Share

Bab 3

Author: Rieyukha
last update Last Updated: 2025-01-23 19:35:37

Flora menuruni tangga dengan langkah berat, membiarkan pikirannya dipenuhi berbagai hal yang mengganggu. Setelah menikah, ia tinggal di rumah besar ini bersama Lia, mertuanya yang penuh kasih sayang, dan Violet, kakak perempuan Birru, yang sudah menikah lebih dari tiga tahun namun belum memiliki anak.

"Pagi, sayang," sapa Lia dengan suara lembut penuh kehangatan ketika melihat Flora sudah berada di ruang makan.

Flora membalas sapaan itu dengan senyuman tipis, membiarkan mertuanya memeluknya singkat. Pelukan Lia selalu terasa nyaman, meski kali ini tak cukup mengusir kegundahan yang ia rasakan.

"Kamu kenapa, Nduk? Wajahmu kok terlihat murung. Kamu baik-baik aja, kan?" tanya Lia dengan nada penuh perhatian. Wajahnya memancarkan kasih sayang yang tulus, meskipun garis-garis kelelahan dan sakit masih jelas terlihat.

Flora tertegun sejenak, berusaha menutupi perasaannya. Ia menarik napas panjang lalu tersenyum kecil. "Masa sih, Bun? Mungkin Flo cuma kelelahan aja karena tugas-tugas sekolah lagi banyak," jawabnya, setengah jujur. Memang benar ia lelah, tetapi yang membuat hatinya berat bukan hanya itu.

Lia mengangguk pelan, matanya penuh simpati. "Jangan terlalu dipaksakan, ya, Nduk. Sesekali coba istirahat dan refreshing biar pikiranmu lebih segar. Kalau perlu, nanti Bunda minta Birru ajak kamu jalan-jalan, ya."

Perkataan Lia yang melibatkan Birru, suami Flora, membuatnya tersentak panik. "Nggak usah repot-repot, Bun," tolak Flora cepat, suaranya terdengar tergesa-gesa. "Flo pikir, weekend nanti kalau istirahat di rumah aja pasti udah cukup buat Flo lebih baik," lanjutnya sambil berusaha memasang senyum ceria, berharap mertuanya tidak curiga.

Lia hanya tersenyum lembut, tetapi matanya seolah memahami lebih banyak daripada yang Flora ungkapkan. "Ya sudah, kalau begitu. Yang penting kamu jangan terlalu keras sama diri sendiri, ya, Nduk," ucapnya menutup pembicaraan dengan nada penuh perhatian.

"Ah, Flo cuma jalan-jalan aja. Ngapain juga Birru harus repot," sahut Violet tiba-tiba. Ia duduk santai di depan Flora, sambil melirik sekilas ke belakangnya.

Flora mengerti arah pandang itu. Detik berikutnya, ia merasakan kehadiran Birru yang kini berdiri di dekatnya, seperti bayangan yang tak bisa ia abaikan.

“Birru itu suami kamu, Flo. Tugasnya ya bikin kamu bahagia, bukan malah bikin kamu tambah stres,” lanjut Violet, kali ini nada bicaranya lebih menohok, jelas ditujukan untuk menusuk Birru.

Flora tetap diam, menunduk tanpa keberanian untuk menoleh ke arah Birru. Ia tidak mau membuat situasi jadi lebih rumit atau malah menyulut perdebatan.

“Apaan sih, Mbak? Sok tahu banget,” jawab Birru santai dengan nada cuek khasnya. Namun, tak lama ia menoleh pada Flora, membelai bahunya ringan dan berkata, “Besok kita jalan-jalan, ya.” suaranya berubah lembut, penuh kehangatan yang hampir terdengar tulus. Hampir.

Flora akhirnya mendongak, menatap wajah Birru yang tersenyum. Itu senyum yang pernah ia kenal, senyum yang dulu membuat hatinya terasa seperti hangat dan nyaman. Tapi kini, senyum itu terasa hampa. Ia tahu itu hanya bagian dari pertunjukan Birru—senyum yang dipamerkan hanya di depan keluarganya, sekadar memastikan semua orang percaya bahwa mereka adalah pasangan yang bahagia dan saling mencintai.

“Iya, Mas. Terima kasih,” jawab Flora dengan suara lembut yang dibuat-buat. Ia tersenyum, senyum yang ia tahu harus dipaksakan. Jika Birru bisa bermain peran, maka ia juga harus bisa.

Di ruangan itu, hanya Lia yang terlihat benar-benar percaya pada kebahagiaan mereka. Violet memandang mereka dengan tatapan menghakimi, sementara Birru dan Flora tetap memelihara ilusi itu. Sebuah sandiwara panjang yang terus berjalan tanpa tahu kapan panggungnya akan benar-benar berakhir.

*

Saat jam istirahat, Flora tanpa sengaja berpapasan dengan Riki di koridor sekolah. Refleks, ia menyunggingkan senyuman hangat, senyuman yang selalu ia simpan untuk lelaki yang diam-diam ia sukai selama bertahun-tahun. Namun, senyuman itu menggantung tanpa balasan.

Riki menatapnya datar, tanpa emosi. Seolah ada tembok besar yang tiba-tiba membatasi mereka. Detik berikutnya, lelaki itu berbalik, menghindari Flora tanpa sepatah kata pun.

Flora berdiri mematung, dadanya terasa sesak. Sikap Riki yang tiba-tiba dingin dan terang-terangan menjauhinya membuat hatinya panas sekaligus sedih. Ia mengepalkan tangannya, mencoba menenangkan diri, tapi rasa kecewa terlalu sulit untuk diabaikan.

Di kepalanya, hanya ada satu kesimpulan: ini pasti ulah Birru. Flora yakin suaminya telah memanggil Riki, mungkin memperingatkannya atau mengatakan sesuatu yang membuat Riki berubah drastis terhadapnya.

Hatinya bergejolak. Ada luka yang tercipta, bukan hanya karena sikap Riki, tetapi juga karena kendali Birru yang terasa seperti rantai yang mengekangnya tanpa ampun. Saat itu, Flora merasa dunianya semakin sempit, seperti tak ada ruang untuk dirinya sendiri, bahkan untuk sekadar menyukai seseorang.

"Kenapa, sih? Dari tadi lu kayak hilang arah gitu mukanya," celetuk Adel sambil melahap batagor di didepannya, ekspresinya penasaran seperti biasa.

Flora hanya mendesah pelan, napasnya berat. Tangannya sibuk memutar-mutar sedotan jus alpukat di gelasnya, tanpa niat untuk meminumnya.

"Ini bukan gara-gara uang taruhan lu kemarin, kan?" tanya Dara dengan nada khawatir.

"Bukan," jawab Flora cepat. Memang, ia sama sekali tidak mempermasalahkan soal uang taruhan itu.

"Terus kenapa dong?" desak Adel, penasaran.

Flora menunduk, suara kecilnya akhirnya keluar, "Riki jauhin gue."

Mendengar itu, Adel dan Dara saling pandang. Ekspresi mereka berubah serius.

Adel mendekatkan tubuhnya, lalu melirik ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang menguping. Setelah yakin, ia berbisik, "Gue tadi pagi lihat Riki keluar dari ruangan Pak Birru. Mukanya kayak abis ditabrak bad mood. Gue yakin ini ada hubungannya sama lu tentang kemarin."

Flora mendongak sedikit, keningnya berkerut mencoba memahami. Kata-kata Adel membangkitkan sesuatu di pikirannya. Dugaan yang sejak tadi kini semakin nyata. Namun, ia memilih untuk diam.

"Sorry to say, Flo," Dara memecah keheningan, nada suaranya hati-hati. "Kita-kita ini, sebagian anak sekolah, memang tahu lu ada hubungan keluarga sama Pak Birru. Tapi makin ke sini gue sama Adel ngerasa ada yang aneh."

Flora mengangkat alis, bingung. "Aneh gimana maksud lu?" tanyanya, meski rasa gelisah sudah mulai merayap di hatinya.

Dara menatap Flora dalam-dalam sebelum berkata, "Kayak lebih… ngatur. Lu sadar nggak? Sikap Pak Birru kayak posesif banget belakangan ini."

Adel mengangguk cepat. "Iya, Flo. Gue nggak tahu lu nyadar atau nggak, tapi Pak Birru tuh kayak nggak mau ada orang lain yang deketin lu."

Flora hanya diam. Dalam hati, ia tahu sikap Birru yang terkesan mengatur hidupnya itu semata-mata karena statusnya sebagai istri. Sebuah tanggung jawab yang dijalankan tanpa cinta.

Tapi sekarang, apa yang harus ia lakukan? Laki-laki yang diam-diam ia sukai selama ini, Riki, telah menjauhinya tanpa penjelasan. Perasaan yang selama ini ia pendam kini terasa seperti beban yang tak punya tujuan. Ke mana ia harus membawa semua ini?

Pikiran itu terus bergulir di kepalanya, membuat wajah Flora semakin murung. Hatinya terasa sesak saat ia menyadari satu hal yang menyakitkan: hidupnya seakan menutup semua ruang untuk cinta. Ia terjebak dalam peran yang harus ia jalani, tapi tak pernah benar-benar ia pilih.

Hatinya yang dulu penuh harapan kini terasa hampa. Ia hanya ingin bahagia, tapi kebahagiaan itu terasa seperti bintang di langit—terlihat, namun terlalu jauh untuk diraih.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 83

    Keputusan itu datang dari Aluna, tetapi justru jarak yang tercipta terasa lebih berat bagi Riki. Ia tidak membantah, tidak menahan, bahkan tidak mencoba memperbaiki saat Aluna memilih memberi ruang. Namun setelahnya, Riki benar-benar menjauh. Bukan dengan kemarahan, melainkan dengan kesibukan. Ia hampir tidak pernah lagi menghubungi Aluna. Tidak ada pesan selamat pagi, tidak ada telepon singkat di sela pekerjaan. Seolah-olah pertunangan mereka sedang berada dalam jeda yang tak memiliki tenggat waktu. Di sisi lain, Aluna mencoba tegar. Ia mengatakan pada dirinya sendiri bahwa ini hanya fase. Namun semakin hari, sunyi itu terasa seperti jawaban. Dalam hatinya tumbuh pertanyaan yang tak ingin ia akui: apakah Riki justru menikmati jarak ini? Riki sendiri meyakinkan dirinya bahwa ia hanya fokus bekerja. Ia berusaha menanamkan satu kalimat yang sama berulang kali di kepalanya: perhatiannya adalah untuk karyawan, bukan untuk Flora secara pribadi. Ia mengulangnya seperti mantra.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 82

    Sore itu Alya bertemu sahabat lamanya di sebuah kafe kecil yang tidak terlalu ramai. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun, terbiasa saling mendengar tanpa banyak menghakimi. Di hadapan secangkir kopi yang mulai mendingin, Alya akhirnya membuka cerita yang selama ini hanya ia simpan untuk dirinya sendiri. “Aluna menunda pernikahannya,” katanya pelan. Temannya mengangkat alis. “Bukannya udah dua tahun tunangan?” “Iya. Empat tahun mereka kenal.” Alya menghela napas. “Masalahnya bukan pertengkaran. Justru terlalu tenang. Aluna merasa tunangannya belum benar-benar selesai dengan masa lalunya.” Temannya terlihat sedikit terkejut. “Kalau gitu, kenapa nggak sekalian aja berhenti? Menikah itu bukan soal cinta doang, lho. Kalau cuma modal perasaan tanpa kejelasan, itu bisa jadi bom waktu.” Alya menatap keluar jendela. “Dia bilang dia mencintainya. Dia ingin memberi kesempatan.” “Kesempatan itu bagus,” temannya menjawab pelan, “tapi jangan sampai dia

