Masuk"Enggak kok," jawab Vera singkat, sebuah kebohongan yang ia ucapkan dengan nada setenang mungkin. Ia menarik sudut bibirnya, berusaha menciptakan senyum yang tampak senatural mungkin meskipun matanya tak mampu berbohong.Wilona tidak lantas percaya. Ia justru memajukan duduknya, meraih jemari Vera yang terasa dingin. "Ver, kita sahabatan sudah lamaaaa banget loh. Dari SMA, kuliah, sampai sekarang. Sudah belasan tahun, Ver. Aku tahu kapan kamu senyum beneran dan kapan kamu senyum cuma buat nutupi sesuatu."Vera menunduk, menatap selimut rumah sakit yang menutupi kakinya. "Wil, aku—""Ver, kita sahabat. Ingat, kamu gak sendiri. Jangan dipendam," potong Wilona dengan nada yang lebih lembut namun penuh penekanan. "Kalau Revan berani nyakitin kamu, aku akan maju buat ngehajar dia. Aku gak peduli dia suami kamu atau siapa pun, kalau dia bikin kamu nangis, dia urusanku."Kehangatan dari genggaman tangan Wilona sempat membuat pertahanan Vera goyah.
Di layar itu, terpampang sebuah foto yang diambil dari jarak yang cukup dekat di area bandara. Di sana, Revandra Saputra, suaminya yang tadi pagi mencium keningnya dengan terburu-buru, tengah memeluk seorang wanita dengan sangat erat. Wanita itu adalah Febby.Dunia Vera seolah runtuh seketika. Suasana mal yang ramai dengan musik latar yang ceria kini terasa seperti ejekan yang memekakkan telinga. ‘’Sumpah, kamu jahat banget sih Van?’’ Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras tanpa bisa dibendung. Ternyata, perjalanan ke Surabaya itu bukan hanya soal bisnis. Ternyata, pesan jam enam pagi itu adalah awal dari pengkhianatan yang paling nyata. Dan yang paling menyakitkan, justru orang yang paling ia benci, Jenny lah yang memberikan bukti itu tepat di hadapannya, menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih Vera miliki. Di tangannya, ponsel itu masih menyala, menampilkan bayangan suaminya yang sedang memeluk masa lalunya di bawah cahaya
‘’Enggak! Aku gak boleh egois!’’‘’Lagian, hubungan ku dan Revan tidak seharmonis itu, ngapain aku terlalu ikut campur!’’‘’Tapi—” Vera memegang dadanya, rasanya cukup sesak.‘’Kenapa rasanya sakit, mengingat dia Bersama Wanita lain?’’Vera mengembuskan napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang masih tidak keruan. Ia sempat memegang kunci mobil dengan erat, berniat menyusul ke bandara atau bahkan menyusul ke Surabaya. Namun, akal sehatnya kembali mengetuk. Untuk apa? Jika ia datang ke sana dan benar-benar melihat Revan bersama Febby, apakah ia sudah siap dengan kehancuran yang akan menyusul?Akhirnya, Vera memutuskan untuk memutar arah. Ia butuh pengalihan. Ia butuh keramaian agar suaranya sendiri tidak terus-menerus meneriakkan nama Febby di dalam kepalanya. Pilihan pun jatuh pada sebuah pusat perbelanjaan mewah di Jakarta Selatan. Ia berniat mencari kado pernikahan untuk Tika, sesuatu yang sangat istimewa, sebanding dengan drama yang sahabatnya itu buat kemarin.
