Share

Malam panjang

Penulis: Galad Riwl
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-18 16:04:00

Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Celine.

"Mas Aresssh..." desah Celine, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam keheningan apartemen yang kedap suara itu berubah menjadi luka paling dalam.

Celine berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. "Ini beneran kamu... aku nggak lagi ngigo kan? Hahaha... gak mungkin ini pasti mimpi indah karena aku mabuk."

Ares terhenti sejenak, menatap mata sayu Celine yang masih basah. "Saya di sini, Eline. Di depanmu." Ares membawa telapak tangan Celine untuk mengusap pipinya, tangis Celine pecah lagi. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar dadanya atau karena sesak melihat wajah yang selalu ia rindukan di saat ia sedang dikhianati oleh suaminya sendiri. Celine menarik kemeja Ares, memaksa pria itu mendekat.

"Mas Ares, kenapa kamu baru dateng? Hiks... kenapa kamu baru dateng pas semuanya udah hancur kaya gini?"

"Tidak ada yang hancur, saya tidak akan pergi lagi, Eline."

"Kamu bisa bilang kaya gitu karena kamu gatau posisi aku, mas."

"Saya minta maaf, Eline... Saya minta maaf." Ares berbisik, ada getaran penyesalan yang jujur di suaranya. Ia tak tahan lagi melihat Celine yang rapuh, dan sedetik kemudian, ia menunduk, membungkam bibir Celine dengan ciuman yang dalam—ciuman yang penuh dengan rasa lapar dan kerinduan yang tertahan bertahun-tahun.

"Kenapa kamu ninggalin aku dulu? Apa karena ada cewek lain juga?" tanya Celine di sela ciuman mereka, hatinya masih teringat pada bayangan Eros dan wanita janda sialan itu.

"Tentu saja tidak. Eline-ku tidak ada bandingnya dengan wanita lain di dunia ini," tegas Ares.

Celine, yang kehilangan kewarasannya karena cemburu pada Eros dan rindu pada Ares, menarik kerah baju Ares hingga pria itu jatuh terlentang di ranjang. Celine merangkak naik, duduk di atas perut pria tegap itu.

"Ares sudah pergi jauh... Aku yakin ini hanyalah mimpi."

"Dan... _di dalam mimpi, aku bebas melakukan apapun, kan?" Celine tertawa getir, matanya berkilat penuh gairah yang liar.

Ia mulai menciumi leher Ares, menghirup aroma maskulin yang begitu familiar. Tubuh Ares yang besar dan kokoh terasa seperti tempat perlindungan sekaligus santapan bagi Celine yang mungil.

"Harum Mas Ares, mimpi ini tampak nyata."

"Cukup, Eline. Kamu mabuk, berhenti atau saya tidak akan bisa menahan diri lagi," peringat Ares dengan napas yang mulai memburu.

"Apasih, ini mimpiii! Jangan larang aku, mas!"

Celine dengan jemari yang gemetar membuka kancing kemeja atasannya, menampakkan keindahan tubuhnya yang masih sama seperti terakhir kali Ares menyentuhnya. Ares tertegun. Dialah pria pertama yang memiliki Celine, dan melihat pemandangan ini lagi membuatnya merasa seperti singa yang baru saja lepas dari rantai.

"Kamu masih cantik sekali... persis seperti terakhir kali saya melihatmu saat kuliah dulj," bisik Ares, tangannya mulai merayap di pinggang Celine.

"Eline kangen kamu..."

"Kamu kangen saya, atau kangen tubuh saya?" goda Ares, suaranya serak.

"Keduanya..."

Celine mendekatkan dadanya, membiarkan Ares menyesap kemolekannya dengan rakus. Desahan-desahan nikmat mulai memenuhi ruangan. Tangan Ares meremas sisi tubuh Celine, sementara pinggang Celine secara naluriah menggesekkan miliknya pada milik Ares yang sudah menegang hebat di balik celana kain mewahnya.

"Enak? Mmhhh geli" tanya Celine, wajahnya memerah sempurna.

"Nakal."

"Mau lagi mass... isep lagi."

"Iya. Sekarang berbalik, sit on my face," perintah Ares dengan nada CEO-nya yang tak bisa dibantah.

Ares memutar tubuh Celine hingga posisi gadis itu kini menduduki wajahnya. Dengan cepat, ia melepas celana Celine dan membuangnya ke sembarang arah. Di bawah lampu temaram, ia menatap milik Celine yang masih sebersih dan semurni dulu.

"Kamu cantik sekali, Eline..." sambil menyentuh pelan labia Celine seakan benda museum yang perlu dilakukan hati-hati.

"Kenapa kamu bisa secantik ini."

"Cepetan mass, punya Eline udah gatel."

"Dasar anak nakal."

Ares mulai menggunakan lidahnya, menyapu titik saraf sensitif Celine dengan ritme yang mematikan. Celine terkesiap, tangannya mencengkeram sprei ranjang hingga kusut.

"Mas Areshh... iyaaa enakk... ahhh, di situuu!"

"Kamu masih sangat sensitif , ya."

"Mau keluar, Sayang?" ujar Ares ketika merasa Celine mulai menegang.

"Iyahhh... nghhh... iyah, mau keluarrr, fasterr!"

Ares memasukkan satu jarinya, menekan titik terdalam hingga Celine melengkung seperti busur panah. Cairan hangat menyemprot di wajah Ares, dan pria itu menjilatinya hingga habis tanpa sisa.

"Lezat," gumam Ares dingin namun penuh gairah.

"haahh... hhh"

Celine yang sudah di puncak gairah mencoba meraih ritsleting celana Ares. "Kenapa dari dulu nggak boleh? Eline pengen makan 'es krim' Mas Ares... pasti lezat."

Ares menahan tangan Celine, matanya menatap tajam. "Dari mana kamu belajar kata-kata kotor seperti itu?"

"Eline selalu membayangkannya setiap malam saat kesepian..."

"Itu kotor, jangan dilakukan sendiri," ucap Ares. Ia kemudian menelentangkan Celine di atas ranjang. Ares mengeluarkan kejantanannya yang luar biasa besar—panjang dan berurat, menampakkan dominasi mutlak seorang pria dewasa.

"Cepetannn masukin, Masss... milik Eline udah gakuat, gelii," rengek Celine, kakinya terbuka lebar.

"Dasar. Bahaya sekali kamu kalau mabuk," gumam Ares sebelum menghujamkan miliknya dalam satu hentakan kuat.

Celine tersentak, matanya membelalak lebar. Rasa penuh yang sudah lama hilang itu kini kembali menyerang perutnya.

"Ahh, you're so tight, baby," Ares mengerang, tertahan sejenak untuk membiarkan tubuh Celine beradaptasi.

Ia mulai bergerak, perlahan namun pasti, hingga gerakannya berubah menjadi genjotan yang liar dan cepat.

"Punya Mas Ares gede banget... ahhh! Penuh... perut Eline penuh bangettt!"

"Kamu yang minta, hah? Sempit sekali, Elin!"

"Aku nggak pernah melakukannya lagi sejak terakhir kita berpisah..." rintih Celine jujur.

Ares tertegun sesaat, sebuah kepuasan ego merasuki pikirannya. "Really? Good girl. Ini hadiah untuk Eline yang pintar."

Ares mempercepat temponya, mengabaikan segala logika bahwa wanita di bawahnya ini mungkin sudah menjadi milik orang lain. Di puncak pelepasan, ia menyemprotkan seluruh spermanya di dalam rahim Celine, menciptakan sensasi hangat yang meluap.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengapa Harus Ipar   Liburan keluarga

    Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada

  • Mengapa Harus Ipar   Topeng sang istri

    Angin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangnya."Kamu serius tidak mau saya antar?" suara bariton Ares memecah keheningan di antara mereka.Celine menggeleng pelan, matanya tak berani menatap mata elang pria itu. "Iya, Mas. Lagipula... aku sudah menikah. Aku tidak boleh bertindak seenaknya apalagi di luar seperti ini."Ares menghela napas pendek. "Baiklah.""Terima kasih sudah membawaku pulang dari bar kemarin, Mas," ucap Celine tulus, meski dadanya bergemuruh hebat.Bukannya menjawab, tangan besar Ares terulur. Pletakk. Ia menyentil dahi Celine dengan gerakan pelan namun mengejutkan, diiringi senyum tipis yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia."Awhh! Sakit, Mas!" Celine refleks mengusap dahinya, menatap pria itu dengan sebal.

  • Mengapa Harus Ipar   Pagi selanjutnya

    Sinar matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai penthouse yang mewah, tepat pada pukul enam pagi. Cahaya keemasan itu menyilaukan mata, mengganggu tidur lelap Celine yang tak pernah senyenyak ini selama tiga bulan terakhir.Celine mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, serta kehangatan luar biasa yang menyelimuti tubuh polosnya. Saat ia menoleh ke samping, napasnya nyaris terhenti.Wajah Ares Asterion yang masih terlelap tampak begitu damai, lengannya memeluk Celine erat seolah enggan melepaskannya lagi. Celine tersadar bahwa semalaman ia tertidur di atas dada telanjang pria itu. Wajahnya seketika memerah padam. Ingatan tentang pergumulan panas mereka semalam—bagaimana ia meracau dan memohon di bawah kendali Ares—mulai berkelebat meski sedikit kabur.Ia melihat ke sekeliling, mencerna di mana ia berada. Ruangan ini asing, didominasi warna monokrom yang maskulin. Celine kembali menatap Ares. D

  • Mengapa Harus Ipar   Malam panjang

    Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah Celine. "Mas Aresssh..." desah Celine, suaranya parau, nyaris tenggelam dalam keheningan apartemen yang kedap suara itu berubah menjadi luka paling dalam. Celine berusaha memfokuskan pandangannya yang kabur. "Ini beneran kamu... aku nggak lagi ngigo kan? Hahaha... gak mungkin ini pasti mimpi indah karena aku mabuk." Ares terhenti sejenak, menatap mata sayu Celine yang masih basah. "Saya di sini, Eline. Di depanmu." Ares membawa telapak tangan Celine untuk mengusap pipinya, tangis Celine pecah lagi. Entah karena pengaruh alkohol yang membakar dadanya atau karena sesak melihat wajah yang selalu ia rindukan di saat ia sedang dikhianati oleh suaminya sendiri. Celine menarik kemeja Ares, mem

  • Mengapa Harus Ipar   Malam yang hancur

    Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menjadi badai yang paling menghancurkan. "Pak, putar balik ya," suara Celine bergetar hebat. Ia tak ingin pulang. Tidak ke rumah yang kini terasa seperti penjara penuh kebohongan. "Baik, Mbak. Mau ke mana?" tanya sopir taksi sambil menatap dari spion. "Jalan dulu saja, Pak. Saya... saya sedang berpikir," jawab Celine singkat sebelum air mata kembali membanjiri pipinya. Satu jam berlalu. Taksi itu hanya berputar-putar tak tentu arah di tengah kemacetan kota. "Mbak, mohon maaf, sudah ketemu tujuannya? Ini argo sudah lumayan," sopir itu bertanya sungkan. Celine menyeka air matanya kasar. Ia melirik keluar, lalu teringat sesuatu. "Berhenti di depan sana, Pak." Ia turun di depan sebuah b

  • Mengapa Harus Ipar   Kepahitan yang terungkap

    Aroma mentega cair dan ragi yang sedang mengembang selalu menjadi obat penenang bagi Celine Broische. Di dalam toko rotinya yang mungil namun estetik, lulusan terbaik Universitas Ashford ini merasa dunianya lengkap. Dengan senyum lembutnya yang khas, Celine menyerahkan sekantong croissant hangat kepada seorang pelanggan anak-anak."Terima kasih, Tante Celine!" seru bocah itu riang.Celine terkekeh, mengusap kepala bocah itu. "Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan, ya."Menjadi pemilik toko roti adalah pilihan hidup yang awalnya ditentang banyak orang, mengingat gelarnya yang mentereng. Namun bagi Celine yang yatim piatu, toko ini adalah rumah. Dan sejak tiga bulan lalu, rumah itu memiliki penghuni baru: Eros Asterion, suaminya.Ponsel di atas meja kasir bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat garis wajah Celine melunak seketika."Halo, Mas Eros?""Sudah makan siang, Sayang? Aku pesankan makanan ya?" suara Eros terdengar perhatian di seberang sana.Celine melirik jam dinding. "A

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status