Home / Fantasi / Mengubah Takdir Selir Antagonis / Sebuah Rencana Nirempati

Share

Sebuah Rencana Nirempati

Author: nababy
last update publish date: 2026-03-24 23:21:03

“Lady Marielle?” Suara Enzo membuyarkan lamunannya.

Cepat-cepat Marielle langsung membenarkan posisi duduknya kembali. Ia menjadi salah tingkah. Wajahnya terasa panas hingga membuat pipinya merah merona.

“Kenapa jantungku masih berdebar sangat kencang?” rutuknya dalam hati.

“Lady Marielle, Anda tidak apa-apa? Wajah Anda terlihat sangat merah.” Enzo mendekat, mencoba memastikan jika Marielle baik-baik saja.

Satu tangannya terangkat menyentuh dahi Marielle pelan. Membuat pemiliknya kalang kabut.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Bayang-bayang Masa Lalu

    “Yang Mulia…” Suara Marielle mendadak lirih.Cassian memegang tangan Marielle, menggenggamnya erat seperti harta karun miliknya yang sangat berharga.“Aku berjanji akan memperlakukanmu lebih baik. Tidak akan aku biarkan siapapun menghinamu, termasuk Ratu.” Cassian menatap mantan selirnya penuh harap.Namun Marielle langsung menarik kembali tangannya. Ia melihat wajah Raja dengan tatapan tidak percaya.“Maaf… tapi saya sudah tidak berminat untuk menjadi selir Anda lagi,” ucap Marielle mutlak.​Mendengar penolakan yang begitu dingin dan mutlak dari bibir Marielle, Cassian merasa seolah-olah seluruh dunianya runtuh seketika. Genggaman tangannya yang kosong di udara perlahan turun, gemetar kecil akibat syok yang luar biasa.​"Kenapa...?" tanya Cassian, suaranya tercekat di tenggorokan. Matanya menatap Marielle dengan tatapan terluka yang mendalam. "Bukankah kau... masih mencintaiku, Marielle? Semua hal yang kau lakukan selama ini, pengorbananmu terkena panah beracun saat perang... bukank

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Jadilah Selirku Kembali

    ​Suasana di dalam tenda yang semula panas oleh adu mulut antara Marielle dan Aldric, seketika membeku begitu otoritas tertinggi Minerva melangkah masuk. Cassian berjalan dengan anggun namun pasti, zirah emasnya memantulkan cahaya senja yang temaram, menciptakan kesan agung sekaligus mengintimidasi.​Aldric membalikkan tubuhnya perlahan, menghadapi sang Raja dengan rahang yang kembali mengeras. Rasa bersalah yang baru saja menghantam dadanya akibat ucapan Marielle seketika tersamarkan oleh topeng keangkuhannya yang dingin.​"Yang Mulia Raja," ujar Aldric, membungkuk formal dengan nada yang sama sekali tidak terdengar ramah. "Fasilitas darurat ini berada di bawah pengawasan wilayah saya. Wajar jika saya memastikan langsung bahwa... rakyat saya tidak kehilangan nyawanya karena kelalaian dokter."​"Dia terluka karena melindungiku, Grand Duke. Itu menjadikannya tanggung jawab mutlak kerajaan, bukan sekadar urusan domestik Valerante," balas Cassian dingin. Mata elangnya beralih dari Aldri

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Permintaan Maaf Grand Duke

    ​"Aku... ingin meluruskan sesuatu. Anggap saja ini permintaan maaf dariku. Atas semua hal yang kulakukan di masa lalu, dan... karena kelalaian pasukanku yang membuat penyusup Eldora bisa melepaskan anak panah di wilayahku tadi."​”Hah?!” Marielle terkejut. Ia tak percaya seorang Grand Duke yang ia kenal memiliki sikap bengis bisa minta maaf dan mengakui kesalahannya.Alis Marielle bertaut dalam, menatap Aldric dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan yang dipenuhi rasa sangsi. Alih-alih merasa tersentuh, bulu kuduk Marielle justru meremang.“​Permintaan maaf? Dari seorang Grand Duke Aldric yang dingin dan kejam? Ini benar-benar terasa aneh dan tidak wajar,” batin Marielle. Ia langsung memperlebar jarak diantara mereka.​"Tunggu sebentar," potong Marielle, menatap Aldric penuh curiga. "Anda baru saja meminta maaf? Anda tidak sedang berencana untuk meracuniku secara diam-diam setelah ini, kan? Atau ini taktik baru untuk mengusirku dari Valerante?"​Mendengar respons Marielle

