Beranda / Romansa / Mendadak Jadi Sugar Baby / Siapa yang gigit? 😌

Share

Siapa yang gigit? 😌

Penulis: Mommy_Ar
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-19 17:28:01

“Saya yang masak!” jawab Yudha datar tanpa menoleh,

kedua matanya tetap fokus pada tablet di depannya. Jemarinya sesekali mengetuk layar, seolah sedang memeriksa laporan penting yang tak bisa ditunda.

Wilona langsung membeku.

Sendok yang tadi sibuk ia gerakkan kini berhenti di udara. Perlahan ia menurunkannya, menatap Yudha seperti melihat fenomena langka.

“Kenapa? Nggak percaya?” tanya Yudha sambil akhirnya mengalihkan pandangan. Tatapannya bertemu langsung dengan mata Wilona.

Deg!

Jantung Wilona berdebar aneh, terlalu keras untuk ukuran percakapan biasa. Ada sesuatu pada tatapan itu tenang, dewasa, tapi entah kenapa membuat tubuhnya terasa hangat.

Tanpa sadar, pandangannya turun… ke bibir Yudha. Dahinya mengerut spontan.

“Bibir Om kenapa? Luka?” tanyanya polos, benar-benar tanpa rasa bersalah.

Yudha menahan napas sejenak sebelum menjawab, “Menurutmu kenapa?”

“Gak tahu, kegigit ya om?” Wilona mengernyit lebih dalam.

“Hemm.” Yudha hanya menggumam, malas menjelaskan.

Wilona mendecak. “Makanya Om, kalau makan itu pelan-pelan. Biar gak kegigit.”

Yudha menghentikan napasnya sepersekian detik. Kepalanya perlahan terangkat, dahi berkerut tajam.

“Gimana kalau bukan saya yang gigit?” balas Yudha tenang, namun intonasinya membuat udara di antara mereka menegang.

Wilona terdiam. Dalam beberapa detik, ekspresinya kosong… sebelum akhirnya dia bersuara lagi.

“Terus siapa? Kak Eve?” tanyanya lugu, seolah tidak ada kemungkinan lain di dunia ini. Wilona mengangguk mantap, seperti deduksi ilmiah yang tak bisa disangkal.

“Pasti Kak Eve. Ihhh… hubungan orang dewasa aneh banget sih. Sampai susah ditebak!” katanya sambil mengangkat bahu, lalu kembali makan seolah baru membicarakan hal sepele.

“Wilona.”

“Hem?” Gadis itu menatap tanpa curiga, pipinya masih penuh makanan.

Yudha meletakkan tablet, lalu menyandarkan diri dengan tatapan yang lebih serius tapi justru itu membuat aura dewasa dan karismanya semakin terasa.

“Ini luka baru!’’

‘’L—luka baru? Maksudnya?”

“Kamu lupa yang semalem?’’

Ting !

Sendok di tangan Wilona jatuh menimpa piring. Suara nyaring itu seolah menegaskan kepanikannya sendiri.

“M—m—maksud Om… a-a-aku???” Wajah Wilona memerah dalam sekejap, seperti tomat yang dilempar ke wajan panas.

Yudha menautkan alis, seolah bingung kenapa gadis itu terkejut. “Kamu mabuk. Kamu narik saya. Kamu gigit saya. Berkali-kali.”

‘’W—what!!’’ Wajah Wilona semakin merah, panas menyebar ke telinga hingga leher. “A—aku… aku gigit bibir om Yudha?’’

“Hem.” Yudha mengangguk santai. Kemudian dia mencondongkan tubuh ke depan, mendekat ke wajah Wilona. “Dan itu sakit.”

Wilona langsung menutup bibirnya dengan kedua tangan. Matanya melebar, nyaris berair karena malu.

“O—om jangan bercanda. I—ini masih pagi, gak lucu!’’

“Apa wajah saya terlihat bercanda?” Yudha balas menatap tajam, tapi bibirnya justru menahan senyum jahil. “Sampai sekarang masih nyut-nyutan. Kamu gigitnya lama… dan dalam.”

“OM!!” jerit Wilona, wajahnya seperti kepiting rebus.

Melihat reaksi itu, Yudha akhirnya benar-benar tersenyum tipis, tapi jelas. Ia lalu bersandar kembali dengan sikap sangat santai.

