Share

Pemakaman

Author: Mommy_Ar
last update publish date: 2026-01-28 10:01:42

Angin sore berembus pelan, menggoyangkan dedaunan dan mengantar kesunyian pemakaman itu.

Hampir semua orang sudah pulang, namun Wilona tetap duduk di antara dua makam orang tuanya, tidak bergeser sedikit pun.

Tanah merah yang masih basah menempel di ujung jarinya. Pandangannya kosong.

Wajahnya pucat. Tidak ada air mata, tidak ada suara. Seolah seluruh dirinya terkunci pada titik itu dan enggan kembali pulang ke dunia nyata.

Evelyn duduk di sampingnya, menatap dengan cemas. S
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
diah nursanti
hanya Yudha yg bisa jadi pawangnya kayaknya
goodnovel comment avatar
Evievoy Rafyno
sabar will tenang will .... aku bantu nangisss
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 227

    Beberapa tahun kemudian …Tahun-tahun telah berlalu, membawa perubahan besar pada kediaman Wilona yang dulu tenang dan teratur. Rumah yang dulunya hanya diisi oleh suara tawa kecil Renata dan denting sendok saat sarapan, kini berubah menjadi medan tempur setiap pagi. "ALVAROOOOOOO!"Suara jeritan Renata di pagi buta itu memecah kesunyian, menggetarkan pigura foto di ruang tamu, dan menjadi pertanda bahwa bencana besar baru saja pecah di kamarnya."Bukan aku Kak, itu Vero!" sahut suara dari kamar sebelah dengan nada yang tak kalah tinggi. Alvaro, yang sedang asyik memakai kaus kaki, langsung melakukan pembelaan diri sebelum dituduh lebih jauh.Sementara itu, di dalam kamar Rena, seorang anak laki-laki berusia sekitar lima tahun berdiri mematung di samping meja belajar. Namanya Alvero, kembaran Alvaro. Ia tengah menyengir kuda, menampilkan deretan gigi susunya yang kecil, sementara tangannya masih memegang sebuah gantungan kunci yang baru saja

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 226

    Pagi di kaki gunung itu terasa begitu magis. Kabut tipis masih menyelimuti aliran sungai, sementara aroma tanah basah dan kopi tubruk yang diseduh Teh Ina memenuhi ruang makan. Vera dan Wilona duduk di teras kayu, menatap hamparan hijau yang sangat kontras dengan pemandangan beton yang biasa mereka lihat di Jakarta. Namun, tugas sebagai ibu dan istri sudah memanggil. Kenzo di Jakarta pasti sudah merindukan dekapan bundanya, begitu pula dengan Rena yang mungkin sudah rewel mencari Wilona. Setelah sarapan nasi liwet hangat buatan Teh Ina, Vera dan Wilona mulai merapikan barang-barang mereka ke dalam mobil. Tika berdiri di ambang pintu, tangannya mengelus perutnya yang kini terlihat jauh lebih besar dari kemarin. Ada gurat kebahagiaan yang tak bisa dimanipulasi di wajahnya. "Sampaikan salamku buat Revan dan Om Yudha ya," ujar Tika lembut. "Makasih banget kalian sudah jauh-jauh ke sini. Maaf kalau tempa

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 225

    "Sumpah aku nggak ngerti maksud kalian!" kata Tika sambil menghela napas berat, mencoba meredakan ketegangan yang dibawa kedua sahabatnya dari Jakarta. Ia mengajak Wilona dan Vera duduk di sebuah bangku kayu panjang yang terletak di bawah pohon rindang tak jauh dari bibir sungai. Tika menatap kedua sahabatnya dengan tatapan serius namun tenang. "Pertama, kalian bener. Aku memang jadi istri kedua. Dan sorry, aku nggak bilang ke kalian sebelumnya karena jujur, aku malu.’’ ‘’Aku tahu standar moral kita, aku tahu apa yang bakal orang-orang omongin tentang status ini," ungkap Tika lirih. Ia menunduk sebentar, memainkan ujung daster batiknya. "Tapi aku bukan pelakor kok," imbuhnya dengan nada yang lebih tegas. "Terus kenapa, Tik? Kenapa kamu mau jadi istri kedua dan malah hidup di gunung kayak gini? Kalau kamu diapa-apain sama istri pertama gimana? Kamu dibunuh di sini nggak ada yang tahu, Tika! Sinyal nggak ada, tetangga jauh.

