LOGIN"Lu pulang sendiri, atau sama Pak Birru?" tanya Adel sebelum benar-benar meninggalkan halaman sekolah.
Flora menoleh kaget, seolah-olah rahasia besar telah terbongkar oleh Adel.
"Santai aja, gue tahu kok kemarin lu nggak pulang dengan taksi online, tapi bareng Pak Birru," ujar Adel, menatap Flora yang tampak semakin murung.
Wajah Flora semakin suram, dan Adel semakin penasaran. "Sebenarnya, lu ada apa sih sama Pak Birru, Flo?" tanya Adel lagi.
"Enggak ada apa-apa," jawab Flora cepat, berusaha menghindar.
"Terus kenapa lu harus selalu pergi dan pulang bareng dia?" Adel masih tak puas.
Flora menarik napas dalam, wajahnya menampilkan kelelahan. "Sebenarnya, orang tua gue nitipin gue sama dia. Dia yang harus ngurusin dan ngawas gue, kayak penjaga tahanan luar," jawab Flora, meski sedikit berbohong. Bukankah itu cara lain untuk menggambarkan tugas seorang suami?
Adel dan Dara terdiam, kaget mendengar penjelasan Flora. "Separah itu? Emang lu ngapain sampai harus dijagain kayak gitu?" tanya Adel, tak percaya.
Flora hanya mengangkat bahu, merasa bingung harus menjelaskan apa.
"Jadi itu alasan kenapa lu kelihatan keki banget sama Pak Birru," celetuk Dara, yang mulai mengerti.
"Eh, pawang lu datang," ucap Adel tiba-tiba, menyadari kehadiran Pak Birru yang sedang berjalan menuju mereka. "Gue cabut, Flo," ujar Adel sambil menepuk bahu temanannya.
"Gue juga pulang deh, sabar ya, Flo.Bye!" Dara melambaikan tangan sambil tersenyum, sementara Flora hanya bisa membalas dengan senyum tipis yang ia paksakan.
"Ayo!" kata Birru, begitu langkahnya sudah dekat dengan Flora. Tanpa berhenti, ia langsung melanjutkan langkah menuju mobil yang terparkir. Dengan kesal, Flora mengikutinya dari belakang.
Sesampainya di dalam mobil, Flora melemparkan tasnya ke jok belakang dengan kasar, ekspresinya jelas menunjukkan kemarahan. Sikapnya yang terbuka itu membuat Birru menoleh sebentar, tapi ia memilih untuk tidak peduli.
"Mampir dulu ke toko buku, ada beberapa buku yang harus gue beli," kata Birru, sekadar memberi informasi sebelum menyalakan mesin mobil.
"Gue nggak mau! Gue mau pulang dan istirahat!" Flora menolak tegas, tanpa melirik sedikit pun ke arah Birru.
Birru menoleh lagi, kali ini dengan tatapan aneh. "Lu nggak punya pilihan, Flo," jawabnya dengan nada datar.
Flora mendengus kesal, menyadari kenyataan itu. Mana mungkin ada pilihan untuknya? Yang ada hanya menjalani apa yang orang lain tentukan.
"Ya, gue tahu! Gue cuma manusia yang jadi robot, cuma bisa jalani perintah tanpa bisa milih!" Flora mengucapkan kata-kata itu dengan nada sinis, seolah lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.
"Maksud lu ngomong begitu apa?" tanya Birru sambil menjalankan mobil keluar dari gerbang sekolah. Nada suaranya tenang, tapi ada nada ingin tahu di baliknya.
"Lu ngomong apa sama Riki?" Flora balik bertanya dengan kesal, matanya menyipit tajam ke arah Birru.
Birru tersenyum sinis, penuh kemenangan. "Jadi benar dia jauhin lu," ujarnya dengan nada mengejek. Senyumnya semakin lebar, puas karena Riki memegang ucapannya untuk menjauhi Flora. Alasannya? Itu urusan antara dirinya dan Riki—tak perlu Flora tahu.
Flora menatap Birru dengan penuh kebencian, lalu melengos kesal. Dadanya terasa sesak oleh rasa frustrasi yang terus bertumpuk.
