Beranda / Romansa / Mengapa Harus Ipar / Kepahitan yang terungkap

Share

Mengapa Harus Ipar
Mengapa Harus Ipar
Penulis: Galad Riwl

Kepahitan yang terungkap

Penulis: Galad Riwl
last update Tanggal publikasi: 2026-02-18 15:39:51

Aroma mentega cair dan ragi yang sedang mengembang selalu menjadi obat penenang bagi Celine Broische. Di dalam toko rotinya yang mungil namun estetik, lulusan terbaik Universitas Ashford ini merasa dunianya lengkap. Dengan senyum lembutnya yang khas, Celine menyerahkan sekantong croissant hangat kepada seorang pelanggan anak-anak.

"Terima kasih, Tante Celine!" seru bocah itu riang.

Celine terkekeh, mengusap kepala bocah itu. "Sama-sama, Sayang. Hati-hati di jalan, ya."

Menjadi pemilik toko roti adalah pilihan hidup yang awalnya ditentang banyak orang, mengingat gelarnya yang mentereng. Namun bagi Celine yang yatim piatu, toko ini adalah rumah. Dan sejak tiga bulan lalu, rumah itu memiliki penghuni baru: Eros Asterion, suaminya.

Ponsel di atas meja kasir bergetar. Sebuah nama muncul di layar, membuat garis wajah Celine melunak seketika.

"Halo, Mas Eros?"

"Sudah makan siang, Sayang? Aku pesankan makanan ya?" suara Eros terdengar perhatian di seberang sana.

Celine melirik jam dinding. "Aku baru mau keluar cari makan sendiri, Mas. Kamu emang gak repot?"

"Gak sayang, kamu di toko saja biar aku yang pesankan. Jangan panas-panasan di luar," potong Eros cepat.

"Mas mau makan bareng di sini? Aku bisa siapkan meja di belakang."

Eros menghela napas pendek. "Aduh, kalau makan bareng belum bisa, Sayang. Mas habis ini ada meeting penting. Biasa, demi kenaikan jabatan harus kerja keras, kan?"

Celine tersenyum bangga. "Rajinnya suamiku... Semangat ya, Mas!"

"Makasih ya sayang, ku matikan dulu. Tunggu saja makanannya, sepuluh menit lagi sampai. Love you."

Tut.

Telepon mati. Celine menyandarkan tubuhnya ke rak kayu, merasa sangat beruntung. Eros adalah pria yang menariknya dari jurang kegelapan setelah ia ditinggalkan tanpa kabar oleh Ares—satu-satunya pria yang pernah ia cintai di kampus. Eros menerima fakta bahwa Celine masih 'gamon' atau gagal move on, dan dengan sabar pria itu meyakinkannya bahwa ia layak dicintai.

Sepuluh menit kemudian, seorang kurir mengantarkan kantong plastik besar. Saat Celine membukanya, ia tertegun. Isinya adalah paket seafood tumpah dengan saus padang yang sangat pedas di siang bolong.

Celine terkekeh hambar. "Seafood lagi? Mas Eros benar-benar kebalikan dari Mas Ares, ya..."

Ingatannya melayang pada Ares. Pria itu selalu tahu kalau lambung Celine sensitif terhadap makanan pedas di siang hari. Tapi Celine segera menggelengkan kepalanya.

"Ngomong apa sih kamu, Cel? Yang jelas-jelas ninggalin di hari kelulusan kok masih dipikirin. Harusnya kamu bersyukur punya Eros," gumamnya pada diri sendiri.

Baru saja ia hendak menyuap makanannya, ponselnya kembali berdering. Kali ini dari Hera Asterion, ibu mertuanya.

"Halo, Ma?"

"Celine Sayang! Apakah Mama mengganggumu, nak?" suara Hera terdengar riang.

"Tentu saja tidak, Ma. Ada apa?"

"Mama mau mengajakmu liburan akhir bulan ini ke Pulau Serenity. Seluruh keluarga besar akan datang, kamu juga wajib datang ya, Nak!"

Dari kejauhan, terdengar suara Lucien, sang ayah mertua menimpali. "Kalau target bulanan tokomu belum tercapai, nanti Papa yang ganti uangnya! Pokoknya kamu harus ikut!"

Celine tertawa kecil, hatinya menghangat. "Ihh Papa... sudah tercapai kok targetnya, tidak usah repot-repot. Nanti Celine bicarakan dulu dengan Mas Eros ya, Pa, Ma."

