Masuk“Makan malam bersama Anda?” Marielle menatap Aldric dengan alis terpaut tipis. Di bawah temaram cahaya senja, raut wajah sang Grand Duke tampak begitu serius meski semburat merah tipis di ujung telinganya masih enggan menghilang sepenuhnya.Marielle mendengus pelan, mengeratkan pegangannya pada tumpukan berkas di pelukannya agar tidak merosot. "Membahas logistik saat makan malam? Anda sungguh tidak mengenal kata istirahat, Yang Mulia.""Ini demi efisiensi waktu, Marielle," sahut Aldric cepat, berusaha memoles nada suaranya agar kembali terdengar dingin, berwibawa, dan profesional. "Count Vance akan mulai menyusun angka pastinya nanti malam. Semakin cepat kita mematangkan alur distribusi logistik, semakin cepat proyek ini bisa berjalan tanpa hambatan birokrasi."Marielle memperhatikan gestur tubuh Aldric dengan saksama. Pria tegap itu berdiri agak kaku di depannya, menatapnya lurus-lurus seolah-olah jawaban 'tidak' dari Marielle akan merusak seluruh skema besar rekonstruksi wilay
"Siapa juga yang minta ditolong oleh Anda, Grand Duke?" balas Marielle dengan nada tak kalah sengit, walau jarinya masih sedikit gemetar saat melempar bola kain itu pelan ke arah anak-anak pengungsi.Anak-anak itu dengan cepat memungut bolanya dan berlari menjauh seraya membungkuk takut. Marielle lalu membalikkan badan, berjalan mendahului Aldric tanpa memandangnya sedikit pun. Ia segera menyusul Count Vance dan perwira militer yang berpura-pura sibuk memeriksa peta tanah demi mencairkan atmosfer yang sempat membeku."Mari kita lanjutkan surveinya," cetus Marielle, berusaha tampil seprofesional mungkin.Selama dua jam berikutnya, mereka bertiga membedah seluruh area pengungsian secara menyeluruh. Hasil survei langsung di lapangan membuka banyak fakta penting yang tak tercatat di dalam lembaran audit lama milik Vane. Marielle mencatat dengan cermat bahwa dari total lima puluh tenda darurat di Sektor Tiga, masih ada tiga puluh dua kepala keluarga yang menanti kepastian hunian perma
“Saya tahu kok kalau jalannya tidak rata,” balas Marielle dingin.Marielle langsung kembali fokus mengobrol dengan Count Vance, itu membuat Aldric makin kesal.Kereta kuda mewah yang membawa rombongan sang Grand Duke akhirnya melambat dan berhenti di area terbuka. Begitu pintu kereta dibuka, hawa dingin bercampur aroma tanah basah dan asap kayu bakar langsung menyapa indra penciuman mereka. Tempat pengungsian Sektor Tiga itu membentang cukup luas, diisi oleh deretan tenda-tenda kain tebal berwarna abu-abu yang tampak amat sederhana.Seorang perwira militer berbadan tegap dengan jubah bertambal simbol wilayah Valerante bergegas melangkah mendekat. Di belakangnya, beberapa prajurit mengikuti dengan langkah kaku namun penuh kedisiplinan."Selamat datang di Kamp Sektor Tiga, Yang Mulia Grand Duke, Count Vance, dan Lady Marielle!" sapa perwira itu seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, memberikan penghormatan tertinggi militer.Aldric mengangguk tipis, gestur tegas seorang pemimpin
“Selamat pagi juga, untuk pahlawan Minerva, Lady Marielle,” sapa Count Vance ramah.Pria paruh baya itu mengukir senyum tipis yang ditujukan pada Marielle. SedangkanMarielle mengerjapkan matanya sekilas, berusaha menguasai raut wajahnya yang sempat terkejut. Pahlawan Minerva? Julukan itu terasa agak berlebihan, namun mendengar kata-kata tersebut keluar langsung dari mulut seorang diplomat ulung sekelas Count Vance membuat situasi di ruangan itu makin terasa bobot politiknya.Marielle membungkukkan tubuhnya sedikit, memberi penghormatan formal yang sangat anggun. "Selamat pagi, Count Vance. Suatu kehormatan bisa bertemu langsung dengan Anda di sini."Count Vance kembali menyunggingkan senyum hangat yang menenangkan. Matanya yang tajam meneliti sosok Marielle dari kepala hingga ujung kaki, seperti seorang veteran politik yang sedang menilai kawan bertarungnya."Kehormatan ini milik saya, Lady Marielle," balas Count Vance seraya melangkah semakin mendekat ke meja kerja. "Saat Yang M
”Pagi Lady Marielle… apakah tidur Anda nyenyak?” Suara Diana membuyarkan lamunannya saat baru saja bangun tidur.“Ya. Aku sangat tidur dengan nyenyak. Aku sudah lama tidak tidur di ranjang yang sangat empuk ini.” Marielle mengelus ranjang tersebut karena sangat empuk dan halus. Diana hanya bisa tersenyum sambil menyiapkan baju yang akan dikenakan Marielle hari ini.“Mari saya bantu untuk Lady,” tawar gadis itu.Akhirnya Marielle turun dari ranjang menuju kamar mandi. Pagi hari ini, sinar matahari hangat menembus tirai tipis Paviliun Barat, membiaskan cahaya di atas meja makan yang dipenuhi hidangan sarapan segar. Setelah Marielle selesai bersiap, ia duduk menimang cangkir tehnya, menikmati keheningan pagi sebelum kesibukan rekonstruksi dimulai.Di sudut ruangan, Tristan, ksatria muda berambut cokelat yang ditunjuk Aldric sebagai pengawal pribadinya berdiri tegak. Matanya yang polos dan jujur sesekali melirik ke arah Marielle dengan binar kagum yang amat sulit ia sembunyikan."Lad
"Tuan Vane," panggil Aldric dengan suara yang dalam, namun sanggup menggetarkan lantai batu di bawah kaki mereka. "Apakah yang dikatakan Lady Marielle itu benar?"Keheningan di ruang rapat utama Kastil Valtore mendadak berubah menjadi atmosfer mencekam yang membekukan darah. Suasana memanas setelah Marielle membongkar habis catatan audit keuangan internal.Aldric, yang sejak tadi berdiri menahan diri di samping meja, melangkah maju dua titik. Tatapan matanya yang semula dipenuhi rasa takjub pada Marielle seketika berganti menjadi kilatan amarah yang amat dingin dan mematikan. Rahangnya mengeras kaku, dan aura menekan khas seorang penguasa perang menguar hebat dari tubuhnya.Pria itu menatap tajam ke arah Pejabat Keuangan yang kini gemetar hebat di sudut meja.Vane mendadak kehilangan kemampuannya untuk bernapas secara normal. Wajahnya yang pucat pasi kini dibasahi keringat dingin. "Yang Mulia Grand Duke... ini... ini hanya kesalahpahaman dalam pencatatan laporan logistik…" jawab
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor
Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia
“Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m