"Kenapa? Lu nggak suka? Jadi lu benar-benar pengen dicium sama dia?" ejek Birru dengan nada tajam yang membuat Flora semakin panas. Kata-katanya menusuk, seperti merendahkan harga dirinya. Flora ingin membalas, tapi ia hanya bisa menahan diri, meski hatinya sudah bergejolak hebat.
"Itu bukan urusan lu!" sahut Flora akhirnya, suaranya terdengar parau karena ia berusaha keras menahan emosi. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tidak menangis. Pandangannya beralih ke jendela, menghindari tatapan Birru.
Birru tertawa kecil, masih menikmati situasi ini. "Gue juga bisa kasih, kalau lu mau, Flo," katanya santai, nadanya penuh ejekan.
Hati Flora terasa semakin panas, kata-kata Birru benar-benar membuatnya merasa direndahkan. Tapi ia tetap diam, mencoba menahan semua emosi itu sendirian.
"Kenapa? Lu nggak mau? Jadi lu lebih milih sama dia? Lebih suka yang haram daripada yang halal?" Birru kembali menyerang, nadanya seperti menantang.
"Lu bisa diam nggak sih?!" Flora akhirnya bersuara, datar tapi penuh penekanan. Kali ini ia menatap Birru tajam, matanya mulai berkaca-kaca.
Birru yang awalnya santai, mendadak terdiam. Tatapan mata Flora membuatnya merasa sedikit tak nyaman. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura fokus ke jalan, meski suasana dalam mobil berubah menjadi berat dan canggung.
*
Sesampainya di toko buku, Flora berjalan dalam diam di belakang Birru, mengikuti langkahnya tanpa minat. Birru sibuk mencari buku yang ia butuhkan, sementara Flora hanya mondar-mandir melihat-lihat rak, tanpa niat membeli apa pun.
"Flora?"
Sebuah suara menghentikan langkahnya. Flora menoleh, mencoba mengenali si penyapa. Matanya menyipit sejenak sebelum akhirnya ia ingat.
"Aku Ranu, sepupu Birru," ujar pria itu sambil tersenyum ramah, membantu Flora yang tampak sedikit bingung.
"Oh iya," balas Flora sambil tersenyum kecil. Ia tidak sepenuhnya lupa, hanya nama pria itu yang sempat hilang dari ingatannya. Ranu adalah salah satu sepupu Birru yang hadir saat pengumuman pernikahan mereka—dan yang bersikap paling ramah padanya.
“Sendirian?” tanya Ranu, memandang Flora dengan sedikit bingung.
Flora menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Sama Mas Birru,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Birru, yang tengah sibuk di ujung toko.
Ranu mengangguk paham. "Kamu, lagi cari buku apa?" tanyanya, kini matanya terfokus pada Flora.
“Nggak cari apa-apa, Mas. Cuma nemenin Mas Birru aja,” balas Flora santai. Ia melirik tumpukan buku yang dipegang Ranu. Rasa penasarannya terusik. “Kalau Mas Ranu sendiri? Lagi cari buku apa?” tanyanya balik.
Ranu mengangkat beberapa buku yang ada di tangannya, membuat Flora tertegun. “Resep masakan?” tanyanya dengan nada tak percaya.
Ranu terkekeh pelan melihat ekspresi Flora. “Kenapa? Aneh ya?” tanyanya balik, masih tertawa kecil.
Flora ikut tertawa sambil mengangguk. “Lumayan aneh, sih, Mas. Kenapa nggak cari di YouTube atau media sosial aja, Mas? Kan lebih praktis," tanya Flora, kini menyandarkan punggungnya pada dinding disamping rak buku di sebelahnya, benar-benar ingin tahu.
Ranu mengedikkan bahu. "Entah ya, mungkin karena buku lebih fokus. Gampang bolak-balik halamannya, bisa baca dulu sebelum praktek."
"Kayaknya sama aja deh, Mas. Dari ponsel juga bisa kayak gitu," balas Flora, sedikit skeptis.
"Beda dong, Flo," ujar Ranu dengan senyuman yang ramah. "Ponsel terlalu banyak distraksinya. Ada iklan, notifikasi, bahkan telepon masuk. Nggak fokus jadinya."
Senyum Flora yang tadinya tipis berubah menjadi lebih lebar. Ia kini mengerti maksud Ranu—ponsel memang bisa mengalihkan perhatian, dan itu bukan hal yang ia sadari sebelumnya.
Mereka tertawa kecil bersama, berbagi pemahaman yang sama. Dari kejauhan, Birru memperhatikan mereka. Ia sadar kehadiran Ranu, tapi memilih pura-pura tidak tahu. Namun, matanya sesekali melirik ke arah mereka, menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.
Dengan langkah santai, Birru akhirnya menghampiri Flora. Buku yang ia butuhkan sudah di tangan, dan ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di toko buku itu.
Begitu tiba di depan Flora dan Ranu, Birru hanya memberikan senyum tipis disertai anggukan kecil, mengangkat dagunya sedikit sebagai sapaan. Ranu membalasnya dengan senyuman sopan dan anggukan ringan, suasana di antara keduanya terasa dingin tapi penuh kendali.
"Ayo," ajak Birru pada Flora dengan nada lembut yang jelas dibuat-buat. Flora tahu betul, kelembutannya itu hanya untuk menjaga tampilan, bukan niat sebenarnya.
"Mas Ranu, aku duluan ya," ujar Flora dengan ramah. Tapi sebelum langkahnya menjauh, Ranu menahannya.
"Tunggu sebentar, Flo," ucap Ranu seperti baru teringat sesuatu. Ia langsung melangkah ke kasir dengan cepat. Flora menatapnya dengan bingung, sementara Birru hanya berdiri diam, tatapannya kosong namun matanya tajam.
Tak butuh waktu lama, Ranu kembali dengan sebuah buku di tangannya. Ia tersenyum kecil sambil menyerahkannya pada Flora. "Ini buat kamu," katanya dengan nada tenang.
Flora menerimanya dengan ragu, tapi begitu matanya membaca judul buku tersebut—tentang cinta dan self-healing—ia tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut sekaligus senangnya. Buku itu terasa seperti sesuatu yang ia butuhkan, sebuah petunjuk untuk dirinya yang sedang berjuang dalam kerumitan hidup.
"Terima kasih, Mas Ranu," ucap Flora tulus, senyum kecil mulai muncul di wajahnya. "Aku yakin buku ini bagus." Nada suaranya terdengar serius, penuh rasa terima kasih.
Di sampingnya, Birru hanya diam. Matanya tak lepas dari interaksi itu, namun ekspresinya sulit ditebak. Rahangnya tampak mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya tanpa sadar. Flora, terlalu sibuk dengan rasa senangnya, tidak menyadari perubahan kecil pada Birru.
"Semoga buku itu bermanfaat, Flo," ujar Ranu ringan, senyumnya tetap ramah. Ia sempat melirik Birru sekilas, seperti sengaja menyelipkan pesan yang hanya mereka berdua yang mengerti.
Flora masih tersenyum saat mengikuti Birru yang mulai berjalan keluar toko tanpa sepatah kata pun. Di luar, angin dingin menyambut mereka, tapi suasana antara Flora dan Birru jauh lebih dingin.
Flora melirik ke buku di tangannya, lalu ke punggung Birru yang berjalan di depannya. Ada rasa ingin tahu bercampur frustasi dalam dirinya, tapi ia memilih diam. Sementara itu, Birru terus melangkah dengan langkah berat, pikirannya penuh dengan percakapan yang baru saja terjadi.
Ia tidak menyukai apa yang dilihatnya—tapi untuk alasan yang bahkan ia sendiri enggan akui.
