เข้าสู่ระบบLangit pagi tampak kelabu. Awan hitam menggantung di atas pemakaman umum yang terletak di pinggiran kota. Angin berembus pelan, membawa suasana duka yang semakin terasa menyesakkan.
Di depan sebuah liang lahat yang masih terbuka, beberapa orang berdiri dengan pakaian serba hitam. Namun jumlah mereka sangat sedikit. Bahkan tidak sampai dua puluh orang. Beberapa adalah tetangga lama yang mengenal Lunaya sejak kecil. Ada pula beberapa karyawan yang pernah bekerja bersamanya. Selebihnya hanyalah orang-orang yang datang karena merasa tidak enak hati. Tidak ada keramaian. Tidak ada pelayat yang berdesakan. Tidak ada orang penting yang hadir untuk mengantar kepergiannya. Pemakaman itu berlangsung begitu sederhana. Seolah hidup Lunaya yang selama ini penuh pengorbanan tidak meninggalkan jejak berarti bagi dunia. "Kasihan sekali." Seorang wanita paruh baya berbisik kepada temannya. "Iya. Padahal dia istri keluarga Mahendra." "Katanya suaminya pengusaha besar, kan?" "Benar." "Lalu kenapa yang datang sedikit sekali?" Wanita itu menggeleng pelan. "Entahlah." Mereka saling berpandangan. Sulit dipercaya karena nasibnya begitu sangat buruk. Selama bertahun-tahun Lunaya dikenal sebagai istri Edward Mahendra, pewaris perusahaan besar yang namanya cukup disegani. Namun saat wanita itu meninggal, tidak ada kemegahan yang menyertai kepergiannya. Bahkan banyak orang dari keluarga Mahendra yang tidak hadir. Seolah kematian Lunaya bukanlah sesuatu yang penting. Tak jauh dari sana, Edward berdiri dengan wajah datar. Pria itu mengenakan setelan hitam rapi. Tatapannya tertuju pada peti mati yang perlahan diturunkan ke dalam liang lahat. Entah mengapa suasana di tempat itu terasa asing baginya. Beberapa hari terakhir semuanya terjadi begitu cepat. Rumah sakit menghubunginya. Menyampaikan kabar bahwa Lunaya telah meninggal dunia. Kemudian proses pemakaman diurus. Dan sekarang dia berdiri di sini. Mengantar kepergian wanita yang selama ini menyandang status sebagai istrinya. Namun anehnya, Edward tidak merasakan apa pun Atau mungkin. Dia belum menyadarinya. "Edward." Suara lembut membuatnya menoleh. Selena berdiri di sampingnya. Wanita itu mengenakan pakaian hitam dengan riasan wajah yang tampak sedih. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya. Edward mengangguk singkat. "Aku baik-baik saja." Jawaban itu terdengar dingin. Selena kemudian menggenggam lengannya. "Kak Lunaya pasti sudah tenang sekarang." Edward hanya diam. Pandangannya kembali tertuju pada makam tersebut. Untuk pertama kalinya sejak datang ke sana, dia mulai memperhatikan sesuatu. Tidak ada foto besar dirinya bersama Lunaya. Tidak ada kenangan yang ditampilkan. Tidak ada siapa pun yang menangis histeris. Kepergian Lunaya terasa begitu sunyi. Begitu sepi. Seolah wanita itu menjalani hidupnya tanpa pernah benar-benar dimiliki siapa pun. Dan untuk alasan yang tidak dia pahami, dadanya terasa sedikit tidak nyaman. Sementara itu, hujan rintik-rintik mulai turun. Orang-orang perlahan meninggalkan area pemakaman. Satu per satu pergi setelah memberikan doa terakhir. Tak lama kemudian, hanya tersisa beberapa orang saja. Bahkan keluarga Mahendra memilih pulang lebih dulu. "Sudahlah, ayo kita kembali," kata Selena pelan. Edward mengangguk. Dia melangkah meninggalkan makam itu tanpa menoleh lagi. Tidak ada yang menyadari bahwa saat itu, dari tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun, Lunaya berdiri memandang semuanya. Tubuhnya terasa ringan. Seolah tidak lagi memiliki wujud. Dia melihat prosesi pemakamannya sendiri. Melihat orang-orang yang datang. Dan melihat orang-orang yang pergi. Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan. Jadi beginikah akhirnya? Setelah bertahun-tahun mengabdikan hidupnya untuk keluarga Mahendra. Hanya sedikit orang yang datang mengantarkannya. Lunaya menundukkan pandangan. Lalu matanya tertuju pada sosok Edward yang berjalan pergi bersama Selena. Tidak ada kesedihan di wajah pria itu. Tidak ada air mata. Tidak ada penyesalan. Ia bahkan tidak bertahan lebih lama di makam istrinya. Hati Lunaya terasa semakin perih. Bahkan setelah kematian pun. Dia tetap kalah dari Selena. Tak lama kemudian, area pemakaman menjadi hampir kosong. Hanya suara hujan dan angin yang terdengar. Lunaya mengira semuanya sudah berakhir. Namun saat itulah sebuah mobil hitam berhenti tidak jauh dari makamnya. Pintu mobil terbuka. Seorang pria turun dengan langkah tergesa. Pria itu mengenakan jas hitam yang basah terkena hujan. Wajahnya tampak pucat. Dan matanya penuh kepanikan. Lunaya membeku. Ia mengenali sosok itu. "Evano." Pria yang selama ini selalu terlihat dingin dan sulit didekati. Mengapa dia ada di sini? Lunaya yang kini hanya menjadi bayangan sulit ditembus itu melihat sosok Evano. Dia tidak menyangka kalau pria itu akan datang ke pemakaman dirinya. Evano berjalan cepat menuju makam yang baru saja ditinggalkan semua orang. Tatapannya langsung tertuju pada nisan yang masih basah. Ketika membaca nama yang terukir di sana, tubuhnya mendadak membeku. Seolah dunia berhenti berputar. Lunaya melihat kedua tangan pria itu mengepal kuat. Dia menyadari kalau Evano tengah menahan emosinya ketika melihat nisan dirinya dengan pandangan sedih. Rahangnya mengeras. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya. Dia melihat kesedihan yang begitu dalam di mata Evano. "Kenapa Evano," gumam Lunaya heran ketika melihat Evano yang justru bersedih melihat makamnya. Apa selama ini dia yang salah paham dengan Evano. Pria dingin yang tampak tidak peduli dan sinis padanya selama ini setelah dia menikah dengan Edward, seketika bisa menangis melihat nisannya. "Evano." Kesedihan yang bahkan tidak dia temukan di wajah Edward saat pemakaman berlangsung. Lunaya terdiam. Entah mengapa hatinya mulai berdebar. Dan tanpa dia sadari, pertemuan terakhir yang tidak pernah sempat terjadi semasa hidup akan segera mengungkap sebuah kebenaran yang selama ini tersembunyi. "Jika aku diberikan kesempatan kembali, aku akan memulai semuanya, mencintai kamu, Evano." BERSAMBUNGSelena berjalan cepat meninggalkan kamar Lunaya. Dia masih belum percaya dengan perkataan Lunaya tadi. Begitu pintu tertutup di belakangnya, senyum khawatir yang sejak tadi ia tunjukkan langsung menghilang.Digantikan oleh tatapan penuh perhitungan.Jujur saja, dia juga terkejut mendengar Lunaya ingin membatalkan pernikahan.Namun setelah keterkejutannya mereda, ia justru melihat sebuah kesempatan."Ada apa dengan perempuan itu sebenarnya?" gumam Selana. Kalau pernikahan itu batal, bukankah itu berarti Edward akan kembali bebas? Meski begitu, Selena tetap harus berhati-hati.Dia tidak boleh terlihat senang.Karena selama ini citra yang ia bangun adalah seorang sahabat yang selalu mendukung hubungan Lunaya dan Edward.Dengan langkah cepat, ia menuju ruang tunggu khusus pengantin pria.Tak lama kemudian, ia menemukan Edward yang sedang berbicara dengan beberapa kerabat."Kak Edward."Edward menoleh kearah belakang di mana Selena masuk ke dalam kamarnya. Tapi kali ini terlihat berbeda,
Tok... tok... tok...Suara dari ketukan pintu kembali terdengar. Lunaya yang masih berdiri di depan cermin mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Siapa orang yang mengetuk pintu tersebut. "Masuk," ucapnya tenang.Pintu perlahan terbuka. Sesosok wanita masuk dengan gaun berwarna pastel yang terlihat anggun. Senyum manis menghiasi wajahnya, membuat siapa pun yang melihatnya akan mengira bahwa dia adalah orang yang baik dan tulus."Selena."Mata Lunaya langsung menyipit tipis.Jika ini adalah dirinya yang dulu, mungkin ia akan langsung tersenyum bahagia melihat kedatangan wanita itu.Bagaimanapun, selama bertahun-tahun Selena berhasil memainkan perannya dengan sempurna.Berpura-pura menjadi sahabat yang peduli.Berpura-pura mendukung hubungan Lunaya dan Edward. Berpura-pura tidak memiliki perasaan apa pun terhadap pria itu.Padahal kenyataannya?Selena adalah orang yang perlahan-lahan menghancurkan rumah tangganya."Ka Lunaya!"Selena berjalan mendekat dengan wajah ceria. Dia melihat ke
Gelap.Semuanya terasa gelap dan hening.Lunaya tidak lagi mendengar suara hujan di pemakaman. Tidak ada suara orang-orang yang berbisik membicarakan kematiannya. Tidak ada pula sosok Evano yang berdiri di depan makamnya dengan tatapan penuh kesedihan.Yang ada hanyalah kehampaan.Tubuhnya terasa ringan, seolah melayang tanpa tujuan. "Jadi... ini akhirnya?"Lunaya memejamkan mata. Mungkin beginilah rasanya setelah kematian. Tidak ada lagi rasa sakit. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi penantian yang sia-sia.Namun tiba-tiba, Sebuah cahaya terang menyilaukan matanya. Lunaya refleks mengangkat tangan untuk menutupi wajahnya.Kepalanya terasa berdenyut hebat.Seperti ada ribuan kenangan yang berputar sekaligus di dalam pikirannya.Kemudian Lunaya merasakan sesuatu yang hangat, Lembut. Rasanya seperti nyata.Perlahan, Lunaya membuka matanya.Langit-langit putih yang asing menyambut pandangannya. Dia berkedip beberapa kali. Napasnya tertahan.Ruangan ini...Kenapa terasa begitu fam
Langit pagi tampak kelabu. Awan hitam menggantung di atas pemakaman umum yang terletak di pinggiran kota. Angin berembus pelan, membawa suasana duka yang semakin terasa menyesakkan.Di depan sebuah liang lahat yang masih terbuka, beberapa orang berdiri dengan pakaian serba hitam. Namun jumlah mereka sangat sedikit.Bahkan tidak sampai dua puluh orang.Beberapa adalah tetangga lama yang mengenal Lunaya sejak kecil. Ada pula beberapa karyawan yang pernah bekerja bersamanya. Selebihnya hanyalah orang-orang yang datang karena merasa tidak enak hati. Tidak ada keramaian.Tidak ada pelayat yang berdesakan. Tidak ada orang penting yang hadir untuk mengantar kepergiannya. Pemakaman itu berlangsung begitu sederhana.Seolah hidup Lunaya yang selama ini penuh pengorbanan tidak meninggalkan jejak berarti bagi dunia."Kasihan sekali."Seorang wanita paruh baya berbisik kepada temannya."Iya. Padahal dia istri keluarga Mahendra.""Katanya suaminya pengusaha besar, kan?""Benar.""Lalu kenapa yang d
Malam semakin larut.Hujan yang sejak sore mengguyur kota masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Suara rintikannya terdengar samar dari balik jendela kamar rumah sakit. Di dalam ruangan yang dipenuhi aroma obat-obatan itu, Lunaya berbaring sendirian.Tidak ada yang menemani. Tidak ada tangan yang menggenggam jemarinya.Tidak ada suara yang menenangkannya. Hanya kesunyian yang menjadi teman terakhirnya.Mata Lunaya menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Napasnya terdengar semakin berat dari waktu ke waktu.Mesin monitor di samping ranjang mulai mengeluarkan bunyi yang tidak beraturan. Namun wanita itu sudah tidak terlalu memedulikannya. Tubuhnya memang terasa sakit. Tetapi rasa sakit di hatinya jauh lebih menyiksa.Perlahan, dia menoleh ke arah meja kecil di samping ranjang. Di sana masih tergeletak cincin pernikahannya.Cincin yang selama bertahun-tahun ia jaga seolah benda itu adalah simbol kebahagiaannya. Padahal sekarang ia sadar. Semua itu hanyalah keboho
Hujan masih turun membasahi kota sejak sore tadi. Di sebuah rumah sakit swasta yang mewah, Edward duduk di samping ranjang pasien sambil menatap layar ponselnya.Wajah tampannya terlihat tenang, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dikhawatirkan.Di atas ranjang, Selena berbaring dengan perban kecil melilit pergelangan tangannya. Dia senang karena Edward lebih perhatian pada dirinya. "Edward, sebenarnya kamu tidak perlu menemaniku terus seperti ini," ucap Selena dengan suara lembut.Edward mengangkat pandangannya."Kondisimu belum stabil."Selena tersenyum tipis, dia senang karena Edward mau menemani dirinya di sini sepanjang malam. Dia menggunakan kesempatan ini agar bisa lebih dekat dengan dirinya. "Hanya luka ringan. Dokter bahkan sudah memperbolehkanku pulang besok."Edward tidak menjawab. Pria itu kembali menatap layar ponselnya yang berkali-kali menyala. Ada puluhan pesan yang masuk.Namun bukan itu yang menarik perhatiannya.Yang membuatnya diam adalah satu pesan dari rumah sak







