เข้าสู่ระบบ"Tuan Vane," panggil Aldric dengan suara yang dalam, namun sanggup menggetarkan lantai batu di bawah kaki mereka. "Apakah yang dikatakan Lady Marielle itu benar?"Keheningan di ruang rapat utama Kastil Valtore mendadak berubah menjadi atmosfer mencekam yang membekukan darah. Suasana memanas setelah Marielle membongkar habis catatan audit keuangan internal.Aldric, yang sejak tadi berdiri menahan diri di samping meja, melangkah maju dua titik. Tatapan matanya yang semula dipenuhi rasa takjub pada Marielle seketika berganti menjadi kilatan amarah yang amat dingin dan mematikan. Rahangnya mengeras kaku, dan aura menekan khas seorang penguasa perang menguar hebat dari tubuhnya.Pria itu menatap tajam ke arah Pejabat Keuangan yang kini gemetar hebat di sudut meja.Vane mendadak kehilangan kemampuannya untuk bernapas secara normal. Wajahnya yang pucat pasi kini dibasahi keringat dingin. "Yang Mulia Grand Duke... ini... ini hanya kesalahpahaman dalam pencatatan laporan logistik…" jawab
”Sial. Sepertinya banyak yang meragukan aku disini,” batin Marielle saat melihat bagaimana reaksi orang-orang di sekitar.Mereka melangkah beriringan membelah koridor utama Kastil Valtore. Langkah kaki Marielle yang mantap dan anggun bergema di sepanjang lorong batu, diikuti oleh Jackson, Diana, serta rombongan pejabat daerah yang berjalan di belakang mereka dengan raut muka tegang dan dipenuhi desakan bisik-bisik protes.Begitu pintu ruang rapat utama dibuka lebar, Marielle langsung melangkah masuk tanpa ragu. Ia menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Ada sebuah meja kayu besar di tengah, peta wilayah Valerante yang membentang di dinding, serta tumpukan dokumen keuangan di sudut meja. Marielle berjalan lurus menuju kursi utama di samping peta wilayah, lalu menariknya dan duduk dengan sangat tenang.Tindakan itu seketika membuat para pejabat yang baru saja melangkah masuk menahan nafas. Posisinya yang langsung mengambil alih kursi kepemimpinan rapat memancing emosi salah seor
”Lady Marielle! Ada kereta kuda di depan rumah!” teriak Diana keesokan paginya saat mereka baru saja bersiap-siap untuk pergi menuju kastil Grand Duke.Marielle yang ada di ruang tengah bergegas berlari menuju depan, dimana Diana sudah berdiri disana. Ia melihat kereta kuda sudah terparkir rapi dengan kusirnya. Dari dalam, keluar seorang ksatria. Ksatria itu berjalan dan langsung membungkuk memberi hormat kala tepat berada didepan Marielle. “Selamat pagi Lady Marielle. Saya datang kesini untuk menjemput Anda atas perintah Grand Duke,” jelasnya.Marielle menghela nafas cukup panjang. Padahal kemarin dia sudah bilang agar tidak menjemputnya, tapi tetap saja tidak didengar. Dengan wajah malas, ia menunjuk barang-barang yang sudah Diana susun sebelumnya. “Itu barang-barangku. Tolong bawakan ya.” Tanpa basa-basi Marielle langsung menyuruhnya.“Baik Lady.” Pria itu membungkuk kembali dan langsung mengangkat beberapa tas dengan bantuan Diana.Marielle berjalan lebih dulu menuju kereta ku
"Lady Marielle?!" Suara Jackson melengking, hampir memekakkan telinga. Pria itu menatap Aldric dengan mata melotot sempurna, seolah baru saja mendengar sang Grand Duke mengumumkan akan menyerahkan seluruh wilayah Valerante kepada musuh."Yang Mulia, Anda pasti sedang bercanda, bukan?" bisik Jackson panik, melangkah mendekat seraya menoleh kanan kiri untuk memastikan tidak ada pengawal yang mendengar. "Lady Marielle De Aubrey? Wanita yang sangat Anda benci itu?""Aku tidak sedang bercanda, Jackson," potong Aldric tenang namun dingin. Ia melangkah menuju meja kerjanya yang ditimbun puluhan dokumen, lalu mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. "Marielle memiliki kemampuan dan pemikiran tajam yang kita butuhkan untuk membangun kembali Valerante. Mulai lusa, ia yang akan memegang kendali penuh atas tim rekonstruksi."Jackson menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya mendadak terasa kering. "Tapi, Yang Mulia... bagaimana dengan para menteri dan pejabat kastil? Anda tahu
“Apa Marielle belum bangun?” tanya Aldric pada Diana yang menemaninya berkemas.“Belum Grand Duke,” jawabnya pelan.Aldric mengangguk. Ia melangkah sambil menenteng tas yang berisi perlengkapannya selama tinggal di rumah kayu Marielle. Pria itu membuka pintu, yang memperlihatkan suasana masih pagi buta.“Yang Mulia Grand Duke, apakah Anda tidak berpamitan dengan Lady Marielle dulu sebelum pergi? Saya rasa pergi diam-diam seperti ini terlihat kurang sopan,” ujar Diana lirih, takut sang Grand Duke menjadi tersinggung atas ucapannya.Diluar perkiraan, Aldric malah tersenyum tipis. Ia menaruh barang-barangnya di punggung kuda lebih dulu sebelum menaiki kudanya.“Aku tidak ingin membuatnya marah hari ini,” jawabnya santai.“Apa Anda tidak apa-apa? Seharusnya kereta kuda yang menjemput Anda akan datang pagi nanti.”“Aku tidak apa-apa Diana. Baiklah, aku pergi sekarang. Tolong jaga Marielle untukku ya.”Dengan begitu, Aldric menarik tali kekang hingga membuat kuda yang ditungganginya berlari
"Tinggal di kastil Anda?" ulang Marielle datar, nadanya dipenuhi sindiran yang sangat jelas. "Apakah pendengaran Anda bermasalah, Grand Duke? Saya baru saja meminta Anda angkat kaki dari rumah saya, dan sekarang Anda malah mengajak saya masuk kembali ke sarang Anda?"Aldric menegakkan posisi duduknya. Wajah lesu yang tadi menghiasi mukanya perlahan memudar, berganti dengan raut wajah serius dan rasional, mode seorang penguasa wilayah yang sedang menyusun strategi negosiasi."Aku bicara murni demi efisiensi kerja kita, Marielle," sahut Aldric cepat, menahan diri agar tidak terdengar seperti sedang memaksanya. "Kastil Valtore adalah pusat data dan arsip seluruh Valerante. Peta wilayah, laporan kependudukan, hingga catatan kas daerah semuanya ada di sana."Pria tegap itu memajukan tubuhnya sedikit, menatap Marielle lurus-lurus untuk mempertegas setiap kata-katanya."Jika kau harus pulang pergi setiap hari, berapa banyak waktu yang terbuang di jalan? Belum lagi jika cuaca buruk atau
“Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem
“Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi
“Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi







