LOGINEvano masih menatap foto di layar ponsel Lunaya. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat kaku. Lunaya memperhatikan perubahan itu dengan saksama. "Evano?" Pria itu tidak menjawab. "Siapa dia?" Evano akhirnya mengangkat wajah. "Orang yang seharusnya sudah tidak ada." Lunaya mengernyit. "Maksudmu... dia sudah meninggal?" Evano mengangguk pelan. "Setidaknya, itu yang saya percaya selama ini." Lunaya kembali melihat foto tersebut. Pria itu berdiri beberapa langkah di belakang Evano dan Karina. Walaupun wajahnya dicoret, bentuk tubuh dan pakaiannya masih terlihat jelas. "Kalau dia sudah meninggal, bagaimana mungkin seseorang mengirim foto ini?" "Itulah masalahnya." Evano mengambil ponsel Lunaya dan memperbesar foto tersebut. Dia memperhatikan latar belakangnya.
Lunaya masih menatap layar ponselnya. Sementara itu, Evano sama sekali tidak bergerak. Tatapannya terpaku pada pesan terakhir yang baru saja masuk. Tanyakan pada Karina tentang malam ketika Evano hampir kehilangan segalanya. Kalimat itu terus berputar di kepala Lunaya. "Apa maksudnya?" tanya Lunaya akhirnya. Evano mengalihkan pandangannya dari layar ponsel kepada Lunaya. "Tidak perlu dipikirkan sekarang." "Tapi kamu tahu sesuatu." Evano diam. Lunaya semakin yakin. "Kalau kamu tidak tahu, kamu pasti langsung bilang pesan ini tidak masuk akal." Evano menghela napas panjang. "Lunaya..." "Apa yang terjadi malam itu?" Evano memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius daripada biasanya. "Itu kejadian lama." "Seber
Mobil Evano akhirnya berhenti di depan rumah Lunaya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak kata yang terucap. Evano lebih banyak diam, sementara Lunaya hanya menatap keluar jendela dengan pikiran yang masih berputar-putar.Pertemuan dengan Edward dan Karina tadi membuatnya sadar bahwa masalah yang selama ini berusaha ia hindari ternyata sudah mulai menyeret orang-orang di sekitarnya.Begitu mobil berhenti, Evano mematikan mesin. Namun, Lunaya tidak langsung turun.Tangannya masih menggenggam erat ponsel di atas pangkuannya. Evano meliriknya."Kamu masih memikirkan kejadian tadi?"Lunaya mengangguk pelan."Aku tidak menyangka mereka akan benar-benar menungguku di tempat itu."Evano menghela napas."Itulah alasan saya tidak ingin kamu pergi sendirian."Lunaya menoleh."Tapi kalau aku tidak pergi, kita tidak akan tahu siapa yang berada di balik semua ini."Evano terdiam. Dia memang tidak bisa menyangkal perkataan Lunaya.Beberapa saat kemudian, Lunaya akhirnya membuka pintu mobil. Namun seb
Edward masih berdiri di depan bangunan tua itu dengan wajah penuh amarah. Tatapannya bergantian mengarah kepada Evano dan Lunaya.Sementara Karina terlihat jauh lebih gelisah. Dia tidak menyangka adiknya akan mengetahui rencana mereka secepat ini."Kak, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Evano, menatap Karina tajam.Karina mengalihkan pandangan."Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan."Evano tertawa kecil tanpa menunjukkan sedikit pun rasa geli."Tidak tahu?"Dia mengeluarkan ponselnya, lalu memperlihatkan tangkapan layar pesan yang diterima Lunaya."Kalau begitu, bagaimana kamu menjelaskan ini?"Karina terdiam. Lunaya yang berdiri di samping Evano akhirnya ikut berbicara."Kak Karina, seseorang mengirimiku pesan dan menyuruhku datang ke tempat ini. Dia mengatakan akan menunjukkan sesuatu tentang Evano."Karina menatap Lunaya."Aku tidak mengirim pesan apa pun kepadamu.""Aku tidak mengatakan Kakak yang mengirimnya."Lunaya menjawab dengan tenang."Tapi aku ingin tahu kenapa Kakak a
Pagi itu, Lunaya masih memikirkan pesan misterius yang diterimanya semalam.Dia duduk di ruang keluarga rumah Nenek Niar sambil memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut menyebutkan bahwa seseorang akan menunjukkan bukti mengenai rahasia yang disembunyikan Evano.Awalnya, Lunaya tidak berniat menanggapi pesan itu. Namun, setelah berbicara dengan Evano, dia mulai menyadari bahwa mereka harus mencari tahu siapa orang yang berada di balik semua ancaman tersebut.Terlebih, orang itu seolah mengetahui setiap pergerakan mereka.Tidak lama kemudian, Evano datang menghampirinya."Kamu masih memikirkan pesan itu?" tanyanya.Lunaya mengangguk."Aku penasaran siapa yang mengirimnya."Evano duduk di sampingnya."Aku juga."Lunaya menatap pria itu."Kalau kita terus menunggu, bagaimana kalau mereka justru melakukan sesuatu kepada Nenek Niar?"Ekspresi Evano berubah serius."Itu sebabnya aku ingin menyelesaikan masalah ini."Lunaya terdiam sejenak.Kemudian dia mengangkat ponselnya."Bagaimana kal
Lunaya masih memandangi layar ponselnya.Pesan tersebut membuat pikirannya kembali dipenuhi pertanyaan.Apa yang sebenarnya disembunyikan Evano darimu?Kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Namun kali ini Lunaya tidak berniat menyelidikinya sendirian. Dia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mencari Evano. Tidak butuh waktu lama sampai dia menemukannya di ruang kerja.Evano sedang berbicara melalui telepon ketika Lunaya muncul di depan pintu. Tatapan Evano langsung tertuju kepadanya.Dia menyelesaikan pembicaraan singkatnya, lalu meletakkan ponsel."Ada apa?"Lunaya berjalan mendekat."Aku mendapat pesan lagi."Ekspresi Evano langsung berubah."Dari nomor yang sama?""Bukan."Lunaya menyerahkan ponselnya kepada Evano untuk memberitahu apa yang dia lihat. Evano membaca pesan tersebut. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal. "Aku sudah bilang, jangan pernah datang sendiri.""Aku tahu."Lunaya duduk di hadapannya. Dia tahu kalau orang itu pasti merencanakan sesuatu. Dia tid







