Home / Fantasi / Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi / Bab 29 — Langkah yang Terlalu Jauh

Share

Bab 29 — Langkah yang Terlalu Jauh

Author: S.E
last update Last Updated: 2026-01-05 02:27:16

Tugas itu datang seperti biasa.

Tidak ada perintah tertulis. Tidak ada panggilan. Hanya satu ruang kosong dalam alur hari yang secara alami menungguku untuk diisi.

Aku berangkat tanpa menunda.

Langkah kakiku ringan. Napasku stabil. Bahkan sebelum pikiranku selesai menyusun urutan kerja, tubuhku sudah bergerak lebih dulu, memilih arah, menentukan jarak, dan menyesuaikan ritme.

Aku menyadari hal itu namun tidak menghentikannya.

Tugasnya sederhana.

Menjaga. Memindahkan. Mengantar.

Tidak ada kesalahan. Tidak ada hambatan. Segalanya berjalan terlalu mulus, seolah dunia sudah menyiapkan jalur yang tepat agar aku tidak perlu menyesuaikan diri.

Biasanya, pada titik tertentu aku akan merasakan tekanan samar tanda bahwa sistem menuntut lebih dari yang seharusnya.

Hari ini tidak.

Tubuhku mengikuti fungsi tanpa sisa.

Saat tugas selesai, aku berdiri sejenak di tempatku berada.

Tidak a
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 37 — Yang Bergerak Lebih Dulu

    Tidak ada waktu untuk bersiap. Bahaya tidak datang dengan tanda khusus. Tidak lebih besar dari benturan-benturan sebelumnya. Tidak pula lebih ganas. Ia hanya muncul di sela langkah yang seharusnya aman—di jarak yang biasanya masih memberiku ruang untuk menimbang. Kali ini, ruang itu tidak ada. Aku tidak sempat memutuskan apa pun. Sebelum satu niat selesai terbentuk, tubuh ini sudah bergerak. Kakiku bergeser ke samping tanpa aba-aba. Bahuku turun, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghindari sudut yang belum sepenuhnya menjadi serangan. Gerakan itu presisi. Terlalu presisi untuk disebut kebetulan. Kesadaranku menyusul ketika posisiku sudah berubah. Qi mengalir mengikuti jalur sempit yang kini terasa akrab. Tidak ada dorongan besar. Tidak ada teknik yang kupanggil. Tubuh ini memilih apa yang paling mungkin membuatnya tetap berdiri, dan hanya itu. Aku

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 36 — Harga Adaptasi

    Aku mengira bagian tersulit telah berlalu ketika tidak ada lagi benturan yang menunggu. Ternyata aku keliru. Tekanan tidak datang dalam bentuk bahaya. Ia muncul saat aku mencoba kembali duduk seperti biasa punggung tegak, napas ditarik perlahan, Qi dipandu mengikuti jalur yang sudah kukenal sejak lama. Tubuh ini tidak menolak. Namun ia juga tidak kembali. Qi bergerak. Bukan liar. Bukan rusak. Tapi terasa asing, seolah jalur lama kini terlalu sempit untuk pola baru yang terlanjur menetap. Setiap putaran tidak macet, namun membutuhkan dorongan kecil yang dulu tidak pernah diperlukan. Aku menahan diri untuk tidak memaksa. Dorongan itu tetap terasa. Seperti bekas luka yang tidak sakit, tapi menolak diluruskan. Aku membuka mata. Dada naik-turun stabil, namun ritmenya bukan pilihanku. Tubuh ini bernapas dengan ukuran yang dianggapnya cukup bukan

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 35 — Yang Bertahan Tanpa Klaim

    Aku tidak kembali ke kamar dengan rasa puas. Tidak juga dengan rasa takut. Yang tertinggal hanyalah kesadaran tipis bahwa tubuh ini telah melewati sesuatu yang tidak dicatat sebagai kemenangan. Aku membersihkan luka lama seperlunya. Tidak ada robekan baru. Tidak ada darah yang perlu dihentikan. Namun saat air menyentuh kulit, ada bagian yang tidak merespons seperti sebelumnya. Bukan mati rasa lebih seperti ia memilih untuk diam. Aku duduk bersila setelahnya. Qi bergerak lambat. Tidak liar. Tidak patuh sepenuhnya. Jalurnya sama seperti kemarin, sempit dan berat, seolah setiap putaran adalah pengulangan yang mengikis tepiannya sedikit demi sedikit. Aku tidak mencoba memperlebar jalur itu. Aku hanya memastikan ia tidak runtuh. Di titik tertentu, aku berhenti mengatur napas. Tubuh ini melanjutkan sendiri. Aku baru menyadarinya k

