Mag-log in‘Kenapa aku bisa ada di sini?! Apa ini kamarnya?’
Amelia menunduk, melihat ke balik selimut. Tubuhnya pun dalam kondisi telanjang bulat. Dalam kepalanya mulai berpikir. Berusaha mengingat-ingat. Seketika memori tentang kejadian tadi malam terlintas di kepalanya. Dari awal hingga akhir. Sampai saat dirinya merayu Kayden. Dan berakhir di tempat tidur. Amelia langsung menutup wajahnya. Rasa malu yang begitu dalam menyelimutinya. Membuat Amelia ingin tenggelam ke perut bumi. ‘Aku pasti sudah gila,’ geramnya dalam hati. Tak ingin membuang waktu di sini, Amelia segera turun dari tempat tidur. Namun pinggangnya terasa berdenyut dan pegal. Permainan Kayden semalam sangat ganas Amelia memaksakan diri untuk bergerak diam-diam. Berusaha tak membuat suara agar tak membangunkan Kayden. Dengan gerakan cepat, Amelia mengenakan gaun merah muda yang tergeletak di lantai. Meraih tas kecilnya, dan berjalan tertatih-tatih menuju pintu. Sebelum pergi, masih memastikan Kayden masih tertidur. Kemudian menutup pintu. Di lantai satu, Amelia berjalan mengendap-endap seperti pencuri. Tangannya sudah hampir menyentuh gagang pintu depan. Tapi suara lain dari belakang membuatnya terkejut. “Amel.” Bagai disambar petir di siang bolong. Amelia terdiam, menelan ludah dengan susah payah. Itu adalah suara Karina. “Kamu mau ke mana? Ini masih pagi,” tanya Karina. Sambil mengucek sebelah matanya terkantung-kantung. Perlahan, Amelia menoleh. Memaksakan senyumannya seperti biasa. “M-mau pulang,” jawabnya jadi sedikit terbata-bata. “Bukannya masih libur? Di sini aja dulu. Ngapain di rumah sendiri? Aku juga masuk sif sore.” Amelia hanya menggeleng pelan. “Aku mau cari buku ke perpustakaan kampus. Dah! Pulang dulu, nanti gaunnya aku balikin,” pamitnya. Segera membuka pintu dan keluar dengan langkah tergesa-gesa. Tak ingin Karina mencurigainya. Karina hanya memiringkan kepala. Alisnya mengernyit. “Kenapa jalannya kayak pinguin gitu? Aneh” gumamnya heran. Namun Karina memilih tak menghiraukannya. Sahabatnya itu memang sudah aneh sejak dulu. Tak menyadari apa yang sudah terjadi. Sementara itu, Amelia berjalan dua blok dari rumah Karina. Dia membuka kunci, masuk. Tubuhnya langsung bersandar di balik pintu yang tertutup. Jantungnya masih berdebar kencang bagai drum perang. “Amelia bego! Seganteng semenggoda apa pun Om Kay kenapa malah ngajak dia tidur?!” hardiknya. Sambil memukul-mukul kepala, merutuki kebodohannya sendiri. Perlahan, Amelia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. ‘Moga dia nggak cerita ke Karina,’ batinnya berdoa penuh harap. Bertekad untuk melupakan kejadian semalam, Amelia membersihkan diri dan bersiap untuk pergi ke kampus. Mungkin dengan menyibukkan diri, Amelia bisa mengalihkan pikirannya dari kekacauan yang ia ciptakan. Kampus tampak sepi, masih diliputi suasana liburan semester. Hanya ada segelintir mahasiswa yang terlihat. Amelia langsung menuju perpustakaan. Mencari beberapa buku pemrograman yang ia butuhkan. Lalu memilih tempat duduk di dekat jendela yang diterangi sinar matahari pagi. Amelia berusaha keras untuk fokus pada baris-baris kode di depannya. Tetapi pikirannya terus melayang. Sentuhan serta erangan Kayden semalam terngiang di kepalanya. Bisikan nakal Kayden membuat Amelia kembali berdebar tak karuan. Amelia menjatuhkan kepalanya ke meja, mencoba menghapus ingatan itu. Tapi sia-sia. ‘Dasar duda meresahkan. Kenapa dia hot banget sih!?’ gerutunya dalam hati. Meski malu dan jengkel, tapi Amelia mengakui pesona Kayden yang tak terbantahkan. “Percuma ke perpus. Aku nggak bisa fokus,” gumamnya kesal. Amelia bangkit. Lalu mengembalikan buku-bukunya ke rak. Berjalan keluar dari perpustakaan dengan langkah gontai. Amelia memutuskan untuk pergi ke laboratorium komputer. Teringat bahwa laptopnya tertinggal di rumah Karina. Saat hendak berbelok di ujung lorong, telinganya menangkap obrolan dua orang perempuan. “Sayang banget semalem aku nggak berhasil jebak si Amelia,” gerutu salah satunya. “Oh, ya? Padahal si Rendi udah nunggu di kamar, haha! Kesel banget ama tuh cewek. Suka sok pinter di depan Dosen,” sahut yang lain. Dengan tawa jengkel sekaligus mengejek. Amelia langsung membeku di tempat. Suara mereka terdengar jelas di lorong yang sepi itu. ‘Jadi mereka, yang masukin sesuatu ke minuman aku?’ pikirnya. Kedua tangan Amelia terkepal menahan gejolak amarah dalam dada. Apalagi dia mengenal salah satu dari mereka yang membicarakannya. Sua perempuan itu terus berjalan. Dan akhirnya berpapasan dengannya, wajah mereka berubah pucat. “A-amelia?” ujar Ratina. Suaranya sedikit gagap. Pemilik suara pertama, sekaligus orang yang mengadakan pesta tadi malam. “Cuma karena iri aku lebih pinter, kalian sampe mau jebak aku pakai cara murahan itu?” desis Amelia. Ratina dan temannya langsung bungkam. Saling bertukar pandang dengan panik. Seperti pencuri yang tertangkap basah. Amelia berjalan mendekat. Tatapan tajamnya tertuju pada Ratina. Penuh penghinaan. “Kalau berhasil ngejebak aku, emang kamu dapet apa, Ratina? Nilai kamu jadi A semua, gitu? Kalau bego, ya bego aja,” balasnya. Wajah Ratina memerah karena kesal dan tersinggung. “Heh! Nggak usah sombong ya! Setidaknya aku dari keluarga kaya, bukan orang miskin kayak kam—“ Tapi sebelum Ratina menyelesaikan kalimatnya, Amelia sudah mengangkat tangan. Menghantam pipi Ratina dengan tamparan yang keras. Plak!"Emang kenapa tanya soal wanita itu?" tanya Alvin. Matanya menyipit penuh kecurigaan.Amelia kembali menatapnya, lalu dengan terampil menyunggingkan senyuman seperti biasa. "Nggak ada apa-apa kok. Nanya random aja."Alvin mendengus pelan, keraguan masih tersisa di sorot matanya. Namun, sebelum sempat mengejar pertanyaan lebih lanjut, Satrio kini mendekati meja mereka, membawa nampan berisi pesanan."Silahkan, Kak Alvin. Semoga suka ya," ujar Satrio sambil dengan hati-hati menyajikan minuman dan kue kecil di atas meja.Alvin membalas dengan senyuman kecil yang sopan. "Makasih, ya. Vivian juga katanya suka kue pemberian kamu waktu itu."Satrio langsung berbinar. "Beneran? Syukur, deh. Nanti saya kirim lagi buat Vivian, boleh?"Alvin tak sempat menjawab karena Amelia yang lebih dulu menyahut dengan nada menggoda. "Heh, tukang ngirimnya juga harusnya dapet, dong. Lupa ya siapa yang ngasih ke Pak Alvin?" protes Ameli menggerutu.Satrio menoleh padanya dengan helaan napas. "Iya, iya. Nan
"Em, boleh saya lihat isinya, Pak?" pinta Amelia dengan sopan, menahan getar di suaranya.Tio mengangguk santai dan menyodorkan paper bag itu. "Nih."Amelia memeriksa isinya. Hanya beberapa kotak makanan dan minuman, serta secarik kertas kecil di atasnya.Amelia mengambil kertas itu dan langsung membacanya. Dari samping, Tio pun mengintip, ikut penasaran. Isinya hanya pesan singkat yang manis, tetapi pengirimnya adalah Melissa, mantan istri Kayden.Amelia langsung terdiam di tempat. Dalam hatinya banyak pikiran negatif bermunculan dan rasa penasaran. ‘Kenapa dia ngirim kayak gini?’"Apa mungkin Pak Kayden berhubungan lagi sama mantannya, ya? Sebelumnya juga dia pernah ke sini, sih," celetuk Tio menebak-nebak setelah melihat surat itu.Amelia kembali dikejutkan. Kepalanya refleks menoleh. "Masa?""Iya. Tapi diajak keluar sama Pak Kayden," jawab Tio terlihat meyakinkan. Dia kemudian menggeleng sembari bergumam, "Duh, kirain siapa pacarnya, ternyata mau balikan lagi sama mantan."Amelia
‘Hah? Kenapa dia bisa punya nomor aku?’ Pikiran itu melintas di benak Amelia, membuat kerutan di alisnya.Meski penasaran, Amelia memilih untuk mengabaikannya saja. Tapi beberapa saat kemudian, pesan dari Melissa terus berdatangan, mengirim ancaman serta kata-kata yang cukup kasar.“Heh bocah! balas pesan saya! Saya tau kamu kerja jadi babu di rumah Kayden. Jadi saya bisa datangi kamu kapan aja!”Itu sepenggal dari banyaknya pesan yang Melissa kirim. Amelia hanya bisa mendengus sembari men-silent ponselnya, daripada terus terganggu.Namun Kayden tentu menyadari suara notifikasi itu hingga membuatnya penasaran. "Siapa?" tanya Kayden, pandangannya masih tertuju ke jalan.Amelia menoleh dengan senyuman tipis yang dipaksakan. "Cuma pesan grup kelas. Lagi rame, biarin aja. Kamu mau sarapan apa nanti? Atau bekel?" ucapnya dengan alami mengalihkan pembicaraan."Nggak usah. Aku bisa makan di kantor," jawab Kayden.Amelia mengangguk paham. Mereka kembali berbincang hal lain selama perjalanan
"K-Kay. Ada nenek, gimana dong?" bisik Amelia terdengar panik.Belum sempat Kayden menjawab, kini suara Rania semakin mendekat seolah dia sudah masuk ke dalam kamar itu."Amel. Kamu lagi mandi, ya?"Amelia menelan ludah. Dengan sangat terpaksa dia menjawab. "I-iya, nek."Kayden di depannya malah terlihat santai, karena dia tahu pintu kamar mandi sudah dia kunci. Namun, wajah panik Amelia terlihat lucu baginya. Dengan jahil, dia mulai menggerakkan pinggulnya agar kembali bergerak."Ahh—hmph!" Amelia sempat mendesah kaget, namun dengan cepat dia menutup mulutnya."Kenapa, Amelia?" tanya Rania di luar sana dengan nada khawatir.Kayden masih menggerakkan tubuh Amelia, hingga membuat Amelia kesal. Tapi dia harus menahan agar tidak membuat suara yang mencurigakan."I-iya. Nggak apa-apa, nek. Aku cuma kepeleset. Ada apa?" sahut Amelia, dengan suara tersengal berusaha sebiasa mungkin."Nenek lupa ngasih kamu baju ganti buat tidur. Nenek taruh di kasur, ya," jawab Rania.Amelia mencoba menarik
"Janji? Janji apa?" tanya Amelia heran.Kayden merengus sebal. "Masa kamu lupa? Kamu bilang nanti aja setelah bimbingan, sekarang udah beres, kan?"Amelia mengangguk baru teringat. Namun ia tetap menolak. "Ya itu kan kalau di rumah, Kay. Kalau di sini rumah orang tua kamu.""Nggak ada bedanya. Untung di kamar ini ada kamar mandi dalamnya. Udah lama kita nggak mandi bareng, kan?" sahut Kayden dengan santai. Kedua tangannya perlahan mulai menanggalkan pakaiannya.Wajah Amelia merona. Langsung memalingkan pandangan."Untung apanya? Pakai lagi baju kamu!"Kayden tak mendengarkan, dan benar-benar sudah telanjang bulat sekarang. Dia menarik Amelia yang tak mau menatapnya."Janji tetap janji, Amel," ucapnya bersikeras, dengan cepat menariknya ke dalam bathtub yang sudah terisi air."Kyaa!" teriak Amelia kaget. Kakinya sedikit terpeleset dan akhirnya jatuh di atas tubuh Kayden.Kedua tangan Kayden memeluk Amelia dengan erat dari belakang."Kay! Handuk aku jadi ikut basah, ih!" gerutu Amelia s
"Pacarnya Om Kayden, ya? Em, kayaknya belum pernah lihat, nek," jawab Amelia dengan senyuman tipis terdengar meyakinkan.Rania menghela napas panjang sembari menggerutu. "Haish. Gitu, ya. Emang nyebelin si Kayden itu. Kalau gitu kalian nginep aja di sini, ya."Kayden langsung mengernyit. "Nggak. Besok aku harus kerja.""Kan bisa berangkat dari sini. Ibu udah ditinggal suami, masa anak juga? Mana nggak nurut lagi padahal cuma minta dikenalin calon mantu," balas Rania dengan sedikit dramatis.Kayden mendengus sembari memutar bola matanya ke atas."Iya, iya! Kita nginep di sini," jawabnya menurut agar Rania tak mengomel lagi."Gitu dong." Rania mengangguk puas. Hingga akhirnya sebuah pemikiran liar muncul di kepalanya. "Tapi kenapa sih kamu nggak mau ngenalin? Jangan-jangan pacar kamu itu cowok ya, Kay?"Mendengar hal itu, Kayden hampir tersedak. "Apa sih, Bu? Kok nuduh gitu?!""Ya, lagian kamu tiap dijodohin nolak mulu. Sekarang punya pacar nggak mau dikenalin. Berarti pacar kamu—"Belu







