MasukCara bicara pria itu tegas dan terasa formal, bahasanya juga singkat, padat, dan jelas.
Mendengar namanya terpanggil, Hazel sedikit tersentak. Ia menganggukkan kepalanya ragu-ragu sebagai balasan.
“Adrian.” Baskara menyambut hangat dengan menepuk ringan bahu lelaki itu. “Senang bertemu denganmu kembali. Mari duduk.”
Terjadilah percakapan singkat soal perkembangan perusahaan sebelum mereka masuk ke topik utama.
Selama kedua lelaki itu berbicara, Hazel yang awalnya waspada mulai tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Ia belum selesai dengan urusan patah hatinya. Belum lagi soal Damian. Belum lagi soal pernikahan ini.
Hazel benar-benar merasa kewalahan. Ia tidak tahu apakah ia membuat keputusan yang tepat.
"Baiklah. Saya setuju dengan proposal pernikahan ini, Om."
Suara Adrian itu membuat Hazel kembali ke realita seketika.
Proposal pernikahan. Seperti transaksi bisnis. Hazel tersenyum miris — ia merasa seperti sedang dijual sekarang.
"Tanda tangani, Hazel. Jangan buat Adrian menunggu," desak Baskara.
Mendengar itu, Hazel pun mengarahkan tangannya yang sedikit gemetaran itu untuk memegang bulpen di depannya.
Namun ketika ia hampir mendatangani proposalnya, tiba-tiba saja sebuah ide terlintas di otak kecil Hazel.
"Tunggu."
Baik Baskara maupun Adrian sontak langsung menoleh ke arah Hazel.
Hazel menelan ludahnya kasar. Tangannya pun masih gemetar, namun ada sesuatu yang harus ia lakukan demi keamanannya.
"Aku… aku mau tambahkan satu syarat." Suara Hazel pelan, tetapi juga tidak lemah. "Jika terjadi kekerasan fisik dalam pernikahan ini, aku berhak mengajukan pembatalan kontrak dan pernikahan tanpa konsekuensi apa pun dari pihak keluarga Adiwangsa maupun Winata."
Keheningan menggantung di ruangan itu.
Baskara mengerutkan dahinya. "Hazel—"
"Baik, saya setuju." Suara bariton Adrian memotong, rendah dan tenang. Ia menatap Hazel sebentar dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu mengangguk pelan. "Klausul itu akan saya tambahkan. Tidak ada keberatan dari saya."
Hazel terdiam sejenak, sedikit terkejut.
Ia tidak menduga persyaratannya akan disetujui semudah itu. Ia sama sekali tidak menduga.
Dengan perlahan, Hazel memberanikan diri melirik Adrian meskipun hanya sebatas dada bidang pria itu dan jam tangan peraknya yang elegan. Aroma kayu cendana yang tenang mulai menyapu rasa mual di dadanya.
"Hazel, jika ada poin lain yang memberatkanmu atau ada yang ingin ditambahkan, katakan saja," lanjut Adrian. Kalimatnya kaku, tanpa pemanis, namun Hazel bisa merasakan sesuatu yang hangat di sana.
Tetapi Hazel memilih untuk menepis rasa itu. Ia merasa tidak bisa mempercayai siapa pun sekarang. Baik itu keluarganya sendiri ataupun pria ini.
Dengan sekali hembusan napas, Hazel meraih pulpen dan menandatangani kontrak itu.
Di sisi lain, Adrian hanya menatap Hazel dalam diam dengan tatapan yang sulit diartikan.
— — —
Tak terasa setelah pertemuannya dengan Adrian, Hazel akan menikah dengan pria itu dalam 3 hari lagi.
Dan selama itu pula, Hazel merasa dunianya seolah berhenti berputar di dalam kamar mewahnya di mansion Adiwangsa.
Kesehariannya pun sama, contohnya seperti di siang hari ini.
Hazel menutup semua gorden kamarnya pun lampunya juga dimatikan, sehingga hanya kegelapan yang tersisa di ruangan ini. Sama seperti masa depan yang Hazel rasakan. Gelap.
Hazel lebih sering menghabiskan waktunya dengan tidur. Ponselnya pun hanya tergeletak mati di atas nakas.
Klek.
Pintu kamar terbuka pelan.
"Hazel... Sayang? Kamu belum makan dari pagi," suara lembut Maya memecah keheningan seraya meletakkan nampan makanan di atas meja kecil.
Kemudian, Maya duduk di tepi tempat tidur, mengelus kepala putrinya dengan sayang.
"Hazel nggak lapar, Ma." balas Hazel sebelum memunggungi Maya.
Melihat tingkah laku putrinya, wanita paruh baya itu menghela napas panjang.
"Sayang… jangan seperti ini terus, ya? Mama tahu ini sulit." Ia meremas pelan lengan Hazel. "Tapi percaya sama Mama. Adrian Winata bukan pria sembarangan. Mama dan Papa sudah mengenalnya lama. Dia baik, mapan, tidak pernah neko-neko dan yang paling penting… dia bertanggung jawab."
