksss… dasar om-om mesum,” gerutunya sambil mencubit pipinya sendiri, “nafsuan juga dia ternyata!”

Ia mengacak rambutnya frustasi. “Duh Wilona, Wilona… apa yang kamu lakukan semalem…”

Tak mau memikirkan lebih jauh karena kepalanya masih sedikit berat Wilona akhirnya masuk ke shower.

Air hangat yang mengalir membuat tubuhnya lebih rileks, meskipun ia masih ingin memaki dirinya sendiri setiap dua menit sekali.

**

Begitu selesai mandi dan merapikan diri, ia melangkah ke ruang makan. Aroma gurih langsung menyambut hidungnya bahkan sebelum ia menuruni tangga kecil dari kamar tamu.

Saat tiba di ruang makan, matanya langsung membesar.

Di meja sudah tersaji sepiring penuh nasi goreng udang panas yang aromanya menggugah jiwa.

Yudha duduk di kursi dengan wajah datar khasnya, namun Wilona bisa melihat sedikit lelah di bawah mata laki-laki itu mungkin efek dari begadang gara-gara dia.

“Hemmm wangi banget… bikin laper!” seru Wilona sambil menelan ludah. Perutnya ikut memberikan suara persetujuan.

“Makanlah,” ujar Yudha singkat, nada suaranya tenang namun tetap tegas.

“Makasih Om! Tahu aja kesukaan Wilo!” katanya riang sambil langsung duduk.

Tanpa basa-basi dan tanpa sopan santun khas wanita kalangan atas, Wilona langsung menyerbu piring itu seperti sudah menahan lapar tiga hari.

Sendok demi sendok masuk ke mulutnya.

“Enak bangeeet,” gumamnya dengan mulut penuh.

Setelah lima suapan pertama, ia baru teringat sesuatu.

“Oh ya, om Yudha beli nasi goreng dimana pagi-pagi?” tanyanya sambil memiringkan kepala.

Yudha mengangkat sebelah alis. “Beli?”

Wilona mengangguk mantap. “Iya lah. Kalau nggak beli, siapa yang masak? Kayaknya dari tadi Wilo nggak lihat ada mba-mba disini!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 7

    Setelah saling curhat cukup lama, Wilona sempat mengira Evelyn akan mengantarkannya pulang. Setidaknya sampai depan rumah, atau minimal sampai mobilnya. Tapi dugaannya salah besar.Begitu ponsel Eve bergetar dan sebuah nama klien muncul di layar, perempuan itu langsung berubah mode. Wajah lelahnya diganti profesionalisme dingin. Tanpa banyak penjelasan, Eve bangkit, meraih tas, lalu pamit terburu-buru.Wilona hanya bisa melongo, menatap punggung kakaknya yang menjauh.Dan seperti biasa… dia ditinggal.Tak ada pilihan lain, Wilona akhirnya kembali melangkah ke gedung perusahaan Yudha untuk menyelesaikan niat awalnya.Di depan ruangan Yudha, Wilona berhenti sejenak. Mengatur napas. Meyakinkan diri bahwa kedatangannya kali ini murni untuk mengembalikan baju tidak lebih.“Om, aku mau ketemu Om Yudha,” kata Wilona pada Dirga, berusaha terdengar santai.“Oh iya, masuk aja. Orangnya ada kok,” jawab Dirga cepat, seperti ingin segera menyingkir dari sana. Baru saja ia melangkah keluar dari

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 6

    Belum sempat Dirga menyusun kata-kata untuk menjelaskan, tiba-tiba pintu ruangan Yudha terbuka dengan cukup keras.Brakk!Suara itu menggema di lorong kantor yang tadinya sunyi. Beberapa karyawan refleks menoleh, suasana langsung menegang.“Kak Eve!” seru Wilona spontan, matanya membulat saat melihat sosok wanita cantik berwajah tegang berdiri di ambang pintu.Evelyn melangkah keluar dengan ekspresi dingin yang sama sekali tidak ramah. Rahangnya mengeras, sorot matanya tajam, jelas menahan emosi yang siap meledak kapan saja.“Wilona, kamu ngapain di sini?” tanya Evelyn cepat, nadanya dingin dan penuh curiga.Wilona refleks menggenggam tasnya. Otaknya mendadak kosong. “Oh… itu… tadi aku mau—” kalimatnya menggantung, lidahnya kelu. Ia sendiri bingung harus menjelaskan apa.“Udahlah,” potong Evelyn tegas. “Ayo pulang aja.”“Loh, loh, Kak Eve tunggu dulu! Kak!” Wilona panik ketika tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik cukup keras.Sentuhan itu tidak menyakitkan, tapi cukup untuk membua

