MasukSinar matahari pagi menyusup malu-malu dari celah tirai penthouse yang mewah, tepat pada pukul enam pagi. Cahaya keemasan itu menyilaukan mata, mengganggu tidur lelap Celine yang tak pernah senyenyak ini selama tiga bulan terakhir.
Celine mengerjapkan matanya perlahan. Hal pertama yang ia rasakan adalah sebuah lengan kekar yang melingkar posesif di pinggangnya, serta kehangatan luar biasa yang menyelimuti tubuh polosnya. Saat ia menoleh ke samping, napasnya nyaris terhenti. Wajah Ares Asterion yang masih terlelap tampak begitu damai, lengannya memeluk Celine erat seolah enggan melepaskannya lagi. Celine tersadar bahwa semalaman ia tertidur di atas dada telanjang pria itu. Wajahnya seketika memerah padam. Ingatan tentang pergumulan panas mereka semalam—bagaimana ia meracau dan memohon di bawah kendali Ares—mulai berkelebat meski sedikit kabur. Ia melihat ke sekeliling, mencerna di mana ia berada. Ruangan ini asing, didominasi warna monokrom yang maskulin. Celine kembali menatap Ares. Dengan ragu, tangan mungilnya terangkat, menyentuh sisi wajah pria itu dengan sangat pelan. "Ini beneran kamu?" bisik Celine pelan, nyaris seperti embusan angin. Tiba-tiba, mata yang terpejam itu terbuka. Ares menangkup tangan Celine yang berada di pipinya. Tatapan pria itu sangat tajam dan dingin, tatapan khas yang selalu membuat nyali siapa pun menciut—persis seperti saat mereka masih di bangku kuliah dulu. "Kenapa melihat saya seperti itu?" suara bariton Ares memecah keheningan pagi, terdengar serak dan dalam. Celine gelagapan. "G-gak kok... aku cuma mastiin ini beneran kamu," jawabnya sambil mendengus pelan, lalu membuang muka menatap ke arah asal untuk menyembunyikan kegugupannya. Sudut bibir Ares tertarik membentuk seringai tipis. "Saya memang tampan sih." "A-apa sihhh! Dibilang aku ga mikir gitu!" sergah Celine cepat, namun rona merah di pipinya semakin kentara. Ares terkekeh pelan, tangannya mengusap pipi Celine. "Tapi kamu merah." "Ihhh, Mas!" Celine yang kehabisan kata-kata langsung mendelik, lalu menyembunyikan wajahnya yang memanas ke dalam dada bidang Ares. "Jangan godain aku deh!" Ares justru mengeratkan pelukannya, mengelus rambut Celine dengan lembut. "Kenapa malu? Kemarin malam saat kamu menggoda saya duluan, kamu sama sekali tidak malu." "Itu kan bedaa..." cicit Celine dari balik dada Ares. "Lalu?" "Aku kan mabuk, Masss..." Ares menghentikan usapannya. Nada suaranya berubah menjadi lebih serius dan protektif. "Jangan mabuk seperti kemarin lagi, Eline. Untung ada saya yang menemukanmu. Itu sangat berbahaya jika tidak ada yang melindungimu di tempat seperti itu." Celine menghela napas panjang, mengingat kembali alasan mengapa ia bisa berakhir di bar semalam. Bayangan Eros yang tertawa bersama selingkuhannya kembali menyayat hatinya. "Kalau gaada masalah, aku juga gabakal gitu kok, Mas," jawab Celine lirih. "Terakhir kali aku mabuk parah waktu Mas pergi ninggalin aku, dan waktu itu aman-aman aja." Mendengar itu, raut wajah Ares meredup. Ada rasa bersalah yang teramat dalam di matanya. "Saya minta maaf, Sayang." "Gapapa, toh cuma masa lalu. Lagian juga aku udah—" Celine menggantung kalimatnya. Ia hampir saja mengatakan 'sudah nikah', namun bayangan perselingkuhan Eros semalam membuatnya muak untuk mengakui statusnya. Ares menaikkan sebelah alisnya. "Udah apa?" "Ah... gak, Mas," elak Celine cepat. Ares terdiam sejenak, menatap manik mata Celine dengan intensitas yang mengunci. "Saya ingin bertanya, Eline. Mungkin ini agak sensitif, tapi... apakah kepergian saya dulu mendatangkan pria lain di hidupmu?" Jantung Celine berdegup kencang. Ia menunduk, tak berani menatap mata elang itu. "Maaf, Mas... aku udah menikah." Hening menguasai ruangan itu selama beberapa detik. Rahang Ares tampak mengeras, namun ia berusaha mengendalikan emosinya. "Tidak perlu minta maaf," ucap Ares dengan suara yang lebih dingin. "Saya yang harusnya minta maaf karena sudah menyentuh istri orang lain." Celine menggeleng cepat. Rasa sakit di dadanya membuatnya bersikap lebih berani. "Aku pikir itu udah gaperlu lagi dibahas, Mas. Toh, kemarin