Masuk“Sagara bilang, tempo hari kamu kecelakaan, Jingga,” tanya ibu mertua Jingga memastikan. “Kok nggak ada yang bilang ke Bunda. Mamamu juga nggak tahu jangan-jangan.” Jingga sore ini datang ke rumah orang tuanya dan rencananya akan menginap di sana. Sagara masih ada di kantor dan Jingga datang seorang diri ke rumah mertuanya. “Iya, Bun. Secara nggak langsung terlibat kecelakaan. Tapi nggak parah. Nggak nginap juga di rumah sakit. Hanya beberapa jam aja di sana, lalu pulang setelah dinyatakan nggak ada yang parah.” “Tapi Sagara bilang, kaki kamu bengkak sampai beberapa hari.” “Iya. Itu efek kebentur deh kayaknya. Aku juga waktu kejadian langsung pingsan.” Ibu mertua Jingga itu kini menatap menantunya dari atas sampai bawah. Seolah tengah meneliti Jingga. Jingga yang tahu itu langsung bersuara. “Udah sehat, Bun. Aku beneran udah nggak apa-apa.” “Kalian ini seneng banget sih nyembunyiin sesuatu? Kemarin kalau Sagara nggak keceplosan juga Bunda nggak bakalan tahu.” Jingga hanya nyen
Sagara tak mampu menampung resah yang menggaung di dalam hati. Banyak pertanyaan yang tumpang tindih di dalam kepalanya. Kenapa tiba-tiba saja orang yang ada di masa lalu Jingga itu muncul tanpa permisi. Setelah Brian, sekarang ibu lelaki itu juga muncul begitu saja.Sebenarnya apa yang sedang semesta ingin tunjukkan kepadanya? Atau jangan-jangan ini adalah bagian dari balasan atas perbuatannya di masa lalu? Entahlah, Sagara tidak mampu menjawab pertanyaan itu dengan benar.Sampai di rumah, Sagara melemparkan tubuhnya di sofa dengan tarikan napas panjang. Matanya memejam dengan lengan kirinya dia letakkan di atas dahi.Jingga yang melihat itu tidak mengatakan apa pun. Bahkan sejak di perjalanan menuju apartemen pun tak sepatah kata pun keluar dari mulut Sagara. Alil-alih membujuk, Jingga justru mengabaikannya begitu saja. Perempuan itu bahkan langsung masuk kamar dan mengganti pakaiannya. Namun, bahkan sampai dia sudah menyelesaikan rutinitas malamnya pun, Sagara masih ada di tempat s
“Ternyata beneran kamu.”Jingga yang tadinya tengah asyik memainkan ponselnya itu langsung mendongak ke arah sumber suara. Detik itu juga dia merasa tubuhnya kaku dengan jantung yang tiba-tiba berdetak lebih kencang.“Hai … Jingga,” sapa lelaki itu sambil tersenyum. Lelaki itu tidak langsung duduk dan tetap berdiri. “Gimana kabar kamu?”Pertemuan kembali dengan Brian bukanlah sebuah hal yang ingin dia hindari, tetapi dia juga tak pernah menginginkannya lagi. Namun, terkadang semesta memang selalu suka bermain-main.Maka dengan keteguhan hatinya, Jingga mengangguk. Tak ada senyum di bibirnya. “Aku baik. Sehat. Dan tidak kekurangan satu apa pun.”“Baguslah kalau begitu. Aku benar-benar menyesal karena kecelakaan tempo hari melibatkan dirimu.”“Bukan salah kamu. Memang sudah jalannya begitu.”Brian mengangguk. Tidak ada lagi kata yang keluar dari mulut lelaki itu. Namun, tatapannya sama sekali tidak beralih dari wajah Jingga.“Kamu datang dengan siapa, Jingga?” tanya Brian lagi setelah h
“Aku akan bawa kamu lari dari sini. Aku akan membangun tempat yang jauh dari peradaban dan kita akan tinggal di sana bersama dengan anak-anak kita. Tanpa orang lain. Hanya ada kita. Hanya kita.”Sagara serius. Kehilangan Jingga bukanlah hal yang bisa dia bayangkan. Dia mencintai perempuan itu begitu besar. Hanya dalam waktu singkat, perasaannya untuk istrinya mengembang begitu besar.Entah pupuk apa yang dia gunakan untuk memupuk rasa cintanya kepada Jingga sampai dia merasa tak akan mampu kehilangan istrinya tersebut.“Aku pernah hampir kehilangan kamu, Jingga. Dan aku nggak ingin hal itu terjadi lagi untuk kedua kalinya.”“Perasaan seseorang bisa berubah, Mas,” ucap Jingga lagi. “Bisa saja aku mungkin jatuh cinta dengan orang lain dan itu bukan kamu.”“Mantan pacar kamu itu?” Sagara mengetatkan rahangnya ketika menanyakan hal itu. Dia berharap, Jingga tidak sebodoh orang-orang di luar sana yang akan kembali dengan masa lalu yang pernah menanamkan luka di hatinya.Akan tetapi, bukank
