Partager

Serigala Valerante

Auteur: nababy
last update Date de publication: 2026-05-07 21:17:38

“Aku harus segera melapor pada Grand Duke.” Suara Cesare terdengar rendah di balik bayangan pepohonan.

Matanya masih tertuju pada rumah kecil di pinggir desa tempat Marielle baru saja masuk bersama Claude dan Diana.

Tatapannya tajam. Terutama pada jubah yang dipakai Claude. Tak mungkin ia salah mengenali lambang itu. Lambang ksatria kerajaan yang hanya dipakai pasukan elit milik Raja.

Cesare langsung mundur perlahan dari balik semak tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Gerakannya ringan seperti
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé

Dernier chapitre

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Aku Minta Maaf

    ​"Cepat ambilkan air hangat, Diana!" seru Marielle panik seraya beranjak dari kursinya.​Diana yang tak kalah syok buru-buru berlari ke dapur, sementara Marielle mengikis jarak dan berdiri di samping Aldric. Tanpa berpikir panjang, jemari halus Marielle menepuk-nepuk punggung lebar dan besar sang Grand Duke seraya mengurut tengkuknya pelan untuk meredakan sumbatan di tenggorokannya.​"Minum ini dulu, Grand Duke!" Diana kembali dengan memegang cangkir tanah liat berisi air hangat.​Marielle langsung menyambar cangkir itu dan menyodorkannya ke bibir Aldric. Pria itu dengan cepat meraih cangkir tersebut dengan tangan gemetar, meneguk air hangat di dalamnya dalam beberapa tegukan besar hingga nafasnya perlahan-lahan kembali teratur.​Wajah tampan Aldric yang memerah padam kini tertunduk dalam. Pria itu menyandarkan kedua sikunya di atas meja kayu, menutup sebagian wajahnya dengan telapak tangan seraya dengan nafas yang terengah-engah.​Gengsinya yang setinggi langit rasanya runtuh tak ber

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Makan Malam Bersama

    ​"Aku hanya kebetulan lewat," sahut Aldric cepat tanpa berpikir panjang.​Begitu kalimat itu lolos dari bibirnya, mata hitam Aldric membelalak tipis. Pria itu merutuki kebodohannya sendiri dalam hati. “Jawaban konyol macam apa itu?” batinnya frustasi. Jalur ini adalah jalan buntu yang hanya mengarah ke rumah Marielle dan area hutan. Tidak ada alasan logis bagi seorang Grand Duke untuk kebetulan lewat menjelang malam di jalan pinggir desa begini.​Marielle hanya menatap pria di hadapannya selama beberapa detik tanpa ekspresi.​"Oh... begitu," respon Marielle datar.​Tanpa membuang waktu atau bertanya lebih jauh, Marielle memegang tepi pintu dan langsung mendorongnya untuk ditutup.​​"Tunggu!"​Dengan refleks secepat kilat, Aldric menahan daun pintu kayu itu menggunakan telapak tangannya yang besar. Tenaganya yang kuat membuat gerakan pintu seketika terhenti kaku.​Marielle menghentikan dorongannya. Alis peraknya bertaut tajam saat menatap jari-jari tegap Aldric yang mencengkeram tep

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rasa Yang Aneh

    ​"Grand Duke," panggil Marielle dengan suara yang jernih dan tenang.​Langkah tegap Aldric terhenti. Ia berbalik, menatap Marielle dengan alis terangkat. "Ada apa lagi?"​"Terima kasih atas kebaikan Anda. Saya pamit untuk pulang," ujar Marielle lugas. "Saya akan kembali ke rumah saya sendiri di pinggir desa."​Aldric membelalakkan mata. Kerutan di dahinya dalam seketika. "Rumahmu? Maksudmu pondok kecil itu?"​"Benar," sahut Marielle tanpa ragu. "Tempat itu adalah rumah saya yang sebenarnya di Valerante. Diana dan saya akan tinggal di sana."​Dada Aldric berdesir kencang. Rasa tidak rela mendadak membakar batin sang Grand Duke. Bagaimana mungkin ia membiarkan wanita yang baru saja pulih dari ancaman racun istana tinggal di tempat terpencil di pinggir desa?​"Tidak bisa," potong Aldric tegas, melangkah mendekati Marielle. "Rumah itu sudah lama kosong dan letaknya terlalu dekat dengan area hutan. Kondisimu belum…" Kalimat Aldric terjeda.​"Grand Duke Aldric!" ​Sebuah seruan nyaring memot