aku yang godain Mas kan? Jadi ini bukan sepenuhnya salah Mas." Ares menyeringai tipis, teringat betapa liarnya gadis di pelukannya ini semalam. "Iya, kamu yang menggoda saya. Kamu bahkan menyodorkan pussy pink kamu itu tepat ke wajah saya sambil memohon." "Ihhh, Masss!" Celine memukul dada Ares pelan, wajahnya sudah seperti kepiting rebus. Ares tertawa lepas, sebuah pemandangan langka dari seorang CEO berdarah dingin. Ia mengecup kening Celine dalam-dalam. "Saya masih cinta kamu, Eline. Always," bisik Ares tulus. Hati Celine bergetar hebat. Kata-kata itu adalah hal yang paling ingin ia dengar bertahun-tahun lalu. Namun sekarang, semuanya terasa rumit. Ia tidak tahu harus menjawab apa. "Mas... aku mau mandi dulu, gerah," ucap Celine mengalihkan pembicaraan, mencoba melepaskan diri dari pelukan Ares. "Perlu saya mandikan?" goda Ares lagi. "Nggak! Mas di sini aja!" Celine buru-buru bangkit, meraih kemeja kebesaran Ares yang tergeletak di lantai dan memakainya asal.Desahan Ares kian berat, tangannya secara naluriah menekan lembut belakang kepala Celine, menuntun gerakan gadis itu untuk mencapai puncak. Tubuh tegap itu menegang hebat saat gairahnya meledak, menodai wajah dan sudut bibir Celine. Ares menatap pemandangan di bawahnya dengan tatapan penuh kepemilikan. Ia mengulurkan telapak tangannya yang lebar."Muntahkan di sini," perintah Ares rendah.Celine menurut, membiarkan Ares membersihkan sisa percintaan kilat mereka dengan lembut. Pria itu kemudian membantu Celine mengenakan kembali bikininya, merapikan helai rambut yang berantakan karena angin pantai."Rasa Mas Ares masih sama," bisik Celine sambil menatap mata Ares yang kini sedikit lebih lembut.Ares menaikkan sebelah alisnya. "Sama?""Tidak cair, manis... tidak pahit seperti yang sering aku baca di internet," Celine menjawab jujur, wajahnya kembali merona.Ares terkekeh pendek, suara baritonnya terasa hangat di telinga Celine. "Kamu juga masih sama sensitifnya seperti dulu, Elin.""Ihh
Di balik dinding batu karang yang menjulang, waktu seolah berhenti berputar. Suara deburan ombak yang menghantam karang menjadi musik pengiring bagi napas yang kian memburu. Ares memojokkan Celine, tangan besarnya mengelus punggung mulus itu hingga turun ke bawah, meremas lembut bokong Celine yang kenyal."Kamu cantik sekali, Elin..." bisik Ares, suaranya serak tertahan di ceruk leher Celine.Celine hanya bisa memejamkan mata, tangannya mencengkeram bahu kokoh Ares yang keras. "Mas..." "Boleh saya lepas?" tanya Ares pelan namun penuh tuntutan, matanya menatap kaitan tali bikini putih yang melilit tubuh istrinya sang adik.Celine ragu sejenak, namun rasa rindu yang membuncah mengalahkan akal sehatnya. "Iya..."Dengan satu tarikan lembut, Ares melepaskan kaitan bra dan bikini Celine. Keindahan tubuh yang selama ini ia mimpikan di malam-malam sepinya kini terpampang nyata. Putih, proporsional, dan sempurna."God... kamu masih sama, Elin. Tidak ada yang berubah," gumam Ares, matanya mena
Gagang pintu terus berputar dengan kasar. Jantung Celine seolah melompat ke tenggorokan. Dalam posisi masih di pangkuan Ares, ia hanya bisa mematung sementara pria itu menatapnya dengan ketenangan yang mematikan. "Eline, dengar..." Ares berbisik rendah, tangan besarnya mendongakkan dagu Celine agar menatap matanya. "Saya tidak mau merusak hubungan dengan keluarga, termasuk hubungan kamu dengan mereka. Sekarang, lewat balkon, kembali ke kamarmu. Saya akan mengurus Eros." "Mas..." Celine merintih kecil. Ada rasa tidak rela yang tiba-tiba menyeruak. Ares tak menjawab dengan kata-kata. Ia justru menggendong tubuh mungil Celine, membawanya menuju balkon yang menghubungkan deretan kamar lantai dua. Pelukan Celine mengerat, kepalanya bersandar di dada bidang Ares yang berdetak kuat. "Tapi mas... aku masih-" "Saya akan menemuimu lagi besok," bisik Ares saat menurunkan Celine di batas balkon kamarnya sendiri. "Saya tidak akan meninggalkanmu lagi. Kali ini tidak akan." Celine menatapnya r