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 34 — Gerak Tanpa Nama

    Tidak ada tanda sebelum itu terjadi.Aku tidak memutuskan untuk bergerak lebih cepat. Tubuh ini melakukannya lebih dulu.Benturan datang singkat. Tidak besar. Tidak cukup penting untuk disebut pertempuran, jika dilihat dari luar. Jalur tugas bersinggungan, jarak menyempit, niat lawan belum sepenuhnya terbaca. Biasanya, pada jarak seperti itu, aku masih punya sepersekian napas untuk menimbang.Kali ini tidak.Sebelum pikiran menyusun pilihan, kakiku sudah bergeser setengah langkah ke kiri. Bahuku miring, bukan untuk menyerang, tapi untuk menghindar dari sudut yang belum sepenuhnya terbentuk. Gerakan itu terasa asing bukan karena salah, melainkan karena tidak pernah kusinggahi dengan sadar.Qi mengikuti.Ia tidak melonjak. Tidak meledak. Ia hanya mengalir, tipis dan presisi, menyusuri jalur sempit yang terasa paling aman. Tidak ada teknik yang kuaktifkan. Tidak ada nama yang terlintas di benakku. Namun tubuh ini bergerak seola

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 33 — Yang Tidak Terlihat

    Aku bangun sebelum langit sepenuhnya terang. Tidak ada rasa sakit tajam yang membangunkanku. Justru sebaliknya bahuku terasa tenang. Terlalu tenang. Saat aku menggerakkan lengan perlahan, tidak ada nyeri yang memaksaku berhenti, namun ada rasa berat yang tertinggal, seperti sesuatu yang tidak ikut bangun bersamaku. Aku duduk bersila dan membiarkan napasku turun. Qi kasar bergerak. Ia tidak tersendat. Tidak melonjak liar. Alirannya tetap utuh, hanya saja jalur yang biasa ia lewati kini terasa lebih sempit. Bukan seperti terhalang, melainkan seperti tanah yang mengeras setelah terlalu sering diinjak. Masih bisa dilewati, tapi tidak lagi lentur. Aku tidak memaksanya. Beberapa putaran cukup untuk memastikan satu hal: tubuh ini masih bisa digunakan. Itu saja yang penting. Hari berjalan seperti biasa. Tugasku datang tanpa suara. Tidak ada orang yang menyampaikan. Tidak ada tanda khusus. Aku hanya tahu ke mana harus pergi dan apa yang harus kulakukan, sama seperti hari-hari sebelumny

  • Menentang Takdir di Bawah Langit Sunyi   Bab 32 — Luka yang Belum Ditutup

    Aku tidak pulang dengan tubuh yang utuh.Rasa perih di bahuku bukan luka terbuka, melainkan sisa gangguan jalur Qi akibat benturan sebelumnya belum sepenuhnya reda ketika langkahku kembali menyentuh wilayah tugas berikutnya. Kulitku tidak robek, namun jalur Qi di sekitar sendi itu masih terasa terganggu. Napasku masih tertahan di dada, bukan karena lelah semata, tapi karena Qi kasar di dalam tubuhku belum kembali ke jalur yang biasa ia lewati. Setiap tarikan napas terasa seperti menekan sesuatu yang seharusnya diberi waktu.Waktu itu tidak ada.Tidak ada yang memanggilku. Tidak ada perintah yang disampaikan. Namun pola dunia ini tetap berjalan. Jika aku berhenti, sesuatu akan menyesuaikan diri dan penyesuaian itu tidak pernah menguntungkan orang sepertiku.Aku bergerak.Benturan berikutnya datang tanpa pengantar. Tidak ada ruang untuk membaca niat lawan. Tidak ada jarak aman untuk mengatur napas. Saat langkah pertama kuambil, aku tah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status