Sagara masuk ke dalam unitnya disambut sepi yang membelenggu. Dinding kaca masih tertutup gorden. Lampu tidak menyala, dan hanya gelap yang mampu menguasai tempat tinggalnya. Tanda kehidupan seakan lenyap tanpa bekas. Kini tujuannya hanya satu. Kamar utama.Ketika dia membuka pintu kamar, dia bisa melihat gundukan di atas kasur tertutup selimut. Langkah kakinya mendekat dan dia langsung mengecek keadaan istrinya. Menempelkan telapak tangannya pada dahi sang istri untuk sekedar mengecek suhu tubuh perempuan itu.“Nggak panas,” gumamnya kecil tak ingin mengganggu istrinya yang tengah istirahat.Lantas memilih berganti pakaian sebelum ikut bergabung dengan Jingga di dalam selimut yang sama. Menarik perempuan itu ke dalam pelukannya sebelum mengecup dahinya dengan lembut.“Kamu udah pulang? Jam berapa ini?” Merasa terusik, Jingga membuka matanya. Semakin bergelung pada pelukan sang suami.“Baru jam setengah satu.” Sagara mengusap punggung istrinya dengan lembut. “Gimana rasanya tubuh kamu
Resah itu tersimpan rapat. Meskipun ingatan tentang masa lalu terkadang masih mengusik ketenangan, tetapi Jingga berusaha mengabaikannya. Sekali lagi, masa lalu tetaplah masa lalu dan dia tidak ingin hal tersebut justru memengaruhi kehidupannya masa sekarang.“Kamu serius mau di rumah sendiri? Atau mau telpon Luna buat nemenin kamu?”Sagara sudah bertanya hal itu sejak bangun tadi sampai sekarang dia sudah siap pergi ke kantor. Badan Jingga baru terasa remuk keesokan harinya. Semalam Sagara ‘melahapnya’ sampai dia kelelahan dan sekarang dia rasanya tak bisa beranjak dari ranjang.Terlebih lagi ngilu di kakinya pun terasa tak bisa ditahan. Kini dia berbaring di atas ranjang sambil menatap suaminya yang sejak tadi sibuk bersiap-siap.“Aku janji nanti setelah meeting aku langsung pulang. Sekarang kita sarapan dulu, ya. Aku udah pesankan bubur ayam.”Kalau saja Sagara tidak memiliki pekerjaan penting yang harus dia kerjakan hari ini, maka mungkin sekarang dia akan menemani istrinya di apa
“Ada acara apa? Kok ramai?” Sagara mengernyit melihat beberapa mobil yang terparkir di carport rumah mertuanya. “Ada mobil Papa juga.” Kini dia menoleh menatap Jingga untuk mendapatkan jawaban.Jingga pun menggeleng. “Aku juga nggak tahu. Kayaknya mau makan malam bareng deh. Mama kan suka dadakan j
“Brengsek!”Satu kata itu meluncur begitu saja membuat tiga orang yang ada di meja itu seketika terdiam. Menatap pada satu arah di mana Semesta berada. Ekspresi datarnya seolah menantang Sagara yang memicingkan mata ke arahnya.“Orang yang membawa perempuan lain ke rumah yang ditempati bersama istr
“Aku nggak suka sama Daniel, Jingga.”“Aku juga nggak suka sama Sachi. Tapi aku nggak pernah protes ke kamu saat kamu bawa dia di hadapanku.”Malam sudah larut, Daniel sudah pergi dari rumah orang tua Jingga sejak beberapa jam yang lalu, tetapi sepasang suami istri itu belum ada yang tidur. Sagara
“Jadi, apa rencana kalian setelah ini?” tanya ayah Jingga kepada Sagara setelah selesai makan malam. Mereka duduk santai di ruang keluarga sambil mengobrol ringan. Kemudian tatapan lelaki paruh baya itu beralih pada putrinya. “Kamu yakin masih ingin tetap dengan Sagara setelah semua yang dia lakuka