***
Flora melangkah masuk setelah mendapat izin dari Riki. Ruangan itu cukup luas dan tenang. Dinding kaca di sisi kanan membiarkan cahaya siang masuk, sementara meja kerja Riki berada di sudut ruangan dengan beberapa dokumen tertata rapi di atasnya. “Silakan duduk, Flo." Riki menunjuk sofa panjang di sisi ruangan. Flora mengangguk singkat. Ia berjalan ke sofa dan duduk dengan posisi tegak. Tangannya secara refleks bertumpu di atas perutnya yang kini mulai terlihat jelas. Riki masih berdiri di dekat meja kerjanya. Beberapa detik kemudian, ia justru meninggalkan kursinya dan memilih duduk di single sofa yang letaknya tidak jauh dari Flora. Tatapannya sempat jatuh ke perut Flora. Hanya sesaat. Namun cukup untuk membuat Flora menyadarinya. Hari itu Flora mengenakan dress kerja yang sederhana dan elegan. Potongannya menyesuaikan tubuhnya yang sedang hamil, membuat perubahan pada bentuk tubuhnya semakin terlihat. Riki mengalihkan pandangan. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Flo
Begitu sampai di ruangannya, Flora menutup pintu perlahan. Ia meletakkan laptop dan beberapa dokumen di atas meja, lalu duduk di kursinya. Tubuhnya terasa begitu lelah. Bukan hanya karena rapat yang berlangsung hampir dua jam, tetapi juga karena semalaman ia nyaris tidak tidur. Pikirannya terlalu penuh. Tentang Birru. Tentang kondisi Lia. Tentang Riki dan tentang percakapan yang belum sempat ia selesaikan dengan suaminya. Flora mengambil ponselnya. Tanpa banyak berpikir, ia langsung menekan nama Birru dan melakukan panggilan video.Tidak lama kemudian, panggilan tersambung. Wajah Birru muncul di layar. Flora langsung terdiam. Wajah suaminya terlihat jauh lebih lelah daripada terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya sedikit berantakan, matanya sayu, dan ada bayangan kelelahan yang jelas terlihat di bawah matanya. “Mas...” panggil Flora lirih. Birru tersenyum tipis. “Sudah sampai kantor?” Flora mengangguk. “Iya.” “Kamu sudah sarapan?” Flora t
Malam itu Flora hampir tidak tidur. Setelah pulang bersama kedua orang tuanya, tubuhnya memang berada di rumah, tetapi pikirannya masih tertinggal di rumah sakit. Setiap kali mencoba memejamkan mata, wajah Birru kembali muncul di benaknya. Tatapan datar suaminya ketika mendengar nama Riki. Percakapan yang terputus dan kalimat Birru sebelum ia kembali masuk ke ruang perawatan. Kita bahas nanti, ya. Entah mengapa, dua kata terakhir itu justru membuat Flora semakin gelisah. Pagi harinya, ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai kamar, Flora sudah terbangun. Matanya terasa berat dan kepalanya sedikit pusing. Ponselnya yang berada di samping bantal bergetar. Satu pesan masuk dari Birru. Mas Birru: Mas sudah sarapan. Flora menatap pesan itu cukup lama. Hanya kalimat sederhana, namun entah mengapa, justru semakin membuat pikirannya ke mana-mana. Tidak ada panggilan sayang seperti biasanya. Tidak ada pertanyaan apakah ia sudah sarapan. Tidak ada pesan panjang yang biasan
Malam itu, ruang keluarga terasa begitu sunyi. Cahaya lembut dari layar televisi menjadi satu-satunya penerangan, membias di wajah Flora dan Birru yang duduk berdampingan di sofa.Flora bersandar nyaman di pangkuan Birru. Kepalanya terbaring di paha sang suami, sementara satu tangan Birru masih berada di perutnya, mengusapnya perlahan dengan gerakan yang nyaris tak disadari.Televisi menyala, tetapi perhatian Birru sebenarnya tidak sepenuhnya tertuju ke sana. Ada ketenangan yang selalu ia rasakan setiap kali Flora berada di dekatnya. Malam yang sederhana seperti ini seharusnya cukup untuk membuatnya merasa bahagia.Namun, ketenangan itu perlahan terusik.“Mas...” panggil Flora pelan.Birru menunduk, menatap istrinya. “Hm?”“Aku mau kasih tau sesuatu.”Nada suara Flora membuat Birru sedikit mengernyit. Ia masih menatap layar televisi, tetapi telinganya kini sepenuhnya tertuju kepada istrinya.“Iya. Apa?”Flora menghela napas panjang. “Sebenarnya nggak penting, sih...”Birru terkekeh ke
Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.
Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia







