Share

Bab 6 ー Hadapi

Author: Papa Buaya
last update Last Updated: 2025-11-13 09:19:06

“Enggak usah bawa-bawa orang tua, Ratina,” desis Amelia.

Ratina terdiam sejenak, kaget oleh tamparan itu. Dia tak sempat mengelak.

Teman di sampingnya mendengus marah.

“Heh, Amel! Beraninya nam—”

Namun Amelia tak memberinya kesempatan.

“Minggir! Nggak usah ikut campur,” katanya tegas.

Lalu mendorongnya menjauh. Matanya kembali menatap Ratina.

“Aku kira setelah Karina lulus, kita bisa jadi teman ngobrol. Ternyata kamu cuma teman munafik,” geram Amelia.

Senyum sinis muncul di bibirnya. Sambil melipat kedua tangan dengan tatapan merendahkan.

“Bangga kamu punya orang tua kaya? Tapi akhirnya tetap telat masuk kuliah kayak aku. Artinya kamu gagal terus waktu tes masuk, kan?”

Ratina seketika melotot marah mendengarnya. Namun tak bisa menyangkal kata-kata itu.

“Jangan main-main sama aku, Amel. Papa aku Manajer di perusahaan besar,” balasnya.

Dengan menaikkan dagunya seolah balik menantang. Menonjolkan keunggulannya.

Amelia mendengus jengkel. Tapi dia juga lelah jika terus melayani orang yang tak mau kalah sepertinya.

“Ya, ya mau Papamu Direktur atau Presiden pun terserah.”

Amelia berbalik, mengibaskan tangannya acuh.

“Urus aja nilai IPK kamu yang anjlok itu. Kamu ke sini pasti buat nilai tambahan, kan? Kesian,” lanjutnya.

Sambil melangkah pergi. Tak henti-hentinya melayangkan ejekan.

Rahang Ratina mengeras. Benar-benar emosi mendengarnya.

“Amelia!” teriaknya.

Hendak mengejar. Namun temannya segera menahan.

“Udah biarin. Malu diliat orang,” bisiknya.

Ternyata beberapa orang mulai berdatangan dan melewati mereka.

Ameelia sengaja pergi lebih dulu karena menyadari sekitar. Dia memilih naik ke lantai dua.

Di salah satu ruang lab komputer yang kosong, Amelia duduk dan menyalakan layar.

Amelia sempat mengikutsertakan game hasil ujian semester kemarin di salah satu perlombaan kecil. Yang diadakan oleh Akarin, sebuah organisasi game developer yang cukup terkenal.

Meski kali ini hanya sebagai percobaan. Sejak dulu, Amelia sangat ingin menjadi seorang game developer.

Dan kebetulan hari ini adalah pengumumannya. Amelia ingin memeriksa apakah dirinya beruntung.

Saat melihat di website Akarin, masih belum ada pengumuman apa pun.

‘Apa nanti siang, ya?’ pikirnya.

Hingga tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang.

“Wah. Kamu ikut lomba di Akarin ya?”

Amelia trsentak. langusng menoleh ke sumber suara. Dia tak sadar dengan kedatangannya.

Seorang pria berkemeja biru langit berdiri di belakangnya.

Amelia mengernyit. “Siapa ya?”

“Oh, maaf,” katanya. Lalu mengulurkan tangan.

“Saya Alvin. Dosen baru di fakultas teknik informatika.”

Amelia mengangguk pelan. Pantas saja tak pernah melihatnya, ternyata Dosen baru.

“Saya Amelia, Pak,” jawabnya membalas jabat tangan itu.

Alvin terdiam sejenak, menatapnya cukup lekat.

“Maaf, bapak mau pakai ruangannya ya?” tanya Amelia.

Seketika Alvin tersadar dari lamunan. Lalu tersenyum tipis.

“Nggak, kok. Kebetulan aja lewat liat banner yang saya buat.”

Amelia memiringkan kepalanya bingung.

“Banner?”

Alvin mengangguk yakin.

“Iya. Saya anggota Akarin. Ikut jadi panitia perlombaan itu,” jawabnya sambil menunjuk ke layar di belakang Amelia.

Sontak Amelia menutup mulutnya tak percaya.

“Oh ya?! Terus siapa yang menang, Pak?”

Alvin hendak membuka mulut. Namun ponsel di saku Amelia berdering.

Nama di layar membuatnya membelalakkan mata.

‘Om Kayden?!’ batinnya kaget. ‘Ngapain dia nelpon?’

Amelia ragu menerimanya. Memilih menolak panggilan itu. Dan kembali fokus pada pria di depannya.

“Gimana Pak? Siapa yang menang?”

Tapi ponselnya kembali berdering. Mengacaukan pembicaraannya.

Alvin terkekeh pelan.

“Angkat aja. siapa tau penting.”

Amelia menggeleng cepat.

“Sekarang lebih penting Pak! Tolong kasih tau saya,” ucapnya dengan mata berbinar.

Alvin menahan senyuman saat melihat reaksinya yang bersemangat. Dalam hati jadi ingin menjahilinya.

“Maaf ya. Saya dilarang ngasih bocoran. Tapi nanti jam sepuluh hasilnya diumumkan, kok.”

Mendengar hal itu, Amelia menunduk kecewa. Dan lagi-lagi ponsel di tangannya bergetar.

‘Astaga dia mau apa sih?!” geram Amelia dalam hati.

Wajahnya masih tetap tersenyum tenang.

“Maaf, Pak. Saya permisi angkat telepon,” pamitnya.

Alvin mengangguk pelan. “Silahkan.”

Amelia berbalik mematikan komputer dengan cepat. Lalu keluar ruangan.

Dengan langkah yang sedikit dihentakkan. Seolah melampiaskan kejengkelannya.

Amelia bergegas pergi ke toilet wanita. Di sana sepi dan tidak ada siapa pun.

Kemudian dengan sangat terpaksa menerima panggilan itu.

“Halo.”

Jantungnya sedikit berdebar. Antara penasaran dan takut dengan apa yang dikatakan Kayden.

“Cepet keluar. Aku tunggu di dekat gerbang.”

Hanya kalimat singkat itu. Dan panggilan pun berakhir begitu saja.

Itu bukan permintaan. Tapi terdengar seperti perintah.

Amelia terpaku, menatap layar ponselnya tak percaya.

Kemudian menunduk sambil memegang kepalanya.

‘Aku harus gimana kalau ketemu dia?’ pikirnya.

Namun jika terus seperti ini. Amellia juga takut jika Kayden akan memberitahu Karina.

Akhirnya kembali bangkit.

‘Ini salahmu juga, Amel. Harus kamu hadapi,’ batinnya bertekad.

Amelia berjalan keluar dengan langkah berani. Dia berjalan menuju gerbang kampus.

Di sana, mobil hitam mengilap sudah menunggu. Kayden berdiri di sampingnya. Bersandar santai, dengan pakaian semi formal.

Membuatnya terlihat lebih tampan dan berkarisma.

Bahkan beberapa perempuan yang lewat curi-curi pandang ke arahnya. Kayden selalu bisa membuat perempuan terpesona di mana pun dia berada.

Seketika Aemlia ciut dan langsung bersembunyi di balik pohon. Keberaniannya tadi seketika hilang.

‘Aku harus nyamperin dia? Padahal udah beberapa kali Om Kay ke kampus jemput Karina dulu. Tapi kenapa sekarang kayak beda ya rasanya,’ batinnya ragu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 200 — Akhir

    ‘Padahal aku udah bertekad merelain kamu. Tapi lihat kamu sama pria lain, ternyata masih terasa sakit,’ batin Alvin.Alvin tetap datang sebagai hubungan baiknya dengan Nathan, dan juga Amelia adalah mahasiswanya yang membanggakan.Tapi perasaan yang pernah Alvin rasakan pada Amelia membuatnya merasa berat berada di ruangan itu. Namun dia tetap menahannya, dan bersikap sebiasa mungkin.Usai upacara pernikahan dilaksanakan, semua para tamu undangan dan pengantin beralih ke aula resepsi yang ada di ruang sebelah.Tak banyak teman-teman Amelia yang diundang, hanya mereka yang paling dekat dengannya saja. Salah satunya adalah Satrio."Amel, sayangku! Selamat, ya!"Pria yang dulunya gemulai itu kini menangis terharu saat menemui Amelia di pelaminan.Satrio hendak memeluk Amelia, tapi dengan cepat Kayden menahannya. "Udah, di situ aja. Jangan peluk-peluk."Sudah sejak lama Kayden waspada dengan kedekatan Amelia dan Satrio. Apalagi Satrio selalu memanggil Amelia dengan sebutan sayang.Satrio

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 199 — Pernikahan

    "Mempelai wanita memasuki ruangan!" suara seorang MC terdengar lantang dari dalam ruangan.Pintu di hadapan Amelia terbuka. Refleks dia menutup mulut, lalu fokus menatap ke depan.Di dalam ruangan, tampak beberapa tamu undangan turut hadir. Amelia sontak kembali terkejut. Dalam hati dia bergumam.‘Kirain cuma keluarga aja. Mereka juga undang tamu?’Tapi yang datang saat ini adalah teman-teman Amelia. Lalu beberapa rekan kerja Kayden, serta kolega dari kedua orang tua mempelai.Tak sempat mempertanyakan rasa penasaran Amelia, Nathan sudah berbisik padanya. "Ayo, Amelia."Amelia tersentak, tersadar dari rasa terkejutnya. Dia perlahan mulai melangkah bersama ayahnya.Dan di altar pernikahan, mempelai pria sudah siap dengan tuxedonya. Bunga di dada kiri Kayden dan tatapan rambut yang membuatnya terlihat lebih tampan.Tamu undangan di sekitar pun menatap kaget ke arah Amelia. Mereka tampak tak menyangka bahwa orang yang dinikahi Kayden adalah Amelia."Wah, gila. Kirain siapa pacarnya Pak K

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 198 — Tugas Pertama Dan Terakhir

    "Kenapa jadi aku?"Amelia terlihat semakin kebingungan. Dan ekspresi wajahnya itu membuat mereka yang ada di sana menahan tawa. Lucu juga melihatnya kebingungan.Nathan di samping Amelia akhirnya bersuara. "Ini udah kami siapin dari bulan-bulan kemarin. Mungkin beberapa hari setelah jemput kamu."Alis Amelia bertaut. Dia mengerjap, masih tak percaya dengan apa yang ia dengar."Udah, sekarang mending kamu siap-siap," ujar Rania memutuskan.Karina pun ikut menambahkan. Dia menarik tangan Amelia untuk duduk di kursi meja rias."Nanti keburu siang. Kamu harus dandan cantik, dong." Pandangan Karina beralih pada orang tua dan sepupu Amelia. "Kalian juga ganti baju dulu. Udah disiapin di ruang sebelah."Aurel membalas dengan senyuman tipis. "Terima kasih ya, Karina."Keluarga Amelia berjalan keluar dari ruangan.Noel yang akhirnya paham apa yang terjadi bergumam pelan dalam hati. ‘Pantes aja aku nggak dikasih tau. Pasti langsung ngasih tau Kak Amelia sih kalau tau.’Seorang perias kemudian m

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 197 — Permintaan Maaf

    "Hah? Apa tuh maksudnya?" tanya Karina keheranan, terdengar tak terima. "Ya harus jadilah!""Ini misalkan aja," ucap Kayden sedikit merapalkan perkataannya.Karina langsung membalas penuh penekanan. "Nggak bisa, tetap harus jadi! Nggak ada lagi perempuan yang bisa aku restuin buat nikah sama Papa kecuali Amelia. Titik!"Kayden mengerjap pelan, namun akhirnya tertawa kecil. Dia sedikit terhibur mendengar dukungan putrinya."Ya udah. Makasih, ya," katanya sembari mengusap pelan rambut Karina. "Kamu tidur aja sana. Papa mau istirahat."Karina akhirnya mengangguk. Dia berdiri dan berjalan keluar dari kamar ayahnya.Keesokan paginya, Kayden menjalani hari-hari seperti biasa. Dia tengah memasak sarapan untuk dirinya dan putrinya. Tapi setiap berkumpul di meja makan, seperti ada yang kurang.Setelah kepergian Amelia, di rumah mereka kembali terasa sepi. Tapi Kayden tetap berusaha untuk terbiasa.Di saat Kayden sibuk memasak, terdengar teriakan Karina yang memanggil."Papa!"Kayden menoleh da

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 196 — Kelayakan

    'Jadi karena mereka, aku nggak bisa ketemu sama Kay?' gumam Amelia pada dirinya sendiri.Dalam hati terasa berdenyut sakit mendengar hal ini. Amelia tak menyangka orang tuanya sendiri yang menjauhkan Kayden darinya.Tak ingin menyimpan kekesalannya sendiri, Amelia langsung menghampiri kedua orang tuanya."Maksudnya Mama tadi apa, ya?" tanyanya tanpa basa-basi.Kedua orang tua itu tersentak kaget. Aurel terbata-bata. "A-Amel. Kamu nggak ke kantor kamu?""Aku tanya, maksud omongan Mama tadi apa?" Amelia mengulangi kalimatnya, tak peduli dengan pertanyaan Aurel. "Kalian yang bikin aku nggak bisa ketemu sama Kayden?"Wajah Amelia sedikit memerah, matanya melotot marah. Aurel menelan ludah, dan langsung menatap suaminya, seolah meminta bantuan.Karena sudah terlanjur ketahuan, Nathan akhirnya berdiri. Dia menghampiri Amelia dan mengulurkan tangannya."Nak, dengerin dulu—"Tapi Amelia menepis tangan ayahnya. Wajahnya tampak tak akan mempan dengan bujukan."Aku cuma mau penjelasan!"Nathan m

  • Menggoda Ayah Sahabatku   Bab 195 — Menjauh

    "Nggak, kok. Dia nggak bisa dateng karena kerjaan," sahut Amelia dengan nada keheranan. "Dia nggak bilang apa pun ke kamu?"Karina segera menggeleng sebagai jawaban. Amelia kembali terdiam. Alisnya mengerut, berpikir keras.Rian, melihat situasi yang canggung dan membingungkan ini segera menyela. "Ekhem, ini ada bingkisan, Mel. Saya kut seneng kamu bisa ketemu orang tua kamu."Rian mencoba mengalihkan perhatian. Amelia pun kembali fokus pada tamunya. Bibirnya mengulas senyuman tipis."Oh, iya. Makasih, Kak." Amelia kemudian menoleh pada sepupunya. "Noel, ajak Karina sama Kak Rian ke halaman belakang, ya. Aku mau bawa minuman dulu."Noel mengangguk dan membawa mereka menuju halaman belakang, walau terlihat ekspresi Rian waspada pada pemuda itu. Dengan posesif dia merangkul Karina di sampingnya.Di halaman belakang, orang tua Amelia menyambut Karina dan Rian dengan ramah.Sedangkan Amelia, dia pergi ke dapur bukan untuk mengambil minuman dulu, melainkan mengeluarkan ponselnya. Perasaann

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status