Share

Bab 7

Penulis: LV Edelweiss
last update Tanggal publikasi: 2026-03-11 11:18:33

Namanya Rea, lebih lengkapnya Reana Ratisha. Ia muncul di sela-sela percakapan antara Anya dan Aurel.

“Nih,” Rea melempar selembar uang seratus ribu yang dilipat simetris ke atas meja.

Anya dan Aurel terkejut secara bersamaan. Mereka pun langsung menatap perempuan yang biasa dipanggil dengan sebutan Queen Rea tersebut.

Tinggi, putih, cantik. Tapi sayang, minim attitude. Entah karena apa dan ada apa, ia begitu tidak menyukai Anya. Padahal, Anya tidak pernah mengusik kehidupannya.

Boro-boro mengganggu orang lain, memikirkan hidup sendiri saja Anya sudah pusing tujuh keliling. Namun, setiap ada kesempatan, Rea selalu saja mengerjai Anya. Entah dengan cara menghina, ataupun menyuruhnya layaknya sang pembantu yang tak punya harga diri.

Yah ... seperti sekarang ini.

Kesal, Aurel langsung berdiri dan melihat Rea dengan tatapan nanar. “Apa-apaan kamu? Kamu pikir kita ini pembantumu?” Aurel tidak terima diperintah. Siapa Rea, pikirnya.

“Heh, aku nggak nyuruh kamu. Aku cuma nyuruh temanmu ini.” Rea menunjuk ke arah Anya.

“Sama aja, dia temanku, paham kamu?!”

Melihat emosi Aurel yang kian membuncah, Anya pun bangkit dan langsung menyentuh pundak temannya itu. “Udah, Rel. Diemin aja.”

“Diemin kamu bilang, Nya? Dia ini udah keterlaluan sama kamu. Kamu jangan diem aja, Anya. Dia barusan udah rendahin kamu. Ini kampus, bukan ranah buat nge-bully.”

“Maksud kamu apa? Siapa yang ngebully, ha?” Rea mendorong dada Aurel.

“Ya kamu, siapa lagi?!” Tantang Aurel seraya membalas mendorong Rea hingga mundur selangkah ke belakang.

Melihat itu, darah Rea pun naik. Ia balas mendorong Aurel lagi hingga pertikaian kian tak terelakan. Rea dan Aurel panas, Anya panik, mahasiswa lainnya mulai ricuh.

“Rel, udah! Udah! Nanti dosen liat!” Anya lalu mengambil uang yang Rea lempar tadi dan langsung berdiri di antara Rea dan Aurel.

“Cukup! Kalian apa-apaan sih? Iya, aku beli sekarang. Kamu mau minuman apa?” tanya Anya kepada Rea.

“Lemon tea,” jawab Rea dengan ekspresi wajah sombong.

“Ya udah, tunggu.” Anya segera berlalu keluar kelas dan langsung menuju ke kantin kampus.

Sedang di dalam kelas, Aurel terus menatap Rea dengan amarah yang masih begitu membara. Jika saja ia tidak ingat siapa Rea, pasti sudah ia habisi perempuan satu itu.

Reana Ratisha Pramudia, nama lengkap mahasiswi yang merasa paling berkuasa di kampus kesehatan militer itu merupakan anak bungsu dari seorang Kolonel yang masih bertugas di Kodim 001 hingga sampai saat ini.

Bahkan konon kabarnya, kampus Kesdam tersebut bernaung di bawah pimpinan Sang Kolonel. Jadi sangat masuk akal jika Rea bersikap semena-mena kepada mahasiswa lainnya, termasuk Anya.

Dan mengapa Anya? Sebab Anya adalah satu-satunya mahasiswi yang masuk kampus itu dengan full beasiswa dari Institusi TNI AD. Ia juga kerap memenangkan berbagai lomba yang diadakan oleh pihak kampus selama ini. Itulah yang membuat Rea begitu membencinya.

Akan tetapi, apapun alasannya, merundung dan merendahkan orang lain tetap tidak dibenarkan bukan?

“Ini minumannya.” Anya menyodorkan sebotol lemon tea kepada Rea, plus uang kembaliannya.

