로그인Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menjadi badai yang paling menghancurkan.
"Pak, putar balik ya," suara Celine bergetar hebat. Ia tak ingin pulang. Tidak ke rumah yang kini terasa seperti penjara penuh kebohongan. "Baik, Mbak. Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatap dari spion. "Jalan dulu saja, Pak. Saya... saya sedang berpikir," jawab Celine singkat sebelum air mata kembali membanjiri pipinya. Satu jam berlalu. Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah di tengah kemacetan kota. "Mbak, mohon maaf, sudah ketemu tujuannya? Ini argo sudah lumayan," sopir itu bertanya sungkan. Celine menyeka air matanya kasar. Ia melirik keluar, lalu teringat sesuatu. "Berhenti di depan sana, Pak." Ia turun di depan sebuah bangunan dengan lampu neon yang temaram. Sebuah bar. Celine, gadis lembut penyuka aroma roti, kini berdiri di depan pintu tempat yang belum pernah ia jamah seumur hidupnya. Namun saat ini, ia hanya ingin hilang. Begitu pintu terbuka, aroma alkohol dan asap rokok menyergap. Celine berjalan gontai menuju kursi tinggi di depan bartender. "Selamat datang... Eh? Celine?!" Seorang pria dengan kemeja hitam yang lengannya digulung terbelalak. "Hai, Piere. Maaf gue baru mampir sekarang," ucap Celine dengan tawa hambar yang terdengar menyakitkan. Piere, teman SMA-nya, meletakkan gelas yang sedang ia lap. "Gua nggak salah lihat? Lu ke bar? Mana Eros?" "Jangan sebut nama itu," desis Celine tajam. "Lagi banyak pikiran. Dan gua langsung ingat lu kerja di sini." "Untung gua masih kerja di sini. Jadi... mau minum apa?" tanya Piere khawatir melihat mata sembab Celine. "Gua nggak ngerti nama-namanya. Lu pilihin saja yang bisa bikin gue... ngerasa better sekarang. Apa pun yang keras." Piere menghela napas, ia mulai meracik minuman. "Oke, tunggu ya. Tapi jangan salahkan gua kalau lu gasuka." Gelas pertama habis dalam satu tegukan. Gelas kedua, ketiga, hingga Celine kehilangan hitungan. Alkohol mulai mengambil alih kesadarannya. "Aduh, Cel! Bilang dong kalau nggak kuat alkohol!" Piere panik saat melihat Celine mulai menelungkup di meja. "Eros sialan! Semua sialan!" racau Celine, suaranya mulai tidak jelas. "Kenapa nggak ada yang tinggal sama gue sih? Ares... hiks... Ares jahat. Mending gue nunggu Ares selamanya... tapi emangnya dia nyariin gue? Hahaha... Argh!" Celine berantakan. Riasannya luntur, matanya sembab, dan hatinya hancur berkeping-keping. Piere semakin bingung karena ia harus melayani pelanggan lain. "Duh, Cel... gimana ya gua anterin lu, mana kerjaan masi banyak," gumam Piere gelisah. Tiba-tiba, suasana di sekitar meja itu mendadak dingin. Seorang pria dengan siluet tegap berbalut jas panjang berdiri di belakang Celine. Aura dominannya begitu kuat hingga Piere refleks menegakkan punggungnya. Pria itu menatap Celine dengan tatapan datar, namun ada kilatan emosi yang tertahan di matanya. Ia melepaskan jas panjangnya, lalu menyampirkannya dengan lembut ke bahu Celine yang gemetar. "Oh, Celine teman Anda?" tanya Piere hati-hati. "Hm. Saya yang akan urus dia," jawab pria itu singkat dengan suara bariton yang berat. Tanpa basa-basi, ia menggendong Celine ala bridal style. Tubuh mungil Celine seolah tenggelam dalam pelukannya yang kokoh. Pria itu membawanya keluar, menuju sebuah mobil Bugatti mewah berwarna hitam yang terparkir tepat di depan pintu. Di dalam mobil, Celine terus mengigau. Kepalanya bersandar di jok kulit yang mahal. "Lu siapa? Pasti malaikat ya? Hahaha..." Celine tertawa kecil dengan mata terpejam. "Mau jemput gue supaya bisa bareng orang tua gue ya?" Pria yang memegang kemudi itu terdiam sejenak. Tangannya mencengkeram setir lebih erat. "Apa yang terjadi sampai kamu seperti ini, Eline?" Celine mengerang. "Eline... Eline... nggak usah belaga kayak Ares deh. Ares itu sudah nggak ada. Dia ninggalin gua!" "Hm..." Pria itu menarik napas dalam. "Kamu sekarang tinggal di kos atau di mana? Mau aku antar ke mana?" "Rumah?" Celine tertawa pahit, suaranya terdengar pecah. "Gua mana mungkin punya rumah..." Pria itu tertegun. Ah, benar juga, batinnya. Ia baru menyadari sesuatu yang besar tengah terjadi pada gadis yang ia tinggalkan bertahun-tahun lalu ini. Mobil itu melaju menuju sebuah gedung apartemen paling mewah di pusat kota. Pria itu kembali menggendong Celine, melewati lobi pribadi hingga masuk ke unit penthouse-nya. Ia merebahkan Celine di ranjang king-size miliknya, lalu berlutut untuk melepaskan sepatu Celine dengan sangat telaten. "Minum dulu," ucapnya lembut sambil menyodorkan segelas air putih saat Celine sedikit terbangun. "Pusing..." keluh Celine, matanya terbuka sayu, mencoba memfokuskan pandangan pada wajah pria di depannya. Pria itu menatap Celine