Se connecterSagara langsung mendengus mendengar nama Daniel disebut. Dia masih kesal dengan lelaki itu akibat rasa cemburunya di masa lalu. Sekarang justru Jingga memiliki ide yang baginya cukup konyol.Menjadikan Daniel bagian resmi dari keluarganya rasanya bukan keputusan yang tepat. Hanya membayangkan saja Sagara tidak mampu. Pasti akan ada banyak perdebatan yang terjadi di antara mereka.Terlebih lagi setelah rumah mereka jadi, mereka akan bertetangga. Rumah mereka bersebelahan. Bahkan Semesta meminta agar ada pintu penghubung antara pagar rumahnya dengan pagar kedua saudaranya.Ya Tuhan. Ini sangat tidak menyenangkan. Bayangkan saja kalau setiap pagi mereka akan berdebat untuk hal-hal yang tidak penting misalnya. Sungguh akan merepotkan.“Aku nggak setuju deh kalau Daniel sama Semesta. Nggak cocok. Yang lain aja.”Jingga melirik kecil sebelum masuk ke dalam kamar mandi. “Bilang aja kamu masih ada dendam sama Daniel. Lagian kalau Semesta misalnya mau sama Daniel gimana? Kan enak, sepupuku jad
“Sagara bilang, tempo hari kamu kecelakaan, Jingga,” tanya ibu mertua Jingga memastikan. “Kok nggak ada yang bilang ke Bunda. Mamamu juga nggak tahu jangan-jangan.” Jingga sore ini datang ke rumah orang tuanya dan rencananya akan menginap di sana. Sagara masih ada di kantor dan Jingga datang seorang diri ke rumah mertuanya. “Iya, Bun. Secara nggak langsung terlibat kecelakaan. Tapi nggak parah. Nggak nginap juga di rumah sakit. Hanya beberapa jam aja di sana, lalu pulang setelah dinyatakan nggak ada yang parah.” “Tapi Sagara bilang, kaki kamu bengkak sampai beberapa hari.” “Iya. Itu efek kebentur deh kayaknya. Aku juga waktu kejadian langsung pingsan.” Ibu mertua Jingga itu kini menatap menantunya dari atas sampai bawah. Seolah tengah meneliti Jingga. Jingga yang tahu itu langsung bersuara. “Udah sehat, Bun. Aku beneran udah nggak apa-apa.” “Kalian ini seneng banget sih nyembunyiin sesuatu? Kemarin kalau Sagara nggak keceplosan juga Bunda nggak bakalan tahu.” Jingga hanya nyen
Sagara tak mampu menampung resah yang menggaung di dalam hati. Banyak pertanyaan yang tumpang tindih di dalam kepalanya. Kenapa tiba-tiba saja orang yang ada di masa lalu Jingga itu muncul tanpa permisi. Setelah Brian, sekarang ibu lelaki itu juga muncul begitu saja.Sebenarnya apa yang sedang semesta ingin tunjukkan kepadanya? Atau jangan-jangan ini adalah bagian dari balasan atas perbuatannya di masa lalu? Entahlah, Sagara tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan benar.Sampai di rumah, Sagara melemparkan tubuhnya di sofa dengan tarikan napas panjang. Matanya memejam dengan lengan kirinya dia letakkan di atas dahi.Jingga yang melihat itu tidak mengatakan apa pun. Bahkan sejak di perjalanan menuju apartemen pun tak sepatah kata pun keluar dari mulut Sagara. Alil-alih membujuk, Jingga justru mengabaikannya begitu saja. Perempuan itu bahkan langsung masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Namun, bahkan sampai dia sudah menyelesaikan rutinitas malamnya pun, Sagara masih ada di tempat s
“Ternyata beneran kamu.”Jingga yang tadinya tengah asyik memainkan ponselnya itu langsung mendongak ke arah sumber suara. Detik itu juga dia merasa tubuhnya kaku dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang.“Hai … Jingga,” sapa lelaki itu sambil tersenyum. Lelaki itu tidak langsung duduk dan tetap berdiri. “Gimana kabar kamu?”Pertemuan kembali dengan Brian bukanlah sebuah hal yang ingin dia hindari, tetapi dia juga tak pernah menginginkannya lagi. Namun, terkadang semesta memang selalu suka bermain-main.Maka dengan keteguhan hatinya, Jingga mengangguk. Tak ada senyum di bibirnya. “Aku baik. Sehat. Dan tidak kekurangan satu apa pun.”“Baguslah kalau begitu. Aku benar-benar menyesal karena kecelakaan tempo hari melibatkan dirimu.”“Bukan salah kamu. Memang sudah jalannya begitu.”Brian mengangguk. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Namun, tatapannya sama sekali tidak beralih dari wajah Jingga.“Kamu datang dengan siapa, Jingga?” tanya Brian lagi setelah h
“Aku akan bawa kamu lari dari sini. Aku akan membangun tempat yang jauh dari peradaban dan kita akan tinggal di sana bersama dengan anak-anak kita. Tanpa orang lain. Hanya ada kita. Hanya kita.”Sagara serius. Kehilangan Jingga bukanlah hal yang bisa dia bayangkan. Dia mencintai perempuan itu begitu besar. Hanya dalam waktu singkat, perasaannya untuk istrinya mengembang begitu besar.Entah pupuk apa yang dia gunakan untuk memupuk rasa cintanya kepada Jingga sampai dia merasa tak akan mampu kehilangan istrinya tersebut.“Aku pernah hampir kehilangan kamu, Jingga. Dan aku nggak ingin hal itu terjadi lagi untuk kedua kalinya.”“Perasaan seseorang bisa berubah, Mas,” ucap Jingga lagi. “Bisa saja aku mungkin jatuh cinta dengan orang lain dan itu bukan kamu.”“Mantan pacar kamu itu?” Sagara mengetatkan rahangnya ketika menanyakan hal itu. Dia berharap, Jingga tidak sebodoh orang-orang di luar sana yang akan kembali dengan masa lalu yang pernah menanamkan luka di hatinya.Akan tetapi, bukank
Sagara masuk ke dalam unitnya disambut sepi yang membelenggu. Dinding kaca masih tertutup gorden. Lampu tidak menyala, dan hanya gelap yang mampu menguasai tempat tinggalnya. Tanda kehidupan seakan lenyap tanpa bekas. Kini tujuannya hanya satu. Kamar utama.Ketika dia membuka pintu kamar, dia bisa melihat gundukan di atas kasur tertutup selimut. Langkah kakinya mendekat dan dia langsung mengecek keadaan istrinya. Menempelkan telapak tangannya pada dahi sang istri untuk sekedar mengecek suhu tubuh perempuan itu.“Nggak panas,” gumamnya kecil tak ingin mengganggu istrinya yang tengah istirahat.Lantas memilih berganti pakaian sebelum ikut bergabung dengan Jingga di dalam selimut yang sama. Menarik perempuan itu ke dalam pelukannya sebelum mengecup dahinya dengan lembut.“Kamu udah pulang? Jam berapa ini?” Merasa terusik, Jingga membuka matanya. Semakin bergelung pada pelukan sang suami.“Baru jam setengah satu.” Sagara mengusap punggung istrinya dengan lembut. “Gimana rasanya tubuh kamu
Usai sarapan, Sagara kembali naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar. Lelaki itu merasakan tubuhnya sangat tidak nyaman dan kepalanya pusing. Memilih kembali merebahkan tubuhnya, Sagara ingin beristirahat sejenak sebelum berangkat ke kantor. Semalam dia hanya sempat tidur dua jam dan kembali ba
“Kamu yakin akan melakukannya sekarang?” Jingga meyakinkan sekali lagi. “Ada konsekuensi yang harus kamu ingat, Sagara. Kalau aku hamil, itu artinya kamu tidak akan mendapatkan kebebasanmu karena aku tidak akan membiarkanmu luput dari pengawasanku.” Tangan Jingga dingin luar biasa. Sedikit bergetar
Deringan ponsel Jingga menahan Sachi yang ingin bicara. Jingga menoleh ke arah Sagara karena ponselnya dibawa oleh lelaki itu. Sachi juga menoleh pada Sagara dengan kening mengernyit ketika Sagara dengan santainya menarik ponsel pintar itu dari sakunya, membaca nama yang tertera di sana, dan tanpa
“Merepotkan orang lain?” Jingga mengernyit mendengar ucapan Sagara. “Orang mana yang aku repotkan?” tantang Jingga dengan berani, menuntut jawaban dari sang suami. Sagara menatap Jingga dengan tatapan berapi-api. Emosi yang ditahannya seolah ingin meledak menghanguskan perempuan itu. Tidak bisa d







