Masuk“Apa yang harus aku lakukan?” Kedua tangan Elira saling menggenggam erat sambil mondar-mandir di kamarnya.Dayang Elira yang terus melihat perlahan bertanya, “Yang Mulia Ratu, apakah Anda baik-baik saja?”Tatapan kalut Elira sudah menjawab semuanya. Meski sang Ratu bicara tidak, tapi raut wajahnya tak bisa menipu sang dayang.“Sungguh Anda tidak apa-apa? Maukah saya panggilkan Grand Duke? Biasanya Anda lebih tenang jika setelah berbincang dengan beliau,” ucap Dayang pelan.Mendengar kata Grand Duke, Elira langsung teringat Aldric. Pria yang selalu menuruti semua keinginannya.“Kau benar. Antarkan aku menemui Grand Duke segera.”Langkah kaki Elira terburu-buru menembus lorong menuju paviliun sayap barat, kediaman Grand Duke Valerante. “Aku ingin menemui Grand Duke. Dia ada di dalam kan?” tanya Elira berusaha bersikap tenang.Pengawal di depan pintu sempat ragu, namun atas wibawa sang Ratu, mereka terpaksa membiarkannya masuk tanpa pengawalan.“Silahkan, Yang Mulia Ratu.”Di dalam ru
“Lady… apakah Anda baik-baik saja?” Diana tiba-tiba menghampiri dengan wajah khawatir khasnya.“Tenang. Pria itu tidak berbuat apa-apa padaku.”“Sebaiknya Lady segera minum obat. Sudah waktunya Anda minum obat Lady.”Marielle mengangguk. Ia bersama Diana pergi dari taman paviliun menuju kamarnya kembali.Langkah kaki Marielle terasa jauh lebih ringan saat berjalan kembali menuju kamarnya bersama Diana. Setelah meneguk ramuan obat pahit yang disiapkan pelayannya, Marielle mendudukkan diri di tepi ranjang. Tak lama kemudian, dokter istana datang dengan membawa tas kulit berisi peralatan medis untuk melakukan pemeriksaan rutin harian.Dokter paruh baya itu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Marielle, menekan beberapa bagian lukanya dengan hati-hati, lalu mencatat sesuatu di kertas perkamennya."Bagaimana, Dokter? Saya merasa tubuh saya sudah sangat segar hari ini," ujar Marielle dengan pendar lega di matanya. "Rasa nyeri di dada saya juga sudah hilang sepenuhnya, dan kepala
“Yang Mulia Raja sudah pulang?”“Benar, Yang Mulia Ratu.”Elira seketika mengusap sudut matanya yang basah dengan gerakan cepat, mengembalikan dagunya ke posisi tinggi. Dalam hitungan detik, raut tertekan dan ketakutan di wajahnya menguap, digantikan oleh topeng Ratu Minerva yang dingin, anggun, dan tak tersentuh.Marielle hanya menarik nafas pelan, mengagumi betapa cepatnya Elira memasang benteng pertahanannya kembali.Suara langkah kaki tegap yang berwibawa memecah kesunyian koridor taman. Sosok Raja Cassian muncul dari balik pilar, diikuti oleh Grand Duke Aldric yang melangkah kaku beberapa tapak di belakangnya. Jubah Cassian berkilau diterpa cahaya matahari siang itu, sementara jubah hitam Aldric masih membawa aura dingin dan amis dari alun-alun eksekusi.Namun, langkah Cassian mendadak melambat saat matanya menangkap kehadiran Elira yang berdiri di samping meja makan kecil Marielle.Alis sang Raja bertaut tajam. Atmosfer hangat di matanya yang semula disiapkan untuk bertem
“Bagaimana saya bisa menggoda Raja... jika saya sendiri adalah orang yang paling ingin melarikan diri dari tempat ini, Yang Mulia?”Suara Marielle mengalir tenang dan lembut, memotong desisan ancaman Elira sebelumnya. Tidak ada nada sinis, perlawanan keras, ataupun nada merendahkan dalam bicaranya. Kelopak mata peraknya menatap lurus ke dalam netra Elira yang dipenuhi api cemburu.Marielle mengambil nafas pelan sebelum kembali melanjutkan, suaranya yang terdengar begitu tulus."Saya mengerti kekhawatiran Anda, Yang Mulia Ratu. Tapi percayalah pada saya... saya sama sekali tidak memiliki niat untuk kembali ke dalam istana ini, apalagi untuk merebut kembali posisi sebagai selir Yang Mulia Raja Cassian."Elira tertawa sumbang, menggelengkan kepalanya seraya mundur satu langkah. Ia tak langsung percaya begitu saja dengan kalimat-kalimat yang Marielle utarakan padanya."Jangan berbohong padaku! Kau pikir aku buta, Marielle?! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Cassian
