Share

Menggoda Ayah Mantan Kekasihku
Menggoda Ayah Mantan Kekasihku
Penulis: QueenShe

Bab 1

Penulis: QueenShe
last update Terakhir Diperbarui: 2025-10-06 09:18:57

Raya menatap layar komputernya dengan mata yang mulai perih. Jam di sudut layar menunjukkan jam makan siang. Namun dirinya masih enggan beranjak dari kursinya.

Datang paling pagi, pulang paling malam. Makan siang di meja kerja sambil menyelesaikan laporan. Lembur hampir setiap hari tanpa keluhan.

Ini sudah menjadi rutinitas selama tiga minggu terakhir. Sejak wisuda bulan lalu, ia akhirnya bekerja sebagai sekretaris CEO di Mahardika Group. Dan sejak saat itu juga, pria yang ia cintai menyelingkuhinya.

Raya menyukai pekerjaan ini. Tidak. Bukan hanya suka. Tapi ia butuh kesibukan ini. Karena setiap kali ia punya waktu luang, bayangan mantan kekasihnya, Kenzie dan sahabatnya Alicia akan muncul bagai mengejeknya. Ciuman mereka di depan kafe. Tawa mengejek mereka. Kata-kata menyakitkan yang masih terngiang jelas.

"Kamu terlalu kuno."

"Membosankan."

"Kasihan pada anak yatim"

"Aku butuh wanita yang bisa memenuhi kebutuhanku."

Saat jam makan siang Raya mengernyit saat mendengar percakapan dua karyawan di dekatnya. "Kamu dengar? Anak Mr. Ares akan jadi General Manager di sini!"

"Serius? Yang mana? Dia kan punya dua anak."

"Yang cowok. Kenzie Mahardika. Katanya baru selesai S2 bisnis."

Raya membeku di mejanya. Kenzie Mahardika? Tidak mungkin. Pasti Kenzie yang berbeda.

Tapi hatinya tahu segala kemungkinan itu ada. Mantan kekasihnya bernama Kenzie Leonel. Dan nama keluarganya?

Raya tidak pernah tahu nama belakang Kenzie. Pria itu selalu menyebut namanya Kenzie Leonel. Tidak pernah menyebut nama keluarga ataupun menceritakan detail tentang keluarganya.

Tangan Naraya gemetar saat ia membuka browser dan mencari "Kenzie Mahardika". Hasil pencarian muncul. Foto-foto Kenzie. Artikel tentang anak CEO Mahardika Group. Pewaris tunggal perusahaan.

Calon penerus Ares Mahardika.

Dan benar. Itu Kenzie-nya.

Raya merasakan dunia berputar. Dadanya sesak. Napasnya tersengal. Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa ia harus bekerja di perusahaan yang akan dipimpin oleh mantan kekasihnya?

Karyawan berkumpul di lobby, berbisik-bisik dengan antusias. Semua orang ingin melihat pewaris Mahardika Group yang akan menjadi General Manager mereka.

Jantung Raya berhenti berdetak sesaat, melihat mantan kekasihnya memasuki ruangan. Pria itu masih sama. Tinggi, tampan, dengan senyum menawan yang dulu membuat hatinya berbunga-bunga. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang. Mengenakan jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Dia terlihat percaya diri dan sempurna.

“Selamat pagi semua,” suara Ares menggelegar di lobby. “Seperti yang kalian tahu, ini hari pertama Kenzie Leonel Mahardika, bekerja di perusahaan ini sebagai General Manager.”

Tepuk tangan riuh menggema. Kenzie tersenyum lebar, mengangguk pada semua orang dengan ramah.

“Terima kasih atas sambutannya. Saya sangat senang bisa bekerja dengan kalian semua. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik.”

Raya ingat suara itu. Dulu sering berbisik kata-kata cinta. Suara yang kemudian mengatakan dirinya membosankan. tangannya mengepalkan erat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan.

“Kenzie, kamu akan dibantu selama seminggu ini oleh Naraya,” lanjut Ares—atasannya.

