Se connecter**** Suara hujan di atap mobil terdengar seperti ketukan yang sabar. Tidak tergesa, tidak juga berhenti. Hanya jatuh, berulang, konsisten. Aku memandangi jemariku sendiri yang masih sedikit gemetar. “Pak…” suaraku serak, “Bapak pernah merasa… tidak pernah cukup di rumah sendiri?” Ia menoleh perlahan. Tidak langsung menjawab. “Kenapa kamu tanya begitu?” Aku tertawa kecil, hambar. “Karena dari kecil, aku selalu jadi yang ‘harus bisa’. Harus pintar. Harus dewasa. Harus ngerti keadaan. Bianca boleh manja, boleh salah. Aku nggak.” Hujan memantul lebih keras di kaca depan. “Papa selalu bilang, ‘Kamu kan kakak.’ Seolah itu jabatan seumur hidup.” Aku menelan ludah. “Kalau aku capek, itu dianggap drama. Kalau aku sedih, itu dianggap kurang bersyukur.” Pak Rassel mematikan mesin mobil. Suara hujan kini jadi satu-satunya latar. “Aku belajar jadi kuat bukan karena mau,” lanjutku pelan. “Tapi karena nggak ada pilihan.” Ia menghela napas dalam. “Kamu tahu apa yang paling menyakitkan mal
**** Sore itu rumah terasa lebih ramai dari biasanya. Lampu-lampu taman dinyalakan lebih awal. Meja panjang di halaman belakang sudah tertata dengan taplak putih dan lilin-lilin kecil. Ternyata “cuma bikin pasta” versi Bianca berarti mengundang setengah lingkar pertemanannya dan beberapa rekan bisnis Pak Bagas. Aku berdiri di depan cermin kamar lama, merapikan blus sederhana berwarna krem. Tidak terlalu mencolok. Tidak juga terlalu santai. “Turun, Kak! Tamu sudah datang!” suara Bianca terdengar dari bawah, penuh energi. Aku menarik napas. Datang saja sebagai Amara. Kalimat Mama tadi siang masih terngiang. Begitu turun, aroma saus tomat dan bawang putih menyambut. Tawa-tawa ringan terdengar di berbagai sudut. Bianca melambai begitu melihatku. Gaun merahnya mencolok, rambutnya ditata rapi. “Finally! Ini dia kakakku yang super sibuk itu!” katanya agak terlalu keras. Beberapa kepala menoleh. Aku tersenyum tipis. “Hai.” “Teman-teman, ini Amara. mahasiswa hukum. Eh, atau mantan
*** Pagi setelah pesan terakhir itu, aku bangun tanpa rasa menunggu. Biasanya, hal pertama yang kulakukan adalah mengecek ponsel. Kali ini tidak. Aku justru duduk bersila di kasur, menatap cahaya matahari yang masuk dari sela tirai. “Aku nggak lagi berdiri di depan pintu,” gumamku pelan. Ponselku berbunyi. Dania. “Sudah bales belum?” suaranya langsung menyeruak begitu kuangkat. “Kamu ini, kayak intel,” kataku sambil tertawa kecil. “Jangan alihin topik. Bales nggak?” “Sudah.” “Hah?! Terus? Terus??” Aku menghela napas santai. “Normal. Sopan. Tidak ada drama. Tidak ada kalimat yang bikin deg-degan berlebihan.” Dania terdiam sebentar. “Dan kamu?” “Aku juga normal.” “Serius?” “Iya. Degupnya nggak lari maraton lagi.” Terdengar suara Hera di kejauhan, “Dia pasti bohong!” Aku tersenyum. “Aku nggak bohong. Rasanya… stabil.” “Stabil itu bahaya kalau lagi jatuh cinta,” celetuk Dania. “Siapa bilang ini soal jatuh cinta?” “Loh?” “Aku lagi belajar berdiri dulu,” jawabku pelan.
**** Subuh datang dengan warna keemasan yang pelan-pelan merayap di balik tirai tipis penginapan. “Mara… bangun,” bisik Dania sambil mengguncang bahuku pelan. Aku mengerjap. Udara masih dingin. Suara ombak terdengar lebih lembut dibanding semalam. “Jam berapa?” gumamku serak. “Setengah lima. Sunrise nggak nunggu kamu siap move on,” sahut Hera dari kamar mandi. Aku tertawa kecil, lalu bangkit. Aneh. Tidak ada rasa berat di dada. Tidak ada refleks mencari ponsel di samping bantal. Karena memang tidak ada. Ponselku tetap mati di dalam tas. Kami berjalan menuju bukit kecil di sisi pantai. Langit perlahan berubah dari ungu gelap menjadi jingga tipis. Nafasku berembun saat kami mendaki. “Capek?” tanya Dania. “Enggak,” jawabku jujur. “Cuma… mikir.” Hera langsung menyela, “Hei! Dilarang mikir berat sebelum matahari muncul.” “Aku cuma sadar satu hal,” kataku pelan. “Selama ini aku jarang banget duduk diam tanpa merasa bersalah.” Dania menoleh. “Bersalah karena apa?” “Karena ngga
**** Aku tidak pernah tahu ternyata melepaskan satu peran bisa terasa seperti melepas kulit lama. Hari terakhir status asdosku benar-benar nonaktif, aku berdiri di depan lemari cukup lama. Map-map administrasi sudah kukembalikan. Email resmi sudah kukirim. Grup koordinasi sudah kutinggalkan. Kosong. Tapi bukan kosong yang menyakitkan. Lebih seperti… lega yang belum sepenuhnya kukenal. “Akhirnya!” Hera menjatuhkan tubuhnya ke kasurku. “Kita jadi juga, kan? Jangan bilang kamu tiba-tiba batal demi revisi metodologi.” Aku memutar bola mata. “Aku yang ngajarin kamu manajemen waktu, Her.” Dania tertawa dari lantai, sibuk memasukkan camilan ke dalam tote bag. “Justru itu. Kamu terlalu jago manajemen sampai lupa hidup.” “Aku nggak separah itu,” gumamku. Hera duduk tegak, menatapku menyelidik. “Separah itu, Amara. Kamu butuh libur. Otakmu isinya skripsi, jurnal, dan…” ia menyipitkan mata, “…Pak Rassel.” Namanya disebut, dadaku refleks mengencang. “Aku lagi nggak mau mikirin siapa-s
**** Hari-hari setelah itu berjalan… terlalu rapi. Itu yang membuatnya terasa aneh. Jadwal mengajar tetap padat. Rapat jurusan tetap melelahkan. Mahasiswa tetap datang dan pergi membawa draft yang perlu dikoreksi. Secara logika, tidak ada yang berubah drastis. Tapi ruang itu terasa berbeda. Meja kecil di sudut ruangan tempat Amara biasa duduk sebagai asisten dosen sekarang kosong. Tidak ada lagi tumpukan kertas yang tersusun rapi. Tidak ada catatan kecil dengan tulisan tangannya yang selalu terorganisir. Dan yang paling mengganggu… tidak ada suara lembutnya yang menyela, “Pak, mungkin bagian ini bisa dipadatkan.” Aku baru sadar betapa seringnya aku mengandalkan kehadirannya. Hari ketiga setelah cutinya aktif, aku memanggil asisten pengganti dari angkatan lain. Seorang mahasiswa semester enam. Cukup kompeten. Cepat memahami instruksi. Tapi bukan itu masalahnya. “Pak, ini rekap nilai sementara,” katanya menyerahkan berkas. Aku menerimanya, membalik beberapa halaman. Ada yang







