LOGIN“Saya yang masak!” jawab Yudha datar tanpa menoleh,
kedua matanya tetap fokus pada tablet di depannya. Jemarinya sesekali mengetuk layar, seolah sedang memeriksa laporan penting yang tak bisa ditunda. Wilona langsung membeku. Sendok yang tadi sibuk ia gerakkan kini berhenti di udara. Perlahan ia menurunkannya, menatap Yudha seperti melihat fenomena langka. “Kenapa? Nggak percaya?” tanya Yudha sambil akhirnya mengalihkan pandangan. Tatapannya bertemu langsung dengan mata Wilona. Deg! Jantung Wilona berdebar aneh, terlalu keras untuk ukuran percakapan biasa. Ada sesuatu pada tatapan itu tenang, dewasa, tapi entah kenapa membuat tubuhnya terasa hangat. Tanpa sadar, pandangannya turun… ke bibir Yudha. Dahinya mengerut spontan. “Bibir Om kenapa? Luka?” tanyanya polos, benar-benar tanpa rasa bersalah. Yudha menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Menurutmu kenapa?” “Gak tahu, kegigit ya om?” Wilona mengernyit lebih dalam. “Hemm.” Yudha hanya menggumam, malas menjelaskan. Wilona mendecak. “Makanya Om, kalau makan itu pelan-pelan. Biar gak kegigit.” Yudha menghentikan napasnya sepersekian detik. Kepalanya perlahan terangkat, dahi berkerut tajam. “Gimana kalau bukan saya yang gigit?” balas Yudha tenang, namun intonasinya membuat udara di antara mereka menegang. Wilona terdiam. Dalam beberapa detik, ekspresinya kosong… sebelum akhirnya dia bersuara lagi. “Terus siapa? Kak Eve?” tanyanya lugu, seolah tidak ada kemungkinan lain di dunia ini. Wilona mengangguk mantap, seperti deduksi ilmiah yang tak bisa disangkal. “Pasti Kak Eve. Ihhh… hubungan orang dewasa aneh banget sih. Sampai susah ditebak!” katanya sambil mengangkat bahu, lalu kembali makan seolah baru membicarakan hal sepele. “Wilona.” “Hem?” Gadis itu menatap tanpa curiga, pipinya masih penuh makanan. Yudha meletakkan tablet, lalu menyandarkan diri dengan tatapan yang lebih serius tapi justru itu membuat aura dewasa dan karismanya semakin terasa. “Ini luka baru!’’ ‘’L—luka baru? Maksudnya?” “Kamu lupa yang semalem?’’ Ting ! Sendok di tangan Wilona jatuh menimpa piring. Suara nyaring itu seolah menegaskan kepanikannya sendiri. “M—m—maksud Om… a-a-aku???” Wajah Wilona memerah dalam sekejap, seperti tomat yang dilempar ke wajan panas. Yudha menautkan alis, seolah bingung kenapa gadis itu terkejut. “Kamu mabuk. Kamu narik saya. Kamu gigit saya. Berkali-kali.” ‘’W—what!!’’ Wajah Wilona semakin merah, panas menyebar ke telinga hingga leher. “A—aku… aku gigit bibir om Yudha?’’ “Hem.” Yudha mengangguk santai. Kemudian dia mencondongkan tubuh ke depan, mendekat ke wajah Wilona. “Dan itu sakit.” Wilona langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan. Matanya melebar, nyaris berair karena malu. “O—om jangan bercanda. I—ini masih pagi, gak lucu!’’ “Apa wajah saya terlihat bercanda?” Yudha balas menatap tajam, tapi bibirnya justru menahan senyum jahil. “Sampai sekarang masih nyut-nyutan. Kamu gigitnya lama… dan dalam.” “OM!!” jerit Wilona, wajahnya seperti kepiting rebus. Melihat reaksi itu, Yudha akhirnya benar-benar tersenyum tipis, tapi jelas. Ia lalu bersandar kembali dengan sikap sangat santai. Wilona masih mencoba mengingat Kembali bayangan semalam. Hingga terlintas saat dimana dia berusaha keras menggoda Yudha, dan bagaimana Yudha berusaha menghindarinya. Tapi, Wilona terus memaksa hingga dia benar mengambil langkah lebih dulu. Bahkan, semakin Wilona mencoba mengingat kejadian semalas, dia semakin merasa sangat malu. Bagaimana bisa, Wilona bersikap sebinal itu? Kepada calon kakaknya, walau kakak jauh tapi tetap saja dia sudah menganggap Evelyn kakaknya sendiri. Tapi kini dia malah menggoda calon suami dari kakaknya itu. “Dan karena kamu yang membuat saya sakit…” Wilona menelan ludah gugup. “Maka kamu harus tanggung jawab.” ‘’T—tanggung jawab g—gimana?’’ Wilona membenamkan wajah di telapak tangannya. Yudha tiba-tiba bangkit dan berjalan ke arah Wilona. Langkahnya pelan, tapi aura dewasa dan dominannya membuat jantung Wilona berdebar seperti genderang perang. Ia bahkan ingin kabur dari kursi, tapi tubuhnya kaku. Yudha berhenti tepat di belakangnya. Dengan sengaja ia menunduk, bibir hampir menyentuh telinga Wilona. “Gantian.” “M—m—maksud Om??!” Wilona menegakkan punggungnya kaget. “Sini.” Tangannya tiba-tiba menyentuh dagu Wilona dari belakang, lembut tapi membuat gadis itu hampir pingsan. Yudha memiringkan wajah Wilona agar menatapnya. “Gantian kamu yang saya gigit.”Malam itu, pelataran sebuah *resort* mewah di kawasan perbukitan Bandung disulap menjadi taman surgawi. Lampu-lampu *warm white* menggantung cantik di antara pepohonan, menciptakan pendar keemasan yang memantul di permukaan kolam renang. Aroma bunga sedap malam dan melati menyerbak, menyambut para tamu yang hadir untuk merayakan satu dekade perjalanan cinta yang tak biasa. Di tengah panggung kecil yang dekorasinya didominasi warna putih dan emas, berdiri Yudha dan Wilona. Sepuluh tahun telah berlalu, namun tatapan Yudha pada istrinya tidak pernah berubah tetap penuh perlindungan dan kekaguman. Wilona tampil anggun dengan gaun satin yang memeluk tubuhnya dengan sempurna, sementara Yudha tetap terlihat gagah meski guratan kedewasaan semakin tegas di wajahnya. Perbedaan usia sepuluh tahun lebih di antara mereka kini tak lagi terasa sebagai jurang, melainkan sebagai penyeimbang yang kokoh. "Terima kasih sudah ber
Malam harinya, suasana ruang makan di kediaman Yudha dan Wilona malam itu terasa jauh lebih tenang dibandingkan badai yang pecah pagi tadi. Aroma semur daging dan sup ayam yang mengepul dari atas meja seolah menjadi penawar lelah setelah seharian beraktivitas. Wilona sedang menata piring-piring, sementara Rena duduk dengan wajah yang masih sedikit ditekuk, sibuk memainkan ponselnya tanpa minat. Si kembar, Vero dan Varo, duduk di kursi mereka dengan kaki yang berayun-ayun, sesekali saling sikut namun tetap berusaha tenang karena tahu "otoritas tertinggi" rumah akan segera tiba. Terdengar suara deru mobil memasuki garasi, disusul suara pintu yang tertutup. Detik berikutnya, langkah kaki mantap terdengar menuju ruang makan. "Ayahhhh!" Vero dan Varo serempak melompat dari kursi mereka. Seperti anak panah yang meluncur, keduanya berlari menghambur ke arah pintu, memeluk kaki pria yang masih mengenakan kemeja kerja
Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja
Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa
"Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.
"Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i
Seperginya Evelyn, pintu ruang perawatan itu tertutup pelan. Suara kecil itu terasa seperti garis batas memisahkan masa lalu dan masa kini.Ruangan mendadak sangat hening. Cahaya lampu putih menerangi wajah pucat anak itu, sementara di sudut ruangan, dua orang dewasa berdiri saling berhadapan denga
Di depan ruang perawatan Rena, suasana terasa begitu berat. Lampu lorong rumah sakit menyala terang, tapi tak mampu mengusir dingin yang menjalar di dada masing-masing orang yang berdiri di sana. Melalui kaca transparan, terlihat seorang gadis kecil terbaring lemah di atas ranjang pasien. Wajahnya
Mobil hitam itu akhirnya berhenti di halaman kantor pusat. Gedung tinggi dengan dinding kaca menjulang, terlihat begitu gagah tetapi bagi Yudha, semua itu masih terasa seperti tempat asing yang kebetulan memakai namanya.Begitu mobil berhenti, supir segera turun membuka pintu.Yudha
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol







