공유

Bab 4

작가: Rieyukha
last update 최신 업데이트: 2025-01-23 19:49:05

"Lu pulang sendiri, atau sama Pak Birru?" tanya Adel sebelum benar-benar meninggalkan halaman sekolah.

Flora menoleh kaget, seolah-olah rahasia besar telah terbongkar oleh Adel.

"Santai aja, gue tahu kok kemarin lu nggak pulang dengan taksi online, tapi bareng Pak Birru," ujar Adel, menatap Flora yang tampak semakin murung.

Wajah Flora semakin suram, dan Adel semakin penasaran. "Sebenarnya, lu ada apa sih sama Pak Birru, Flo?" tanya Adel lagi.

"Enggak ada apa-apa," jawab Flora cepat, berusaha menghindar.

"Terus kenapa lu harus selalu pergi dan pulang bareng dia?" Adel masih tak puas.

Flora menarik napas dalam, wajahnya menampilkan kelelahan. "Sebenarnya, orang tua gue nitipin gue sama dia. Dia yang harus ngurusin dan ngawas gue, kayak penjaga tahanan luar," jawab Flora, meski sedikit berbohong. Bukankah itu cara lain untuk menggambarkan tugas seorang suami?

Adel dan Dara terdiam, kaget mendengar penjelasan Flora. "Separah itu? Emang lu ngapain sampai harus dijagain kayak gitu?" tanya Adel, tak percaya.

Flora hanya mengangkat bahu, merasa bingung harus menjelaskan apa.

"Jadi itu alasan kenapa lu kelihatan keki banget sama Pak Birru," celetuk Dara, yang mulai mengerti.

"Eh, pawang lu datang," ucap Adel tiba-tiba, menyadari kehadiran Pak Birru yang sedang berjalan menuju mereka. "Gue cabut, Flo," ujar Adel sambil menepuk bahu temanannya.

"Gue juga pulang deh, sabar ya, Flo.Bye!" Dara melambaikan tangan sambil tersenyum, sementara Flora hanya bisa membalas dengan senyum tipis yang ia paksakan.

"Ayo!" kata Birru, begitu langkahnya sudah dekat dengan Flora. Tanpa berhenti, ia langsung melanjutkan langkah menuju mobil yang terparkir. Dengan kesal, Flora mengikutinya dari belakang.

Sesampainya di dalam mobil, Flora melemparkan tasnya ke jok belakang dengan kasar, ekspresinya jelas menunjukkan kemarahan. Sikapnya yang terbuka itu membuat Birru menoleh sebentar, tapi ia memilih untuk tidak peduli.

"Mampir dulu ke toko buku, ada beberapa buku yang harus gue beli," kata Birru, sekadar memberi informasi sebelum menyalakan mesin mobil.

"Gue nggak mau! Gue mau pulang dan istirahat!" Flora menolak tegas, tanpa melirik sedikit pun ke arah Birru.

Birru menoleh lagi, kali ini dengan tatapan aneh. "Lu nggak punya pilihan, Flo," jawabnya dengan nada datar.

Flora mendengus kesal, menyadari kenyataan itu. Mana mungkin ada pilihan untuknya? Yang ada hanya menjalani apa yang orang lain tentukan.

"Ya, gue tahu! Gue cuma manusia yang jadi robot, cuma bisa jalani perintah tanpa bisa milih!" Flora mengucapkan kata-kata itu dengan nada sinis, seolah lebih seperti gumaman untuk dirinya sendiri.

"Maksud lu ngomong begitu apa?" tanya Birru sambil menjalankan mobil keluar dari gerbang sekolah. Nada suaranya tenang, tapi ada nada ingin tahu di baliknya.

"Lu ngomong apa sama Riki?" Flora balik bertanya dengan kesal, matanya menyipit tajam ke arah Birru.

Birru tersenyum sinis, penuh kemenangan. "Jadi benar dia jauhin lu," ujarnya dengan nada mengejek. Senyumnya semakin lebar, puas karena Riki memegang ucapannya untuk menjauhi Flora. Alasannya? Itu urusan antara dirinya dan Riki—tak perlu Flora tahu.

Flora menatap Birru dengan penuh kebencian, lalu melengos kesal. Dadanya terasa sesak oleh rasa frustrasi yang terus bertumpuk.

"Kenapa? Lu nggak suka? Jadi lu benar-benar pengen dicium sama dia?" ejek Birru dengan nada tajam yang membuat Flora semakin panas. Kata-katanya menusuk, seperti merendahkan harga dirinya. Flora ingin membalas, tapi ia hanya bisa menahan diri, meski hatinya sudah bergejolak hebat.

"Itu bukan urusan lu!" sahut Flora akhirnya, suaranya terdengar parau karena ia berusaha keras menahan emosi. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba untuk tidak menangis. Pandangannya beralih ke jendela, menghindari tatapan Birru.

Birru tertawa kecil, masih menikmati situasi ini. "Gue juga bisa kasih, kalau lu mau, Flo," katanya santai, nadanya penuh ejekan.

Hati Flora terasa semakin panas, kata-kata Birru benar-benar membuatnya merasa direndahkan. Tapi ia tetap diam, mencoba menahan semua emosi itu sendirian.

"Kenapa? Lu nggak mau? Jadi lu lebih milih sama dia? Lebih suka yang haram daripada yang halal?" Birru kembali menyerang, nadanya seperti menantang.

"Lu bisa diam nggak sih?!" Flora akhirnya bersuara, datar tapi penuh penekanan. Kali ini ia menatap Birru tajam, matanya mulai berkaca-kaca.

Birru yang awalnya santai, mendadak terdiam. Tatapan mata Flora membuatnya merasa sedikit tak nyaman. Ia buru-buru mengalihkan pandangan, pura-pura fokus ke jalan, meski suasana dalam mobil berubah menjadi berat dan canggung.

*

Sesampainya di toko buku, Flora berjalan dalam diam di belakang Birru, mengikuti langkahnya tanpa minat. Birru sibuk mencari buku yang ia butuhkan, sementara Flora hanya mondar-mandir melihat-lihat rak, tanpa niat membeli apa pun.

"Flora?"

Sebuah suara menghentikan langkahnya. Flora menoleh, mencoba mengenali si penyapa. Matanya menyipit sejenak sebelum akhirnya ia ingat.

"Aku Ranu, sepupu Birru," ujar pria itu sambil tersenyum ramah, membantu Flora yang tampak sedikit bingung.

"Oh iya," balas Flora sambil tersenyum kecil. Ia tidak sepenuhnya lupa, hanya nama pria itu yang sempat hilang dari ingatannya. Ranu adalah salah satu sepupu Birru yang hadir saat pengumuman pernikahan mereka—dan yang bersikap paling ramah padanya.

“Sendirian?” tanya Ranu, memandang Flora dengan sedikit bingung.

Flora menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Sama Mas Birru,” jawabnya sambil menunjuk ke arah Birru, yang tengah sibuk di ujung toko.

Ranu mengangguk paham. "Kamu, lagi cari buku apa?" tanyanya, kini matanya terfokus pada Flora.

“Nggak cari apa-apa, Mas. Cuma nemenin Mas Birru aja,” balas Flora santai. Ia melirik tumpukan buku yang dipegang Ranu. Rasa penasarannya terusik. “Kalau Mas Ranu sendiri? Lagi cari buku apa?” tanyanya balik.

Ranu mengangkat beberapa buku yang ada di tangannya, membuat Flora tertegun. “Resep masakan?” tanyanya dengan nada tak percaya.

Ranu terkekeh pelan melihat ekspresi Flora. “Kenapa? Aneh ya?” tanyanya balik, masih tertawa kecil.

Flora ikut tertawa sambil mengangguk. “Lumayan aneh, sih, Mas. Kenapa nggak cari di YouTube atau media sosial aja, Mas? Kan lebih praktis," tanya Flora, kini menyandarkan punggungnya pada dinding disamping rak buku di sebelahnya, benar-benar ingin tahu.

Ranu mengedikkan bahu. "Entah ya, mungkin karena buku lebih fokus. Gampang bolak-balik halamannya, bisa baca dulu sebelum praktek."

"Kayaknya sama aja deh, Mas. Dari ponsel juga bisa kayak gitu," balas Flora, sedikit skeptis.

"Beda dong, Flo," ujar Ranu dengan senyuman yang ramah. "Ponsel terlalu banyak distraksinya. Ada iklan, notifikasi, bahkan telepon masuk. Nggak fokus jadinya."

Senyum Flora yang tadinya tipis berubah menjadi lebih lebar. Ia kini mengerti maksud Ranu—ponsel memang bisa mengalihkan perhatian, dan itu bukan hal yang ia sadari sebelumnya.

Mereka tertawa kecil bersama, berbagi pemahaman yang sama. Dari kejauhan, Birru memperhatikan mereka. Ia sadar kehadiran Ranu, tapi memilih pura-pura tidak tahu. Namun, matanya sesekali melirik ke arah mereka, menyimpan sesuatu yang sulit ditebak.

Dengan langkah santai, Birru akhirnya menghampiri Flora. Buku yang ia butuhkan sudah di tangan, dan ia tidak punya alasan untuk berlama-lama di toko buku itu.

Begitu tiba di depan Flora dan Ranu, Birru hanya memberikan senyum tipis disertai anggukan kecil, mengangkat dagunya sedikit sebagai sapaan. Ranu membalasnya dengan senyuman sopan dan anggukan ringan, suasana di antara keduanya terasa dingin tapi penuh kendali.

"Ayo," ajak Birru pada Flora dengan nada lembut yang jelas dibuat-buat. Flora tahu betul, kelembutannya itu hanya untuk menjaga tampilan, bukan niat sebenarnya.

"Mas Ranu, aku duluan ya," ujar Flora dengan ramah. Tapi sebelum langkahnya menjauh, Ranu menahannya.

"Tunggu sebentar, Flo," ucap Ranu seperti baru teringat sesuatu. Ia langsung melangkah ke kasir dengan cepat. Flora menatapnya dengan bingung, sementara Birru hanya berdiri diam, tatapannya kosong namun matanya tajam.

Tak butuh waktu lama, Ranu kembali dengan sebuah buku di tangannya. Ia tersenyum kecil sambil menyerahkannya pada Flora. "Ini buat kamu," katanya dengan nada tenang.

Flora menerimanya dengan ragu, tapi begitu matanya membaca judul buku tersebut—tentang cinta dan self-healing—ia tak bisa menyembunyikan ekspresi terkejut sekaligus senangnya. Buku itu terasa seperti sesuatu yang ia butuhkan, sebuah petunjuk untuk dirinya yang sedang berjuang dalam kerumitan hidup.

"Terima kasih, Mas Ranu," ucap Flora tulus, senyum kecil mulai muncul di wajahnya. "Aku yakin buku ini bagus." Nada suaranya terdengar serius, penuh rasa terima kasih.

Di sampingnya, Birru hanya diam. Matanya tak lepas dari interaksi itu, namun ekspresinya sulit ditebak. Rahangnya tampak mengeras, tangannya mengepal di sisi tubuhnya tanpa sadar. Flora, terlalu sibuk dengan rasa senangnya, tidak menyadari perubahan kecil pada Birru.

"Semoga buku itu bermanfaat, Flo," ujar Ranu ringan, senyumnya tetap ramah. Ia sempat melirik Birru sekilas, seperti sengaja menyelipkan pesan yang hanya mereka berdua yang mengerti.

Flora masih tersenyum saat mengikuti Birru yang mulai berjalan keluar toko tanpa sepatah kata pun. Di luar, angin dingin menyambut mereka, tapi suasana antara Flora dan Birru jauh lebih dingin.

Flora melirik ke buku di tangannya, lalu ke punggung Birru yang berjalan di depannya. Ada rasa ingin tahu bercampur frustasi dalam dirinya, tapi ia memilih diam. Sementara itu, Birru terus melangkah dengan langkah berat, pikirannya penuh dengan percakapan yang baru saja terjadi.

Ia tidak menyukai apa yang dilihatnya—tapi untuk alasan yang bahkan ia sendiri enggan akui.

***

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 83

    Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 82

    Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 81

    Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 80

    Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 79

    Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 78

    Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status