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Selamat Datang Kembali

    “Tanpa kau suruh, aku juga akan memakannya,” balas Marielle dingin.Aldric hanya bisa terdiam. Dirinya sebenarnya kesal, namun untuk menjaga suasana tetap terjaga, untuk sekarang dia lebih memilih untuk mengalah.“Grand Duke, terima kasih atas bantuanmu. Karenamu, aku bisa keluar dari istana.” Suara lirih Marielle menghentikan tangan Aldric yang terus mengaduk sup di mangkuk miliknya.“Kau tidak perlu berterima kasih. Anggap saja itu balas budiku karena kau sudah membantuku melawan Heinry.”Suasana kembali hening. Perlahan Aldric mengangkat kepalanya dan melihat wanita yang duduk di seberang. Ia melihat Marielle mengangguk dengan tatapan kosong. Meski begitu, di mata Aldric Marielle terlihat sangat cantik.Namun, ia segera menepis semua itu. Ia langsung menggelengkan kepala pelan dan kembali fokus pada makanannya.“Habiskan makananmu. Dan cepat tidur, karena besok pagi kita harus melanjutkan perjalanan.”“Iya…”​Sup daging di mangkuk mereka akhirnya habis. Keheningan yang menyelimuti

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Desa Persinggahan.

    “Lady, Anda tadi sangat berani bicara tegas depan Raja. Anda tidak takut jika Yang Mulia Marah?” Diana mendekat pada Marielle saat dalam kereta kuda.“Justru itu. Aku harus membuatnya membenciku agar rumah tangga Raja dan Ratu bertahan lebih lama. Aku tidak ingin merusak rumah tangga orang,” balas Marielle enteng dengan pandangan yang terus melihat keluar jendela.“Begitu… bagi saya, Lady tadi sangat keren.” Diana menyunggingkan senyum sumringah.Marielle membalas senyum itu sebentar, lalu kembali menatap jalanan yang mereka lalui.Di dalam kereta, Marielle bersandar pada bantalan beludru, menatap pepohonan pinus tinggi yang mulai menggantikan deretan bangunan megah ibukota. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, dadanya tak lagi terasa sesak.Sesekali, pandangan Marielle bertemu dengan Aldric yang menunggang kuda. Namun setiap mata mereka bertemu, keduanya langsung memalingkan muka. Seolah menghindari satu sama lain.​Memasuki senja, kabut tebal khas daerah pegunungan mulai turu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kepulangan Menuju Valerante

    ​"Kau tidak boleh pergi!" ​Suara Cassian yang bernada menahan kemarahan memecah keheningan pelataran utama. Beberapa pengawal istana di ambang gerbang refleks menegakkan tubuh, merasakan atmosfer di antara para bangsawan tinggi itu mendadak menegang.​Marielle menghentikan langkahnya tepat di depan anak tangga. Ia berbalik perlahan, mempertahankan gestur tubuhnya yang tenang dan anggun. Sorot mata peraknya menatap Cassian lurus-lurus tanpa menyisipkan sedikitpun rasa takut.​"Apa yang membuat Yang Mulia menahan saya?" tanya Marielle, suaranya terdengar lembut namun tegas. "Kondisi tubuh saya sudah sangat stabil, dan batas waktu dua hari yang Yang Mulia berikan telah genap saat matahari terbit pagi ini."​Cassian melangkah maju satu langkah, mencoba menguasai situasi yang membuatnya pelik. "Marielle, keputusanmu terlalu terburu-buru. Kau baru saja membaik dari luka yang serius. Sebagai pelindung wilayah Minerva, aku tidak bisa membiarkan pahlawan yang telah menumpahkan darahnya untu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perubahan Yang Terlihat

    Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Sebuah Tekad

    “Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permulaan Takdir

    “Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status