MasukMobil Bintang sudah berhenti sempurna di depan sebuah bangunan berlantai tiga. Akan tetapi, itu bukan bangunan kantor tempatnya bertugas, melainkan gedung kampus keperawatan militer yang ada di depannya. Begitu mesin kendaraan mati, ia segera turun dan melangkah mantap memasuki area kampus. Di tengah hiruk-pikuk mahasiswa yang masih mengikuti jam kuliah, Bintang terus berjalan menyusuri koridor, menuju sebuah ruangan di ujung lorong yang pintunya bertuliskan DIREKTUR.Tiba di depannya, Bintang langsung mengetuk dua kali. Setelah diperkenankan untuk masuk, barulah ia membuka pintu.“Mayor Bintang ...! Masuk, masuk,” seru seseorang yang duduk di balik meja kaca yang cukup besar. Dia adalah Mayor Rafael Rafardha, seorang tentara yang merupakan dokter gigi pada dunia kesehatan militer. Sekaligus menjabat sebagai direktur di kampus tersebut.“Selamat siang, Mayor.” Bintang memberi hormat ala militer kepada teman seprofesinya itu.“Selamat siang juga, Mayor Bintang.” Rafael balas memberi h
Bintang terus menciumi bibir Anya dengan begitu lihai. Pengalaman menunjukkan siapa yang lebih jago di antara mereka. Sebab ini adalah yang pertama bagi Anya, ia sedikit kewalahan dalam merespon pergerakan bibir suaminya. Ingin mengganti posisi. Bintang memegang belakang kepala Anya dan langsung membawa tubuh istrinya berputar seratus delapan puluh derajat. Mulai berjalan mundur perlahan hingga kaki Anya membentur tepi ranjang tempat tidur. Anya langsung terduduk, tubuhnya semakin panas dingin dibuat oleh pria yang selama ini selama ini selalu membuatnya sulit tidur malam. Pria dewasa yang biasanya begitu dingin tapi kini mendadak berubah menjadi panas dan binal. Seperti macan yang siap memangsanya hidup-hidup. Tak sanggup menahan berat tekanan yang Bintang berikan—karena posisi duduk dengan kepala yang menengadah— Anya pun menjatuhkan tubuhnya begitu saja ke atas kasur. Hal itu pun membuat Sang Mayor juga ikut terjatuh dan langsung menimpa tubuhnya yang sintal. “Aduh ....” tiba-t
Tiga puluh menit sebelumnya .... Mobil Bintang sudah berhenti sempurna. Berdiri tepat di belakang mobil Bulan yang masih terparkir di tepi jalan komplek asrama. Ia lalu turun dan melangkah tergesa ke arah rumah. Setelah tadi mendapat pesan dari Bulan yang mengatakan jika perempuan itu sudah berada di depan unit asramanya, yang pertama kali ingin ia temui adalah Anya. Istrinya sendiri, bukan mantan calon istri. Bintang tidak ingin Anya salah paham dengan kedatangan Bulan yang sama sekali tak pernah ia harapkan itu. Bahkan puluhan pesan dari Bulan saja tak ada yang ia balas satu pun. Ia bahkan sudah lama memblokir nomor Bulan, walau Bulan tetap akan menghubunginya dengan nomor lain. Ia tak pernah peduli. “Eh, Pak,” tegur Aurel begitu melihat Bintang sedang melangkah ke arahnya. “Di mana Anya?” tanya Bintang langsung. “Di–di dalam, Pak.” Aurel gelagapan. Bintang mengangguk pelan dan berniat ingin melangkah masuk ke dalam rumah. Namun baru saja ia hendak membuka sepatu, Bulan
Merasa jika hubungannya sudah berada di ujung tanduk, Anya pun memilih untuk pasrah. Sejak ia melihat isi pesan di ponsel Bintang, ia sudah bisa menduga, jika suaminya, pasti akan lebih memilih untuk bersama dengan perempuan itu. Siapa Anya? Dia hanya pemeran pengganti alias stuntwoman dalam kisah cinta Bintang dan Bulan. Atau figuran, yang wara-wiri tidak jelas di belakang sang pemeran utama. Ada, tapi tak pernah dianggap ada. Suara derit pintu kamar terdengar. Namun Anya hanya bergeming. Perlahan ia rasakan pergerakan di atas kasur. Kemudian sentuhan tangan yang mengelus lembut rambut panjangnya. “Anya? Kamu sudah makan?” tanya Bintang perhatian. “Udah,” jawab Anya singkat. “Makan nasi?” “Makan hati.” Bintang tersenyum mendengarnya. “Sudah minum obat?” “Belum.” “Loh, kok belum. Diminum dong obatnya? Minum dulu yuk?” bujuk Bintang. “Soalnya yang sakit bukan kepala, tapi hatinya, Om,” isak Arumi lirih. Semakin lama, semakin jelas. Menyayat hati siapa pun yang mendengarny
“Istirahat ya? Jangan lupa makan. Saya harus balik ke kantor lagi, karena masih jam dinas.” Bintang meletakkan nasi dan lauk pauk di atas meja lesehan. Sedang Anya, ia hanya duduk diam dengan tatapan kosong ke arah depan. Wajahnya murung, seperti orang yang sudah bertahun-tahun dikurung. “Anya? Kamu mendengar saya kan?” ulang Sang Mayor. “Dengar kok, Om.” “Ya sudah, saya pergi dulu ya? Kalau ada apa-apa, telepon saja. Kalau saya tidak angkat, kirim pesan,” pesan Bintang. “Eum ....” Anya mengangguk patuh. Bintang keluar rumah, memakai kembali sepatu dan terakhir menutup pintu. Anya melihat ke arah meja. Ada begitu banyak menu dan sepiring nasi hangat. Namun entah mengapa, tak sedikit pun ada rasa selera di dirinya untuk menyantap makanan tersebut. Mungkin karena sendiri. Kalau sebelum-sebelumnya kan ada suami. Ping! Sebuah pesan masuk ke ponsel Anya. Ia pun langsung melihat siapa yang sudah mengiriminya pesan. [Anya. kamu baik-baik aja kan? Sumpah, aku khawatir banget tau sam
Setelah berhasil menerobos masuk ke dalam kerumunan, akhirnya Anya bisa melihat juga apa yang sedang disaksikan oleh para mahasiswa. Ia tercengang cukup lama dengan mulut yang ternganga. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bintang dan Rangga sedang berduel? Apa-apaan ini, pikirnya. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Anya pun langsung berteriak kencang. Suaranya keras dan lantang. “STOOOP ...!” Semua mahasiswa serentak terdiam dan melihat ke arah Anya, termasuk Bintang dan Rangga. Bintang terkejut dengan kehadiran istrinya. Ia bahkan terlihat seperti orang bingung. Terus melihat kepada Anya yang berdiri tak jauh dari tempatnya dan Rangga. “Anya?” lirih Bintang. Anya maju. Melangkah dengan wajah gusar dan tatapan nanar ke arah Bintang. Matanya memicing, hembusan napasnya terlihat jelas, dengan kondisi dada yang kembang-kempis menahan emosi. Ia sungguh kecewa kepada laki-laki yang ada di hadapannya saat ini. “Om apa-apaan, sih? Kenapa nyerang Rangga?” tanya







