แชร์

Bab 4 Pemakaman Yang Sepi

ผู้เขียน: Manila Z
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-22 09:24:23

Langit pagi tampak kelabu. Awan hitam menggantung di atas pemakaman umum yang terletak di pinggiran kota. Angin berembus pelan, membawa suasana duka yang semakin terasa menyesakkan.

Di depan sebuah liang lahat yang masih terbuka, beberapa orang berdiri dengan pakaian serba hitam. Namun jumlah mereka sangat sedikit.

Bahkan tidak sampai dua puluh orang.

Beberapa adalah tetangga lama yang mengenal Lunaya sejak kecil. Ada pula beberapa karyawan yang pernah bekerja bersamanya. Selebihnya hanyalah orang-orang yang datang karena merasa tidak enak hati. Tidak ada keramaian.

Tidak ada pelayat yang berdesakan. Tidak ada orang penting yang hadir untuk mengantar kepergiannya. Pemakaman itu berlangsung begitu sederhana.

Seolah hidup Lunaya yang selama ini penuh pengorbanan tidak meninggalkan jejak berarti bagi dunia.

"Kasihan sekali."

Seorang wanita paruh baya berbisik kepada temannya.

"Iya. Padahal dia istri keluarga Mahendra."

"Katanya suaminya pengusaha besar, kan?"

"Benar."

"Lalu kenapa yang datang sedikit sekali?"

Wanita itu menggeleng pelan.

"Entahlah."

Mereka saling berpandangan. Sulit dipercaya karena nasibnya begitu sangat buruk.

Selama bertahun-tahun Lunaya dikenal sebagai istri Edward Mahendra, pewaris perusahaan besar yang namanya cukup disegani.

Namun saat wanita itu meninggal, tidak ada kemegahan yang menyertai kepergiannya.

Bahkan banyak orang dari keluarga Mahendra yang tidak hadir. Seolah kematian Lunaya bukanlah sesuatu yang penting.

Tak jauh dari sana, Edward berdiri dengan wajah datar. Pria itu mengenakan setelan hitam rapi.

Tatapannya tertuju pada peti mati yang perlahan diturunkan ke dalam liang lahat.

Entah mengapa suasana di tempat itu terasa asing baginya. Beberapa hari terakhir semuanya terjadi begitu cepat.

Rumah sakit menghubunginya. Menyampaikan kabar bahwa Lunaya telah meninggal dunia. Kemudian proses pemakaman diurus. Dan sekarang dia berdiri di sini. Mengantar kepergian wanita yang selama ini menyandang status sebagai istrinya.

Namun anehnya, Edward tidak merasakan apa pun Atau mungkin. Dia belum menyadarinya.

"Edward."

Suara lembut membuatnya menoleh. Selena berdiri di sampingnya. Wanita itu mengenakan pakaian hitam dengan riasan wajah yang tampak sedih.

"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya.

Edward mengangguk singkat.

"Aku baik-baik saja."

Jawaban itu terdengar dingin. Selena kemudian menggenggam lengannya.

"Kak Lunaya pasti sudah tenang sekarang."

Edward hanya diam. Pandangannya kembali tertuju pada makam tersebut. Untuk pertama kalinya sejak datang ke sana, dia mulai memperhatikan sesuatu.

Tidak ada foto besar dirinya bersama Lunaya. Tidak ada kenangan yang ditampilkan. Tidak ada siapa pun yang menangis histeris. Kepergian Lunaya terasa begitu sunyi. Begitu sepi. Seolah wanita itu menjalani hidupnya tanpa pernah benar-benar dimiliki siapa pun.

Dan untuk alasan yang tidak dia pahami, dadanya terasa sedikit tidak nyaman. Sementara itu, hujan rintik-rintik mulai turun.

Orang-orang perlahan meninggalkan area pemakaman. Satu per satu pergi setelah memberikan doa terakhir.

Tak lama kemudian, hanya tersisa beberapa orang saja. Bahkan keluarga Mahendra memilih pulang lebih dulu.

"Sudahlah, ayo kita kembali," kata Selena pelan.

Edward mengangguk. Dia melangkah meninggalkan makam itu tanpa menoleh lagi. Tidak ada yang menyadari bahwa saat itu, dari tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun, Lunaya berdiri memandang semuanya.

Tubuhnya terasa ringan. Seolah tidak lagi memiliki wujud. Dia melihat prosesi pemakamannya sendiri.

Melihat orang-orang yang datang. Dan melihat orang-orang yang pergi. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Jadi beginikah akhirnya?

Setelah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk keluarga Mahendra. Hanya sedikit orang yang datang mengantarkannya.

Lunaya menundukkan pandangan. Lalu matanya tertuju pada sosok Edward yang berjalan pergi bersama Selena.