Wilona masih mencoba mengingat Kembali bayangan semalam. Hingga terlintas saat dimana dia berusaha keras menggoda Yudha, dan bagaimana Yudha berusaha menghindarinya.

Tapi, Wilona terus memaksa hingga dia benar mengambil langkah lebih dulu. Bahkan, semakin Wilona mencoba mengingat kejadian semalas, dia semakin merasa sangat malu.

Bagaimana bisa, Wilona bersikap sebinal itu? Kepada calon kakaknya, walau kakak jauh tapi tetap saja dia sudah menganggap Evelyn kakaknya sendiri.

Tapi kini dia malah menggoda calon suami dari kakaknya itu.

“Dan karena kamu yang membuat saya sakit…” Wilona menelan ludah gugup. “Maka kamu harus tanggung jawab.”

‘’T—tanggung jawab g—gimana?’’ Wilona membenamkan wajah di telapak tangannya.

Yudha tiba-tiba bangkit dan berjalan ke arah Wilona. Langkahnya pelan, tapi aura dewasa dan dominannya membuat jantung Wilona berdebar seperti genderang perang.

Ia bahkan ingin kabur dari kursi, tapi tubuhnya kaku. Yudha berhenti tepat di belakangnya. Dengan sengaja ia menunduk, bibir hampir menyentuh telinga Wilona.

“Gantian.”

“M—m—maksud Om??!” Wilona menegakkan punggungnya kaget.

“Sini.” Tangannya tiba-tiba menyentuh dagu Wilona dari belakang, lembut tapi membuat gadis itu hampir pingsan. Yudha memiringkan wajah Wilona agar menatapnya. “Gantian kamu yang saya gigit.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Neneng Gejora
nah loh Wilona di mintain tanggung jawab kan,, hayoohh Om Yudha menagih.........
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Apa dia anakku?

    Sejak kepulangannya dari rumah sakit, suasana memang selalu dipenuhi kewaspadaan semua orang berjalan pelan, bicara lirih, seolah takut mengusik ingatan yang belum kembali.Bel berbunyi.Pelayan membuka pintu, dan seorang pria berdiri rapi di sana.“Selamat malam, Pak,” sapa Dirga sopan ketika akhirnya ia berhadapan langsung dengan Yudha di ruang tamu.Sudah lama ia ingin datang. Tapi baru sekarang, ia bisa menjenguk langsung.Yudha menatapnya beberapa detik. Tatapannya kosong, menilai, seperti mencoba mencari sesuatu di wajah pria itu.“Kamu siapa?” tanya Yudha datar.Dirga menelan ludah pelan, tapi tetap menjaga sikap profesional.“Saya Dirga, Pak. Asisten pribadi Pak Yudha di kantor.”Beberapa detik hening.Yudha mengangguk kecil, seolah mencatat informasi itu dalam kepalanya yang kini seperti buku kosong.“Apa kamu bisa kupercaya?”Pertanyaan itu membuat Dirga sedikit terkejut. Namun ia langsung menunduk hormat.“InsyaAllah bisa, Pak.”Yudha menatapnya sekali lagi, lalu tanpa berk

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Sulit mengingat

    Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pagi itu. Evelyn menyusul tak lama kemudian. Ia mengenakan blouse putih sederhana dan celana panjang hitam. Tidak seperti biasanya yang glamor dan penuh sorotan kamera, hari itu ia tampil sederhana. Matanya pun masih sembab entah karena kurang tidur atau terlalu sering menangis.Perawat membantu Yudha duduk di kursi roda. Tatapannya tenang, tapi kosong. Ia melihat ketiganya bergantian, seolah sedang berusaha mengenali siapa yang berdiri di hadapannya.“Kita pulang ya, Nak,” ucap Ola lembut, berusaha terdengar ceria.Yudha hanya mengangguk pelan.Sepanjang perjalanan menuju rumah, suasana di dalam mobil terasa canggung. Andika menyetir. Ola di kursi depan. Sementara Yudha d

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Aku pacar kamu!

