LOGIN"Hei?" Lin Ruyue berjingkat pelan, segera menoleh ke belakang dengan sisa rasa terkejutnya. "Y-Yang Mulia Pangeran?!" Lin Ruyue terkejut. Yan Haoxuan menaikkan sebelah alis, merasa reaksi Lin Ruyue ini benar-benar berlebihan. Ia menarik pergelangan tangannya pelan, berjalan kembali ke tempat duduknya bersama keluarga Kekaisaran. Lin Ruyue menoleh ke belakang, melihat Zhou Xinyi yang membungkuk pelan sambil tersenyum lebar. 'Bodoh, harusnya selamatkan aku dari situasi ini, sialan ….' Lin Ruyue berseru dalam hati. Kini, Lin Ruyue berhadapan dengan anggota Keluarga Kekaisaran yang sebelumnya sangat jarang ia temui, bahkan beberapa darinya malah dengan sengaja merundungnya. Lin Ruyue tersenyum dan segera menautkan kedua tangannya di depan dada dan menekuk lututnya sedikit. "Salam sejahtera, Baginda Kaisar sekeluarga …." Orang-orang yang duduk di kursi itu saling menatap, kemudian Kaisar tertawa pelan. "Hahaha …, bagus, bagus. Calon istri Pangeran Tianzhou ini benar-benar wa
Sungguh demi apa pun, Lin Ruyue merasa dirinya harus menghindari Lin Mulan kali ini. Tapi ini bukan karena mereka telah lama tidak bertemu meski tinggal di Istana yang sama.Ia merasa bahwa Lin Mulan mungkin membawa sesuatu yang lain yang membuatnya gelisah tanpa sebab sejak menginjakkan kaki di taman ini …, tidak, sejak ia menyadari bahwa Lin Mulan berada di sini. "Kenapa kau diam saja?" Lin Mulan berdiri, dan memandangnya dengan tatapan polos dan lugu, seperti Kakak yang memandang adiknya yang lucu. Pertama kali, Lin Ruyue tersenyum kikuk. "A-aku …, tersesat." Dan akhirnya malah menjawab dengan sangat konyol, membuat Lin Mulan mengernyit dengan kepala dimiringkan, seolah rasa percayanya pada Lin Ruyue benar-benar sangat tipis setelah jawaban itu.Sebelum semuanya menjalar jauh, Lin Ruyue segera merubah sikapnya dan berusaha untuk mengalihkan pembicaraan. "Kakak sendiri? Kenapa duduk di sini sendirian?" "Ah! Tadi aku sedang bicara dengan Yang Mulia Putri Yan Rui. Tapi beliau belu
Pada hari ketika Lin Ruyue benar-benar merasa semua tugas yang menjeratnya lenyap, ia ingat bahwa itu adalah hari besar bagi negara ini.Li Yu masuk dengan wajah cerah, membawa gaun kuning pucat yang telah dipilih kemarin. "Tuan Putri! Hari ini adalah hari besar! Anda harus segera bersiap, atau kita akan terlambat ke pesta pernikahan Putra Mahkota!"Lin Ruyue menghela napas berat. Ini adalah sesuatu yang tidak terlalu disukainya. Berkumpul di antara orang-orang yang memadang berlapis-lapis topeng untuk menutupi tujuan mereka yang sebenarnya, seolah bersosialisasi dengan para pejabat atau pun tokoh-tokoh terpandang lainnya sangatlah penting untuk menjaga martabat dan kehormatan. Hanya Lin Ruyue yang merasa itu membosankan dan tidak ada gunanya. Sehingga kalau boleh memutuskannya, ia ingin diam saja di kamar dan mendengar hiruk-pikuk dari kejauhan. Suasana Istana Utama Kekaisaran Fuyue luar biasa megah. Ribuan lampion merah dan emas digantung di sepanjang jalan. Musik serunai dan gend
Lilin di tepi meja kerja Lin Ruyue masih menyala terang, meliuk-liuk diterpa angin lembut, membuat bayangan kuas Lin Ruyue yang berdiri terlihat bergoyang-goyang mengikuti tarian api kecil itu. Sekarang kurang lebih pukul dua belas tengah malam, dan Lin Ruyue masih memaksakan tangannya terus bekerja dan matanya terus terbuka. Li Yu sudah masuk beberapa kali untuk menawarkannya istirahat, atau sekadar camilan dan teh, Lin Ruyue hanya mendengus pelan dan berkata agar jangan ada yang mengganggunya. Setelah meninggalkan Istana Yixiao selama tiga jam, Yan Haoxuan pun kembali ke sana untuk memeriksa Lin Ruyue yang ia yakini masin keras kepala seperti sebelumnya."Yang Mulia." Li Yu yang hanya bisa menunggu di luar kamar menyambut kedatangannya. "Kau nisa beristirahat sekarang," jawab Yan Haoxuan. "Baik, Yang Mulia." Li Yu meninggalkan kamar Lin Ruyue lalu Yan Haoxuan masuk. "Kau masih belum selesai?" tanyanya. Lin Ruyue mendengus. "Aku sedang fokus sekarang." "Kau mau teh? Camilan?