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 81

    Keputusan itu tidak diambil dalam satu malam. Aluna memikirkannya selama beberapa hari, menimbang bukan hanya perasaannya sendiri, tetapi juga masa depan yang akan ia jalani jika ia memilih tetap melangkah. Ia tidak takut pada masa lalu Riki. Ia hanya takut pada masa lalu yang belum selesai. Mereka bertemu di sebuah kafe sore itu. Bukan tempat romantis, bukan juga tempat asing. Tempat netral, seperti keputusan yang akan ia sampaikan. “Aku tidak ingin membatalkan apa pun,” kata Aluna tenang setelah percakapan pembuka yang singkat. “Aku hanya ingin menundanya.” Riki menatapnya lama. “Menunda?” “Aku ingin kamu benar-benar berpikir dulu sebelum menikah denganku.” Nada suaranya stabil. Tidak ada tuduhan. “Aku tidak mau kita menikah lalu suatu hari kamu sadar ada sesuatu yang belum pernah kamu tutup dengan benar. Aku tidak mau rumah tangga kita nanti jadi tempat kamu mencari jawaban dari masa lalu.” Riki terdiam. Kata-kata itu tidak menyakitkan, tetapi menoho

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 80

    Restoran itu tidak terlalu ramai malam itu. Setelah menonton film, mereka memilih duduk di sudut yang biasa mereka tempati—tempat yang sudah terlalu sering menjadi saksi percakapan ringan tentang pekerjaan, keluarga, dan rencana pernikahan. Hujan turun tipis di luar kaca, dan suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Aluna tidak terlihat gelisah. Ia tidak memainkan ponsel, tidak juga menatap kosong terlalu lama. Ia hanya makan perlahan, sesekali menanggapi komentar Riki tentang film tadi. Namun di sela percakapan yang terdengar normal itu, ia mulai menyisipkan pertanyaan-pertanyaan kecil, seperti seseorang yang menyusun potongan puzzle tanpa terburu-buru. “Kamu pindah ke luar negeri setelah tahun pertama kuliah, kan?” tanyanya ringan, seolah hanya memastikan kronologi. Riki mengangguk. “Iya. Akhir semester dua.” “Berarti waktu ospek dan awal-awal kuliah kamu masih di sini.” “Iya.” Aluna tersenyum tipis. “Aku sempat lihat foto-foto lama kamu. Ramai

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 79

    Malamnya, Aluna membuka kembali ponselnya. Bukan untuk menghubungi Riki, tapi untuk mencari sesuatu yang sudah lama tidak ia sentuh. Nama itu masih ada di daftar pencarian lama. Flora. Akun media sosialnya tidak terlalu aktif. Foto-foto sederhana. Beberapa unggahan lama bersama teman-teman kuliah. Tidak ada Riki di sana. Tidak pernah ada. Namun sesuatu menarik perhatian Aluna. Tab tagged photos. Ia menekannya, dan di sanalah potongan-potongan masa lalu itu masih tersimpan. Foto-foto lama. Masa SMA. Awal kuliah. Masa ospek. Flora berdiri berdampingan dengan Riki. Terlalu dekat untuk sekadar teman. Bahu bersentuhan. Tawa yang tidak dibuat-buat. Tatapan yang terlalu akrab. Foto kelompok, memang. Tapi selalu berdampingan. Selalu. Aluna memperbesar satu foto. Tahun pertama kuliah. Ia mengingat cerita Riki—bahwa setelah tahun pertama itu ia pindah ke luar negeri. Bahwa hubungan mereka selesai di sana. Selesai sebelum aku datang. Begitu yang ia pahami selama ini.

  • Menemukan Cinta Kembali   Bab 78

    Siang itu restoran tidak terlalu ramai. Cahaya matahari menembus jendela kaca besar, memantul lembut di lantai marmer. Suasananya tenang, cukup privat untuk percakapan panjang. Aluna duduk berhadapan dengan kakaknya, Alya. Tangannya memegang sendok, tapi ia tidak benar-benar makan. “Kamu yang ngajak ketemu,” kata Alya lembut. “Tapi dari tadi malah diam.” Aluna menghela napas. “Aku cuma… bingung mulai dari mana.” Alya menunggu, tidak mendesak. Aluna memang datang untuk bercerita tentang Riki. Tentang perubahan kecil yang terasa besar. Tentang jarak yang tidak kasatmata tapi makin nyata. Namun sebelum ia sempat membuka suara—pintu restoran terbuka. Aluna refleks menoleh dan dunia seakan berhenti sebentar. Flora. Ia mengenali wajah itu, bukan karena pernah diperkenalkan. Tapi karena malam di restoran bersama Riki, dan karena pencarian singkat yang ia lakukan beberapa hari lalu. Perempuan itu masuk dengan langkah ringan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status