Semua mata beralih pada Raya. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lift, mata Kenzie menemukan Raya di antara kerumunan. Ekspresi wajahnya berubah. Terkejut. Lebih tepatnya tidak percaya. Dan kemudian wajahnya berubah mengejek.

Raya menarik napas dalam dan melangkah maju, menembus kerumunan dengan kepala tegak, berhenti di samping Ares dengan postur tubuh yang tegap.

“Ini Naraya, sekretaris pribadi,” kata Ares sambil menatap Raya sekilas.

Kenzie menatap Raya dengan senyum menyebalkan yang membuat perut Raya mual.

“Senang bertemu denganmu, Raya,” kata Kenzie sambil mengulurkan tangan.

Raya menatap tangan itu sejenak sebelum menjabatnya dengan singkat. Sentuhan itu membuat kulitnya terasa seperti terbakar. “Senang bertemu dengan Anda, Pak Kenzie,” jawab Raya dengan nada datar dan profesional.

Mata Kenzie berkilat, menangkap nada formal yang Raya gunakan. Seolah mereka adalah orang asing.

“Baiklah, kalian semua kembali bekerja,” perintah Ares. “Naraya, bantu Kenzie berkeliling.”

“Baik, Pak,” jawab Raya sambil membungkuk.

Ares berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah yang terkontrol. Setiap sel di tubuhnya begitu berwibawa.

“Jadi—” kata Kenzie sambil menyilangkan tangannya di dada dengan casual. “Kamu bekerja untuk ayahku?”

"Benar," jawab Raya datar.

“Sejak kapan?”

“Sudah sebulan.”

“Tidak perlu sedingin ini, Raya.”

Raya akhirnya mendongak, menatap Kenzie dengan tatapan dingin yang ia pelajari dari Ares.

“Setiap orang berubah,” jawab Raya singkat. “Sekarang, bisa kita mulai berkeliling?”

Kenzie menatapnya lebih lama sebelum akhirnya meluruskan tubuhnya. “Ya... Ayo mulai.”

Raya berjalan terlebih dahulu “Silakan ikut saya.”

Mereka berjalan beriringan menuju lift. Suasana di antara mereka tegang dan canggung. Di dalam lift yang kosong, Kenzie akhirnya berbicara. “Raya...”

“Tolong panggil saya Naraya saja,” potong Raya tanpa menatap Kenzie terdiam. “Apa yang terjadi di antara kita adalah masa lalu. Sekarang kita hanya kolega kerja. Itu saja.”

“Kamu masih marah,” kata Kenzie, bukan bertanya, tapi menegaskan.

“Aku tidak menyangka kamu akan jadi sekretaris ayahku,” kata Kenzie sambil melipat tangan di dada. “Maksudku... kamu memang pintar di akademik. Tapi sekretaris? Itu cukup... biasa saja, bukan?”

Raya merasakan dadanya sesak, tapi ia mempertahankan ekspresi dinginnya.

Kenzie tertawa, dan terdengar menyebalkan. “Tapi ayolah, Raya. Kamu bisa melakukan lebih dari ini. Atau hanya ini batas kemampuanmu.”

Setiap kata adalah tikaman pada harga diri Raya. “Apa maksud Anda, Pak Kenzie?” tanya Raya, memaksa suaranya tetap tenang.

“Maksudku,” Kenzie melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa Raya dengar. “Dulu kamu selalu bilang ingin jadi lebih dari sekadar sekretaris. Kamu punya ambisi besar. Tapi lihat sekarang, kamu cuma jadi asisten ayahku. Melayani kebutuhannya. Mencatat jadwalnya. Membuatkan kopinya.”

Kenzie tersenyum sinis. “Aku rasa Alicia benar. Kamu memang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain… yah, kamu tahu lah. Semuanya terlalu standar.”

Raya merasakan sesuatu pecah di dadanya—amarah, sakit hati, malu. Tapi ia tak akan membiarkan Kenzie melihat itu.

“Pak Kenzie…” ucapnya pelan namun tajam. “Kalau menurut Anda kemampuan saya hanya sebatas ini—”

Ia berhenti sejenak, berdeham untuk menetralkan emosinya. “Berarti saya seharusnya mencoba berhubungan dengan pria yang menganggap saya lebih dari sekadar standar.”