Tidak ada kesedihan di wajah pria itu. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Ia bahkan tidak bertahan lebih lama di makam istrinya.

Hati Lunaya terasa semakin perih. Bahkan setelah kematian pun. Dia tetap kalah dari Selena.

Tak lama kemudian, area pemakaman menjadi hampir kosong.

Hanya suara hujan dan angin yang terdengar. Lunaya mengira semuanya sudah berakhir. Namun saat itulah sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari makamnya. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun dengan langkah tergesa. Pria itu mengenakan jas hitam yang basah terkena hujan. Wajahnya tampak pucat.

Dan matanya penuh kepanikan.

Lunaya membeku. Ia mengenali sosok itu.

"Evano."

Pria yang selama ini selalu terlihat dingin dan sulit didekati. Mengapa dia ada di sini?

Lunaya yang kini hanya menjadi bayangan sulit ditembus itu melihat sosok Evano. Dia tidak menyangka kalau pria itu akan datang ke pemakaman dirinya.

Evano berjalan cepat menuju makam yang baru saja ditinggalkan semua orang. Tatapannya langsung tertuju pada nisan yang masih basah.

Ketika membaca nama yang terukir di sana, tubuhnya mendadak membeku.

Seolah dunia berhenti berputar. Lunaya melihat kedua tangan pria itu mengepal kuat. Dia menyadari kalau Evano tengah menahan emosinya ketika melihat nisan dirinya dengan pandangan sedih.

Rahangnya mengeras. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia melihat kesedihan yang begitu dalam di mata Evano.

"Kenapa Evano," gumam Lunaya heran ketika melihat Evano yang justru bersedih melihat makamnya. Apa selama ini dia yang salah paham dengan Evano. Pria dingin yang tampak tidak peduli dan sinis padanya selama ini setelah dia menikah dengan Edward, seketika bisa menangis melihat nisannya.

"Evano."

Kesedihan yang bahkan tidak dia temukan di wajah Edward saat pemakaman berlangsung. Lunaya terdiam. Entah mengapa hatinya mulai berdebar. Dan tanpa dia sadari, pertemuan terakhir yang tidak pernah sempat terjadi semasa hidup akan segera mengungkap sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi.

"Jika aku diberikan kesempatan kembali, aku akan memulai semuanya, mencintai kamu, Evano."

BERSAMBUNG

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 66 Edward Marah

    Edward masih berdiri di depan bangunan tua itu dengan wajah penuh amarah. Tatapannya bergantian mengarah kepada Evano dan Lunaya.Sementara Karina terlihat jauh lebih gelisah. Dia tidak menyangka adiknya akan mengetahui rencana mereka secepat ini."Kak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Evano, menatap Karina tajam.Karina mengalihkan pandangan."Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."Evano tertawa kecil tanpa menunjukkan sedikit pun rasa geli."Tidak tahu?"Dia mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan tangkapan layar pesan yang diterima Lunaya."Kalau begitu, bagaimana kamu menjelaskan ini?"Karina terdiam. Lunaya yang berdiri di samping Evano akhirnya ikut berbicara."Kak Karina, seseorang mengirimiku pesan dan menyuruhku datang ke tempat ini. Dia mengatakan akan menunjukkan sesuatu tentang Evano."Karina menatap Lunaya."Aku tidak mengirim pesan apa pun kepadamu.""Aku tidak mengatakan Kakak yang mengirimnya."Lunaya menjawab dengan tenang."Tapi aku ingin tahu kenapa Kakak a

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 65 Rencana Gagal

    Pagi itu, Lunaya masih memikirkan pesan misterius yang diterimanya semalam.Dia duduk di ruang keluarga rumah Nenek Niar sambil memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut menyebutkan bahwa seseorang akan menunjukkan bukti mengenai rahasia yang disembunyikan Evano.Awalnya, Lunaya tidak berniat menanggapi pesan itu. Namun, setelah berbicara dengan Evano, dia mulai menyadari bahwa mereka harus mencari tahu siapa orang yang berada di balik semua ancaman tersebut.Terlebih, orang itu seolah mengetahui setiap pergerakan mereka.Tidak lama kemudian, Evano datang menghampirinya."Kamu masih memikirkan pesan itu?" tanyanya.Lunaya mengangguk."Aku penasaran siapa yang mengirimnya."Evano duduk di sampingnya."Aku juga."Lunaya menatap pria itu."Kalau kita terus menunggu, bagaimana kalau mereka justru melakukan sesuatu kepada Nenek Niar?"Ekspresi Evano berubah serius."Itu sebabnya aku ingin menyelesaikan masalah ini."Lunaya terdiam sejenak.Kemudian dia mengangkat ponselnya."Bagaimana kal