Tanpa ucapan terima kasih, Rea pun segera mengambil minuman itu dan kemudian berlalu meninggalkan Anya dan Aurel begitu saja. Para mahasiswa lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka juga tidak mendukung perilaku Rea, tapi ya ... itu, kembali lagi kepada kalimat tadi, yang punya kuasa, yang berkuasa.

Selepas Rea and the gank pergi, Aurel pun melihat kepada Anya. “Kamu kok mau sih terus-menerus diperbudak sama dia? Dia itu jahat, Nya. Kalau kamu terus turuti kemauan dia, yang ada dia akan semakin besar kepala.”

Anya tersenyum simpul, lalu melihat kepada. Aurel. “Aku nggak apa-apa, Rel. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau aku harus fokus sama kuliahku. Supaya aku bisa banggain Bunda, ya kan?”

“Hubungannya dengan kamu tahan di-bully tiap hari, apa ...?”

“Aku nggak mau kalau sampai beasiswaku dicabut, Rel. Kamu sendiri kan tahu, siapa orang tua Rea. Kamu lupa, terakhir kali aku ngelawan dia, apa yang terjadi sama aku? Aku di-score, Rel. Beasiswaku sempat ditahan beberapa bulan.”

Aurel diam dan hanya bisa membuang napas kasar. Benar-benar kehabisan kata-kata jika sudah membasah tentang nasib teman sejawatnya yang satu ini.

Ya, hidup Anya memang tidak sebanding dengan sikap ceria yang selama ini ia tunjukkan di depan semua orang. Hanya Aurel yang tahu se-perih apa batin gadis cantik itu.

“Sorry ya, Nya?” Aurel terdengar menyesal.

“Apaan sih? Udah ah, kita ke kantin yuk. Aku yang traktir,” ajak Anya.

“Banyak duit ya?” tanya Aurel.

“Aku habis gajian?”

“Serius? Kalau gitu aku mau pesan bakso.”

“Bebas ....”

***

Pukul sepuluh malam

Pada sebuah coffe shop, Anya tampak sibuk membersihkan meja tempat meracik kopi. Ini adalah kerja part time-nya selama ia kuliah di kota. Berharap kiriman uang dari Bundanya? Anya justru yang terkadang mengirim uang untuk ibunya yang sering sakit-sakitan di kampung sana.

Namun meski begitu, Anya benar-benar ikhlas menjalani hidupnya yang tidak seperti kebanyakan gadis seusianya. Yang lebih banyak menghabiskan masa muda dengan jalan-jalan atau nongkrong dengan teman-teman.

Anya berbeda. Sampai-sampai jatuh cintanya juga beda sendiri. Lebih tertarik dengan om-om ketimbang pria seusianya.

Kring Kring!

“Coffee latte satu.” Suara seorang pelanggan mengalihkan atensi Anya.

“Coffee latte satu. Sweet, or less sugar?” tanya Anya.

“Sweet aja, tapi jangan terlalu sweet juga. Standar saja.”

“Baik, sebentar.” Anya langsung menyiapkan pesanan sang pelanggan. Tak lama, segelas coffe latte dengan tingkat kemanisan standar sudah selesai dibuat.

“Ini, Mas,” ucap Anya.

“Terima kasih.”

“Terima kasih juga sudah berkunjung ke coffee shop kami. Jangan lupa kembali.”

Selepas pelanggan itu pergi, Anya pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, selang beberapa menit kemudian, lonceng bar cafe kembali berbunyi. Anya pun segera menoleh ke arah belakang seraya tersenyum manis.

“Selamat malam dan selamat datang di cafe kami, mau pesan apa?” tanyanya seraya tersenyum lepas.

“Kamu?” ucap orang itu dengan ekspresi wajah terkejut.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 114

