LOGIN“Ugh...” erang Marielle pelan saat kelopak matanya yang seberat timah perlahan terkuak.Marielle memegang kepalanya yang terasa memutar. Rasa hangat membakar di dadanya semalam telah berganti menjadi rasa haus menyengat.Namun saat Marielle hendak memiringkan tubuhnya, dadanya mendadak tercekat.Gumpalan selimut bulu tebal menutupi tubuhnya hingga ke dada. Saat jemarinya meraba bagian atas dadanya, Marielle menyadari dua kancing atas kemeja putihnya sudah terbuka, memperlihatkan garis leher dan kulit hangatnya yang terbuka di balik selimut. Kepanikan kecil seketika menyergap dadanya.Marielle menarik selimut itu rapat-rapat, dadanya naik-turun memburu kencang. Dalam sekejap, potongan memori malam tadi mendadak berputar kembali di benaknya bagaikan pecahan kaca yang menusuk tajam.Kekalahannya di papan catur, caranya meminum habis anggur merah itu dalam sekali teguk, rasa melayang yang memabukkan hingga momen saat tubuh kekar Aldric mengurungnya di atas kasur ini. Sensasi bibir
“Nikmatilah kemenangan kecil Anda malam ini, Grand Duke gila...” bisik Marielle tepat di depan telinga Aldric, suaranya berat dan sarat akan ancaman yang teramat manis. “Karena saat rasa mabuk ini hilang besok pagi... aku akan memastikan Anda membayar mahal untuk setiap sentuhan ini.”Kekehan rendah bergetar di dalam dada bidang Aldric. Nafas hangat pria itu terasa makin panas saat ia menyusupkan jemarinya ke sela-sela helai rambut perak Marielle, mengekang tengkuk wanita itu agar tidak bisa berpaling.“Kau pikir kau punya kesempatan untuk membuatku membayar, Marielle?” bisik Aldric dengan suara yang dalam dan begitu serak. “Bahkan dalam kondisi sadar pun, kau tak pernah menang dariku di papan catur maupun di arena pedang. Apalagi malam ini... saat kau begitu rapuh di dalam genggamanku.”Marielle mengerang rendah, mencoba mendorong dada Aldric dengan kedua tangannya yang kini terasa begitu lemas. Efek anggur utara yang menjalar di pembuluh darahnya membuat koordinasi tubuhnya hanc
“Biar aku yang memulai langkah pertama, Pimpinan Strategi,” ujar Aldric santai sambil menyentuh salah satu buah catur kayu hitam di atas papan ukir yang tergelar di antara mereka. Pria itu menggeser pion benteng miliknya dua kotak ke depan. “Divisi garda depan Valtore mengambil posisi di celah sempit Lembah Salju, menahan laju pasukanmu dengan barisan perisai baja.”Marielle menyunggingkan senyum sinis. Dengan gerakan anggun namun penuh penekanan, jemari lentiknya meraih buah kuda putih, melangkahkannya melompati barisan pion dan mendarat tegas di area sayap kiri papan catur.“Penyerang tak akan sekonyol itu menghantam barisan perisai secara langsung, Grand Duke,” sahut Marielle dingin. “Langkah pertamaku, aku membagi pasukan menjadi dua.”Aldric mengalihkan pandangannya dari papan catur ke dalam mata perak Marielle. Kilatan minat di mata hitam pria itu makin membara. Pria itu mengulurkan tangan, menarik mundur menteri hitamnya satu kotak mendekati posisi raja.“Langkah yang agr
“Ganti gaun ini dengan pakaian yang lebih tertutup dan kaku, Diana,” perintah Marielle tegas sambil menunjuk gaun malam berenda sutra yang telah disiapkan di atas tempat tidur.“Tapi, Lady... Ini adalah gaun khusus yang dikirimkan langsung dari penjahit pribadi Kastil Valtore atas perintah Yang Mulia Grand Duke untuk makan malam nanti,” cicit Diana cemas, memegang gaun berwarna merah marun tersebut dengan kedua tangannya yang gemetar.“Aku tidak peduli siapa yang memesannya,” sahut Marielle dingin. Manik peraknya berkilat tajam di depan cermin rias. “Aku berada disini karena kekalahan duel pedang, bukan karena aku bermaksud menjadi teman kencan malamnya. Ambilkan kemeja kerja dan celana penunggang kudaku yang biasa.”Diana menarik napas panjang, menyadari tak ada gunanya mendebat wanita bertekad baja di hadapannya ini. Setengah jam kemudian, Marielle sudah duduk tegak di salah satu kursi kayu ukir di ruang duduk kamarnya. Ia mengenakan kemeja katun putih berkerah tinggi yang terka
“Saya permisi dulu, Grand Duke, Lady Marielle.” Jackson langsung menghambur keluar dan menutup pintu cepat-cepat.Suara langkah kakinya yang berlari terburu-buru menyusuri koridor batu terdengar mereda di kejauhan. Keheningan yang mendadak jatuh di dalam ruang kerja terasa amat sangat pekat, membuat suara detak jam dinding kuno dan deru angin dingin di luar jendela terdengar makin bising.Marielle memanfaatkan momen interupsi konyol Jackson untuk menghentakkan tangannya kuat-kuat, melepaskan cengkraman Aldric pada pergelangan tangannya. Dengan satu dorongan tegas di dada bidang sang Grand Duke, Marielle mengambil dua langkah mundur. Nafasnya naik-turun cepat, sementara wajahnya memerah paduan antara amarah dan rasa malu yang amat sangat.“Lihat apa yang baru saja Anda lakukan, Grand Duke?!” desis Marielle tajam, menatap Aldric dengan kilatan perak matanya yang menyala-nyala. “Gara-gara kelakuan konyol Anda, seluruh Kastil Valtore akan makin berpikir bahwa pimpinan strategi mereka
“Lady Marielle... sarapan dan teh hangat Anda sudah siap,” bisik Diana pelan, membuyarkan lamunan Marielle. Pelayan muda itu menatap pergelangan tangan Marielle dengan cemas. “Bagaimana tangan Anda? Apakah masih terasa sangat sakit?”Marielle yang baru terbangun langsung menyembunyikan sisa memar keunguan di kulitnya. “Sudah jauh lebih baik, Diana. Tolong siapkan gaunku ya. Hari ini aku harus memeriksa alokasi logistik di ruang kerja utama.”“Baik, Lady.”Satu jam kemudian, Marielle melangkah menyusuri koridor menuju ruang kerja utama. Langkah kakinya mantap dan anggun, menunjukkan profesionalisme penuh meski hatinya dirayapi prasangka.Di dalam ruang kerja yang luas dan dipenuhi rak-rak buku tua, Jackson tampak sedang memilah tumpukan surat berstempel lilin berbagai warna. Wajah pria berkacamata itu terlihat kelelahan, jarinya lincah mencatat poin-poin penting di atas perkamen.“Selamat pagi, Jackson,” sapa Marielle tenang sambil menarik kursi di seberang meja kerja besar.Ja
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor







