Se connecterAku menyadari perubahan itu bukan saat bahaya datang.Justru ketika tidak ada apa pun yang menuntutku bergerak.Hari-hari berlalu tanpa benturan besar. Tidak ada tekanan yang memaksaku memilih. Jalur tugas berjalan seperti biasa, ritme dunia tampak kembali longgar. Namun ada sesuatu yang tidak pernah kembali ke tempatnya semula.Tubuh ini.Ia tidak lagi berada sepenuhnya di pinggir.Aku berjalan, dan tanpa kusadari langkahku selalu berhenti sedikit lebih dekat ke pusat kejadian. Bukan karena dorongan. Bukan karena rasa ingin tahu. Seolah ada jarak tertentu yang kini dianggap wajar oleh tubuh ini jarak yang dulu kuhindari tanpa perlu dipikirkan.Aku menyadarinya pertama kali saat bahuku menegang sebelum suara keras terdengar.Tidak ada serangan. Tidak ada niat bermusuhan.Namun otot-otot itu sudah bersiap, mengikuti pola lama yang tercetak dari tekanan sebelumnya. Reaksi itu tidak berasal dari pikiranku. Ia
Aku tidak langsung melangkah setelah kejadian itu. Bukan karena ragu. Melainkan karena ruang di sekitarku berubah menjadi sempit dengan cara yang berbeda. Tidak ada tekanan langsung. Tidak ada ancaman yang memaksaku bergerak. Namun ada sesuatu yang tertinggal jejak dari pilihan yang belum dibuat, tapi sudah menuntut akibat. Situasi ini tidak datang sebagai serangan. Ia hadir sebagai cabang. Dua kemungkinan terbuka bersamaan, dan keduanya tidak memberiku jalan keluar yang bersih. Jika aku menghindar, jalur di belakangku akan terbuka. Tidak pada diriku, tetapi pada sesuatu yang lain. Dampaknya tidak akan langsung terlihat, namun ia akan menjalar pelan, pasti, dan tidak bisa ditarik kembali. Jika aku maju dan terlibat, tubuh ini akan kembali menerima tekanan. Bukan luka mematikan. Bukan kerusakan yang dramatis. Hanya penambahan beban pada sistem yang sudah tidak sepenuhny
Tidak ada waktu untuk bersiap. Bahaya tidak datang dengan tanda khusus. Tidak lebih besar dari benturan-benturan sebelumnya. Tidak pula lebih ganas. Ia hanya muncul di sela langkah yang seharusnya aman—di jarak yang biasanya masih memberiku ruang untuk menimbang. Kali ini, ruang itu tidak ada. Aku tidak sempat memutuskan apa pun. Sebelum satu niat selesai terbentuk, tubuh ini sudah bergerak. Kakiku bergeser ke samping tanpa aba-aba. Bahuku turun, bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghindari sudut yang belum sepenuhnya menjadi serangan. Gerakan itu presisi. Terlalu presisi untuk disebut kebetulan. Kesadaranku menyusul ketika posisiku sudah berubah. Qi mengalir mengikuti jalur sempit yang kini terasa akrab. Tidak ada dorongan besar. Tidak ada teknik yang kupanggil. Tubuh ini memilih apa yang paling mungkin membuatnya tetap berdiri, dan hanya itu. Aku
Aku mengira bagian tersulit telah berlalu ketika tidak ada lagi benturan yang menunggu. Ternyata aku keliru. Tekanan tidak datang dalam bentuk bahaya. Ia muncul saat aku mencoba kembali duduk seperti biasa punggung tegak, napas ditarik perlahan, Qi dipandu mengikuti jalur yang sudah kukenal sejak lama. Tubuh ini tidak menolak. Namun ia juga tidak kembali. Qi bergerak. Bukan liar. Bukan rusak. Tapi terasa asing, seolah jalur lama kini terlalu sempit untuk pola baru yang terlanjur menetap. Setiap putaran tidak macet, namun membutuhkan dorongan kecil yang dulu tidak pernah diperlukan. Aku menahan diri untuk tidak memaksa. Dorongan itu tetap terasa. Seperti bekas luka yang tidak sakit, tapi menolak diluruskan. Aku membuka mata. Dada naik-turun stabil, namun ritmenya bukan pilihanku. Tubuh ini bernapas dengan ukuran yang dianggapnya cukup bukan
Aku tidak kembali ke kamar dengan rasa puas. Tidak juga dengan rasa takut. Yang tertinggal hanyalah kesadaran tipis bahwa tubuh ini telah melewati sesuatu yang tidak dicatat sebagai kemenangan. Aku membersihkan luka lama seperlunya. Tidak ada robekan baru. Tidak ada darah yang perlu dihentikan. Namun saat air menyentuh kulit, ada bagian yang tidak merespons seperti sebelumnya. Bukan mati rasa lebih seperti ia memilih untuk diam. Aku duduk bersila setelahnya. Qi bergerak lambat. Tidak liar. Tidak patuh sepenuhnya. Jalurnya sama seperti kemarin, sempit dan berat, seolah setiap putaran adalah pengulangan yang mengikis tepiannya sedikit demi sedikit. Aku tidak mencoba memperlebar jalur itu. Aku hanya memastikan ia tidak runtuh. Di titik tertentu, aku berhenti mengatur napas. Tubuh ini melanjutkan sendiri. Aku baru menyadarinya k
Tidak ada tanda sebelum itu terjadi.Aku tidak memutuskan untuk bergerak lebih cepat. Tubuh ini melakukannya lebih dulu.Benturan datang singkat. Tidak besar. Tidak cukup penting untuk disebut pertempuran, jika dilihat dari luar. Jalur tugas bersinggungan, jarak menyempit, niat lawan belum sepenuhnya terbaca. Biasanya, pada jarak seperti itu, aku masih punya sepersekian napas untuk menimbang.Kali ini tidak.Sebelum pikiran menyusun pilihan, kakiku sudah bergeser setengah langkah ke kiri. Bahuku miring, bukan untuk menyerang, tapi untuk menghindar dari sudut yang belum sepenuhnya terbentuk. Gerakan itu terasa asing bukan karena salah, melainkan karena tidak pernah kusinggahi dengan sadar.Qi mengikuti.Ia tidak melonjak. Tidak meledak. Ia hanya mengalir, tipis dan presisi, menyusuri jalur sempit yang terasa paling aman. Tidak ada teknik yang kuaktifkan. Tidak ada nama yang terlintas di benakku. Namun tubuh ini bergerak seola