"Anak itu pasti mau," sahut Hera yakin. "Vila di sana itu favorit dia dan Ares sejak kecil."

Deg. Jantung Celine berdegup kencang mendengar nama itu. "Mas... Ares juga datang, Ma?"

"Tentu saja! Si sulung itu baru bisa pulang sekarang setelah bertahun-tahun mengurus perusahaan di luar negeri. Makanya kita harus berkumpul lengkap!"

"Heheh, iya Ma... nanti Celine kabari lagi. Ini pelanggan sudah mulai ramai."

Setelah menutup telepon, Celine terpaku. Selama tiga bulan menikah, ia tak pernah bertemu dengan kakak iparnya. Mas Ares... Nama yang sama, namun ia yakin itu orang yang berbeda. Ares-nya dulu hanyalah mahasiswa biasa, bukan CEO konglomerat.

"Ngigo kamu, Cel. Yakali dia orang yang sama. Dunia tidak sesempit itu," bisiknya menenangkan diri.

Sore harinya, hujan turun cukup lebat membasahi kaca toko. Celine sudah merapikan semuanya, menunggu jemputan Eros tepat pukul 18.00 seperti biasanya. Namun, hingga pukul 18.30, mobil Eros tak kunjung nampak.

Celine menekan tombol panggil di ponselnya.

"Mas? Mas Eros sudah sampai mana? Kok lama sekali?"

"Maaf Sayang," suara Eros terdengar berisik di latar belakang. "Ini lalu lintasnya padat sekali karena hujan, sepertinya bakal lama sampai di tokomu."

Celine mengernyit, menatap jalanan di depan tokonya yang sebenarnya tidak terlalu macet. "Mas sudah sampai mana? Apa aku tunggu di pinggir jalan saja biar Mas gampang jemputnya?"

"Gak usah! Kamu pesan taksi online saja duluan ya, Sayang? Biar kamu tidak nunggu lama dan kedinginan. Kasihan kamu kalau harus menunggu aku," ujar Eros dengan nada yang sangat perhatian.

"Beneran Mas gapapa aku pulang sendiri?"

"Gapapa, asal kamu tidak nunggu lama. Maaf ya Sayang, nanti aku langsung ke rumah."

Celine menghela napas, menutup teleponnya dengan perasaan ganjil. "Ish, tumben banget..."

Ia akhirnya memesan taksi. Di tengah perjalanan pulang, taksi yang ditumpanginya terjebak kemacetan di persimpangan besar dekat sebuah taman bermain indoor.

Celine melongok ke luar jendela, dan saat itulah dunianya seakan runtuh.

Di jalur sebelah, sebuah mobil mewah yang sangat ia kenali—mobil milik suaminya—berhenti tepat di samping taksinya. Kaca mobil itu tidak terlalu gelap. Di dalam sana, Celine melihat Eros.

Suaminya tidak sedang sendirian.

Eros tengah tertawa lepas, wajahnya memancarkan kebahagiaan yang jarang Celine lihat akhir-akhir ini. Di sampingnya duduk seorang wanita cantik yang tampak sangat akrab, dan di kursi belakang ada seorang anak kecil yang sedang bertepuk tangan.

Celine membeku saat melihat wanita itu menyuapkan kentang goreng ke mulut Eros, dan Eros menerimanya dengan kerlingan mata penuh cinta. Mereka tampak seperti sebuah keluarga kecil yang sempurna. Sangat sempurna sampai-sampai Celine merasa dirinya adalah orang asing yang mengintip kebahagiaan orang lain.

Tubuh Celine bergetar hebat. Napasnya tercekat di tenggorokan.

"Mas Ares tidak akan membuatku seperti ini kan setidaknya?" bisiknya lirih dengan air mata yang mulai menggenang.

Tepat saat itu, wanita di dalam mobil tersebut mencium pipi Eros, membuat Eros tertawa semakin lebar. Celine memejamkan mata, mencengkeram tasnya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih.