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 64 Pesan Tersembunyi

    Lunaya masih memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut membuat pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.Apa yang sebenarnya disembunyikan Evano darimu?Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Namun kali ini Lunaya tidak berniat menyelidikinya sendirian. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mencari Evano. Tidak butuh waktu lama sampai dia menemukannya di ruang kerja.Evano sedang berbicara melalui telepon ketika Lunaya muncul di depan pintu. Tatapan Evano langsung tertuju kepadanya.Dia menyelesaikan pembicaraan singkatnya, lalu meletakkan ponsel."Ada apa?"Lunaya berjalan mendekat."Aku mendapat pesan lagi."Ekspresi Evano langsung berubah."Dari nomor yang sama?""Bukan."Lunaya menyerahkan ponselnya kepada Evano untuk memberitahu apa yang dia lihat. Evano membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. "Aku sudah bilang, jangan pernah datang sendiri.""Aku tahu."Lunaya duduk di hadapannya. Dia tahu kalau orang itu pasti merencanakan sesuatu. Dia tid

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 63 Hampir Ketahuan

    Evano masih memegang ponselnya setelah membaca pesan dari anak buahnya. Wajahnya terlihat serius. Lunaya yang duduk di sampingnya ikut memperhatikan perubahan ekspresi pria itu. "Siapa yang mengikuti kita?" tanyanya. "Belum diketahui." "Terus bagaimana?" tanya Lunaya kini menatap kearah Evano dengan khawatir. "Aku sudah meminta mereka mencari tahu." Lunaya terdiam. Untuk beberapa saat, suasana di ruang keluarga Nenek Niar terasa hening. Kemudian Lunaya menghela napas. "Evano." Lunaya memanggil Evano. "Hm?" "Menurutmu, semua ini ada hubungannya dengan Karina?" tanya Lunaya mulai cukuo ga. Pertanyaan itu membuat Evano menatapnya. Dia baru kepikiran dengan Kakaknya. Terlebih dia tahu kalau Edward memang sekarang tengah dekat dengan Kakaknya. "Kenapa kamu berpikir begitu?" "Karena pesan pertama menyuruhku menjauh darimu. Lalu ada pesan yang menyuruhku bertanya tentang Karina." Lunaya menunduk. "Dan sekarang ada orang yang mengikuti kita." Evano tidak lan

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 62 Evano Menyelidiki

    Evano masih menatap layar ponsel Lunaya.Alamat yang dikirimkan nomor tidak dikenal itu terlihat seperti sebuah bangunan lama yang berada cukup jauh dari pusat kota."Berikan aku waktu sebentar," ucap Evano.Lunaya mengangguk.Evano segera menghubungi salah satu orang kepercayaannya."Periksa alamat ini."Dia menyebutkan alamat tersebut."Jangan datang terlalu dekat. Aku ingin tahu siapa pemilik tempat itu, siapa yang sering datang ke sana, dan apakah ada orang yang mengawasi lokasi tersebut."Setelah menerima jawaban, Evano menutup panggilan.Lunaya menatapnya."Kamu curiga?""Sangat.""Karena pesan itu?""Bukan hanya karena pesannya."Evano duduk di samping Lunaya."Orang yang benar-benar ingin memberitahumu sesuatu tidak akan memintamu datang sendirian dan melarangmu memberitahuku."Lunaya terdiam.Ucapan itu memang masuk akal."Aku juga berpikir begitu."Evano menatapnya."Jadi, jangan pergi ke mana pun sebelum aku tahu siapa yang mengirimnya."Lunaya mengangguk."Baik."Di tempat

  • Mengubah Takdir Lunaya    Bab 61 Rencana Menjebak

    Bab 61Lunaya masih menatap layar ponselnya.Alamat yang dikirimkan oleh nomor tidak dikenal itu terasa begitu mencurigakan.Terlebih ada satu kalimat yang membuatnya semakin waspada.Jangan beri tahu Evano.Lunaya menghela napas panjang."Kenapa selalu seperti ini..."Sejak kembali ke masa lalu, hidupnya memang berubah drastis. Namun, semakin dia berusaha menjauh dari masalah, semakin banyak orang yang justru mencoba menariknya kembali.Lunaya akhirnya menyimpan ponselnya. Dia tidak akan langsung pergi. Setidaknya, tidak tanpa mencari tahu terlebih dahulu.Lunaya tidak akan memberitahu Evano, tetapi kenapa perasaan dirinya malah tidak nyaman. "Bagaimana kalau ini hanya jebakan saja?" Batin Lunaya. ***Sementara itu, di sebuah ruangan yang berbeda, Edward sedang duduk berhadapan dengan Karina.Karina meletakkan ponselnya di atas meja."Pesannya sudah dikirim."Edward tersenyum karena sebentar lagi rencana dirinya dengan Karina akan berhasil. bagaimana pun Lunaya harus kembali menjadi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status