Kenzie mengangkat alis, terkejut. “Maksudmu?”

Raya tersenyum tipis, berjingkit sedikit, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kenzie dan berbisik, “mungkin ayah Anda menilai saya lebih tinggi atau lebih spesial daripada Anda. Benar, tidak?”

Ia menegakkan tubuhnya kembali tepat saat denting lift terdengar, menandakan mereka telah tiba di lantai tujuan. Raya melangkah keluar tanpa menunggu Kenzie. Sekilas, ia melihat rahang pria itu mengeras, dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (4)
goodnovel comment avatar
Gloria
bagus Thor alur ceritanya sangat menarik
goodnovel comment avatar
Harucchi
Mantap raya! ulek si kenzie sampe keok!
goodnovel comment avatar
Cynta
ayo raya tunjukkan taring mu.. ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 334

    Pemandangan di depan matanya adalah visualisasi dari neraka yang paling nyata bagi Ares Mahardika. ​Di atas ranjang besar dengan seprai kusut, Prama menaungi Raya dengan tubuh telanjang dada. Tangannya tengah meraba paha istrinya ketika dentuman pintu menghentikan gerakannya. Ruangan itu membeku. Tapi aura di sekitar Ares mendidih melampaui titik ledak. "Binatang..." Suara Ares seperti guntur, rendah, parau, bergetar oleh amarah yang melampaui batas kemanusiaan. Prama tersentak. Ia menoleh, lalu dengan sengaja menggeser tubuhnya ke samping, mempertontonkan hasil kerjanya. Raya tergeletak lemas. Kemeja sudah terbuka, hanya bra yang masih melindungi dadanya. Wajahnya merah membara, peluh membasahi pelipis dan leher. Matanya sayu menatap langit-langit dengan kekosongan yang mengerikan. Napasnya pendek-pendek, tersengal, seakan oksigen di ruangan itu telah habis. ​Prama menoleh dnegan senyum miring di wajahnya. "Ares lihatlah—" ​Belum sempat kalimat itu selesai, Ares sudah menerjan

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 333

    Jalanan gelap Bogor terasa mencekik. Ares duduk tegang di kursi belakang, rahangnya mengeras setiap kali mobil melambat karena tikungan. Jemarinya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. David di kemudi terus memantau GPS sambil sesekali melirik spion, mengamati raut bosnya yang seperti singa terluka siap menerkam. "Kita sudah dekat dengan villa pertama, Tuan. Sekitar lima belas menit lagi," lapor David. Ares tidak menjawab. Matanya kosong menatap kegelapan di luar jendela, tapi pikirannya penuh dengan skenario terburuk tentang apa yang mungkin terjadi pada Raya. Dalam kepalanya, potongan-potongan kemungkinan terus berputar. Raya sendirian, ketakutan, sambil berharap menunggunya datang. Dada Ares naik turun pelan. Ia menekan napasnya sendiri, memaksa pikirannya tetap dingin. Panik tak akan menyelamatkan siapa pun. Tiba-tiba ponselnya bergetar. Dua kali dering. Nama Prama terpampang di layar. Teddy yang duduk di samping Ares langsung menahan napas, tubuh

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 332

    Jari Raya bergetar menekan ikon panggilan. Detak jantungnya seperti drum perang, keras, cepat, menuntut. Nada sambung pertama terasa seperti seabad. Kedua. Ketiga. Angkat, Ares. Kumohon. Matanya tak henti melirik ke arah dapur. Bayangan Prama bergerak di balik dinding. Raya menggigit bibir, menekan ponsel lebih erat ke telinga. Nada kedua. Panggilan langsung diputus Raya, karena ia terlalu takut Prama kembali lagi. "Tuhan," desis Raya frustasi. Ia segera sadar, menelepon lagi akan terlalu berisiko. Prama bisa kembali kapan saja. Dengan gerakan kilat, jemarinya menari di layar ponsel, membuka riwayat panggilan, menghapus jejak nomor Ares. Lalu ia beralih ke aplikasi peta. Tangan gemetar menekan tombol bagikan lokasi, memilih nama Ares dari kontak, dan menekan kirim. Sedetik kemudian, pesan itu terhapus. Bersih. Seolah tak pernah ada. Napasnya memburu. Ia butuh alibi. Cepat. Jemarinya kembali mengetik, kali ini nomor Dio. Panggilan tersambung setelah nada kedua. "Kakak?" suara

