Share

Malam Penuh Gairah

Author: nababy
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-16 22:00:47

“Mmhh!” Nafas Elira lolos saat Cassian terus berusaha membuatnya membuka bibirnya.

Dengan pelan, pria itu berusaha mengimbangi Elira yang terlihat kewalahan dari tempo miliknya. Nafas mereka berpadu, bersama angin malam di istana selatan terasa lebih hangat dari biasanya.

Angin laut berhembus pelan melalui jendela yang sedikit terbuka, membawa suara ombak yang menenangkan. Cahaya bulan masuk dengan lembut, menyelimuti ruangan dalam nuansa keperakan yang tenang.

Eli
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kancing Yang Tertinggal

    ​“Keluar dari kamar saya sekarang, Grand Duke... sebelum saya melempar botol tinta ini tepat di wajah tampan Anda yang menyebalkan itu!”​Kekehan rendah yang amat terhibur bergetar dari dada bidang Aldric. Bukannya gentar atau melangkah mundur, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu langkah lagi, menatap botol tinta kaca yang digenggam Marielle dengan binar mata hitam yang penuh pendar cemoohan manis.​“Lempar saja, Pimpinan Strategi,” bisik Aldric lembut, suaranya mengalun rendah dan begitu provokatif di antara keheningan kamar. “Noda tinta di wajahku mungkin bisa dihapus dalam hitungan detik. Tapi ingatan tentang bagaimana tubuhmu gemetar dan bagaimana kau mendesah memohon padaku semalam... tidak akan pernah bisa dihapus dari otakku.” Aldric menyeringai penuh kemenangan.​Wajah Marielle seketika makin membara. Nafasnya memburu kencang, jarinya mengencang pada botol kaca hingga buku-buku jarinya memutih.​Sebelum Marielle sempat benar-benar melayangkan botol tinta berat itu

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Keributan Di Pagi Hari

    ​“Ugh...” erang Marielle pelan saat kelopak matanya yang seberat timah perlahan terkuak.​Marielle memegang kepalanya yang terasa memutar. Rasa hangat membakar di dadanya semalam telah berganti menjadi rasa haus menyengat.​Namun saat Marielle hendak memiringkan tubuhnya, dadanya mendadak tercekat.​Gumpalan selimut bulu tebal menutupi tubuhnya hingga ke dada. Saat jemarinya meraba bagian atas dadanya, Marielle menyadari dua kancing atas kemeja putihnya sudah terbuka, memperlihatkan garis leher dan kulit hangatnya yang terbuka di balik selimut. Kepanikan kecil seketika menyergap dadanya.​Marielle menarik selimut itu rapat-rapat, dadanya naik-turun memburu kencang. ​Dalam sekejap, potongan memori malam tadi mendadak berputar kembali di benaknya bagaikan pecahan kaca yang menusuk tajam.​Kekalahannya di papan catur, caranya meminum habis anggur merah itu dalam sekali teguk, rasa melayang yang memabukkan hingga momen saat tubuh kekar Aldric mengurungnya di atas kasur ini. Sensasi bibir

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Tidak Seburuk Itu

    “Nikmatilah kemenangan kecil Anda malam ini, Grand Duke gila...” bisik Marielle tepat di depan telinga Aldric, suaranya berat dan sarat akan ancaman yang teramat manis. “Karena saat rasa mabuk ini hilang besok pagi... aku akan memastikan Anda membayar mahal untuk setiap sentuhan ini.”​Kekehan rendah bergetar di dalam dada bidang Aldric. Nafas hangat pria itu terasa makin panas saat ia menyusupkan jemarinya ke sela-sela helai rambut perak Marielle, mengekang tengkuk wanita itu agar tidak bisa berpaling.​“Kau pikir kau punya kesempatan untuk membuatku membayar, Marielle?” bisik Aldric dengan suara yang dalam dan begitu serak. “Bahkan dalam kondisi sadar pun, kau tak pernah menang dariku di papan catur maupun di arena pedang. Apalagi malam ini... saat kau begitu rapuh di dalam genggamanku.”​Marielle mengerang rendah, mencoba mendorong dada Aldric dengan kedua tangannya yang kini terasa begitu lemas. Efek anggur utara yang menjalar di pembuluh darahnya membuat koordinasi tubuhnya hanc