"Lepasin, Mas!" desis Celine, suaranya gemetar menahan amarah dan ketakutan yang bercampur aduk. Ares tidak bergeming. Alih-alih melepaskan, ia justru mempererat genggamannya. Matanya yang tajam seolah sedang menelanjangi seluruh luka yang selama ini Celine sembunyikan. "Aku tidak mau Mas Eros sampai berpikir macam-macam kalau melihat ini!" Celine mencoba menyentakkan tangannya. "Macam-macam?" Ares menyeringai dingin, suaranya merendah hingga hanya bisa didengar oleh mereka berdua. "Dari awal kamu itu sudah milik saya, Celine. Milik saya." Celine terbelalak, napasnya tertahan. "Berani-beraninya kamu bicara seperti itu! Aku sudah menikah!" Suara Celine yang agak meninggi rupanya terdengar hingga ke lantai bawah. "Sayang! Kamu tidak apa-apa di atas?" seru Eros dari ruang tengah, suaranya terdengar cemas. Celine membeku. Jantungnya berpacu liar. "Ga-gapapa, Mas! Aku cuma hampir terpeleset tadi!" sahutnya dengan nada yang diusahakan senormal mungkin. Belum sempat Celine ber
Jantung Celine berdentum kencang, suaranya seolah memenuhi rongga telinganya sendiri. Tatapan Ares dari aula bawah tadi seolah menelanjangi dan mencekiknya secara bersamaan. Ia segera melepaskan diri dari pelukan Eros di balkon dan melangkah mundur ke dalam kamar. "Kenapa, Sayang? Mukamu tambah pucat," tanya Eros yang baru saja menutup pintu balkon kaca, suaranya kembali melembut—topeng andalan yang selalu ia pakai di depan keluarganya. Celine menggeleng cepat, mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan. "Aku... aku cuma tidak enak badan, Mas. Mau istirahat sebentar di kasur." Eros bangkit, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang lalu mengecup puncak kepala Celine. "Istirahat ya, Sayangku. Mas mau mandi dulu. Nanti malam kita ada makan malam formal bareng Papa, Mama, dan... Mas Ares." Celine memejamkan mata kuat-kuat. "Mas... apa aku harus ikut turun? Kepalaku benar-benar pusing." "Tentu saja harus, Sayang," jawab Eros dengan nada yang tidak menerima penolakan. "Ini kan lib
Deru mesin pesawat mulI mereda, berganti dengan aroma garam laut yang menyeruak masuk ke dalam kabin begitu pintu dibuka. Namun, wajah Celine tampak sepucat kertas. Ia mencengkeram lengan kursi dengan buku jari yang memutih, menahan rasa mual yang mengaduk perutnya. Bukan hanya karena mabuk udara, tapi karena mual harus bersandiwara di sebelah pria pengkhianat ini. "Mas... kepalaku pusing sekali," keluh Celine pelan, mencoba mengetes seberapa jauh Eros akan bermain peran. Eros segera sigap. Wajah kasarnya di rumah lenyap tanpa sisa, digantikan topeng suami penuh cinta. Ia melepaskan sabuk pengamannya dan mengusap dahi Celine yang dingin. "Tuh, kan. Kamu selalu begini kalau naik pesawat kecil. Sini, sandar ke pundak Mas." Celine menahan napas agar tidak menepis tangan itu. Ia membiarkan Eros memapahnya dengan sangat lembut menuruni tangga pesawat. Tangan Eros yang lain dengan cekatan menyeret tiga koper sekaligus. "Lihat itu, Papa. Anakmu kalau sudah urusan istri, tenaganya mendada
Angin pagi berembus pelan di depan lobi apartemen mewah itu. Celine berdiri menunduk, merapatkan kardigan pinjaman yang membalut tubuhnya, menunggu taksi online pesanannya tiba. Ares berdiri tegap di sampingnya, kedua tangan dengan santai masuk ke dalam saku celana bahan yang membalut kaki panjangn
Sentuhan itu terasa nyata. Dinginnya air dari handuk kecil yang membasuh keringat di dahi Celine terasa seperti sebuah anugerah di tengah rasa pening yang mencekik. Pria itu, dengan ketelatenan yang kontras dengan aura dinginnya, membersihkan sisa-sisa air mata dan riasan yang berantakan di wajah C
Dunia Celine seolah runtuh dalam satu kedipan mata. Hujan yang mengguyur di luar jendela taksi seolah menjadi latar bagi kehancuran hatinya. Menyakitkan. Rasanya lebih pedih daripada saat Ares menghilang di hari kelulusannya dulu. Eros, pria yang ia anggap sebagai tempat berlabuh, kini justru menja
Aroma mentega cair dan ragi yang sedang mengembang selalu menjadi obat penenang bagi Celine Broische. Di dalam toko rotinya yang mungil namun estetik, lulusan terbaik Universitas Ashford ini merasa dunianya lengkap. Dengan senyum lembutnya yang khas, Celine menyerahkan sekantong croissant hangat ke