dalam-dalam, sebuah penyesalan terpancar jelas di wajah tampannya yang tegas. Ia mengusap dahi Celine yang berkeringat. "Saya minta maaf sudah meninggalkanmu, Eline." "Saya seharusnya tidak meninggalkanmu." Celine tertegun dalam mabuknya. Suara ini... sentuhan ini... kenapa terasa begitu nyata?Desahan Ares kian berat, tangannya secara naluriah menekan lembut belakang kepala Celine, menuntun gerakan gadis itu untuk mencapai puncak. Tubuh tegap itu menegang hebat saat gairahnya meledak, menodai wajah dan sudut bibir Celine. Ares menatap pemandangan di bawahnya dengan tatapan penuh kepemilikan. Ia mengulurkan telapak tangannya yang lebar."Muntahkan di sini," perintah Ares rendah.Celine menurut, membiarkan Ares membersihkan sisa percintaan kilat mereka dengan lembut. Pria itu kemudian membantu Celine mengenakan kembali bikininya, merapikan helai rambut yang berantakan karena angin pantai."Rasa Mas Ares masih sama," bisik Celine sambil menatap mata Ares yang kini sedikit lebih lembut.Ares menaikkan sebelah alisnya. "Sama?""Tidak cair, manis... tidak pahit seperti yang sering aku baca di internet," Celine menjawab jujur, wajahnya kembali merona.Ares terkekeh pendek, suara baritonnya terasa hangat di telinga Celine. "Kamu juga masih sama sensitifnya seperti dulu, Elin.""Ihh
Di balik dinding batu karang yang menjulang, waktu seolah berhenti berputar. Suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi musik pengiring bagi napas yang kian memburu. Ares memojokkan Celine, tangan besarnya mengelus punggung mulus itu hingga turun ke bawah, meremas lembut bokong Celine yang kenyal."Kamu cantik sekali, Elin..." bisik Ares, suaranya serak tertahan di ceruk leher Celine.Celine hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu kokoh Ares yang keras. "Mas..." "Boleh saya lepas?" tanya Ares pelan namun penuh tuntutan, matanya menatap kaitan tali bikini putih yang melilit tubuh istrinya sang adik.Celine ragu sejenak, namun rasa rindu yang membuncah mengalahkan akal sehatnya. "Iya..."Dengan satu tarikan lembut, Ares melepaskan kaitan bra dan bikini Celine. Keindahan tubuh yang selama ini ia mimpikan di malam-malam sepinya kini terpampang nyata. Putih, proporsional, dan sempurna."God... kamu masih sama, Elin. Tidak ada yang berubah," gumam Ares, matanya mena
Gagang pintu terus berputar dengan kasar. Jantung Celine seolah melompat ke tenggorokan. Dalam posisi masih di pangkuan Ares, ia hanya bisa mematung sementara pria itu menatapnya dengan ketenangan yang mematikan. "Eline, dengar..." Ares berbisik rendah, tangan besarnya mendongakkan dagu Celine agar menatap matanya. "Saya tidak mau merusak hubungan dengan keluarga, termasuk hubungan kamu dengan mereka. Sekarang, lewat balkon, kembali ke kamarmu. Saya akan mengurus Eros." "Mas..." Celine merintih kecil. Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba menyeruak. Ares tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong tubuh mungil Celine, membawanya menuju balkon yang menghubungkan deretan kamar lantai dua. Pelukan Celine mengerat, kepalanya bersandar di dada bidang Ares yang berdetak kuat. "Tapi mas... aku masih-" "Saya akan menemuimu lagi besok," bisik Ares saat menurunkan Celine di batas balkon kamarnya sendiri. "Saya tidak akan meninggalkanmu lagi. Kali ini tidak akan." Celine menatapnya r
"Lepasin, Mas!" desis Celine, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. Ares tidak bergeming. Alih-alih melepaskan, ia justru mempererat genggamannya. Matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi seluruh luka yang selama ini Celine sembunyikan. "Aku tidak mau Mas Eros sampai berpikir macam-macam kalau melihat ini!" Celine mencoba menyentakkan tangannya. "Macam-macam?" Ares menyeringai dingin, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Dari awal kamu itu sudah milik saya, Celine. Milik saya." Celine terbelalak, napasnya tertahan. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Aku sudah menikah!" Suara Celine yang agak meninggi rupanya terdengar hingga ke lantai bawah. "Sayang! Kamu tidak apa-apa di atas?" seru Eros dari ruang tengah, suaranya terdengar cemas. Celine membeku. Jantungnya berpacu liar. "Ga-gapapa, Mas! Aku cuma hampir terpeleset tadi!" sahutnya dengan nada yang diusahakan senormal mungkin. Belum sempat Celine ber
Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar. "Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya. Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur." Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares." Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing." "Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan lib
Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada







