Masuk
"Berapa lama kamu akan bertahan dalam pernikahan ini?" Sagara bertanya kepada perempuan yang baru dua hari ini dinikahinya. Pernikahan yang tidak pernah diinginkan tapi harus dilakukan.
Mendengar pertanyaan itu, Jingga mendongak menatap Sagara yang sejak tadi memberikan atensi kepadanya. Tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya, namun bukan berarti Jingga tidak peduli atau bahkan tidak menyimak. Jingga hanya memberi waktu kepada lelaki itu untuk menyelesaikan ucapannya.
"Enam bulan? Satu tahun? Atau bahkan lebih pendek dari itu. Dua bulan mungkin?" katanya melanjutkan sebelum seringaian tajam muncul di bibirnya. “Aku sarankan, kamu bisa segera mengakhiri pernikahan ini dengan cepat sehingga kamu tidak akan terluka terlalu banyak nantinya.”
Jingga masih tidak menjawab. Menyuapkan satu sendok nasi ke dalam mulutnya, lalu mengunyahnya. Setiap pergerakan Jingga tampak begitu anggun, tapi di mata Sagara, perempuan itu hanyalah pembawa kerepotan dalam hidupnya. Dan dia tidak menyukainya.
"Menyerahlah atau kamu akan merasakan bagaimana sebuah neraka yang aku ciptakan. Pernikahan ini sudah salah sejak awal. Dan tidak akan pernah berhasil karena aku tidak akan pernah mecintaimu. Toh, cepat atau lambat, kita juga akan bercerai."
Pagi ini adalah pagi pertama mereka duduk berdua di ruang makan rumah mereka sendiri setelah pulang dari rumah orang tua Sagara. Dan akhirnya setelah menahan diri, Sagara bisa menumpahkan segala rasa kesal dan berbicara serius tentang pernikahan paksaan itu dengan istrinya. Memojokkan Jingga agar perempuan itu menyudahi hubungan pernikahan mereka secepatnya.
Perjodohan yang Violet rencanakan nyatanya tak sanggup Sagara tolak. Dia dipaksa menikah dengan perempuan asing yang baru sekali dikenalnya. Usaha untuk menolak tentu saja dia lakukan, tapi ibunya adalah pemegang tahta tetinggi dalam kehidupannya. Sehingga penolakan itu tak pernah dihiraukan.
“Kalau kamu mau bercerai, kamu bisa mengajukannya. Karena aku tidak berniat untuk melakukannya.”
Jingga menyelami tatapan tajam Sagara kepadanya. Tidak bisa dipungkiri, Sagara memiliki ketampanan yang luar biasa. Alisnya tebal, hidung mancung, serta wajah yang dibingkai dengan rahang yang tegas. Cukup mampu membuat perempuan mana pun yang melihatnya jatuh hati pada lelaki itu.
“Kenapa harus aku yang menyerah kalau nyatanya yang bermasalah dalam hubungan ini adalah kamu. Kalau kamu sangat tidak menyukaiku, seharusnya sejak awal kamu mengatakan kepada Bunda dan menolak perjodohan ini.” Jingga berbicara dengan suara rendah tanpa ekspresi. Tidak ada nada penghakiman di dalamnya. “Kenapa harus menerimanya kalau pada akhirnya kamu memojokkanku dan memusuhiku?”
Jingga pernah mendengar, Sagara adalah lelaki dengan catatan sejarah percintaan yang panjang. Dia tidak suka terikat dan lebih suka kebebasan. Mengatasnamakan kebaikan, Sagara mampu menjerat banyak wanita. Tidak tahu pasti seliar apa lelaki itu di luar sana, tapi Jingga tentu sudah tahu berita itu bukanlah sebuah isapan jempol belaka. Tentu itu berbanding terbalik dengan Samudra yang tidak pernah mempermainkan wanita mana pun.
