Masuk“Kau…”Marielle mundur setengah langkah pelan. Dia tahu siapa sosok yang berdiri di depannya sekarang. Dengan satu bekas luka di wajah pria itu, Marielle tidak salah menduga jika orang yang menyerangnya saat di istana dulu tengah berada di hadapannya sekarang.Cesare tersenyum tipis. Tatapannya justru bergerak menyapu isi rumah, seolah mencari sesuatu. Marielle sadar pria itu sedang memastikan apakah ada orang lain di sana.Ia langsung bicara cepat.“Kalau kau mau mencuri, aku tidak punya apa-apa.” Marielle masih terlihat siaga.Cesare kembali menatapnya. Marielle menegang. Ia menghunuskan belati itu ke depan berusaha menjadi tameng dirinya selama Claude belum datang.“Wanita seperti Anda…” Cesare melangkah satu langkah mendekat.“Terlihat sangat rapuh untuk membawa senjata seperti itu.”Marielle perlahan menggenggam belati lebih erat. Meski tangannya sedikit gemetar.“Apa Grand Duke mengirimmu?” tanyanya pe
“Mari kita mulai malam ini.” Suara Marielle terdengar pelan, namun cukup tegas untuk membuat suasana rumah kecil itu menjadi hening. Claude masih menatapnya tak percaya. “Lady, ini terlalu berbahaya.” Claude kembali mencoba membujuk. “Bukankah sudah aku bilang, jika orang itu benar pembunuh bayaran yang dikirim Grand Duke untuk membunuhku, aku harus siap menghadapinya. Karena jika aku terus berlari dan menghindar, aku pasti akan terus dikejar.” Marielle menggenggam kedua tangannya di atas meja. “Saya tahu. Tapi bisakah saya tahu alasan Grand Duke ingin membunuh Anda?” Claude melihat Marielle dalam. Marielle menunduk. Dirinya masih tidak yakin untuk membocorkan semua rahasia yang ia punya pada Claude maupun Diana. Sesaat kemudian Marielle menjawab lirih. “Aku tidak bisa mengatakannya. Ini terlalu bahaya. Jika kalian tahu, aku takut nasib kalian akan seperti Enzo.” Ruangan kembali
“Claude!” Suara Marielle terdengar cukup keras dari arah rumah kecil itu.Claude yang sedang berdiri di dekat pepohonan langsung menoleh refleks. Dan di saat itulah bayangan hitam di balik semak bergerak cepat berusaha menghindari Claude untuk menghindari konfrontasi yang tidak perlu.Mata Claude langsung menyipit tajam ketika mendengar gemersik diantara dedaunan.“Siapa di sana?!” bentaknya spontan sambil meraih gagang pedang.Namun sosok itu sudah menghilang lebih dalam ke tengah hutan. Hanya suara dedaunan bergesekan yang tersisa.Claude langsung maju beberapa langkah hendak mengejar, namun suara langkah cepat dari belakang menghentikannya.“Claude, jangan!” Marielle berlari dari teras rumah dengan wajah pucat.Gaunnya sedikit terangkat karena langkah tergesa. Claude langsung menoleh.“Lady, ada seseorang di sana.”Marielle menghentikan langkahnya. Ia melihat sesaat ke dalam hutan lalu beralih pada Claude.“Aku tahu.” Napas Marielle terdengar tidak stabil.Ia langsung memegang leng
“Jika ksatria itu tidak ada di sana… aku sudah menebas leher wanita itu sejak tadi.” Suara Cesare terdengar pelan di balik bayangan pepohonan.Hari ini dia sudah berada di tempat biasanya. Berdiri dalam bayang-bayang tanpa menunjukan kecurigaan. Matanya yang tajam terus mengawasi rumah kecil di ujung desa itu tanpa berkedip sedikitpun.Di halaman rumah, Marielle sedang menyiram bunga dengan wajah tenang. Sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang menghitung jarak untuk membunuhnya.Angin pagi berhembus pelan. Jari Cesare perlahan menyentuh gagang pedang di pinggangnya.“Sayang sekali…” gumamnya lirih.“Kali ini aku harus lebih berhati-hati dalam menjalankan misi ini. Aku tidak ingin gagal untuk kedua kalinya.”Pagi di Valerante terasa tenang. Cahaya matahari masuk melalui jendela kecil rumah sederhana itu, menerangi lantai kayu yang masih sedikit basah setelah dibersihkan semalam.Marielle berdiri di halaman depan sambil membawa ember kecil berisi air. Rambut peraknya diikat s
“Aku harus segera melapor pada Grand Duke.” Suara Cesare terdengar rendah di balik bayangan pepohonan.Matanya masih tertuju pada rumah kecil di pinggir desa tempat Marielle baru saja masuk bersama Claude dan Diana.Tatapannya tajam. Terutama pada jubah yang dipakai Claude. Tak mungkin ia salah mengenali lambang itu. Lambang ksatria kerajaan yang hanya dipakai pasukan elit milik Raja.Cesare langsung mundur perlahan dari balik semak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Gerakannya ringan seperti bayangan. Beberapa detik kemudian, sosoknya benar-benar menghilang di antara pepohonan sore.Tak jauh dari tempatnya berada, seekor kuda hitam berdiam diri terikat di dekat jalan kecil desa. Cesare segera melepas tali dan naik dengan cepat.“Hyah!” ujarnya untuk membuat kudanya berjalan.Kuda itu langsung melesat membelah jalanan Valerante yang mulai gelap oleh senja. Angin menerpa wajahnya keras selama perjalanan menuju pusat kota.Namun pikirannya tetap tenang. Satu hal terus terulang di kepa
“Siapa kalian?” wanita muda itu bertanya pelan sambil memeluk keranjang bunga di dadanya.Suara lembutnya memecah keheningan sore di salah satu pemakaman kecil Valerante.Marielle perlahan berdiri dari depan makam Enzo. Di sampingnya, Claude dan Diana ikut menoleh pada wanita itu.Wanita tersebut tampak masih muda. Rambut hitamnya di kepang sederhana, dan wajahnya memiliki sedikit kemiripan dengan seseorang yang sangat mereka kenal.Jantung Marielle berdebar aneh. Claude lebih dulu menjawab dengan hati-hati.“Kami teman Sir Enzo semasa hidupnya.”Mata wanita itu sedikit melembut. Ia melangkah mendekat perlahan ke arah makam.“Jadi kalian adalah teman kakakku ya.” Senyumnya mengembang tipis namun terlihat sedih.“Saya sering melihat kakak saya bercerita tentang beberapa rekannya di kerajaan,” ujarnya pelan.Marielle langsung membeku.Kakak?Wanita itu menaruh keranjang bunganya di depan makam Enzo, lalu membungkuk kecil.“Perkenalkan.” Ia mengangkat wajahnya perlahan.“Nama saya Talia







