LOGINNamanya Rea, lebih lengkapnya Reana Ratisha. Ia muncul di sela-sela percakapan antara Anya dan Aurel.
“Nih,” Rea melempar selembar uang seratus ribu yang dilipat simetris ke atas meja. Anya dan Aurel terkejut secara bersamaan. Mereka pun langsung menatap perempuan yang biasa dipanggil dengan sebutan Queen Rea tersebut. Tinggi, putih, cantik. Tapi sayang, minim attitude. Entah karena apa dan ada apa, ia begitu tidak menyukai Anya. Padahal, Anya tidak pernah mengusik kehidupannya. Boro-boro mengganggu orang lain, memikirkan hidup sendiri saja Anya sudah pusing tujuh keliling. Namun, setiap ada kesempatan, Rea selalu saja mengerjai Anya. Entah dengan cara menghina, ataupun menyuruhnya layaknya sang pembantu yang tak punya harga diri. Yah ... seperti sekarang ini. Kesal, Aurel langsung berdiri dan melihat Rea dengan tatapan nanar. “Apa-apaan kamu? Kamu pikir kita ini pembantumu?” Aurel tidak terima diperintah. Siapa Rea, pikirnya. “Heh, aku nggak nyuruh kamu. Aku cuma nyuruh temanmu ini.” Rea menunjuk ke arah Anya. “Sama aja, dia temanku, paham kamu?!” Melihat emosi Aurel yang kian membuncah, Anya pun bangkit dan langsung menyentuh pundak temannya itu. “Udah, Rel. Diemin aja.” “Diemin kamu bilang, Nya? Dia ini udah keterlaluan sama kamu. Kamu jangan diem aja, Anya. Dia barusan udah rendahin kamu. Ini kampus, bukan ranah buat nge-bully.” “Maksud kamu apa? Siapa yang nge-bull, ha?” Rea mendorong dada Aurel. “Ya kamu, siapa lagi?!” Tantang Aurel seraya membalas mendorong Rea hingga mundur selangkah ke belakang. Melihat itu, darah Rea pun naik. Ia balas mendorong Aurel lagi hingga pertikaian kian tak terelakan. Rea dan Aurel panas, Anya panik, mahasiswa lainnya mulai ricuh. “Rel, udah! Udah! Nanti dosen liat!” Anya lalu mengambil uang yang Rea lempar tadi dan langsung berdiri di antara Rea dan Aurel. “Cukup! Kalian apa-apaan sih? Iya, aku beli sekarang. Kamu mau minuman apa?” tanya Anya kepada Rea. “Lemon tea,” jawab Rea dengan ekspresi wajah sombong. “Ya udah, tunggu.” Anya segera berlalu keluar kelas dan langsung menuju ke kantin kampus. Sedang di dalam kelas, Aurel terus menatap Rea dengan amarah yang masih begitu membara. Jika saja ia tidak ingat siapa Rea, pasti sudah ia habisi perempuan satu itu. Reana Ratisha Pramudia, nama lengkap mahasiswi yang merasa paling berkuasa di kampus kesehatan militer itu merupakan anak bungsu dari seorang Kolonel yang masih bertugas di Kodim 001 hingga sampai saat ini. Bahkan konon kabarnya, kampus Kesdam tersebut bernaung di bawah pimpinan Sang Kolonel. Jadi sangat masuk akal jika Rea bersikap semena-mena kepada mahasiswa lainnya, termasuk Anya. Dan mengapa Anya? Sebab Anya adalah satu-satunya mahasiswi yang masuk kampus itu dengan full beasiswa dari Institusi TNI AD. Ia juga kerap memenangkan berbagai lomba yang diadakan oleh pihak kampus selama ini. Itulah yang membuat Rea begitu membencinya. Akan tetapi, apapun alasannya, merundung dan merendahkan orang lain tetap tidak dibenarkan bukan? “Ini minumannya.” Anya menyodorkan sebotol lemon tea kepada Rea, plus uang kembaliannya. Tanpa ucapan terima kasih, Rea pun segera mengambil minuman itu dan kemudian berlalu meninggalkan Anya dan Aurel begitu saja. Para mahasiswa lainnya hanya bisa geleng-geleng kepala. Mereka juga tidak mendukung perilaku Rea, tapi ya ... itu, kembali lagi kepada kalimat tadi, yang punya kuasa, yang berkuasa. Selepas Rea and the gank pergi, Aurel pun melihat kepada Anya. “Kamu kok mau sih terus-menerus diperbudak sama dia? Dia itu jahat, Nya. Kalau kamu terus turuti kemauan dia, yang ada dia akan semakin besar kepala.” Anya tersenyum simpul, lalu melihat kepada. Aurel. “Aku nggak apa-apa, Rel. Kan kamu sendiri yang bilang, kalau aku harus fokus sama kuliahku. Supaya aku bisa banggain Bunda, ya kan?” “Hubungannya dengan kamu tahan di-bully tiap hari, apa ...?” “Aku nggak mau kalau sampai beasiswaku dicabut, Rel. Kamu sendiri kan tahu, siapa orang tua Rea. Kamu lupa, terakhir kali aku ngelawan dia, apa yang terjadi sama aku? Aku di-score, Rel. Beasiswaku sempat ditahan beberapa bulan.” Aurel diam dan hanya bisa membuang napas kasar. Benar-benar kehabisan kata-kata jika sudah membasah tentang nasib teman sejawatnya yang satu ini. Ya, hidup Anya memang tidak sebanding dengan sikap ceria yang selama ini ia tunjukkan di depan semua orang. Hanya Aurel yang tahu se-perih apa batin gadis cantik itu. “Sorry ya, Nya?” Aurel terdengar menyesal. “Apaan sih? Udah ah, kita ke kantin yuk. Aku yang traktir,” ajak Anya. “Banyak duit ya?” tanya Aurel. “Aku habis gajian?” “Serius? Kalau gitu aku mau pesan bakso.” “Bebas ....” *** Pukul sepuluh malam Pada sebuah coffe shop, Anya tampak sibuk membersihkan meja tempat meracik kopi. Ini adalah kerja part time-nya selama ia kuliah di kota. Berharap kiriman uang dari Bundanya? Anya justru yang terkadang mengirim uang untuk ibunya yang sering sakit-sakitan di kampung sana. Namun meski begitu, Anya benar-benar ikhlas menjalani hidupnya yang tidak seperti kebanyakan gadis seusianya. Yang lebih banyak menghabiskan masa muda dengan jalan-jalan atau nongkrong dengan teman-teman. Anya berbeda. Sampai-sampai jatuh cintanya juga beda sendiri. Lebih tertarik dengan om-om ketimbang pria seusianya. Kring Kring! “Coffee latte satu.” Suara seorang pelanggan mengalihkan atensi Anya. “Coffee latte satu. Sweet, or less sugar?” tanya Anya. “Sweet aja, tapi jangan terlalu sweet juga. Standar saja.” “Baik, sebentar.” Anya langsung menyiapkan pesanan sang pelanggan. Tak lama, segelas coffe latte dengan tingkat kemanisan standar sudah selesai dibuat. “Ini, Mas,” ucap Anya. “Terima kasih.” “Terima kasih juga sudah berkunjung ke coffee shop kami. Jangan lupa kembali.” Selepas pelanggan itu pergi, Anya pun kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun, selang beberapa menit kemudian, lonceng bar cafe kembali berbunyi. Anya pun segera menoleh ke arah belakang seraya tersenyum manis. “Selamat malam dan selamat datang di cafe kami, mau pesan apa?” tanyanya seraya tersenyum lepas. “Kamu?” ucap orang itu dengan ekspresi wajah terkejut.Bintang duduk di teras depan rumahnya dengan sesekali melihat kepada layar ponselnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas lewat, namun ia masih belum bisa memejamkan mata. Semua orang tampak sudah masuk kamar masing-masing. Sesekali mulutnya bergerak mengulang kalimat ijab qabul yang besok akan diucapkannya. Dan karena ada pergantian nama mempelai wanita, maka Bintang harus mengubah hapalannya—mengingat penuh nama Anya dan melupakan nama Bulan. Jangan sampai salah. “Belum tidur, Bin?” Rahayu datang dan mengalihkan atensi putranya. “Belum Ma.” Bintang segera meletakan ponselnya di atas meja teras. Rahayu mendekat dan duduk di dekat Bintang. “Bagaimana? Kamu sudah hapal kan?” tanyanya perempuan berkerudung hitam itu. “Alhamdulillah, sudah Ma.” Rahayu manggut-manggut. Kemudian mengalihkan pandangannya ke arah depan jalan. Tampak suasana di jalanan sudah mulai sepi. Sebab mereka tinggal di komplek perumahan pensiunan TNI, jadi tidak begitu ramai kendaraan yang lalu lalang. “Ke
Selama perjalanan menuju ke kosannya, Anya tampak murung dan tidak banyak berbicara. Pandangannya terus tertuju hanya pada jendela mobil, membuat Bintang yakin jika telah terjadi sesuatu pada calon istrinya itu. “Kita makan siang dulu ya?” ucap Bintang memecah keheningan di antara mereka. “Aku belum lapar, Om. Kita langsung pulang aja. Lagian aku mau istirahat, nanti sore aku harus kerja.” Anya membuat alasan. “Kerja?” tanya Bintang tak percaya. “Besok kita sudah akan menikah, Anya. Kenapa kamu masih mau kerja sore ini?” “Ya habis mau gimana lagi, Om. Aku kan belum izin sama bosku. Ntar kalau aku dipecat, aku mau makan apa?” Bintang tertawa pelan mendengar kata-kata Anya. Selama mereka kenal, baru kali ini ia melihat Anya pasrah pada keadaan. Biasanya sangat optimistis. Lagi pula, sudah akan menjadi istri orang, bisa-bisanya Anya masih memikirkan tentang biaya hidup. Lantas, apa guna dirinya, pikir Bintang. “Om ngetawain aku?” tanya Anya dengan ekspresi wajah kesal namun tidak