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 224

    "Iya Bunda, harus. Satu mobil khusus untuk Vera dan Wilona supaya kami bisa mengobrol nyaman di dalam. Mobil satu lagi untuk membawa oleh-oleh buat Tika, Wilona beli banyak sekali perlengkapan bayi untuk Tika dan juga untuk tempat para pengawal. Jadi kami benar-benar aman."Bunda Vita akhirnya tersenyum lebar. Ia tahu bahwa keluarga Yudha memang tidak pernah main-main soal keamanan dan kenyamanan. "Syukurlah kalau begitu. Bunda jadi lebih tenang melepas kalian. Pokoknya kalau ada apa-apa, sekecil apa pun itu, segera kabari Bunda atau Revan. Jangan ditunda-tunda.""Siap, Bunda!" jawab Vera dengan semangat, ia memberikan pose hormat yang jenaka.Tak lama kemudian, klakson mobil Yudha terdengar di depan gerbang. Wilona menyembulkan kepalanya dari jendela mobil sambil melambaikan tangan. Vera mencium kening Kenzo untuk terakhir kalinya sebelum berangkat, membisikkan janji bahwa ia akan segera pulang.Begitu Vera masuk ke dalam mobil Alphard hitam yang nyaman, i

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 223

    Pagi itu, langit Jakarta nampak sedikit mendung, seolah mencerminkan kegelisahan yang menyelimuti hati Wilona. Setelah memastikan Rena masuk ke dalam gerbang sekolah dengan tas stroberinya yang mencolok, Wilona tidak langsung menuju kantor. Ia memutar kemudi mobilnya ke arah pemukiman padat tempat Tika tinggal sebelum menikah.Firasatnya sejak acara tasyakuran kemarin tidak bisa tenang. Keheningan Tika terasa terlalu janggal untuk seorang sahabat yang biasanya paling berisik di grup percakapan.Setibanya di depan rumah lama Tika, Wilona hanya mendapati gerbang besi yang terkunci rapat dengan tumpukan brosur iklan yang terselip di celah pagar, tanda bahwa rumah itu sudah tidak berpenghuni selama beberapa waktu. Tak menyerah, Wilona memacu mobilnya menuju unit usaha rental PS yang selama ini menjadi kebanggaan Tika. "Tika?" panggil Wilona saat ia melongok ke dalam.Bukan Tika yang muncul, melainkan Tyas, adik perempuan Tika, yang sedang sibuk membe

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Bab 222

    Suasana di kediaman mewah keluarga Putra hari ini tampak begitu berbeda. Halaman rumah yang biasanya hanya diisi deru mesin mobil, kini disulap menjadi area syukuran yang kental dengan nuansa religius namun tetap elegan. Karangan bunga ucapan selamat berjejer rapi di sepanjang pagar, menyambut tamu-tamu yang hadir untuk mendoakan putra pertama Revan dan Vera, Kenzo Arkananta.Di dalam ruang tengah yang luas, aroma harum kayu cendana dan makanan khas tasyakuran menyerbak. Revan, yang hari ini mengenakan baju koko putih bersih dengan bordir sederhana, tampak sangat berwibawa namun wajahnya memancarkan kelembutan seorang ayah yang baru saja mendapatkan mukjizat. Vera duduk di sofa utama, tampak cantik dengan gamis senada, mendekap Kenzo yang sedang tertidur lelap dalam balutan kain sutra lembut.Hampir semua sahabat dan kerabat dekat hadir, menciptakan keramaian yang hangat. Namun, di antara suara doa dan obrolan orang dewasa, ada satu suara cempreng yang sejak tadi mendominasi suas

  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Yudha sensitif

    Tubuh Wilona yang semula meronta akhirnya melemah. Nafasnya tersengal, jemarinya gemetar hebat, dan beberapa detik kemudian matanya perlahan terpejam. Revan yang sejak tadi berada paling dekat langsung menangkap tubuhnya sebelum jatuh membentur tanah.“Wil… Wilona!” panggilnya panik.

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Ke Bandara

    “Wil, tunggu dulu, ih!” Vera berhasil mengejar Wilona yang sudah melangkah cepat menuju pintu keluar mall. Nafasnya sedikit terengah, tapi ia tetap berusaha mengejar sahabatnya. Wilona menoleh sekilas, mata berbinar kesal.“Kamu ngambek lagi?” tanya Vera setengah geli, setengah khawatir.

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Wilona pingsan

    Wilona buru-buru merogoh tasnya dengan tangan gemetar. Ponselnya hampir terjatuh, tapi ia tangkap lagi dengan panik. Ia langsung menekan nomor ibunya, nomor yang hafal di luar kepala.Nada sambung… lalu mati.Tidak aktif.Wilona menahan napas, lalu mencoba lagi. Nada sambung bahk

    last updateLast Updated : 2026-03-22
  • Mendadak Jadi Sugar Baby   Histeris

    Belum sempat Dimas menambahkan apa pun, tiba-tiba sambungan langsung terputus.Tuut… tuut…Dimas menatap ponselnya kaget. “Kok malah dimatikan?” gumamnya, bingung.Sementara itu di hotel tempat Yudha sedang berada, wajahnya memucat. Tangannya bergetar saat menurunkan ponsel. Ia tidak menunggu sede

    last updateLast Updated : 2026-03-22
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status