    Anya terperanjat. Matanya membola, mulutnya ternganga. Ia benar-benar tidak menyangka jika Bintang akan melamarnya meski mereka sudah menikah. “Om, kenapa Om lamar aku? Aku kan udah jadi istri Om,” tanya Anya. “Iya, saya tahu. Tapi kita menikah begitu dadakan. Saya belum sempat melamarmu. Belum juga sempat mengungkapkan isi hati saya. Jadi … sebelum saya berangkat lagabma, saya mau tidak lagi berpikir kalau pernikahan kita ini hanya sebatas hitam diatas putih. Tapi saya menikahi kamu, karena saya mencintai kamu.”“Hiks, Om….” Anya langsung mendung mendengar ungkapan isi hati Bintang. Meski ia tahu jika Bintang sudah menaruh hati padanya sejak malam pertama mereka, tapi lamaran pria itu tetap membuatnya tersentuh. “Om ….” lirih Anya, air matanya sudah berlinang karena haru. “Dijawab, Anya. Kaki saya sudah pegal ini,” tutur Bintang berpura-pura. Anya tertawa pelan. Lalu dengan perlahan ia pun mengarahkan tangannya untuk mengambil kotak cincin tersebut. “Iya, Om. Aku mau nikah sama

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 113

    “Jadi maksud kamu, hilangnya Ayah ada sangkut pautnya dengan orang yang sekarang sedang meneror kamu, begitu?” tanya Anne. Bintang mengangguk pelan. Sorot matanya tidak menunjukkan keraguan sedikitpun saat menatap langsung ke dalam manik mata Anne yang tampak bergetar.​“Benar, Bunda. Polanya sangat identik untuk disebut sebuah kebetulan,” jawab Bintang, suaranya terdengar begitu tenang namun sarat akan ketegasan seorang perwira.​Ia menjeda sejenak, membiarkan angin sore berembus di antara mereka sebelum kemudian melanjutkan.“Mereka menggunakan taktik yang sama, menghilangkan orang yang mereka anggap sebagai ancaman. Bedanya, puluhan tahun lalu mereka berhasil melakukannya pada Ayah. Tapi sekarang, tidak akan lagi. Karena situasinya sudah berbeda.”​Bintang menegakkan tubuhnya, seperti sedang memperlihatkan aura seorang prajurit yang kokoh lagi berani pada ibu mertuanya. “Apa kamu yakin bisa melawan mereka, Bin? Bunda takut kamu kenapa-kenapa. Kasihan Anya kalau sampai kamu mengal

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 112

    “Setelah itu, kemana Bunda dan … ayah pergi?” Bintang semakin penasaran dengan cerita Anne. “Ke stasiun, Bin. Bunda dan … Ayah ke stasiun. Dia membawa Bunda ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan orang-orang yang mengejar kami,” jelas Anne. ““Orang-orang yang mengejar kami”?” tanya Bintang mengulang kata-kata Anne. “Berarti, Ayah tahu, siapa mereka?” Anne bergeming. Tatapannya mendadak kosong, menerawang jauh menembus kepulan kabut masa lalu yang kembali menyesakkan dada. Suasana di kebun bunga belakang mendadak terasa hening, hanya menyisakan desau angin sore yang menerpa wajah mereka berdua. ​Bintang berhenti sejenak untuk bertanya. Ia tidak ingin mendesak Anne. Sebagai seorang prajurit terlatih, ia tahu kapan harus menekan dan kapan harus memberi ruang. Bintang juga membiarkan ibu mertuanya untuk menstabilkan emosi yang sempat naik-turun akibat mengingat kembali memori menyakitkan saat bersama ayah mertuanya dulu. ​Setelah beberapa saat, Anne pun mengembuskan napas pan

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 111

    “Dua puluh satu tahun yang lalu, saat mengetahui kalau Bunda mengandung, Arjuna Abrisam adalah orang yang paling bahagia saat itu. Siang dan malam dia jagain Bunda. Belikan makanan apapun yang Bunda pengen. Ajak Bunda jalan-jalan di sela-sela jam dinasnya. Bunda selalu merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini karena memiliki dia.”Anne tersenyum getir, seolah bayangan masa lalu yang indah itu sedang menari-nari di atas kelopak bunga Aster di depannya. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rindu yang teramat sangat.​Bintang mendengarkan dengan saksama. Setiap kata yang keluar dari bibir ibu mertuanya diserapnya baik-baik, menyusun kepingan-kepingan informasi tentang sosok perwira legendaris yang kini takdirnya bertautan erat dengan dirinya. “Sayangnya, kebahagiaan itu hanya sesaat Bunda rasakan. Tepat saat usia kandungan Bunda sembilan bulan, badai itu pun datang tanpa Bunda duga sama sekali. Tengah malam, Arjuna Abrisam, ayahnya Anya, dia pulang dengan berlumuran darah. Peru