Inikah pria yang ia anggap sebagai malaikat penyelamatnya?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengapa Harus Ipar   Puncak Kenikmatan

    Desahan Ares kian berat, tangannya secara naluriah menekan lembut belakang kepala Celine, menuntun gerakan gadis itu untuk mencapai puncak. Tubuh tegap itu menegang hebat saat gairahnya meledak, menodai wajah dan sudut bibir Celine. Ares menatap pemandangan di bawahnya dengan tatapan penuh kepemilikan. Ia mengulurkan telapak tangannya yang lebar."Muntahkan di sini," perintah Ares rendah.Celine menurut, membiarkan Ares membersihkan sisa percintaan kilat mereka dengan lembut. Pria itu kemudian membantu Celine mengenakan kembali bikininya, merapikan helai rambut yang berantakan karena angin pantai."Rasa Mas Ares masih sama," bisik Celine sambil menatap mata Ares yang kini sedikit lebih lembut.Ares menaikkan sebelah alisnya. "Sama?""Tidak cair, manis... tidak pahit seperti yang sering aku baca di internet," Celine menjawab jujur, wajahnya kembali merona.Ares terkekeh pendek, suara baritonnya terasa hangat di telinga Celine. "Kamu juga masih sama sensitifnya seperti dulu, Elin.""Ihh

  • Mengapa Harus Ipar   Batu Karang'2

    Di balik dinding batu karang yang menjulang, waktu seolah berhenti berputar. Suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi musik pengiring bagi napas yang kian memburu. Ares memojokkan Celine, tangan besarnya mengelus punggung mulus itu hingga turun ke bawah, meremas lembut bokong Celine yang kenyal."Kamu cantik sekali, Elin..." bisik Ares, suaranya serak tertahan di ceruk leher Celine.Celine hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu kokoh Ares yang keras. "Mas..." "Boleh saya lepas?" tanya Ares pelan namun penuh tuntutan, matanya menatap kaitan tali bikini putih yang melilit tubuh istrinya sang adik.Celine ragu sejenak, namun rasa rindu yang membuncah mengalahkan akal sehatnya. "Iya..."Dengan satu tarikan lembut, Ares melepaskan kaitan bra dan bikini Celine. Keindahan tubuh yang selama ini ia mimpikan di malam-malam sepinya kini terpampang nyata. Putih, proporsional, dan sempurna."God... kamu masih sama, Elin. Tidak ada yang berubah," gumam Ares, matanya mena

  • Mengapa Harus Ipar   Batu Karang

    Gagang pintu terus berputar dengan kasar. Jantung Celine seolah melompat ke tenggorokan. Dalam posisi masih di pangkuan Ares, ia hanya bisa mematung sementara pria itu menatapnya dengan ketenangan yang mematikan. "Eline, dengar..." Ares berbisik rendah, tangan besarnya mendongakkan dagu Celine agar menatap matanya. "Saya tidak mau merusak hubungan dengan keluarga, termasuk hubungan kamu dengan mereka. Sekarang, lewat balkon, kembali ke kamarmu. Saya akan mengurus Eros." "Mas..." Celine merintih kecil. Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba menyeruak. Ares tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong tubuh mungil Celine, membawanya menuju balkon yang menghubungkan deretan kamar lantai dua. Pelukan Celine mengerat, kepalanya bersandar di dada bidang Ares yang berdetak kuat. "Tapi mas... aku masih-" "Saya akan menemuimu lagi besok," bisik Ares saat menurunkan Celine di batas balkon kamarnya sendiri. "Saya tidak akan meninggalkanmu lagi. Kali ini tidak akan." Celine menatapnya r

  • Mengapa Harus Ipar   Deeptalk

    "Lepasin, Mas!" desis Celine, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. Ares tidak bergeming. Alih-alih melepaskan, ia justru mempererat genggamannya. Matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi seluruh luka yang selama ini Celine sembunyikan. "Aku tidak mau Mas Eros sampai berpikir macam-macam kalau melihat ini!" Celine mencoba menyentakkan tangannya. "Macam-macam?" Ares menyeringai dingin, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Dari awal kamu itu sudah milik saya, Celine. Milik saya." Celine terbelalak, napasnya tertahan. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Aku sudah menikah!" Suara Celine yang agak meninggi rupanya terdengar hingga ke lantai bawah. "Sayang! Kamu tidak apa-apa di atas?" seru Eros dari ruang tengah, suaranya terdengar cemas. Celine membeku. Jantungnya berpacu liar. "Ga-gapapa, Mas! Aku cuma hampir terpeleset tadi!" sahutnya dengan nada yang diusahakan senormal mungkin. Belum sempat Celine ber

  • Mengapa Harus Ipar   Makan malam

    Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar. "Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya. Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur." Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares." Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing." "Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan lib

  • Mengapa Harus Ipar   Liburan keluarga

    Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status