LOGINBeberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.
Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan.Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pagi itu. Evelyn menyusul tak lama kemudian. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam.Tidak seperti biasanya yang glamor dan penuh sorotan kamera, hari itu ia tampil sederhana"Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.
"Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i
Pagi itu, langit Jakarta nampak sedikit mendung, seolah mencerminkan kegelisahan yang menyelimuti hati Wilona. Setelah memastikan Rena masuk ke dalam gerbang sekolah dengan tas stroberinya yang mencolok, Wilona tidak langsung menuju kantor. Ia memutar kemudi mobilnya ke arah pemukiman padat tempat Tika tinggal sebelum menikah.Firasatnya sejak acara tasyakuran kemarin tidak bisa tenang. Keheningan Tika terasa terlalu janggal untuk seorang sahabat yang biasanya paling berisik di grup percakapan.Setibanya di depan rumah lama Tika, Wilona hanya mendapati gerbang besi yang terkunci rapat dengan tumpukan brosur iklan yang terselip di celah pagar, tanda bahwa rumah itu sudah tidak berpenghuni selama beberapa waktu. Tak menyerah, Wilona memacu mobilnya menuju unit usaha rental PS yang selama ini menjadi kebanggaan Tika. "Tika?" panggil Wilona saat ia melongok ke dalam.Bukan Tika yang muncul, melainkan Tyas, adik perempuan Tika, yang sedang sibuk membe
Suasana di kediaman mewah keluarga Putra hari ini tampak begitu berbeda. Halaman rumah yang biasanya hanya diisi deru mesin mobil, kini disulap menjadi area syukuran yang kental dengan nuansa religius namun tetap elegan. Karangan bunga ucapan selamat berjejer rapi di sepanjang pagar, menyambut tamu-tamu yang hadir untuk mendoakan putra pertama Revan dan Vera, Kenzo Arkananta.Di dalam ruang tengah yang luas, aroma harum kayu cendana dan makanan khas tasyakuran menyerbak. Revan, yang hari ini mengenakan baju koko putih bersih dengan bordir sederhana, tampak sangat berwibawa namun wajahnya memancarkan kelembutan seorang ayah yang baru saja mendapatkan mukjizat. Vera duduk di sofa utama, tampak cantik dengan gamis senada, mendekap Kenzo yang sedang tertidur lelap dalam balutan kain sutra lembut.Hampir semua sahabat dan kerabat dekat hadir, menciptakan keramaian yang hangat. Namun, di antara suara doa dan obrolan orang dewasa, ada satu suara cempreng yang sejak tadi mendominasi suas
Langkah kaki kecil Rena menghentak lantai marmer rumah dengan penuh emosi. Wajahnya yang biasanya cerah kini ditekuk sedalam mungkin, memberikan kesan mendung yang nyata bagi siapa pun yang melihatnya. Yudha menyusul di belakang, berjalan dengan langkah gontai dan bahu yang sedikit merosot, membawa tas sekolah mungil bermotif karakter kartun milik putrinya.Wilona yang sedang menyesap teh hangat di ruang tengah langsung bangkit saat mendengar suara pintu terbuka. Ia sudah menunggu kabar sejak Yudha menelepon bahwa ada "insiden" di sekolah."Kenapa hem? Kok mukanya sampai ditekuk begitu?" tanya Wilona lembut saat Rena melintas di depannya dengan napas yang masih memburu."Gapapa! Sebel sama Reno nakal! Pokoknya Rena nggak mau main sama Reno lagi!" jawab Rena tanpa menoleh sedikit pun. Ia terus berjalan cepat menuju kamarnya di lantai dua, lalu terdengar suara pintu yang ditutup dengan cukup keras meski tidak sampai membanting.Wilona beralih menata
Reno menghentakkan kakinya ke tanah, menunjukkan rasa tidak sukanya yang mendalam. Rena tertegun sejenak. Kata "hamil" yang baru saja diucapkan Reno terdengar seperti petir di siang bolong bagi telinganya. "Mama kamu... hamil?" pekik Rena dengan suara yang cukup nyaring. Reno mengangguk dengan lesu. "Iya. Kata Mama di perutnya ada adik bayi. Nanti katanya aku harus sayang sama adik bayi! Aku gak mau!’’ Mendengar konfirmasi itu, ekspresi wajah Rena berubah drastis. Alih-alih merasa senang untuk temannya, Rena justru merasa dunianya runtuh. Wajahnya semakin cemberut, matanya mulai memerah karena rasa iri yang membakar hati kecilnya. "Kenapa nggak adil sih! Kenapa bukan Bunda saja yang hamil, kenapa malah Mama kamu!" teriak Rena frustrasi. Reno yang kaget dibentak seperti itu langsung membalas, "Ya mana aku tahu! Bukan aku yang bikin perut Mama jadi hamil!’’ "Ahh sebelll! Rena sebel sama Reno!
Rumah sakit itu terasa begitu dingin. Bau antiseptik menusuk hidung, lorong-lorong panjang dipenuhi langkah kaki yang tergesa. Olla hampir berlari, Andika menggenggam tangannya agar tidak terjatuh. Begitu sampai di meja informasi IGD, Andika menyebut nama putranya dengan suara bergetar. “Yudha P
Pagi harinya, cahaya matahari menyelinap lembut melalui celah tirai kamar. Udara masih dingin, namun hangat oleh kehadiran dua hati yang saling menguatkan.EuughhhWilona terbangun perlahan. Matanya masih sedikit berat ketika ia mendapati Yudha sudah berdiri di depan cermin, rapi denga
‘’Maksudnya?’’‘’Hubungan kakak dan Om Yudha,”Evelyn tertawa kecil. “Ya diperjuangin lah. Hidup itu gak selalu sesuai rencana, tapi selama kita pegang orang yang tepat, semuanya bisa dilalui.”Wilona menelan ludah.Orang yang tepat.Apakah Yudha adalah orang yang tepat?Atau ia hanya kapal yang ta
‘’Baiklah, biarkan saja, kamu bisa pergi,. Nanti uangnya akan ku tranfers!’’‘’Baik Nona, terimakasih!’’ Panggilan itu berakhir dengan cepat setelah Evelyn menyuruhnya pulang. Namun, ponsel di tangannya kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.Yudha tidak ke kantor.Lalu… di