Vera membalikkan tubuhnya, membelakangi Revan agar pria itu tidak bisa melihat matanya yang mulai berkaca-kaca. Ruangan kamar yang luas itu mendadak terasa begitu sempit dan menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh kecurigaan yang membara."Gapapa," jawab Vera singkat, berusaha keras menjaga suaranya agar tidak bergetar. Ia menggigit bibir dalamnya, menahan sesak yang merayap di dada.Revan, yang masih sibuk mengeringkan rambutnya, menoleh sekilas."Kamu sudah makan?" tanya Revan lagi, suaranya tetap lembut, yang justru membuat hati Vera semakin sakit. Kelembutan itu kini terasa seperti sebuah sandiwara yang dipentaskan dengan sangat rapi."Sudah kok. Kamu pasti capek. Langsung istirahat saja ya," kata Vera dengan nada yang sengaja dibuat dingin. Ia tidak ingin bicara lebih banyak. Ia takut jika ia membuka mulut, segala tuduhan dan amarah yang ia pendam akan meledak saat itu juga.Vera segera naik ke tempat tidur, menarik selimut hingga menutupi bahun
Jarum jam dinding di ruang tengah sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat lima belas menit ketika suara deru mobil terdengar memasuki pelataran rumah. Vera, yang sejak tadi hanya membolak-balik halaman majalah tanpa benar-benar membacanya, segera bangkit. Ia merapikan piyamanya sejenak, mencoba menghilangkan kesan bahwa ia telah menunggu di sofa selama berjam-jam dengan hati yang gelisah. Pintu depan terbuka, menampakkan sosok Revandra Saputra dengan kemeja yang sudah sedikit kusut dan dasi yang telah dilonggarkan. Wajahnya tampak lelah, namun karismanya sebagai seorang CEO tetap terpancar meski dalam kondisi paling payah sekalipun. "Kok belum tidur?" tanya Revan lembut. Ia melepaskan jasnya dan menyampirkannya di lengan, matanya menatap Vera yang berdiri tak jauh dari meja makan. "Belum ngantuk," jawab Vera bohong. Padahal, matanya sudah terasa
Tika terkekeh, sama sekali tidak merasa terintimidasi. Ia justru merapikan rambutnya yang sengaja ia acak-acak sendiri tadi agar terlihat dramatis. "Hehehe, sorry Wil, aku cuma bercanda! Habisnya muka kalian berdua itu tegang banget, seperti lagi menunggu pengumuman hasil ujian nasional tahu gak! Aku kan niatnya baik, mau mencairkan suasana biar gak pada jantungan.""Ckckck, nyebelin tahu gak! Kita lagi bahas hal yang sangat serius tadi, Tik!" Wilona mendengus, kembali menyandarkan punggungnya ke sofa sembari memijat pelipisnya perlahan. "Lagi pula, sejak kapan kamu belajar akting menangis tanpa air mata begitu? Gagal total, tahu!""Iya iya, sorry! Namanya juga usaha biar ada efek dramatisnya sedikit," sahut Tika santai, lalu menyambar gelas jus milik Vera yang hampir terlupakan dan meneguknya tanpa izin. Setelah tenggorokannya terasa segar, ia menatap kedua sahabatnya bergantian dengan mata berbinar. "Jadi, tadi kalian bahas apaan emang? Serius banget
Olla dan Evelyn saling menatap satu sama lain. Beberapa detik, Yudha menunggu jawaban., sampai akhirnya Olla membuka suara“Wilona? Dia—”“Dia adikku!” Suara Evelyn memotong cepat sebelum Ola sempat menyusun kebohongan lain.Ruangan yang sejak tadi tegang mendadak membeku. Yudha menol
Beberapa hari kemudian, dokter akhirnya memperbolehkan Yudha pulang.Kondisinya memang belum sepenuhnya pulih, tetapi secara fisik ia sudah cukup stabil untuk menjalani rawat jalan. Hanya saja, satu hal yang belum kembali ingatannya.Ola dan Andika datang lebih dulu ke rumah sakit pa
Ola bersedekap tangan di dada. Bahunya tegak, dagunya sedikit terangkat. Tatapannya lurus ke depan, menembus dinding kaca besar yang memperlihatkan gemerlap kota Jakarta. Gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, kendaraan bergerak seperti barisan semut yang tak pernah berhenti. Semua tampak normal. Ha
“Om Dirga,” Wilona memotong cepat, napasnya mulai tak beraturan, “tolong kasih tahu aku. Di mana Mas Yudha sekarang?”Hening lagi. Lalu satu kalimat yang langsung meruntuhkan seluruh dunia Wilona.“Pak Yudha, di rumah sakit, Non !’’‘’Siapa yang sakit Om?” suaranya nyaris tak terdengar.“Tadi sore,







