LOGINAyoo kita buat perbucinan Kaisar dan Permaisuri dulu🍃
"M-mohon ampun, Yang Mulia! Hamba sama sekali tidak bermaksud mempertanyakan keputusan Yang Mulia!" Menteri Dalam Negeri yang tadi menyuarakan keraguannya mendadak berlutut dengan tubuh gemetar hebat. Peluh dingin mencucur deras membasahi dahinya saat merasakan aura membunuh dan tatapan sedingin es dari sang kaisar. "Hamba hanya... hamba hanya sekadar bertanya demi kebaikan istana..." "Hanya bertanya?" ulang Zhao Jun dengan nada datar yang menusuk tulang. Melihat situasi yang kian menegang, para menteri dan jenderal lainnya secara serentak langsung menundukkan kepala dalam-dalam. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani menyela atau membalas tatapan sang raja naga. "Permaisuri Zi yang kalian kenal memang bukanlah seorang tabib istana yang hebat," ujar Zhao Jun pelan seraya menyandarkan tubuhnya di takhta utama. "Tapi dia jauh lebih cerdik dari kalian semua dalam mengenali jenis racun. Itu sudah cukup." Di barisan depan, Perdana Menteri Long Feng melangkah maju satu tindak.
"Kau dengar tidak? Semalam Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri menghabiskan waktu sangat lama di pemandian utama!" "Tentu saja aku dengar! Bahkan Pengawal Li dilarang mendekat dan diancam jika berani mengganggu. Tampaknya hubungan Yang Mulia dan Permaisuri Zi semakin mesra saja." Kasak-kusuk suara para pelayan dan prajurit berembus cepat bagaikan angin pagi yang melintasi lorong-lorong Paviliun Agung. Setiap sudut istana dipenuhi oleh bisikan yang sama, menceritakan kehangatan malam sebelumnya antara Zhao Jun dan Zi Han. Namun, kehangatan bagi sebagian orang adalah racun yang membakar dada bagi yang lainnya. Di Paviliun Teratai, sebuah cangkir keramik halus melayang dan hancur berkeping-keping di atas lantai. "Tutup mulut kalian, dasar tidak berguna!" jerit Selir Yao Xian, dadanya naik turun meluapkan amarah yang membakar. Wajah cantiknya yang biasa dipoles anggun kini tampak pucat dan mengerikan. Kedua tangannya mengepal erat hingga kuku-kuku terawatnya menancap ke telapak tan
"Jawab aku, Zi Han... kau mau menolongku atau..." Suara Zhao Jun tercekat di tenggorokan. Sebelum Zi Han sempat menyusun kata untuk menjawab, sang kaisar sudah tidak sanggup lagi membendung gejolak di dadanya. Pria itu menyapu sisa jarak di antara mereka, membungkam bibir Zi Han dalam sebuah pagutan yang jauh lebih dalam, menuntut, dan penuh kelaparan dari sebelumnya. Zi Han melenguh pelan. Tubuhnya merapat tanpa sela pada dada tegap Zhao Jun yang memanas. Air kolam yang terombang-ambing di sekitar pinggang mereka seolah ikut mendidih mengikuti irama gairah yang kian tak terkendali. Tangan tegap Zhao Jun meremas pinggang ramping permaisurinya, menarik tubuh mulus wanita itu hingga sejajar, sementara tangannya yang lain tenggelam di balik rambut basah Zi Han. Ciuman itu terasa begitu pekat, menyesap setiap embusan napas Zi Han sampai wanita itu merasa hampir melayang. Zhao Jun benar-benar berada di puncak gairahnya. Setiap sentuhan, kecupan, dan gusuran bibirnya mengirimkan gelom
"A-aku... Zhao Jun, aku..." Kalimat Zi Han terputus, suaranya terbata-bata dengan napas yang mulai tidak beraturan. Dokter forensik yang biasanya selalu cerdas dan tenang dalam menghadapi situasi darurat itu kini mendadak kehilangan seluruh kosa katanya. Rona merah di pipinya kian menjalar hingga ke leher, memperlihatkan betapa panik dan gugupnya ia di bawah tatapan sang kaisar. Zhao Jun terkekeh rendah, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Zi Han. Gugupnya sang permaisuri justru terlihat teramat menggemaskan di matanya, memantik percikan gairah yang kian sulit dikendalikan. Rasa ingin melahap wanita di hadapannya ini makin membakar dadanya. "Jangan banyak berpikir, Permaisuri Zi..." bisik Zhao Jun serak. Pria itu tidak sabar lagi. Ia mendesakkan tubuh tegapnya kian merapat, mengikis setiap senti jarak hingga dada telanjang mereka saling menempel lekat. Tangan tegap Zhao Jun merayap naik, merengkuh dan memegang tengkuk Zi Han dengan cengkeraman yang lembut namun posesi
"Pergi kau, kaisar mesum!" pekik Zi Han seraya menutup kedua telinganya rapat-rapt. Sensasi napas hangat dan bisikan Zhao Jun di daun telinganya membuat seluruh bulu kuduknya berdiri. Wajahnya memerah padam, bukan hanya karena uap air hangat yang memenuhi ruangan, melainkan karena rasa geli dan panik yang menjalar hingga ke ujung kaki. Zhao Jun justru terkekeh renyah melihat reaksi heboh permaisurinya. Binar jahil terpancar jelas dari manik matanya. Alih-alih berbalik pergi seperti yang diminta, tangan tegap Zhao Jun bergerak menyibakkan jubah putih tipis yang melekat di tubuhnya, menanggalkannya tanpa ragu hingga jatuh membasahi lantai batu. Byur... Zhao Jun melangkah masuk, menyakiti ketenangan air kolam hingga berkecak pelan. Zi Han yang mendengar kepakan air refleks membuka matanya, namun pemandangan di hadapannya membuat napasnya seketika tertahan di tenggorokan. Pria itu berdiri tegak di dalam air yang hanya setinggi pinggang. Bahunya yang lebar, dada tegap berotot yan
"Narsis sekali dirimu, Zhao Jun!" sembur Zi Han, menyilangkan kedua tangan di dada seraya memalingkan muka yang makin memerah panik. "Sengaja memalingkan wajah begitu... semakin membuktikan kalau permaisuriku ini memang sedang terpesona," goda Zhao Jun, terkekeh pelan seraya melangkah satu ketuk makin mengikis jarak. Pria itu menundukkan kepala, memajukan wajah tampannya hingga jarak hidung mereka hanya tersisa beberapa senti. Melihat wajah sang kaisar yang makin tidak tahu diri, otak cerdik dokter forensik di kepala Zi Han langsung berputar cepat mencari alibi. Seketika, wanita itu mengelus pelipisnya, memejamkan mata rapat-rapt dengan raut wajah yang mendadak dibuat lemas dan kesakitan. "Aduh... kepalaku... mendadak pusing sekali," keluh Zi Han dengan suara yang dimiringkan menjadi amat lemah, tubuhnya sengaja dibuat terhuyung ke belakang. "Ini pasti gara-gara semalam aku diusir ke tempat dingin ini tanpa selimut tebal... tubuhku jadi tidak kuat..." "Zi Han?!" Raut tegang d