Suasana mendadak hening. Yan Haoxuan hampir tersedak tehnya sendiri, dia bahkan tidak berpikir itu benar-benar inventaris yang sudah selesai dirapikan. Dayang senior di belakang Selir Agung membelalakkan mata."Selesai?" Selir Agung mengulangi, suaranya naik satu oktav. "Jangan bercanda. Itu laporan inventaris tiga tahun terakhir yang sengaja …, maksudku, yang memang berantakan.""Benar, Yang Mulia. Sangat berantakan," Lin Ruyue mengangguk penuh simpati. "Bahkan saya menemukan kejanggalan kecil. Di halaman empat puluh dua, tercatat ada pengadaan sejumlah dua belas set perhiasan, namun tidak ada pembukuan yang mencatat pengeluaran atau pemasukan yang identitik dengan dua belas set ini." "Yang Mulia …, saya tidak tahu dari mana Anda mendapatkan perhiasan ini atau membelinya dengan uang siapa …, tapi ini benar-benar membuat saya pusing karena kebuntuan ini, loh." Lin Ruyue tersenyum tak berdosa. Wajah Selir Agung berubah sedikit pucat, lalu menjadi kemerahan. "Kau …, kau pasti asal bic
Matahari sudah meninggj ketika Lin Ruyue sudah kembali duduk di depan meja kerjanya yang baginya terlihat berantakan dan memusingkan. Ia menghela napas panjang, tersisa 60% lagi hingga semuanya selesai, waktu dua hari mau tidak mau harus cukup untuk menyelesaikannya. Lin Ruyue meregangkan otot-otot lengannya sebelum mulai memeriksa dan menghitung lagi. "Kau tahu, Yan Haoxuan," ujar Lin Ruyue tanpa menoleh, jemarinya bergerak lincah menggeser biji sempoa dengan bunyi 'tak-tak-tak' yang ritmis. "Sebenarnya aku sama sekali tidak mengerti bagaimana cara menghitung pembukuan dan memeriksa daftar inventaris." Yan Haoxuan, yang sedang asyik menyesap teh di pojokan ruangan seolah-olah kamar kerja Ruyue adalah kedai teh pribadinya, hanya mengangkat alis. "Apakah saat ini kau melakukannya dengan asal?" "Sembarangan, aku mempelajarinya dalam waktu singkat, tahu!" Lin Ruyue menjawab ketus. "Apa kau masih tidak mau menyadarinya kalau aku sama sekali tidak sebodoh yang kau pikirkan? Aku
Padahal hari ini Lin Ruyue akan memulai hari pertama di kelas pengantin wanita. Tapi Yan Haoxuan sama sekali tidak menemuinya. Sejak kemarin, Lin Ruyue belum mendengar kabar apa pun lagi tentang Yan Haoxuan. Dan setiap detiknya dia disibukkan dengan membaca berbagai macam buku. "Tuan Putri, hari
Lin Ruyue berdiri di depan kamar tamu yang ditempati Lin Mulan. Dia meremas gaunnya sendiri, menimbang-nimbang keputusan untuk masuk atau tidak. Pintu itu tiba-tiba terbuka sebelum dia sempat memutuskan apa pun. Lin Ruyue menahan napas, matanya membulat saat melihat Lin Mulan berdiri di hadapanny
"Terima kasih." Yan Haoxuan justru mengatakan kalimat yang tak disangka-sangka. "Berkatmu, aku memenangkan pertempuran tanpa kehilangan satu pun pasukanku." Lin Ruyue terdiam dengan ekspresi wajah tegang. Kedua tangannya mengepal dan dia mewaspadai apa yang pria ini katakan. 'Dia tahu aku yang me
Yan Haoxuan berlari mengelilingi kamar Lin Ruyue, dan melompat masuk melalui jendela yang setengah terbuka..Lin Ruyue terperanjat melihat pria yang nekat itu. Dia berdiri di depan meja dan beberapa cangkir teh pecah berserakan di bawahnya. Wanita itu berkeringat dan tangannya gemetar, napasnya ba