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 110

    Anya langsung bangkit dari posisinya, menatap suaminya dengan mata bulat yang membelalak panik.“Om, mana yang sakit? Perutnya kenapa? Apa efek obatnya, atau lukanya kegesek pas meluk aku tadi?!” cecar Anya beruntun, insting keperawatannya langsung keluar. Wajahnya yang semula sembab kini berubah pucat pasi. “Sini, biar aku cek dulu ya?” ​Bintang masih memegangi perutnya, tapi ringisan di wajah tegasnya perlahan memudar, berganti dengan senyum canggung yang dipaksakan.Detik berikutnya, terdengar suara keruyukan yang cukup jelas dari perutnya.​Kruuukkk .…​Kamar yang semula tegang itu mendadak hening. Anya mengerjapkan matanya beberapa kali, menatap perut Bintang lalu beralih menatap wajah suaminya yang kini mulai salah tingkah.“Om ...?” panggil Anya, nadanya berubah menyelidik.​Bintang berdeham pelan, mencoba menyelamatkan harga dirinya sebagai seorang Mayor yang baru saja ketahuan merana karena urusan cacing perut. “Itu ... perut saya sepertinya ….?” ucap Bintang menggantung, su

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 109

    Bintang yang menyadari perubahan raut wajah istrinya langsung membawa jemarinya untuk menyelipkan anak rambut Anya ke belakang telinga. Ia bisa merasakan embusan napas berat yang keluar dari celah bibir perempuan itu. “Kenapa? Kamu keberatan kalau harus tinggal di rumah bersama Mama dan Bunda?” tanya Bintang lembut, mencoba mengulik isi hati Anya. ​Anya menggeleng pelan. Ia menundukkan wajahnya, menatap jemari Bintang yang kini bertautan dengan jemarinya di atas kasur. “Nggak gitu, Om. Aku senang kok … bisa bareng Mama sama Bunda. Cuma ....” Anya menggantung kalimatnya sejenak, beralih menatap dada kiri Bintang dengan tatapan cemas. “Om kan baru aja keluar dari rumah sakit. Lukanya bahkan belum sembuh total. Masa udah harus langsung ikut Latihan. Apa nggak bisa didelegasikan ke perwira yang lain, Om?” ​Mendengar kekhawatiran yang tulus itu, Bintang menghela napas panjang. Ia membawa tubuh Anya kembali merapat, menyandarkan dagunya di puncak kepala istrinya. “Latgabma ini age

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 2

    “Nya ....” Aurel kembali memanggil temannya itu.“Heuh?” Anya tampak linglung.“Kita langsung ke ruangan Kapten Bima, yuk? Bentar lagi kita harus masuk kelas lagi,” jelas Aurel.Anya seperti tidak mendengar ucapan Aurel. Terus melihat ke arah Mayor Bintang dengan hati yang patah dan hancur berantak

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 1

    “Om, Bintang!” pekik Anya agak keras dari balik pintu ruang kerja pria yang ia panggil dengan sebutan ‘Om’ itu. Anya merupakan gadis 20 tahun yang menyandang status sebagai mahasiswa jurusan Keperawatan di sebuah kampus Militer Angkatan Darat. Ia mengangkat secarik kertas yang dibawanya sejak ta

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 4

    BAB 4“Ya Om, ini aku. Anya,” jawab Anya santai.“Se—sedang apa kamu di sini?” tanya Bintang.“Om sendiri, lagi apa?”“Saya tanya kamu, kamu jangan tanya saya balik.”Anya mengulum senyum. “Aku lagi nungguin temen, Om. Tapi kayaknya dia nggak jadi datang. Terus nggak sengaja, aku ngeliatin Om Binta

  • Mengejar Cinta Mayor Bintang    Bab 3

    “Kamu yakin kalau Mayor Bintang mau nge-date di sini sama calon istrinya?” tanya Aurel saat ia dan Anya sudah berdiri di depan Restoran Kenangan.“Yakin aku,” jawab Anya.“Berapa persen?” tanya Aurel lagi.“Seribu persen.”“Tapi udah mau pukul delapan, belum ada tanda-tanda mereka datang ke sini? J

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status