LOGINUdara pagi itu terasa sedikit lebih berat dari biasanya bagi Vera. Di balik kemudi mobilnya, ia tidak benar benar fokus pada jalanan aspal yang ia lalui, melainkan pada gema suara Revan yang terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “Dia temen SMP ku dulu.” Kalimat itu terdengar begitu enteng, terlalu ringan untuk di telinga Vera.Vera memacu mobilnya sedikit lebih kencang, membelah kemacetan kota menuju kediaman Wilona. Ia sudah menghubungi Tika di perjalanan tadi, memastikan bahwa sahabatnya yang satu itu juga hadir. Baginya, menghadapi kegelisahan ini sendirian hanya akan membuatnya gila, dan rumah Wilona selalu menjadi benteng pertahanan terbaik untuk menumpahkan segala gundah.Sesampainya di sana, Vera tidak menunggu lama untuk turun. Ia melangkah dengan terburu buru, membawa beban pikiran yang tidak kasat mata. Begitu pintu depan terbuka dan menampakkan wajah ceria Wilona, Vera bahkan tidak sempat memberikan sapaan basa basi yang manis. Ia langsung masuk, meletakka
“Dia temen SMP-ku dulu. Kamu bisa tanya ke Wilona, dia juga kenal kok,” jawabnya ringan.Tapi, Jawaban itu justru membuat alis Vera sedikit berkerut.Revan menoleh. Wajahnya masih tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda terganggu oleh pertanyaan itu. Ia bahkan terlihat santai saat menjawab, “Dia temen SMP-ku dulu. Kamu bisa tanya ke Wilona, dia juga kenal kok.”Jawaban yang sederhana. Terlalu sederhana, malah. Vera mengangguk kecil, meski di dalam hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal. “Kalian sedeket itu ya?” tanyanya lagi, kali ini sedikit lebih hati-hati.Revan tidak langsung menjawab. Ia sempat berpikir sejenak, lalu mengangkat bahu ringan. “Dibilang deket banget sih enggak ya… tapi ya lumayan dulu. Kami sering satu tim.”“Ohhh…” respon Vera singkat.Tidak ada pertanyaan lanjutan. Tidak ada ekspresi berlebihan. Tapi justru itu yang membuat suasana terasa berbeda.Karena di balik respon sederhana itu, kepala Vera dipenuhi banyak hal. Pertanyaan-
Vera menunduk, jemarinya saling bertaut di atas selimut. “Tapi kan, Van… kita—” kalimatnya menggantung, tidak sanggup ia lanjutkan. Bahkan ia sendiri bingung harus menyebut hubungan mereka sebagai apa.“Kita apa?” potong Revan cepat, kali ini suaranya lebih dalam.Vera terdiam. Tidak ada jawaban. Hanya napas yang terasa semakin berat. Revan menghela napas panjang, Ia duduk di samping Vera tanpa ragu, lalu meraih tangan wanita itu. Genggamannya hangat dan tegas, seolah tidak ingin memberi ruang bagi Vera untuk menarik diri lagi.“Ver,” ucapnya pelan namun serius, “kita bukan anak SMA lagi. Kita sudah dewasa. Apa sih yang sebenarnya mau kamu cari?”Pertanyaan itu sederhana, tapi menghantam tepat ke hati Vera. Ia menatap tangan mereka yang saling menggenggam, lalu menjawab lirih, “Aku gak tahu, Van…” Jujur, tanpa pembelaan.Revan tersenyum tipis, bukan karena lucu, tapi karena ia mengerti. Ia menggenggam tangan Vera sedikit lebih erat. “Ya udah
Pagi datang perlahan, menyelinap melalui celah tirai jendela yang tidak tertutup sempurna. Sinar matahari jatuh tepat di wajah Vera, membuat wanita itu mengerjap pelan. Napasnya masih berat, kepalanya terasa sedikit pusing, efek sisa dari alkohol yang semalam ia teguk tanpa batas.Vera mengerang pelan.Tangannya bergerak refleks memijat pelipis, mencoba menetralkan rasa pening yang mengganggu. Beberapa detik ia masih memejamkan mata, menikmati sisa kantuk yang belum sepenuhnya hilang.Namun perlahan… Kesadarannya mulai kembali. Dan sesuatu terasa… aneh.Vera membuka mata. Langit-langit kamar itu bukan miliknya.Alisnya langsung berkerut. Ia mengedarkan pandangan, memperhatikan setiap sudut ruangan yang terlihat asing namun… tidak benar-benar asing.Deg.Jantungnya berdetak lebih cepat.Ia langsung bangkit duduk, selimut yang semula menutupi tubuhnya merosot hingga ke pinggang. Matanya membesar, napasnya tertahan.“Loh,” gumamnya lirih.Tatapannya jatuh pada interior kamar yang ia k
