LOGIN“Grand Duke Aldric! Apa kau sudah kehilangan sisa kewarasanmu?!” teriak Marielle menggelegar, menggema di seluruh koridor tinggi tersebut.Marielle datang dengan langkah menghentak penuh amarah, jubah peraknya terseret di lantai marmer dingin. Begitu ia melihat sosok Aldric yang baru saja keluar dari ruang kerjanya dengan santai, peluru kemarahan yang ia tahan seharian langsung meledak begitu saja.Aldric, yang baru saja melonggarkan kerah kemejanya, menghentikan langkah. Pria itu menoleh dengan sebelah alis terangkat, menatap wanita di hadapannya yang kini bernapas memburu dengan mata perak menyala-nyala bagai nyala api badai salju.“Ah, kau sudah kembali dari Paviliun Barat, Marielle,” jawab Aldric dengan nada santai yang justru semakin menyulut emosi Marielle. “Kira-kira apa yang membuatmu berlari terengah-engah ke sini selarut ini? Apakah kamarmu yang baru terasa kurang nyaman?”“Jangan pura-pura bodoh!” maki Marielle, melangkah maju hingga jarak mereka hanya terpaut beberap
“Grand Duke, apa otak Anda bergeser karena saya telah menanduk kepala Anda tiga hari yang lalu? Kenapa ucapan Anda menjadi ngelantur seperti ini?” Marielle menatap tajam pada Aldric. Sedangkan Aldric hanya tersenyum sambil membusungkan badan melihat ke arah para pekerja. “Kau tahu, kau membuatku gila selama tiga hari ini Marielle. Aku selalu memikirkanmu karena baru kali ini ada seorang wanita yang berani membenturkan kepalanya padaku dengan sekuat tenaga," ucap Aldric berkacak pinggang sambil melayangkan senyum tipis pada Marielle. Marielle hanya bisa menghela nafas. Kali ini ia menyesali tindakannya karena sikapnya tiga hari lalu telah membuat Grand Duke gila. Seharian Marielle terus berusaha fokus dengan pekerjaannya, namun setiap Marielle pergi ke satu titik, Aldric masih mengikuti. Grand Duke seolah menjelma menjadi anjing penjaga yang Marielle bawa. Bahkan Jackson yang melihat tingkah mereka berdua hanya bisa memandang tanpa berkata apapun. ”Akhirnya selesai juga. Kau
“Jangan bermimpi, Grand Duke!” seru Marielle dengan suara bergetar hebat, manik peraknya menyala tajam menyembunyikan rasa salah tingkah yang luar biasa setelah sapuan bibir kilat pria itu tadi. “Saya memiliki kamar sendiri, wilayah kerja sendiri, dan hidup sendiri! Saya tidak akan pernah sudi memindahkan satupun barang saya ke sayap timur kastil ini!”Aldric tidak terlihat marah sedikit pun. Pria itu justru merapikan kerah kemejanya dengan gerakan santai, manik hitam pekatnya menatap Marielle dengan sorot mata penuh keyakinan yang menjengkelkan.“Kita lihat saja nanti, pimpinan strategi,” balas Aldric ringan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman miring yang menyimpan ribuan rencana berbahaya. “Kau selalu pintar mendebatku dengan kata-kata, Marielle. Tapi kau tahu betul, keputusan di Kastil Valtore tidak pernah ditentukan oleh siapa yang paling banyak bicara.”Sebelum Marielle sempat melontarkan balasan pedas untuk membungkam seringai menyebalkan itu, suara ketukan pintu
Selama tiga hari penuh pasca insiden memalukan yang disaksikan oleh Jackson, Marielle benar-benar menolak menginjakkan kaki di sayap timur Kastil Valtore. Wanita itu menjelma menjadi bayangan yang bergerak secara sembunyi-sembunyi. Setiap kali ada laporan harian, revisi anggaran, atau draf pemetaan ulang untuk Sektor Dua yang harus diserahkan kepada sang Grand Duke, ia dengan sengaja menyuruh pelayannya, Diana, atau prajurit muda seperti Tristan untuk mengantarkannya langsung. Di dalam benaknya, benteng pertahanan terakhirnya adalah jarak. Ia berpikir bahwa dengan mengunci diri di Paviliun Barat dan menghindari tatap muka, ia bisa mendinginkan kepalanya sekaligus memaksa Aldric menyerah pada permainan gilanya.Namun, Marielle lupa dengan siapa ia berurusan. Seorang Grand Duke Aldric Valtore tidak pernah diciptakan untuk menyerah hanya karena dihindari atau bahkan ditanduk di bagian kening. Bagi pria itu, perlawanan Marielle bukanlah sebuah penolakan, melainkan sebuah undangan terb
“Tunggu! Kau salah paham!” teriak Marielle kencang ke arah pintu yang sudah merapat.Tapi nasi sudah menjadi bubur. Jackson terlanjur kabur dan menutup pintu rapat-rapat, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan yang dipenuhi ketegangan dan debaran gila.“Lepaskan saya!” Marielle meronta, mendorong dada bidang Aldric sekuat tenaga.Namun, pria itu seolah tak bergeming sedikitpun. Aldric malah semakin merapatkan posisinya, sama sekali tidak merasa terganggu dengan interupsi memalukan dari asisten pribadinya barusan. Manik hitam pekat sang Grand Duke menatap lurus ke dalam mata perak Marielle dengan binar posesif yang berbahaya.Jemarinya yang kokoh semakin mengeratkan pegangan di sisi tubuh wanita itu, membuat napas Marielle kian memburu. Bibir Aldric perlahan mendekat ke sisi telinga Marielle, membisikkan kalimat maut dengan suara baritonnya yang serak dan menggoda.“Kenapa tidak kita teruskan saja... daripada terjadi sebuah fitnah, lebih baik kita jadikan kejadian ini menjad
“Bisakah Anda diam saja?” Marielle melengos, memalingkan wajahnya dengan nafas memburu dan pipi yang masih merona merah padam akibat malu.“Aku tidak akan diam sampai kau menjelaskan rencana kecilmu tentang rencana pembunuhan padaku,” balas Aldric santai, semakin mendekatkan wajahnya dengan senyuman miring yang begitu menjengkelkan. “Atau... apakah kau sebenarnya hanya ingin mencari perhatianku dengan cara menulis surat ancaman seperti itu, pimpinan strategi?” Aldric lagi-lagi tersenyum menyebalkan.Batas kesabaran Marielle akhirnya resmi runtuh berkeping-keping. Urat-urat di pelipis wanita itu berdenyut hebat. Sisa-sisa profesionalisme yang ia jaga sejak pagi buyar seketika digantikan oleh kemarahan yang sudah mencapai ubun-ubun. Tanpa memedulikan status agung pria di hadapannya, Marielle melompat bangkit, tangannya bergerak cepat mencengkram erat kerah kemeja formal Aldric, lalu menarik tubuh pria itu hingga wajah mereka berada dalam jarak nyaris tanpa udara.“Anda benar-bena
“Yang Mulia Ratu, ada yang ingin saya sampaikan pada Anda.” Salah satu dayang menghampiri Elira.Dayang itu mulai berbisik di telinganya, dan membuat mimik wajah Elira berubah seketika.“Jadi itu sebabnya dia langsung mengurung diri di ruang kerjanya,” ucapnya pelan sambil merem
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de