“Karena kamu yang menerima perjodohan ini, maka usahaku untuk menolak hanyalah sebuah kesia-siaan.” sanggah Sagara dengan cepat. Merasa kesal.
“Aku tidak pernah menerimanya.”
“Tapi kamu juga tidak menolak,” tegas Sagara dengan suara yang semakin dingin dan tajam.
Jingga tidak membantah. Dia memang tidak memberikan penolakan apa pun kepada ibunya saat diminta untuk menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya. Waktu itu, Jingga masih berada di luar negeri setelah menyelesaikan study-nya. Juga, masih bekerja di sebuah perusahaan di sana. Terlebih lagi, dia juga baru saja patah hati karena seorang lelaki yang dicintainya.
Namun karena tidak ada penolakan dari Jingga, sang mama menyalahartikan sikapnya. Ibunya menganggap kalau Jingga menerima perjodohan tersebut. Dan dengan cepat, pembicaraan tentang pernikahan, sehingga membuat Jingga dan Sagara terjebak di dalamnya. Sejujurnya, bagi Jingga, menikah dengan siapapun akan sama saja. Karena lelaki itu adalah pilihan sang mama, maka Jingga tidak perlu meragukannya. Terlebih lagi, dia masih membekukan hatinya karena patah hati yang dirasakan.
"Semua sudah terjadi," jawab Jingga pada akhirnya dengan pelan, "aku juga harus melepaskan semuanya untuk menjadi istrimu. Maka suka tak suka, kita nyatanya sudah terikat."
Jingga memiliki karir yang bagus di luar negeri. Di tengah menyelesaikan Tesisnya, dia hampir direkrut menjadi karyawan tetap setelah kontrak dua tahunnya selesai. Jelas, Jingga berkontribusi besar pada perusahaan. Namun pada akhirnya, dia harus merelakan karirnya untuk kembali ke Indonesia.
“Terikat denganmu?” Sagara menyeringai tajam. “Hanya dalam sebuah dokumen. Karena faktanya, kamu hanya perempuan asing yang tidak akan pernah aku izinkan mencampuri urusanku. Lagi pula, aku sudah mencintai perempuan lain."
Jingga menyeringai. Seringaian pertama pagi ini. “Aku menyangka kalau aku memiliki suami yang tegas dan tidak suka menindas perempuan. Tapi ternyata aku salah.” Jingga menggeleng kecil sambil tersenyum. Senyum manis, tapi mengandung racun di dalamnya. “Lawanmu sebenarnya bukan aku, Suamiku. Tapi Bunda. Kalau kamu tidak kuasa menolak permintaan Bunda, kenapa harus melemparkan kesalahan kepadaku?”
Sagara mengepalkan tangannya bulat sampai membuat kukunya memutih. Perempuan itu, terlalu berani kepadanya. Dia bahkan mengoloknya? Sialan!
"Aku tidak melarangmu mencintai perempuan lain. Cintai kekasihmu sebanyak yang kamu mau. Aku hanya akan berdiri di tempatku dengan peranku sebagai seorang istri."
“Menggelikan,” ucap Sagara sarkasme. “Aku tidak membutuhkan peranmu sebagai istri. Aku bisa mengurus diriku sendiri tanpa dirimu. Yang aku inginkan kamu menyerah dan kita bercerai.” Sagara tidak menyerah. Dia mengira Jingga akan melakukan permintaannya.
Reaksi Jingga begitu santai dengan kedikan bahunya. “Aku sudah bilang, kalau memang kamu nggak mau meneruskan pernikahan ini, kamu yang seharusnya mengajukan gugatan cerai. Karena aku nggak akan pernah melakukannya.”
Kalimat yang diucapkan oleh Jingga membuat Sagara kesal luar biasa. Sendok yang ada di tangannya digenggam erat untuk menyalurkan amarahnya. Dia mungkin mengira jika Jingga adalah perempuan lemah yang mudah ditindas, tapi dia salah sasaran. Nyatanya, gadis itu lebih kuat dari yang dibayangkan.
"Jangan bilang aku tidak pernah memeringatkanmu. Karena aku tidak akan bertanggung jawab atas sakit hati yang kamu rasakan nanti." Ada jeda sebentar sebelum Sagara Kembali bersuara. "Kalau begitu, lakukan apa pun yang ingin kamu lakukan. Aku juga akan melakukan hal yang sama. Dan lagi, jangan sekalipun ikut campur urusanku."
Sagara menyukai kebebasan, dan sebernanya, menikah belum masuk dalam daftar rencana hidupnya. Tapi Violet melakukan semuanya ini demi untuk mengontrol putranya yang sedikit liar dibanding saudara-saudaranya yang lain. Berpegang dengan kata-kata 'demi kebahagiaan Sagara’, Violet menikahkan putranya dengan putri sahabatnya. Atau lebih tepatnya memaksa putranya untuk menikah dengan gadis pilihannya.
“Kamu yakin mampu membuatku sakit hati hanya karena perlakuan burukmu kepadaku yang akan menciptakan neraka untukku?” Senyum Jingga terbit kembali. “Kenapa aku merasa justru neraka itu kamu ciptakan untuk dirimu sendiri?” Jinggi memajukan tubuhnya sedikit berbisik. “Aku tidak akan kalah, Sagara!”
***
“Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar ketika terangkat untuk menelusupkan jari-jari di rambut Sagara.Dia merasakan surai halus lelaki itu. Jantungnya semakin bertalu keras, tetapi bukan saatnya untuk mundur. Mepertahankan kewarasannya agar tidak meledak dalam amarah. Sejujurnya dia merasa jijik dengan sentuhan Sagara, entah sudah berapa perempuan yang pernah tidur dengannya. Namun, dengan mundur sekarang, itu hanya akan membuat Sagara merasa kalau istrinya adalah perempuan yang lemah. Jingga tidak akan membiarkan Sagara berpikiran sejauh itu.Kebisuan yang ditunjukkan oleh Sagara adalah bukti jika lelaki itu sebenarnya tidak benar-benar menginginkannya. Sagara hanya ingin menakut-nakuti Jingga.“Ayo kita lakukan kalau memang i
Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa izin dia menerima panggilan dengan tatapan lurus pada Jingga.“Halo!” Sagara mendengar Luna bersuara di seberang sana dengan tenang. “Saya akan beritahu Jingga nanti, hem, oke. Terima kasih!”Sambungan telepon terputus. Seringaian Sagara terlihat di bibirnya. Ponsel yang ada di tangannya digoyang-goyangkan seolah dia tengah mengejek Jingga. Bahkan tanpa memdulikan Sachi yang ada di sana, dia lebih memilih berbicara dengan Jingga.“HP ini aku sita. Kamu, tidak akan bisa ke mana-mana tanpa izin dariku.” Begitu katanya dengan nada mengejek. Sepertinya ada rasa takut yang dirasakan oleh Sagara kalau-kalau ibunya tiba-tiba datang dan mencari keberadaan Jingga, sehingga dia harus mengancam perempu
“Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa dipungkiri, Sagara selalu merasa kesal ketika berhadapan dengan sang istri. Ekspresi datarnya, kebiasaan membalikkan ucapannya, dan yang paling penting adalah keberanian Jingga menghadapi Sagara, membuat Sagara seolah diinjak-injak.Mereka masih berada di basement mal. Sagara sepertinya tidak berniat untuk menjalankan mobilnya sama sekali. Menoleh ke belakang, Jingga masih bisa melihat Luna dan Alex berdiri di tempatnya semula belum beranjak sedikit pun. Kedua orang itu menatap ke arah mobil Sagara dengan tatapan aneh.“Kenapa diam?” Bungkamnya Sagara, membuat Jingga berinisiatif untuk kembali bertanya. “Kalau kamu hanya ingin bertanya tentang sesuatu hal yang tidak berguna, aku akan keluar s
“Bagaimana rasanya menikah?” Pertanyaan itu terlontar dari bibir Luna – sahabat Jingga.Alih-alih bertemu di mal, Luna meminta Jingga agar dijemput di butik miliknya. Dia malas menyetir dan tidak mau keluar uang untuk naik kendaraan umum. Sangat budiman sekali sahabat Jingga satu ini. Kini Jingga yang menyetir dan mobil mereka sudah membelah kota Jakarta.“Not bad,” jawaban itu cukup aman untuk dikeluarkan. Dia tak mungkin membeberkan fakta sebenarnya tentang kehidupan rumah tangganya kepada Luna meskipun Luna adalah sahabat baiknya. Mereka sudah bersahabat sejak duduk di sekolah menengah atas dan bertahan sampai saat ini. Mereka sama-sama melewati masa remajanya di luar negeri, namun Luna memilih kembali setelah lulus kuliah. Selama ini, mereka selalu bercerita tentang apa pun. Tapi jika itu menyangkut rumah tangga, Jingga tak akan sembarangan membeberkan kepada siapapun. Termasuk orang tuanya. Karena urusan rumah tangga adalah ranah pribadinya. “Gue kira, lo adalah perempuan yang
“Tentu kamu boleh mencobanya, Jingga. Tapi seperti yang aku bilang. Kamu harus bersiap untuk terluka dan kecewa.”Kata-kata itu memenuhi pikiran Jingga sampai pagi menjelang dan dia sudah berada di dalam kantornya. Dia menyadari kalau jalannya tidak akan mudah, tapi apakah akan sesulit itu? Benar, bahkan Sagara sendiri juga sudah memeringatkan. Seharian ini, Jingga benar-benar tidak begitu bisa berkonsentrasi bekerja. Tidak ada hal bisa dia lakukan.Pulang kerja, dia memutuskan pergi ke rumah orang tuanya. Dia berjanji akan pergi ke sana dan masih belum ada waktu untuk menepatinya.“Aku ikut Papa pulang ya. Biarin aja mobilnya di kantor.”Masuk ke dalam ruangan sang ayah, Jingga meminta izn. Ayah Jingga yang bersiap pulang itu mendongak, kemudian tersenyum.“Boleh. Tapi kamu udah bilang sama suami kamu? Kenapa nggak sekalian ajak dia aja?”Jingga mahir sekali menutupi perasaan kacau yang dirasakan. Menunjukkan senyumnya dia mendekat ke arah sang ayah. “Sagara itu banyak kerjaan, Pa. D
“Ada apa?” Belum juga Jingga menjawab ucapan Sachi, Sagara sudah pulang. Lelaki itu dengan otomatis berdiri di samping Sachi dan menghadap pada Jingga.“Nggak ada apa-apa. Jingga bertanya kenapa aku ada di sini.” Sachi menjawab pertanyaan Sagara.Lelaki itu masih terus menatap Jingga dengan tatapan dingin. “Kenapa kalau dia ada di sini, aku sudah mengizinkannya.” Sagara mengonfirmasi secara langsung tanpa peduli perasaan Jingga sedikitpun.Merasa lelah, Jingga akhirnya mengalah. Dia tak ingin mengeluarkan suaranya untuk bertengkar dengan sang suami. Pergi begitu saja dari hadapan Sagara dan Sachi, Jingga naik ke lantai dua. Menghadapi mereka juga membutuhkan banyak tenaga dua kali lipat. Jingga butuh istirahat.Masuk ke dalam kamarnya, perempuan itu segera mendaratkan tubuhnya ke atas ranjang. Menutup matanya rapat dan segera saja, alam mimpi menguasainya. Dia tertidur hanya dengan hitungan menit. Mengesampingkan terlebih dulu segala masalah yang menimpanya. Karena setelah dia membuka