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Ketukan Di Waktu Senja

    “Akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang,” ucap Marielle saat ​baru terbangun dari tidurnya yang singkat.Matahari perlahan mulai tergelincir ke ufuk barat, menumpahkan warna jingga di atas tanah Valerante. Setelah melewati siang hari yang riuh oleh pemeriksaan medis bertubi-tubi, tenda darurat tempat Marielle dirawat akhirnya terasa sedikit lebih tenang.​“Lady Marielle!” Suara isakan familiar yang dipenuhi akan kepanikan memecah kesunyian. Tirai tenda disibak terburu-buru, dan sesosok gadis muda berlari masuk dengan air mata yang sudah membasahi seluruh pipinya. Itu Diana. Tanpa memperdulikan tatapan para asisten dokter, pelayan pribadi itu langsung menghambur dan memeluk leher Marielle dengan sangat hati-hati, takut menyentuh luka di punggung sang nona.​"Hiks... Lady... saya sangat takut... Saya pikir saya akan kehilangan Anda," tangis Diana pecah, tubuhnya gemetar hebat dalam pelukan itu.​Marielle tersenyum tipis. Tangannya yang

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Antara Valerante dan Ibukota

    “Sebaiknya Lady Marielle tetap disini. Karena sekarang dia termasuk rakyatku yang berharga, Yang Mulia,” lanjut Aldric.Cassian terdiam. Ia kembali melihat Marielle yang kini punggungnya sudah diperban rapi saat kritis tadi. Akhirnya sang Raja menghela nafas.​Tenda medis darurat itu mendadak diselimuti keheningan yang jauh lebih mencekam daripada sebelumnya. ​Cassian perlahan membaringkan Marielle dan melepaskan sanggahan tangannya di kepala Marielle setelah memastikan wanita itu berbaring dengan nyaman. Ia bangkit berdiri secara anggun, menatap Aldric dengan tinggi tubuh yang setara.​"Grand Duke Aldric," suara Cassian kini tidak lagi menyembunyikan otoritas mutlaknya sebagai penguasa tertinggi Minerva. "Apa maksudmu bicara seperti itu? Apa kau baru saja menolak perintah langsung dari Rajamu?"​Aldric tidak gentar. Senyum tipis yang penuh provokasi dingin masih terpatri di wajah tegasnya. "Saya tidak menolak perintah, Yang Mulia. Saya

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hak Sang Penyelamat

    “Yang Mulia Raja?” Marielle mengerjapkan matanya perlahan. Cassian tersenyum. Perlahan ia meraih tangan Marielle dan mengarahkannya ke bibir. Sentuhan bibir Cassian di punggung tangannya terasa hangat, namun kepalanya masih terlalu pening untuk memproses segalanya. Rasa sakit di punggungnya pasca operasi masih berdenyut hebat, membuat ringisan kecil lolos dari bibirnya yang pucat.​"Nghh..." Marielle mencoba menarik tangannya pelan dari genggaman Cassian, sebuah penolakan halus yang tak kasat mata, namun langsung disadari oleh kedua pria di dekatnya.​Melihat Marielle yang tampak tidak nyaman, Aldric tidak bisa lagi menahan gejolak panas di dadanya. Grand Duke itu langsung melangkah maju, memotong jarak antara Cassian dan ranjang perawatan. Dengan gerakan tegas namun hati-hati, Aldric menyelipkan tangannya di balik pundak Marielle, membantu wanita itu sedikit memperbaiki posisi tidurnya agar tidak menekan luka di punggung.​"Jangan banyak bergera

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Hari Persidangan

    Fajar datang bersama udara dingin yang menusuk halaman utama istana Minerva. Langit masih pucat ketika lonceng besar dibunyikan tiga kali, pertanda sidang kerajaan akan segera dimulai.Hari itu, suasana istana berbeda dari biasanya. Para pelayan berbisik pelan di sudut lorong. Para bangsawan datang

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Malam Sebelum Sidang

    “Lady Marielle, maaf saya harus membawa Anda dengan cara seperti ini.” Claude menurunkan Marielle dari pundaknya saat sampai di depan kamar.“Saya harap Anda bisa merelakan Enzo meski saya tahu ini menyakitkan,” ucap Claude pelan sambil membuka pintu kamar Marielle untuk membiarkannya masuk.Wanita

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Insiden Perburuan

    “Dengan ini, festival berburu kerajaan tahun ini resmi dimulai!” Suara Cassian menggema di lapangan utama istana saat pidato pembukaan festival berburu yang akan diadakan tahun ini.Sorak para bangsawan dan tepuk tangan memenuhi udara pagi yang cerah itu. Panji-panji kerajaan berkibar, k

  • Mengubah Takdir Selir Antagonis   Rencana Yang Terbongkar

    “Lady Marielle!” Suara Enzo menggema di antara pepohonan.Ia berlutut di samping wanita itu, satu tangan menopang bahu Marielle, sedangkan tangan yang lain otomatis mencabut pedang dari sarung di pinggang untuk membentuk pertahanan. Tatapannya bergerak liar ke segala arah, mencari bayang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status