    Ada jeda sepersekian detik. Sangat singkat. Tapi cukup untuk membuat Evelyn menyadarinya.“Kenapa kamu tanya begitu?” balas Ola.“Apa yang sebenarnya terjadi, Tante?” Evelyn menelan ludah. “Kenapa Yudha hanya mengingat nama Wilo? Kenapa bukan aku? Kenapa bukan Tante? Pasti ada sesuatu yang Eve gak tahu…”Kalimat itu menggantung di udara. Ola menggenggam tangan Evelyn. Genggamannya erat, hampir terlalu erat.“Kamu percaya sama Tante?” Evelyn terdiam. “Kamu tahu kan Tante sayang sama kamu, Eve? Tante cuma mau yang terbaik buat kamu dan Yudha.”“Maksud Tante?” tanya Evelyn pelan.Ola menatapnya dengan sorot mata yang sulit ditebak. “Sudahlah. Kamu tidak perlu lagi memikirkan adik kamu itu.”Kalimat itu membuat jantung Evelyn berdegup lebih kencang.Bukan “kita cari bersama.”Bukan “kita lapor polisi lagi.”Tapi, Tidak perlu memikirkan.“Tolong fokuslah pada Yudha,” lanjut Ola dengan suara lembut namun mengandung tekanan yang kuat. “Dan segera

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kebohongan Olla

    Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menoleh ke arah Evelyn.Ola juga.Tatapan mereka sama-sama terkejut. Evelyn berdiri tegak, meski jantungnya seperti diremas. Tangannya dingin. Tapi ia tidak ingin bersembunyi lagi di balik diam.“Wilona adalah adikku,” ulangnya lebih pelan, menatap langsung ke mata Yudha. “Kenapa kamu mencarinya?”Ada getar halus di suaranya.Bagaimana mungkin…?Pria yang ia tunggu sebulan penuh untuk sadar, pria yang hampir ia nikahi, justru membuka mata dan menyebut nama perempuan lain.Nama adiknya sendiri. Yudha memandang Evelyn lama. Wajah itu cantik. Lembut. Penuh kesedihan.Tapi tetap saja, Tidak ada kenangan.“Adik kamu?” ulang Yudha pelan. “Di mana dia sekarang?”S

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Kenapa Wilona?

    Bunyi mesin monitor berdetak pelan memenuhi ruang ICU yang kini terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Sudah hampir satu bulan Yudha terbaring tanpa kesadaran. Tubuhnya terpasang berbagai selang dan alat bantu. Wajahnya pucat, namun tetap menyimpan garis tegas yang dulu begitu hidup. Dan pagi itu… jari-jarinya bergerak. Pelan. Sangat pelan. Alisnya berkerut. Napasnya berubah lebih berat. Lalu perlahan… matanya terbuka. Pandangan Yudha masih kabur. Lampu putih di langit-langit terasa menyilaukan. Ia mengerjap beberapa kali, mencoba fokus. Ruangan itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana. Hanya suara mesin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar. Bibirnya yang kering bergerak pelan. “W–Wilona…” Nama itu keluar begitu saja. Refleks. Seolah tertanam dalam kesadarannya yang paling dalam. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka pelan. Evelyn masuk membawa tas kecil di tangannya. Ia datang seperti hari-hari sebelumnya menemani, berbicara pada tubuh yang tak pernah

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Evelyn frustasi

    Langit Jakarta terlihat mendung, seolah ikut memayungi hati Evelyn yang tak tenang. Mobilnya meluncur menuju kantor Yudha dengan kecepatan stabil, tapi pikirannya kacau.Ucapan Vera dan Tika terus terngiang. Wilona sering manggil Mas Yudha… Beberapa kali dijemput Dirga… Udah cukup lama sih, Kak…Tidak.Ia hanya ingin memastikan. Hanya itu. Gedung kantor yang menjulang tinggi dengan dinding kaca itu berdiri megah di pusat kota. Biasanya tempat itu membuatnya bangga, tempat calon suaminya bekerja. Tempat masa depan mereka disusun rapi.Hari ini terasa asing. Evelyn turun dari mobil, langkahnya mantap meski dadanya sesak. Resepsionis langsung berdiri ketika melihatnya.“Selamat siang, Nona Evelyn.”“Saya mau bertemu Dirga,” ucapnya tenang.“Baik, Nona. Beliau ada di ruangan.”Lift eksekutif membawanya ke lantai atas. Ting!Pintu terbuka. Beberapa staf menunduk hormat saat ia melintas.Tok tok.“Masuk,” suara tegas terdeng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status