Bintang diam dengan pandang yang masih tertuju kepada Anya. Dahinya mengernyit, raut wajahnya penuh tanya. Ada apa gerangan? Mengapa tiba-tiba Anya bertanya tentang Bulan?“Kenapa kamu menanyakan itu?” tanya Bintang. “Aku cuma penasaran aja, Om. Kira-kira, kalau misalnya calon istri Om tiba-tiba muncul, Om bakal tetap nikah sama aku, atau lebih milih balik sama dia?” tanya Anya penasaran.Bintang masih diam. Lalu kembali membuang pandang ke arah layar ponselnya. “Kita lihat saja nanti, mana yang lebih dulu. Dia muncul di depan saya, atau foto kita selesai dicetak,” ucapnya santai.Anya tercengang mendengar jawaban Bintang. Bagaimana bisa, laki-laki ini membuat keputusan pernikahan dengan cara sesederhana itu? Ini kan bukan perkara main-main. “Kalau duluan dia muncul?” tanya Anya.“Kamu tahu dari mana kalau dia bakal muncul?” Bintang balik bertanya. “Yah ... siapa tahu kan, tiba-tiba dia jatuh dari langit terus langsung duduk di pangkuan Om.”“Kamu terlalu banyak nonton film fantasi
Sepanjang jalan, Anya hanya diam dengan pandang yang terus tertuju ke arah depan jalan. Berbeda dengan Bintang, laki-laki itu justru tampak seperti orang yang sedang gelisah. Berulang-ulang kali berdehem, tanpa ada sebab. Batuk pun, tidak. Terus mencuri-curi pandang kepada perempuan dengan seragam Persit di sampingnya. “Untung ada baju Mama, ya?” ucapnya membuka obrolan. “Iya, Mama Om Bintang baik banget,” puji Anya. “Mama memang begitu orangnya. Baik sama siapa saja.” “Nggak kayak anaknya ya?” “Heuh? Maksud kamu?” tanya Bintang. “Nggak ... nggak ada apa-apa, Om.” Anya tersenyum pelan tanpa Bintang lihat. Selang beberapa menit kemudian, mobil crossover hitam itu sudah tiba di depan sebuah studio foto. Bintang dan Anya segera turun dan masuk ke dalam bangunan berlantai dua tersebut. Saat sudah di dalam, mereka langsung disambut oleh seorang pria yang merupakan karyawan studio tersebut. Pria itu mengarahkan Bintang dan Anya untuk naik ke lantai dua guna melakukan sesi p
Andini …,” panggil Rahayu lembut pada menantunya. “Iya, Ma? Ada apa?” tanya Andini. “Minta tolong, make-up kan Anya sebentar, ya? Kamu kan ahlinya kalau masalah make up sama masak,” pinta Rahayu. “Ok, Ma. Aman.” “Mama ke belakang dulu ya?” Rahayu berlalu keluar kamar. Sementara Andini, ia segera masuk ke kamarnya untuk mengambil peralatan ‘tempur’ yang biasa digunakannya jika ada acara di kantor Langit, yaitu satu set perlengkapan make up lengkap. “Maaf ya Mbak, aku jadi merepotkan.” Anya benar-benar tidak enak dengan calon kakak iparnya itu. “Apa sih Mbak, ini tuh pekerjaan kecil.” Andini tersenyum tulus. Tanpa menunda lagi, Andini pun langsung memoles wajah Anya. Pertama-tama ia beri pelembab dulu, lalu melapisi wajah gadis itu dengan foundation dan concealer agar lebih mulus. Lanjut meratakannya dengan bedak padat berwarna senada. Pakai bulu mata. Eye liner. Perona pipi (blass on). Dan yang terakhir, lipstik dengan warna natural. “Wah ... Mbak Anya benar-benar beruba
Namun, belum sempat sang Mayor mengulangi kata-katanya, Andini sudah lebih dulu datang dengan nampan berisi teh hangat di tangannya. “Ayo diminum dulu, Mbak,” tawar perempuan berambut ikal tersebut. “Wah, makasih banyak, Mbak. Maaf udah ngerepotin.” Anya langsung duduk. “Nggak kok, Mbak. Malahan aku seneng, akhirnya aku bisa punya kakak ipar juga.” Andini tersenyum ramah. Di tengah-tengah percakapan mereka, tiba-tiba saja ponsel Bintang berdering. Ada panggilan yang masuk. “Din, temani Anya sebentar ya, Mas mau angkat telepon dulu,” pintanya. “Ok, Mas.” Bintang segera berlalu ke luar rumah. Sedang Andini dan Anya memilih untuk melanjutkan ngobrol mereka sembari menikmati beberapa potong kue bolu hasil olahan tangan Andini sendiri. “Kalau aku lihat, Mbak ini sepertinya masih sangat muda.” Andini memulai percakapan dengan Anya. “Heh, iya Mbak. Aku masih dua puluh satu tahun kurang.” Anya tertawa pelan. “Ha? Serius? Tanya Andini tak percaya. “Pantes aku lihat, seper