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 331

    Mobil yang dikendarai David meluncur bagai anak panah membelah kegelapan jalanan menuju Bogor. Di kursi belakang, suasana begitu mencekam. Ares terus menatap layar ponselnya, memantau titik merah yang bergerak di peta—lokasi villa yang diberikan Teddy. ​"Lebih cepat, David!" geram Ares. Suaranya rendah, namun penuh dengan ancaman yang nyata. ​"Baik, Tuan," sahut David tenang meski tangannya mencengkeram kemudi dengan erat. Ia tahu betul, setiap detik sangat berharga. ​Teddy di samping Ares tampak hancur. "Res, kalau benar Prama di sana... tolong, jangan biarkan emosimu mengendalikan segalanya. Kita selesaikan ini tanpa kekerasan." ​Ares menoleh, tatapannya begitu tajam hingga Teddy terdiam. "Dia mengambil istriku dengan tipu daya yang menjijikkan, Teddy. Dia menyamar jadi aku, mempermalukanku, dan sekarang menyekapnya. Jika ada satu helai rambut Raya yang rusak, aku tidak menjamin Prama akan keluar dari sana dengan kaki yang masih bisa berjalan." Teddy meremas tangannya sendiri y

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 330

    Ares duduk di kursi kerjanya dengan wajah kusut, mata sembab karena kurang tidur. Sudah tiga hari ia mencari Raya tanpa hasil. Setiap petunjuk berujung jalan buntu. Ponselnya tiba-tiba berdering. David. Ares langsung mengangkat. "Ya?" "Tuan, saya sudah dapat hasilnya," ucap David dengan nada serius. "Tim forensik digital sudah selesai menganalisis video yang ditunjukkan Imelda pada Nyonya." Ares menegakkan tubuhnya, jantungnya berdegup kencang. "Dan?" "Pria di video itu bukan Tuan," jawab David tegas. "Itu Pak Prama." Ares membeku. "Apa?" "Tim menggunakan teknologi facial recognition dan body movement analysis. Pria itu menggunakan deepfake technology dan prosthetic makeup untuk menyamar sebagai Tuan. Tapi setelah dianalisis frame per frame... itu Pak Prama. Tinggi badan, postur tubuh, bahkan cara berjalannya, semuanya cocok dengan Pak Prama." Ares menutup matanya, menarik napas dalam. Amarah mulai merayapi setiap sel tubuhnya. "Ada lagi, Tuan," lanjut David. "Saya sudah meng

  • Menggoda Ayah Mantan Kekasihku   Bab 329

    Raya menatap Prama tajam, lalu mengambil tasnya dengan gerakan cepat. Ia berjalan menuju pintu dengan langkah tegas. "Raya, tunggu!" panggil Prama sambil melangkah menghalangi jalan. Raya berhenti, menatapnya waspada. "Minggir, Pram." "Aku akan mengantarmu pulang," ucap Prama berubah lebih tenang dan lembut. "Kamu gak tahu jalan dari sini. Taksi online pasti sulit dapat sinyal di area ini." Raya terdiam sejenak, mempertimbangkan. Prama benar. Villa ini memang di pinggiran, jauh dari jalan utama. Kalau ia jalan kaki sendirian, bisa berbahaya. "Baik," jawab Raya akhirnya dengan nada hati-hati. "Tapi langsung antar aku pulang." Prama tersenyum tipis—senyum yang tidak sampai ke mata. "Tentu. Tunggu sebentar. Aku ambil kunci mobil di kamar dulu." Ia berbalik dan berjalan menuju kamarnya di lantai atas. Raya berdiri di ruang tamu dengan tubuh tegang. Ada sesuatu yang tak beres. Insting di dalam dirinya berteriak bahaya. Tapi ia tak punya pilihan lain. Sambil menunggu, ia melirik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status