Malam sudah larut, udara terasa lebih dingin dibandingkan tadi saat mereka masih berada di jalan. Revan turun lebih dulu, lalu berjalan ke sisi penumpang. Ia membuka pintu perlahan. Tatapannya langsung jatuh pada Vera yang terlelap, tubuhnya sedikit miring dengan napas yang mulai teratur. Wajah wanita itu terlihat lelah, tapi juga… tenang. Sangat berbeda dengan beberapa saat lalu, ketika emosinya meledak begitu saja.Revan menghela napas panjang.“Benar-benar bikin aku gila,” gumamnya pelan, nyaris tanpa suara.Dengan hati-hati, ia mengulurkan tangan, mengangkat tubuh Vera dari kursi mobil. euggghhhWanita itu tidak terbangun, hanya sedikit mengerang pelan dan secara refleks merapatkan diri ke dada Revan. Tanpa sadar, pria itu tersenyum tipis.Langkahnya pelan, tapi pasti, memasuki apartemen yang sudah sunyi. Lampu-lampu redup menciptakan suasana hangat, seolah menyambut kepulangan mereka. Revan langsung menuju kamar, mendorong pintu dengan b
"Ver, k—kamu mau apa?" "Hehehe, kok kayaknya gede ya?" Revan terus menepis tangan Vera dari gundukan di celana nya. Tapi sulit, semakin ia di larang justru seperti membuat Vera semakin berani. Revan yang sedang menyetir tak bisa mengontrol lagi. Fokus nya buyar, antara jalanan dan juga sentuhan vera. "Keras banget, boleh buka gak?" tanya Vera polos. "Enggak!" tolak revan cepat, "Diem Ver Balik duduk atau aku turunin kamu di jalan!"Vera menggelengkan kepalanya cepat, "Gak mau. Aku cuma mau kamu doang."Bibirnya manyun, matanya menatap sayup. Membuat revan semakin tak kuasa. Tanpa sadar dia menelan saliva nya. "Suami aku kan lagi sama cewek barunya. Jadi aku mau sama kamu," ucap vera, tangannya semakin sensual meremas milik Revan. "Vera sadar! Aku ini siapa?" tanya revan menggeram. "Kamu pacar aku."Dan tanpa aba aba, vera langsung membuka ikat pinggang revan. Membuat laki-laki itu terbelalak. Tapi dia tidak bis
Begitu pintu VIP room tertutup rapat, Wilona langsung menghembuskan napas panjang, seolah baru saja berhasil keluar dari permukaan air setelah lama ditenggelamkan. Bahunya turun, tubuhnya melemas. Tanpa berkata apa-apa, dia melangkah ke sofa empuk di sudut ruangan lalu menjatuhkan diri di sa
Setelah pesta makan yang nyaris seperti jamuan perang itu, Wilona benar-benar merasa dunia berhenti berputar. Perutnya penuh, dadanya hangat, dan kepalanya sedikit ringan, antara kenyang dan lega. Ia merebahkan tubuh di sofa VIP room, satu tangan menopang perut, satu tangan lagi sibuk m
‘’Maksudnya?’’‘’Hubungan kakak dan Om Yudha,”Evelyn tertawa kecil. “Ya diperjuangin lah. Hidup itu gak selalu sesuai rencana, tapi selama kita pegang orang yang tepat, semuanya bisa dilalui.”Wilona menelan ludah.Orang yang tepat.Apakah Yudha adalah orang yang tepat?Atau ia hanya kapal yang ta
‘’Baiklah, biarkan saja, kamu bisa pergi,. Nanti uangnya akan ku tranfers!’’‘’Baik Nona, terimakasih!’’ Panggilan itu berakhir dengan cepat setelah Evelyn menyuruhnya pulang. Namun, ponsel di tangannya kini terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.Yudha tidak ke kantor.Lalu… di