Hari ini, adalah hari eksekusi setelah menunggu seminggu lamanya. Alun-alun menjadi saksi bisu dari akhir tragis para pengkhianat Minerva.“Ayo cepat jalan!” ujar pengawal pada para pengkhianat.Di atas panggung eksekusi yang terbuat dari kayu jati tebal, lima orang kepala keluarga bangsawan Valerante berlutut dengan tangan terikat rantai besi di punggung mereka. Wajah mereka pucat pasi, dipenuhi memar dan keputusasaan. Leopold bersama lainnya sudah duduk berjajar di atas panggung eksekusi yang dilihat banyak orang.Raja Cassian terlihat duduk di singgasana pengadilan yang ditempatkan di balkon atas, menatap kelima pengkhianat itu dengan sorot mata perak yang sedingin es. Namun, bukan Cassian yang menjadi algojo hari ini.Di atas panggung eksekusi, Grand Duke Aldric berdiri tegak. Jubah hitamnya berkibar pelan diterpa angin. Wajah tampannya terukir kaku tanpa setitik pun belas kasih. Jika di depan Marielle pria ini mulai menunjukkan keraguan dan emosi yang tak menentu, maka di pan
"Senang melihat Anda begitu dermawan pagi ini, Yang Mulia Raja," sindir Aldric dingin. Tangannya terangkat, menunjuk langsung ke arah stempel otoritas tersebut. "Namun, saya harus menolak pemberian stempel itu untuk Marielle."Cassian menegakkan punggungnya, sorot mata peraknya seketika menajam. "Apa maksudmu, Grand Duke? Ini adalah wewenang khusus yang kuberikan pada sang Pahlawan Kerajaan.""Wewenang khusus? Apakah Yang Mulia tidak berpikir jika wewenang itu secara terang-terangan melangkahi kekuasaan saya?" potong Aldric tegas, suaranya dipenuhi ketegasan khas pimpinan Valerante.Aldric melangkah maju hingga berdiri sejajar di samping Marielle, menatap Cassian tanpa gentar sedikit pun."Valerante adalah wilayah otonom di bawah kepemimpinan saya," lanjut Aldric dengan nada angkuh. "Jika Anda memberikan stempel otoritas pembangunan langsung kepada Marielle tanpa melalui persetujuan saya, itu sama saja dengan merendahkan posisi saya sebagai Grand Duke! Anda membuat seolah-olah p
“Selamat pagi Yang Mulia,” sapa Diana sambil membungkuk saat baru saja masuk ke dalam kamar Marielle.Cassian sudah duduk bersandar pada sandaran kasur, jemarinya sibuk membelai rambut Marielle yang masih terlelap.“Kau. Buatkan makanan kesukaan Marielle. Aku rasa dia membutuhkannya sekarang,” ujar
“Marielle!” Suara Cassian terdengar samar-samar. Marielle membuka mata disebuah tempat asing nan gelap. Rasanya sangat dingin dan mencekam, membuatnya sedikit ketakutan. “Di mana ini…?” bisiknya, tatapannya melihat ke semua arah tempat gelap. Ia memeluk dirinya sendiri, mengelus lengannya untuk
“Apa? Makan malam bersama Ratu?!” Suara Cassian meninggi, seakan tak percaya dengan apa yang ia dengar. Marielle mengangguk, bola matanya membesar dan berbinar. Kali ini dirinya tidak boleh gagal, dia harus segera mungkin bicara pada Ratu. Dia langsung meraih tangan Cassian menggenggamnya erat de
“Lady Marielle, apakah anda yakin ingin bertemu dengan Yang Mulia Ratu?” tanya Diana sekali lagi untuk memastikan.Marielle masih berdiri didepan cermin, merapikan gaun indah yang membalut tubuhnya. Sekali lagi ia menatap dari kejauhan lantai dua, Ratu tengah berbincang dengan serigala licik Valtor







