LOGINWajah Valeriana seketika memucat.Kalimat itu menghantam kesadarannya begitu keras, seperti sambaran petir di tengah siang yang tenang—mendadak, memekakkan, dan meninggalkan getaran dingin yang menjalar hingga ke ujung jarinya.Kembalilah ke duniamu.Napas Valeriana tercekat.Nenek itu tahu.Entah bagaimana caranya, wanita tua itu mengetahui sesuatu yang bahkan tidak pernah berani ia ungkapkan kepada siapa pun. Kecuali Kael.Dadanya mendadak terasa sesak. Jantungnya berdetak tidak beraturan, seolah mencoba keluar dari rongga dadanya. Ribuan pertanyaan berdesakan di kepalanya dalam waktu bersamaan.Ia ingin bertanya.Ingin menarik tangan keriput nenek itu dan memaksanya menjelaskan semuanya. Siapa dirinya sebenarnya? Dari mana ia mengetahui rahasia itu? Dan apa maksud dari ucapan menyeramkan tentang pengorbanan?Namun sebelum Valeriana sempat membuka mulut, seseorang melintas di antara mereka sambil membawa keranjang besar berisi sayuran. Tubuh tinggi pria itu menutupi pandangannya han
Pagi itu, Kael akhirnya tertidur cukup lama setelah dipaksa meminum obat oleh Valeriana.Sinar matahari yang masuk melalui jendela kamar menerangi wajah pria itu dengan lembut. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, napasnya terdengar lebih teratur. Demamnya sudah mulai turun, dan warna wajahnya tidak lagi sepucat sebelumnya.Menurut Tabib Pym, tubuh Kael sedang bekerja keras untuk memulihkan diri. Selama demamnya tidak kembali naik dan lukanya tidak terbuka lagi, ia harus dibiarkan beristirahat sebanyak mungkin.Valeriana sebenarnya ingin tetap berada di sisi tempat tidur sepanjang hari. Duduk di sana, memastikan Kael baik-baik saja setiap kali membuka mata.Namun Anna mengingatkannya bahwa persediaan obat mulai menipis. Kain bersih perlu diganti. Madu harus dibeli. Begitu pula beberapa bahan makanan segar yang direkomendasikan Tabib Pym untuk membantu pemulihan Kael.Awalnya Valeriana berniat menyuruh pelayan saja. Tetapi setelah berhari-hari dikelilingi sidang, pengkhi
Valeriana kembali duduk di sisi tempat tidur. Jemarinya masih bertaut dengan jemari Kael ketika ia mulai berbicara.“Aku juga tidak tahu banyak. Di kantor, orang-orang hanya membicarakannya sebagai rumor. Tidak ada yang benar-benar tahu kebenarannya.”Kael menyimak dengan tenang. “Apakah orang yang mirip Lucas itu setia kepada bosnya?”Valeriana berpikir sejenak.Bayangan pria itu kembali muncul di benaknya. Sosok yang selalu berjalan cepat di lorong kantor, wajah tenang yang hampir tidak pernah menunjukkan emosi, dan kemampuan luar biasa untuk membuat seluruh perusahaan tetap berjalan meskipun pemimpinnya tidak pernah terlihat.“Kelihatannya begitu,” jawabnya akhirnya. “Dia selalu menjaga perusahaan tetap berjalan. Tegas, disiplin, dan tidak banyak bicara. Tapi semua orang menghormatinya.”“Seperti Lucas?”Valeriana tersenyum kecil.“Iya. Karena itu aku bilang mirip.”Kael terdiam beberapa saat. Tatapannya tampak menerawang, seolah sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya. Lalu ia
Lucas melirik Kael sekilas.Tatapan itu berlangsung singkat, tetapi cukup jelas untuk menunjukkan keraguannya. Seolah-olah ia sedang mempertimbangkan apakah laporan semacam ini pantas disampaikan di depan seorang pasien yang baru saja berkali-kali diperingatkan agar tidak memikirkan urusan istana.Valeriana menangkap makna di balik tatapan tersebut.“Ringkas saja.”Lucas segera menundukkan kepala.“Marquis Gosh akan diperiksa secara resmi pagi ini. Kediamannya sudah disegel. Beberapa dokumen ditemukan di ruang bawah tanah. Ada daftar pembayaran yang mengarah kepada pejabat pajak dan beberapa pengawas gudang.”Belum selesai Lucas berbicara, mata Kael sudah tampak lebih fokus daripada sebelumnya.Valeriana langsung menoleh tajam ke arahnya.“Jangan mulai.”“Aku hanya mendengarkan, sayang.”“Kau mendengar sambil berpikir.”“Aku rasa itu memang sangat sulit dicegah.”Nada datarnya membuat Valeriana hampir memutar mata. Sementara itu, Lucas melanjutkan laporannya dengan hati-hati.“Pangera
Kael mendadak diam. Di dekat pintu, Lucas memejamkan mata sesaat seperti seseorang yang sudah menebak arah percakapan ini sejak awal.Anna tampak berusaha keras menahan senyum.Sementara itu, Valeriana menatap Kael dengan tatapan yang terlalu lembut untuk disebut marah, tetapi terlalu tegas untuk diabaikan.“Suamiku.”Kael menghela napas panjang.“Aku hanya ingin membaca laporan singkat.”“Tidak boleh.”“Hanya sedikit, sayang.”“Tidak. Tetap tidak.”“Lucas bisa membacakannya.”“Tetap saja tidak.”Lucas menundukkan kepala dengan sopan, tetapi sudut bibirnya bergerak samar.Kael menatap istrinya seperti seorang jenderal yang sedang mencari celah dalam pertahanan musuh. Namun setelah melihat wajah Valeriana, ia tampaknya sadar bahwa pertempuran kali ini mustahil dimenangkan.“Baik, Nyonya Duchess,” ucapnya akhirnya.Anna hampir gagal menahan senyum lebarnya. Lucas pun menatap Valeriana dengan kekaguman yang sangat samar, tetapi cukup jelas untuk disadari.Saat itulah Valeriana tiba-tiba
"Iya. Nasi yang dimasak lagi dengan bumbu, telur, kecap, kadang ditambah ayam atau sosis."Kael mengernyit samar. Ada satu kata yang terdengar asing baginya."Sosis?""Daging yang dihaluskan lalu dibentuk panjang."Penjelasan itu membuat Kael menyimak dengan sungguh-sungguh. Seolah Valeriana sedang menceritakan sesuatu yang berasal dari negeri yang sama sekali berbeda dari dunia yang ia kenal."Apakah rasanya enak?"Senyum kecil muncul di wajah Valeriana."Sangat enak. Apalagi kalau dimakan saat malam setelah pulang kerja.""Pulang kerja dalam keadaan lelah?"Valeriana mengangguk pelan."Iya. Kadang aku membelinya di pinggir jalan."Tatapan Kael langsung terangkat."Di pinggir jalan?"Barulah Valeriana teringat bahwa bagi seorang duke, membeli makanan di pinggir jalan mungkin terdengar sangat aneh."Di duniaku itu biasa. Ada pedagang yang memasak makanan di gerobak kecil. Orang bisa membeli langsung.""Apakah aman?""Tidak selalu," jawab Valeriana jujur.Seketika sorot mata Kael berub
Pria itu berdiri di ambang pintu. Wajahnya sulit dijelaskan. Biasanya raut itu selalu datar, nyaris tanpa emosi. Namun kali ini berbeda. Mata abu-abunya tampak basah, berkaca-kaca oleh luapan perasaan yang begitu kuat hingga membuat Valeriana tertegun. Ada keterkejutan, ketidakpercayaan, dan … haru
Valeriana mencengkeram pelana dengan kedua tangannya.“Aku akan mengangkatmu,” ucap Kael dengan suara rendah. “Pada hitungan ketiga, kau lompat sedikit, oke?”“O-oke.”Kael mengulurkan kedua tangannya. Telapak tangan itu besar, kasar oleh latihan dan medan perang. Namun bergerak perlahan saat menye
Keesokan harinya, matahari bersinar terik di atas lapangan latihan militer pribadi milik Keluarga Vallas. Debu beterbangan tipis setiap kali kaki-kaki kuda yang kokoh menghantam tanah berpasir, menciptakan suasana panas dan penuh energi.Di tengah lapangan yang luas itu, Kael de Vallas berada dalam
Sepulang dari butik setelah memesan jas untuk Kael, Valeriana sama sekali tidak berniat bersantai. Alih-alih kembali ke kamarnya, ia justru melangkah menuju halaman belakang Kediaman Vallas—area yang luasnya nyaris tak masuk akal.Tempat itu seharusnya bisa disebut taman bunga. Seharusnya. Namun ke







