Mag-log in
Raya menatap layar komputernya dengan mata yang mulai perih. Jam di sudut layar menunjukkan jam makan siang. Namun dirinya masih enggan beranjak dari kursinya.
Datang paling pagi, pulang paling malam. Makan siang di meja kerja sambil menyelesaikan laporan. Lembur hampir setiap hari tanpa keluhan. Ini sudah menjadi rutinitas selama tiga minggu terakhir. Sejak wisuda bulan lalu, ia akhirnya bekerja sebagai sekretaris CEO di Mahardika Group. Dan sejak saat itu juga, pria yang ia cintai menyelingkuhinya. Raya menyukai pekerjaan ini. Tidak. Bukan hanya suka. Tapi ia butuh kesibukan ini. Karena setiap kali ia punya waktu luang, bayangan mantan kekasihnya, Kenzie dan sahabatnya Alicia akan muncul bagai mengejeknya. Ciuman mereka di depan kafe. Tawa mengejek mereka. Kata-kata menyakitkan yang masih terngiang jelas. "Kamu terlalu kuno." "Membosankan." "Kasihan pada anak yatim" "Aku butuh wanita yang bisa memenuhi kebutuhanku." Saat jam makan siang Raya mengernyit saat mendengar percakapan dua karyawan di dekatnya. "Kamu dengar? Anak Mr. Ares akan jadi General Manager di sini!" "Serius? Yang mana? Dia kan punya dua anak." "Yang cowok. Kenzie Mahardika. Katanya baru selesai S2 bisnis." Raya membeku di mejanya. Kenzie Mahardika? Tidak mungkin. Pasti Kenzie yang berbeda. Tapi hatinya tahu segala kemungkinan itu ada. Mantan kekasihnya bernama Kenzie Leonel. Dan nama keluarganya? Raya tidak pernah tahu nama belakang Kenzie. Pria itu selalu menyebut namanya Kenzie Leonel. Tidak pernah menyebut nama keluarga ataupun menceritakan detail tentang keluarganya. Tangan Naraya gemetar saat ia membuka browser dan mencari "Kenzie Mahardika". Hasil pencarian muncul. Foto-foto Kenzie. Artikel tentang anak CEO Mahardika Group. Pewaris tunggal perusahaan. Calon penerus Ares Mahardika. Dan benar. Itu Kenzie-nya. Raya merasakan dunia berputar. Dadanya sesak. Napasnya tersengal. Ini tidak mungkin terjadi. Bagaimana bisa ia harus bekerja di perusahaan yang akan dipimpin oleh mantan kekasihnya? Karyawan berkumpul di lobby, berbisik-bisik dengan antusias. Semua orang ingin melihat pewaris Mahardika Group yang akan menjadi General Manager mereka. Jantung Raya berhenti berdetak sesaat, melihat mantan kekasihnya memasuki ruangan. Pria itu masih sama. Tinggi, tampan, dengan senyum menawan yang dulu membuat hatinya berbunga-bunga. Rambut hitamnya ditata rapi ke belakang. Mengenakan jas abu-abu yang pas di tubuhnya. Dia terlihat percaya diri dan sempurna. “Selamat pagi semua,” suara Ares menggelegar di lobby. “Seperti yang kalian tahu, ini hari pertama Kenzie Leonel Mahardika, bekerja di perusahaan ini sebagai General Manager.” Tepuk tangan riuh menggema. Kenzie tersenyum lebar, mengangguk pada semua orang dengan ramah. “Terima kasih atas sambutannya. Saya sangat senang bisa bekerja dengan kalian semua. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik.” Raya ingat suara itu. Dulu sering berbisik kata-kata cinta. Suara yang kemudian mengatakan dirinya membosankan. tangannya mengepalkan erat, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. “Kenzie, kamu akan dibantu selama seminggu ini oleh Naraya,” lanjut Ares—atasannya. Semua mata beralih pada Raya. Untuk pertama kalinya sejak keluar dari lift, mata Kenzie menemukan Raya di antara kerumunan. Ekspresi wajahnya berubah. Terkejut. Lebih tepatnya tidak percaya. Dan kemudian wajahnya berubah mengejek. Raya menarik napas dalam dan melangkah maju, menembus kerumunan dengan kepala tegak, berhenti di samping Ares dengan postur tubuh yang tegap. “Ini Naraya, sekretaris pribadi,” kata Ares sambil menatap Raya sekilas. Kenzie menatap Raya dengan senyum menyebalkan yang membuat perut Raya mual. “Senang bertemu denganmu, Raya,” kata Kenzie sambil mengulurkan tangan. Raya menatap tangan itu sejenak sebelum menjabatnya dengan singkat. Sentuhan itu membuat kulitnya terasa seperti terbakar. “Senang bertemu dengan Anda, Pak Kenzie,” jawab Raya dengan nada datar dan profesional. Mata Kenzie berkilat, menangkap nada formal yang Raya gunakan. Seolah mereka adalah orang asing. “Baiklah, kalian semua kembali bekerja,” perintah Ares. “Naraya, bantu Kenzie berkeliling.” “Baik, Pak,” jawab Raya sambil membungkuk. Ares berbalik dan berjalan menuju lift dengan langkah yang terkontrol. Setiap sel di tubuhnya begitu berwibawa. “Jadi—” kata Kenzie sambil menyilangkan tangannya di dada dengan casual. “Kamu bekerja untuk ayahku?” "Benar," jawab Raya datar. “Sejak kapan?” “Sudah sebulan.” “Tidak perlu sedingin ini, Raya.” Raya akhirnya mendongak, menatap Kenzie dengan tatapan dingin yang ia pelajari dari Ares. “Setiap orang berubah,” jawab Raya singkat. “Sekarang, bisa kita mulai berkeliling?” Kenzie menatapnya lebih lama sebelum akhirnya meluruskan tubuhnya. “Ya... Ayo mulai.” Raya berjalan terlebih dahulu “Silakan ikut saya.” Mereka berjalan beriringan menuju lift. Suasana di antara mereka tegang dan canggung. Di dalam lift yang kosong, Kenzie akhirnya berbicara. “Raya...” “Tolong panggil saya Naraya saja,” potong Raya tanpa menatap Kenzie terdiam. “Apa yang terjadi di antara kita adalah masa lalu. Sekarang kita hanya kolega kerja. Itu saja.” “Kamu masih marah,” kata Kenzie, bukan bertanya, tapi menegaskan. “Aku tidak menyangka kamu akan jadi sekretaris ayahku,” kata Kenzie sambil melipat tangan di dada. “Maksudku... kamu memang pintar di akademik. Tapi sekretaris? Itu cukup... biasa saja, bukan?” Raya merasakan dadanya sesak, tapi ia mempertahankan ekspresi dinginnya. Kenzie tertawa, dan terdengar menyebalkan. “Tapi ayolah, Raya. Kamu bisa melakukan lebih dari ini. Atau hanya ini batas kemampuanmu.” Setiap kata adalah tikaman pada harga diri Raya. “Apa maksud Anda, Pak Kenzie?” tanya Raya, memaksa suaranya tetap tenang. “Maksudku,” Kenzie melangkah lebih dekat, suaranya turun menjadi bisikan yang hanya bisa Raya dengar. “Dulu kamu selalu bilang ingin jadi lebih dari sekadar sekretaris. Kamu punya ambisi besar. Tapi lihat sekarang, kamu cuma jadi asisten ayahku. Melayani kebutuhannya. Mencatat jadwalnya. Membuatkan kopinya.” Kenzie tersenyum sinis. “Aku rasa Alicia benar. Kamu memang tidak punya apa-apa untuk ditawarkan selain… yah, kamu tahu lah. Semuanya terlalu standar.” Raya merasakan sesuatu pecah di dadanya—amarah, sakit hati, malu. Tapi ia tak akan membiarkan Kenzie melihat itu. “Pak Kenzie…” ucapnya pelan namun tajam. “Kalau menurut Anda kemampuan saya hanya sebatas ini—” Ia berhenti sejenak, berdeham untuk menetralkan emosinya. “Berarti saya seharusnya mencoba berhubungan dengan pria yang menganggap saya lebih dari sekadar standar.” Kenzie mengangkat alis, terkejut. “Maksudmu?” Raya tersenyum tipis, berjingkit sedikit, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Kenzie dan berbisik, “mungkin ayah Anda menilai saya lebih tinggi atau lebih spesial daripada Anda. Benar, tidak?” Ia menegakkan tubuhnya kembali tepat saat denting lift terdengar, menandakan mereka telah tiba di lantai tujuan. Raya melangkah keluar tanpa menunggu Kenzie. Sekilas, ia melihat rahang pria itu mengeras, dengan tangan terkepal di sisi tubuhnya.Ibu Ratih duduk di kursi tepat di samping ranjang, tangannya yang mulai keriput namun terasa sangat sejuk terus mengusap jemari Raya yang masih terpasang selang infus. Di sudut ruangan, Dio duduk di sofa, pura-pura asyik dengan ponselnya namun telinganya terpasang lebar-lebar untuk menyimak percakapan ibu dan kakaknya. "Raya... bagaimana awalnya bisa begini? Pak Ares menelepon Ibu kemarin suaranya gemetar, hampir menangis dia. Ibu langsung lemas, jantung Ibu rasanya mau copot," ujar Ibu Ratih dengan nada yang sarat akan kekhawatiran. Matanya yang teduh menatap dalam ke arah Raya, mencari kepastian bahwa putri sulungnya itu benar-benar baik-baik saja. Raya menghela napas panjang, ia menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal yang telah diatur sedemikian rupa oleh Ares tadi. "Maaf ya, Bu, sudah buat Ibu jantungan sampai harus terbang jauh-jauh dari Surabaya." "Jangan minta maaf, ceritakan saja," desak Ratih. "Sebenarnya... aku juga bodoh, Bu," aku Raya pelan, matanya menatap l
"I—Ibu?" Raya mengulang panggilannya dengan suara yang nyaris hilang. Tangannya dengan gemetar menarik kerah baju rumah sakitnya setinggi mungkin. Rasanya ia ingin menghilang dari muka bumi saat itu juga. Ibu Ratih berdiri mematung di ambang pintu, matanya berkedip beberapa kali seolah sedang memproses pemandangan yang baru saja tertangkap indranya. Di belakangnya, David membuang muka ke arah dinding koridor dengan ekspresi yang sangat menderita, sementara si perawat muda di sampingnya sudah menunduk dalam, menatap ujung sepatunya sendiri seakan-akab itu adalah benda paling menarik di dunia. Keheningan yang mencekam itu hanya pecah saat Dio, yang baru saja selesai memarkir mobil, melangkah masuk dengan santai. "Lho, ngapain pada berhenti di pintu? Ayo mas—" Ucapan Dio terhenti. Ia melihat kakaknya, Ares, yang sedang berdiri tegak namun dengan telinga yang memerah, lalu melihat Raya yang sudah separuh bersembunyi di balik bantal. "Kenapa Bu? Bukannya dari kemarin udah gak
"Kamu mau aku jawab jujur kan?" tanya ares pelan dan hati-hati. Kepala Raya otomatis mengangguk-ngangguk. "Janji ya, jangan marah? Aku gak mau kamu stres lagi." Ares menatap kedua mata Raya dalam. Terlihat kedua netra istrinya istrinya itu bergetar, ada kilat keraguan dan ketakutan disana. "Aku janji," jawab Raya pelan. "Begini sayanh," suara Ares terdengar rendah, nyaris seperti gumaman. "Dulu, saat Lulu hamil Kenzie... aku masih sangat muda. Aku sedang gila kerja, sedang membangun fondasi Mahardika Group yang baru raja di alihkan padaku. Jadi aku harus bekerja kerasa agar tidak goyah." Ares menghela napas perlahan. "Saat itu aku memberikan semua fasilitas terbaik, rumah sakit terbaik, dokter terbaik. Tapi aku tidak ada di sana. Aku memberikan uang, tapi tidak memberikan diriku sendiri. Aku tidak pernah memindahkan kamar, memesan kursi roda, bahkan aku jarang sekali mengelus perutnya." Ares menoleh kembali ke arah Raya yang kini matanya berkaca-kaca. "Dan Tania..." Ares men
"David, dengar. Aku tidak mau tahu bagaimana caranya, hubungi orang untuk memindahkan semua furnitur di kamar utama ke kamar tamu besar di lantai satu. Aku tidak mau Raya naik tangga satu langkah pun saat pulang nanti," tegas Ares.Ares masih menempelkan ponsel di telinganya, melangkah mondar-mandir di sudut ruang rawat VVIP dengan nada suara yang rendah namun sarat perintah. Raya hanya bisa bersandar lemah di tumpukan bantal, memperhatikan suaminya yang tampak seperti sedang merencanakan invasi militer daripada sekadar persiapan pulang dari rumah sakit.Raya membelalakkan mata. "Ares, itu berlebihan..." bisiknya, namun suaranya tenggelam oleh titah Ares selanjutnya."Dan satu lagi, pesan kursi roda elektrik yang paling nyaman. Cari yang bantalannya paling empuk. Pasang pegangan tambahan di kamar mandi lantai satu. Oh, dan sewa dua perawat profesional untuk berjaga bergantian di rumah. Aku ingin mereka siap sebelum Raya menginjakkan kaki di teras," lanjut Ares tanpa jeda.David di seb
Setelah dua hari berada di observasi ketat, Raya akhirnya dipindahkan ke ruang rawat VVIP. Kondisinya mulai stabil, namun dokter memberikan syarat mutlak, Raya hanya boleh pulang jika pendarahannya benar-benar berhenti total.Masalahnya, kini bukan lagi pendarahan yang membuat Raya pening, melainkan sikap Ares yang berubah menjadi "polisi penjaga" tingkat tinggi."Ares, aku cuma mau duduk bersandar. Punggungku pegal kalau tidur terus," keluh Raya saat melihat Ares baru saja meletakkan laptopnya di sofa, fokus sepenuhnya kembali pada sang istri."Tidak boleh, Raya. Dokter bilang bed rest. Kata rest itu artinya berbaring, bukan duduk," sahut Ares tegas sambil merapikan selimut Raya hingga sebatas dada."Tapi bersandar di bantal itu tidak akan membuatku lari maraton, Ares! Aku hanya ingin mengganti posisi," Raya mencoba memprotes, tangannya bergerak hendak meraih gelas air di nakas karena tenggorokannya terasa kering.Belum sempat jemari Raya menyentuh gelas itu, tangan Ares sudah lebih
"Dokter, tolong istri saya!" teriak Ares, suaranya menggelegar penuh keputusasaan yang mampu menghentikan aktivitas siapa pun di sana. Ares berlari menyusuri koridor pualam putih itu dengan napas yang memburu tak beraturan. Di dekapannya, tubuh Raya yang lunglai tampak begitu kecil dan rapuh. Kemeja kerja Ares yang mahal kini tak lagi rapi. Noda darah merah pekat membasahi bagian depan pakaiannya, saksi bisu horor yang baru saja ia temukan di lantai kamar mandi. "Cepat, periksa istri saya!" teriak Ares. Beberapa perawat segera berlari membawa brankar dorong. Ares meletakkan Raya dengan sangat hati-hati. "Pak, silahkan menunggu di luar," ujar seorang perawat pria saat mereka sampai di depan pintu Unit Gawat Darurat. "Saya harus masuk, saya suaminya!" Ares mencoba merangsek maju, matanya memerah menahan tangis dan amarah pada dirinya sendiri. "Pak Ares, tolong," David yang baru saja tiba segera menahan pundak tuannya. "Biarkan tim medis bekerja. Anda hanya akan menghambat me