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Kalah Untuk Kedua Kali

    ​“Biar aku yang memulai langkah pertama, Pimpinan Strategi,” ujar Aldric santai sambil menyentuh salah satu buah catur kayu hitam di atas papan ukir yang tergelar di antara mereka. Pria itu menggeser pion benteng miliknya dua kotak ke depan. “Divisi garda depan Valtore mengambil posisi di celah sempit Lembah Salju, menahan laju pasukanmu dengan barisan perisai baja.”​Marielle menyunggingkan senyum sinis. Dengan gerakan anggun namun penuh penekanan, jemari lentiknya meraih buah kuda putih, melangkahkannya melompati barisan pion dan mendarat tegas di area sayap kiri papan catur.​“Penyerang tak akan sekonyol itu menghantam barisan perisai secara langsung, Grand Duke,” sahut Marielle dingin. “Langkah pertamaku, aku membagi pasukan menjadi dua.”​Aldric mengalihkan pandangannya dari papan catur ke dalam mata perak Marielle. Kilatan minat di mata hitam pria itu makin membara. Pria itu mengulurkan tangan, menarik mundur menteri hitamnya satu kotak mendekati posisi raja.​“Langkah yang agr

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permainan Jebakan

    “Ganti gaun ini dengan pakaian yang lebih tertutup dan kaku, Diana,” perintah Marielle tegas sambil menunjuk gaun malam berenda sutra yang telah disiapkan di atas tempat tidur.​“Tapi, Lady... Ini adalah gaun khusus yang dikirimkan langsung dari penjahit pribadi Kastil Valtore atas perintah Yang Mulia Grand Duke untuk makan malam nanti,” cicit Diana cemas, memegang gaun berwarna merah marun tersebut dengan kedua tangannya yang gemetar.​“Aku tidak peduli siapa yang memesannya,” sahut Marielle dingin. Manik peraknya berkilat tajam di depan cermin rias. “Aku berada disini karena kekalahan duel pedang, bukan karena aku bermaksud menjadi teman kencan malamnya. Ambilkan kemeja kerja dan celana penunggang kudaku yang biasa.”​Diana menarik napas panjang, menyadari tak ada gunanya mendebat wanita bertekad baja di hadapannya ini. Setengah jam kemudian, Marielle sudah duduk tegak di salah satu kursi kayu ukir di ruang duduk kamarnya. Ia mengenakan kemeja katun putih berkerah tinggi yang terka

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Dua Hati Yang Sulit Bersatu

    “Saya permisi dulu, Grand Duke, Lady Marielle.” Jackson langsung menghambur keluar dan menutup pintu cepat-cepat.​Suara langkah kakinya yang berlari terburu-buru menyusuri koridor batu terdengar mereda di kejauhan. Keheningan yang mendadak jatuh di dalam ruang kerja terasa amat sangat pekat, membuat suara detak jam dinding kuno dan deru angin dingin di luar jendela terdengar makin bising.​Marielle memanfaatkan momen interupsi konyol Jackson untuk menghentakkan tangannya kuat-kuat, melepaskan cengkraman Aldric pada pergelangan tangannya. Dengan satu dorongan tegas di dada bidang sang Grand Duke, Marielle mengambil dua langkah mundur. Nafasnya naik-turun cepat, sementara wajahnya memerah paduan antara amarah dan rasa malu yang amat sangat.​“Lihat apa yang baru saja Anda lakukan, Grand Duke?!” desis Marielle tajam, menatap Aldric dengan kilatan perak matanya yang menyala-nyala. “Gara-gara kelakuan konyol Anda, seluruh Kastil Valtore akan makin berpikir bahwa pimpinan strategi mereka

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Perubahan Yang Terlihat

    Jemari Cassian membelai lembut pipi Marielle yang masih terlelap di sampingnya. Wajahnya terlihat setengah terbenam di bantal, dan sisanya masih menghadap pada sang pujaan. “Maaf Marielle, aku harus membunuh cintamu pada Raja agar kau tetap hidup.” Cassian mendengarnya dengan jelas semalam. Dia

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Sebuah Tekad

    “Hah! Semakin dipikirkan semakin membuatku pusing,” keluhnya, mengacak-acak rambut kasar. Sudah banyak kertas yang tercoret oleh skema rencana bertahan hidup, dirinya membuat tiga skema. Mulai dari kabur dari istana, mengikuti arahan Duke, dan mendekati Ratu Elira, sang tokoh utama. Ia memilah-m

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Awal

    “Ada banyak hal yang ingin saya bicarakan dengan Anda, Lady.” Duke Aldric membungkuk memberi hormat sebelum dirinya mulai mendekat. Jari-jari Marielle mencengkeram kain rok hingga berkerut. Tenggorokannya terasa kering, seolah ada sesuatu yang mencekiknya dari dalam. Sekelebat ingatan tentang akhi

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permulaan Takdir

    “Jadi itu tokoh utama wanitanya... Ratu Elira Aragon.” Gadis itu menatap wanita di halaman istana dengan ekspresi rumit. Pandangannya tertuju pada sang Ratu, tokoh utama dalam novel "Mawar Yang Kembali Merekah". Novel itu pernah ia baca saat masih hidup dulu—ketika dirinya masih seorang manusia bi

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status