Share

Malam yang hancur

Penulis: Galad Riwl
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-18 15:40:52

Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menjadi badai yang paling menghancurkan.

"Pak, putar balik ya," suara Celine bergetar hebat. Ia tak ingin pulang. Tidak ke rumah yang kini terasa seperti penjara penuh kebohongan.

"Baik, Mbak. Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatap dari spion.

"Jalan dulu saja, Pak. Saya... saya sedang berpikir," jawab Celine singkat sebelum air mata kembali membanjiri pipinya.

Satu jam berlalu. Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah di tengah kemacetan kota.

"Mbak, mohon maaf, sudah ketemu tujuannya? Ini argo sudah lumayan," sopir itu bertanya sungkan.

Celine menyeka air matanya kasar. Ia melirik keluar, lalu teringat sesuatu. "Berhenti di depan sana, Pak."

Ia turun di depan sebuah bangunan dengan lampu neon yang temaram. Sebuah bar. Celine, gadis lembut penyuka aroma roti, kini berdiri di depan pintu tempat yang belum pernah ia jamah seumur hidupnya. Namun saat ini, ia hanya ingin hilang.

Begitu pintu terbuka, aroma alkohol dan asap rokok menyergap. Celine berjalan gontai menuju kursi tinggi di depan bartender.

"Selamat datang... Eh? Celine?!" Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung terbelalak.

"Hai, Piere. Maaf gue baru mampir sekarang," ucap Celine dengan tawa hambar yang terdengar menyakitkan.

Piere, teman SMA-nya, meletakkan gelas yang sedang ia lap. "Gua nggak salah lihat? Lu ke bar? Mana Eros?"

"Jangan sebut nama itu," desis Celine tajam. "Lagi banyak pikiran. Dan gua langsung ingat lu kerja di sini."

"Untung gua masih kerja di sini. Jadi... mau minum apa?" tanya Piere khawatir melihat mata sembab Celine.

"Gua nggak ngerti nama-namanya. Lu pilihin saja yang bisa bikin gue... ngerasa better sekarang. Apa pun yang keras."

Piere menghela napas, ia mulai meracik minuman. "Oke, tunggu ya. Tapi jangan salahkan gua kalau lu gasuka."

Gelas pertama habis dalam satu tegukan. Gelas kedua, ketiga, hingga Celine kehilangan hitungan. Alkohol mulai mengambil alih kesadarannya.

"Aduh, Cel! Bilang dong kalau nggak kuat alkohol!" Piere panik saat melihat Celine mulai menelungkup di meja.

"Eros sialan! Semua sialan!" racau Celine, suaranya mulai tidak jelas. "Kenapa nggak ada yang tinggal sama gue sih? Ares... hiks... Ares jahat. Mending gue nunggu Ares selamanya... tapi emangnya dia nyariin gue? Hahaha... Argh!"

Celine berantakan. Riasannya luntur, matanya sembab, dan hatinya hancur berkeping-keping. Piere semakin bingung karena ia harus melayani pelanggan lain.

"Duh, Cel... gimana ya gua anterin lu, mana kerjaan masi banyak," gumam Piere gelisah.

Tiba-tiba, suasana di sekitar meja itu mendadak dingin. Seorang pria dengan siluet tegap berbalut jas panjang berdiri di belakang Celine. Aura dominannya begitu kuat hingga Piere refleks menegakkan punggungnya. Pria itu menatap Celine dengan tatapan datar, namun ada kilatan emosi yang tertahan di matanya.

Ia melepaskan jas panjangnya, lalu menyampirkannya dengan lembut ke bahu Celine yang gemetar.

"Oh, Celine teman Anda?" tanya Piere hati-hati.

"Hm. Saya yang akan urus dia," jawab pria itu singkat dengan suara bariton yang berat.

Tanpa basa-basi, ia menggendong Celine ala bridal style. Tubuh mungil Celine seolah tenggelam dalam pelukannya yang kokoh. Pria itu membawanya keluar, menuju sebuah mobil Bugatti mewah berwarna hitam yang terparkir tepat di depan pintu.

Di dalam mobil, Celine terus mengigau. Kepalanya bersandar di jok kulit yang mahal.

"Lu siapa? Pasti malaikat ya? Hahaha..." Celine tertawa kecil dengan mata terpejam. "Mau jemput gue supaya bisa bareng orang tua gue ya?"

Pria yang memegang kemudi itu terdiam sejenak. Tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Apa yang terjadi sampai kamu seperti ini, Eline?"

Celine mengerang. "Eline... Eline... nggak usah belaga kayak Ares deh. Ares itu sudah nggak ada. Dia ninggalin gua!"

"Hm..." Pria itu menarik napas dalam. "Kamu sekarang tinggal di kos atau di mana? Mau aku antar ke mana?"

"Rumah?" Celine tertawa pahit, suaranya terdengar pecah. "Gua mana mungkin punya rumah..."

Pria itu tertegun. Ah, benar juga, batinnya. Ia baru menyadari sesuatu yang besar tengah terjadi pada gadis yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu ini.

Mobil itu melaju menuju sebuah gedung apartemen paling mewah di pusat kota. Pria itu kembali menggendong Celine, melewati lobi pribadi hingga masuk ke unit penthouse-nya. Ia merebahkan Celine di ranjang king-size miliknya, lalu berlutut untuk melepaskan sepatu Celine dengan sangat telaten.

"Minum dulu," ucapnya lembut sambil menyodorkan segelas air putih saat Celine sedikit terbangun.

"Pusing..." keluh Celine, matanya terbuka sayu, mencoba memfokuskan pandangan pada wajah pria di depannya.

Pria itu menatap Celine dalam-dalam, sebuah penyesalan terpancar jelas di wajah tampannya yang tegas. Ia mengusap dahi Celine yang berkeringat.

"Saya minta maaf sudah meninggalkanmu, Eline."

"Saya seharusnya tidak meninggalkanmu."

Celine tertegun dalam mabuknya. Suara ini... sentuhan ini... kenapa terasa begitu nyata?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengapa Harus Ipar   Liburan keluarga

    Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada

  • Mengapa Harus Ipar   Topeng sang istri

    Angin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangnya."Kamu serius tidak mau saya antar?" suara bariton Ares memecah keheningan di antara mereka.Celine menggeleng pelan, matanya tak berani menatap mata elang pria itu. "Iya, Mas. Lagipula... aku sudah menikah. Aku tidak boleh bertindak seenaknya apalagi di luar seperti ini."Ares menghela napas pendek. "Baiklah.""Terima kasih sudah membawaku pulang dari bar kemarin, Mas," ucap Celine tulus, meski dadanya bergemuruh hebat.Bukannya menjawab, tangan besar Ares terulur. Pletakk. Ia menyentil dahi Celine dengan gerakan pelan namun mengejutkan, diiringi senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia."Awhh! Sakit, Mas!" Celine refleks mengusap dahinya, menatap pria itu dengan sebal.

  • Mengapa Harus Ipar   Pagi selanjutnya

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai penthouse yang mewah, tepat pada pukul enam pagi. Cahaya keemasan itu menyilaukan mata, mengganggu tidur lelap Celine yang tak pernah senyenyak ini selama tiga bulan terakhir.Celine mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, serta kehangatan luar biasa yang menyelimuti tubuh polosnya. Saat ia menoleh ke samping, napasnya nyaris terhenti.Wajah Ares Asterion yang masih terlelap tampak begitu damai, lengannya memeluk Celine erat seolah enggan melepaskannya lagi. Celine tersadar bahwa semalaman ia tertidur di atas dada telanjang pria itu. Wajahnya seketika memerah padam. Ingatan tentang pergumulan panas mereka semalam—bagaimana ia meracau dan memohon di bawah kendali Ares—mulai berkelebat meski sedikit kabur.Ia melihat ke sekeliling, mencerna di mana ia berada. Ruangan ini asing, didominasi warna monokrom yang maskulin. Celine kembali menatap Ares. D

  • Mengapa Harus Ipar   Malam panjang

    Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Celine. "Mas Aresssh..." desah Celine, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam keheningan apartemen yang kedap suara itu berubah menjadi luka paling dalam. Celine berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. "Ini beneran kamu... aku nggak lagi ngigo kan? Hahaha... gak mungkin ini pasti mimpi indah karena aku mabuk." Ares terhenti sejenak, menatap mata sayu Celine yang masih basah. "Saya di sini, Eline. Di depanmu." Ares membawa telapak tangan Celine untuk mengusap pipinya, tangis Celine pecah lagi. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar dadanya atau karena sesak melihat wajah yang selalu ia rindukan di saat ia sedang dikhianati oleh suaminya sendiri. Celine menarik kemeja Ares, mem

  • Mengapa Harus Ipar   Malam yang hancur

    Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menjadi badai yang paling menghancurkan. "Pak, putar balik ya," suara Celine bergetar hebat. Ia tak ingin pulang. Tidak ke rumah yang kini terasa seperti penjara penuh kebohongan. "Baik, Mbak. Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatap dari spion. "Jalan dulu saja, Pak. Saya... saya sedang berpikir," jawab Celine singkat sebelum air mata kembali membanjiri pipinya. Satu jam berlalu. Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah di tengah kemacetan kota. "Mbak, mohon maaf, sudah ketemu tujuannya? Ini argo sudah lumayan," sopir itu bertanya sungkan. Celine menyeka air matanya kasar. Ia melirik keluar, lalu teringat sesuatu. "Berhenti di depan sana, Pak." Ia turun di depan sebuah b

  • Mengapa Harus Ipar   Kepahitan yang terungkap

    Aroma mentega cair dan ragi yang sedang mengembang selalu menjadi obat penenang bagi Celine Broische. Di dalam toko rotinya yang mungil namun estetik, lulusan terbaik Universitas Ashford ini merasa dunianya lengkap. Dengan senyum lembutnya yang khas, Celine menyerahkan sekantong croissant hangat kepada seorang pelanggan anak-anak."Terima kasih, Tante Celine!" seru bocah itu riang.Celine terkekeh, mengusap kepala bocah itu. "Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan, ya."Menjadi pemilik toko roti adalah pilihan hidup yang awalnya ditentang banyak orang, mengingat gelarnya yang mentereng. Namun bagi Celine yang yatim piatu, toko ini adalah rumah. Dan sejak tiga bulan lalu, rumah itu memiliki penghuni baru: Eros Asterion, suaminya.Ponsel di atas meja kasir bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat garis wajah Celine melunak seketika."Halo, Mas Eros?""Sudah makan siang, Sayang? Aku pesankan makanan ya?" suara Eros terdengar perhatian di seberang sana.Celine melirik jam dinding. "A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status