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 5

    Ucapan itu meluncur begitu saja dari bibir Yudha, tenang, rendah, tapi cukup untuk membuat udara di sekitar mereka seakan menegang.Sontak Wilona memundurkan tubuhnya sampai hampir menabrak sandaran kursi. Jantungnya berdegup tak karuan, seolah baru saja dikejar sesuatu yang tak kasat mata.“O—Om… hehhee… Om bercanda, kan?” suaranya terdengar gugup, tawa kecil yang dipaksakan keluar sebagai tameng. Tangannya refleks mencengkeram ujung meja, seakan butuh pegangan agar tidak benar-benar tumbang.Yudha menyipitkan mata, memperhatikan reaksi Wilona dengan ekspresi yang sulit ditebak. Begitu kalimat itu keluar dari bibir Yudha, nadanya tegas tanpa memberi ruang bantahan.“Sudahlah, habiskan sarapanmu. Saya antar ke kampus.”Wilona langsung mengangguk cepat, refleks seperti anak sekolah yang takut dimarahi guru. Tidak ada protes, tidak ada manyun. Ia buru-buru menyuapkan sisa makanannya, meski pipinya sedikit menggembung karena terlalu cepat mengunyah.Yudha hanya melirik sekilas, lalu m

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 4

    “Saya yang masak!” jawab Yudha datar tanpa menoleh, kedua matanya tetap fokus pada tablet di depannya. Jemarinya sesekali mengetuk layar, seolah sedang memeriksa laporan penting yang tak bisa ditunda. Wilona langsung membeku. Sendok yang tadi sibuk ia gerakkan kini berhenti di udara. Perlahan ia menurunkannya, menatap Yudha seperti melihat fenomena langka. “Kenapa? Nggak percaya?” tanya Yudha sambil akhirnya mengalihkan pandangan. Tatapannya bertemu langsung dengan mata Wilona. Deg! Jantung Wilona berdebar aneh, terlalu keras untuk ukuran percakapan biasa. Ada sesuatu pada tatapan itu tenang, dewasa, tapi entah kenapa membuat tubuhnya terasa hangat. Tanpa sadar, pandangannya turun… ke bibir Yudha. Dahinya mengerut spontan. “Bibir Om kenapa? Luka?” tanyanya polos, benar-benar tanpa rasa bersalah. Yudha menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Menurutmu kenapa?” “Gak tahu, kegigit ya om?” Wilona mengernyit lebih dalam. “Hemm.” Yudha hanya menggumam, malas menjelas

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 3

    Pagi harinya, sinar matahari yang merambat masuk lewat celah tirai perlahan-lahan mulai menyentuh wajah Wilona. Suasana kamar apartemen terasa hangat, namun berbeda dari kamar yang biasa ia tempati. Di luar, bunyi samar kendaraan yang melintas terdengar seperti dengungan jauh. Tiba-tiba— TRRTT TRRTT! Alarm dari ponsel Wilona berbunyi nyaring dan memecah keheningan. “Eughhh…” gerutunya setengah sadar. Masih dalam kondisi setengah bermimpi, ia meraba-raba ranjang mencari sumber suara. Namun bukannya menemukan benda persegi, jemari Wilona malah menyentuh sesuatu yang hangat… dan berotot. Alisnya langsung berkerut. “A—apa ini? Kok… keras… tapi bukan HP?” Perlahan, Wilona membuka mata. Dan seketika itu juga— “HUAAAAAAAAAA!” Jeritan melengkingnya mengguncang seluruh kamar. Ia bangkit dengan sigap, mencengkram selimut erat-erat seperti orang yang baru saja kabur dari penculikan. Di sebelahnya, seorang laki-laki ikut bangun dengan kepala sedikit pening. Rambutnya bera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 2

    Laki-laki itu yang kini berdiri tepat di depannya membeku sesaat. Tatapannya tajam, tajam sekali, bukan seperti pria mabuk di klub, tapi seperti seseorang yang terbiasa memerintah dan mengintimidasi. Ia menatap Wilona tanpa berkedip, dan ketika matanya menangkap jelas wajah cantik gadis itu… ia tanpa sadar menelan saliva. Ada sesuatu yang membuatnya terkejut entah karena kecantikan Wilona, penampilan berani gadis itu, atau karena ia mengenal seseorang yang mirip dengannya. “Kenapa kamu bisa di sini?” tanyanya datar, low and dangerous. Nada suaranya terdengar bukan sekadar heran… tapi seperti seseorang yang sedang menahan diri agar tidak melakukan hal bodoh. Wilona terkekeh, tubuhnya hampir jatuh ke depan sebelum pria itu menahan pinggangnya. “Aku mau cari sugar daddy…” ucapnya manja, mendengungkan suaranya seperti sengaja menggoda. Dan sebelum pria itu sempat menghindar, tangan lentik Wilona terulur, mengusap dada bidang pria itu dari kerah kemejanya, turun perlahan ke

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status