Mendengar ocehan mamanya, Hazel hanya terdiam membisu. Ia tidak tertarik untuk membahas soal laki-laki ataupun pernikahan.
Mendapati balasan dingin dari anaknya, Maya memilih untuk tidak membahas lebih dengan tangannya yang tak berhenti mengelus kepala Hazel dengan lembut.
"Oh iya," Maya teringat sesuatu. "Naura mencari-carimu. Dia menelepon ke telepon rumah berkali-kali karena khawatir. Hubungi dia ya, Nak?"
Mendengar nama Naura, sahabatnya, hati Hazel sedikit mencair.
Jika diingat lagi, Hazel selalu mengabaikan semua nasehat sahabat masa kecilnya itu.
Naura selalu mengingatkan Hazel untuk berhati-hati dan menjauhi Sherly serta Damian. Namun dibutakan oleh cinta, Hazel selalu mengabaikannya dan justru menjauhi Naura.
Sekarang Hazel sangat menyesal. Ia ingin meminta maaf dengan Naura.
Akhirnya, dengan gerakan lambat, Hazel meraih ponselnya yang sedikit berdebu.
"Baik, Ma. Hazel akan hubungi Naura."
Mendengar jawaban Hazel, Maya hanya menganggukkan kepalanya dan mengelus pipi Hazel sebelum keluar dari kamar.
Hazel menekan tombol power ponselnya, dan seketika, benda pipih nan panjang itu terasa seolah akan meledak.
Drrt! Drrt! Drrt! Drrt!
Notifikasi masuk bertubi-tubi tanpa henti hingga getarannya terasa panas di telapak tangan Hazel.
342 Panggilan Tak Terjawab.
1.200+ Pesan W******p.
Jantung Hazel berdegup kencang saat melihat nama 'Damian' memenuhi layar.
Ia mencoba mengabaikannya dan mencari nama Naura, namun matanya tidak sengaja membaca beberapa pesan teratas dari Damian yang masuk beberapa jam lalu.
“Hazel! Kamu di mana?! Tidak perlu bermain sembunyi-sembunyi seperti pengecut, aku tidak suka!”
“Zel, aku minta maaf soal Sherly. Itu hanya sebuah kekhilafan. Sungguh, Sherly hanya ingin memberikanku dukungan saja.”
“HAZEL ADIWANGSA! Kenapa WA kamu centang satu?! Kamu blokir aku? Kalau sampai aku tahu kamu sama cowok lain, aku bakal habisin dia!”
“Hazel, aku mohon maafin aku! Iya aku akui jika aku salah, tapi kamu juga penyebab kita bertengkar gini. Hah… Baiklah, kita saling memaafkan saja ya? Kita baikan, yuk? Aku janji aku akan berubah.”
Ketika melihat itu semua, Hazel merasa oksigen di sekitarnya mendadak hilang. Ia merasa mual.
Benar-benar pria gila.
Damian tidak tahu soal pernikahan ini, tapi pria itu sudah bertingkah seperti pemilik yang kehilangan peliharaannya.
"Jadi, untuk hari terakhir ini, apa kamu mau mengucapkan kata 'terserah' lagi kepada saya, Hazel?" tanya Adrian.Hazel langsung mengerjapkan matanya dengan cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah karena teringat aturan ketat yang dibuat Adrian selama liburan singkat mereka ini.Selama tiga hari menghabiskan waktu bersama di villa pegunungan ini, Adrian memang tidak pernah mengizinkan Hazel mengucapkan kata legendaris tersebut setiap kali dia ditanya tentang keinginan atau kegiatannya.Adrian selalu menuntut Hazel untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dia inginkan, mulai dari memilih sudut pemandangan yang ingin digambar, menentukan aktivitas harian, hingga bahan makanan yang ingin mereka masak bersama di dapur villa.Hasilnya, Hazel kini berhasil membawa beberapa lembar gambar pemandangan alam yang sangat indah, sekaligus ingatan manis tentang bagaimana hangatnya suasana saat mereka berdua bekerja sama membuat makan malam selama dua hari terakhir."Aku... aku ti
"Mas... pemandangannya cantik banget…" kagum Hazel saat dia baru saja melangkah turun dari mobil.Hazel berdiri mematung di tepi bukit dengan kedua mata yang berbinar cerah, menatap hamparan pemandangan hijau yang membentang luas di bawahnya.Di hadapan mereka, terlihat deretan pegunungan yang sangat megah dengan sisa-sisa kabut putih tipis yang bergerak lambat di sela-sela pepohonan pinus yang tinggi.Sebuah danau kecil berair jernih tampak tenang di dasar lembah, memantulkan warna langit pagi yang biru bersih tanpa ada awan mendung sama sekali.Udara pagi di puncak bukit itu terasa sangat bersih, segar, dan juga sangat dingin menyentuh kulit wajah Hazel yang putih bersih.Hazel memejamkan kedua matanya sejenak, menghirup udara pegunungan itu dalam-dalam, merasakan ketenangan yang luar biasa masuk ke dalam dadanya.Adrian yang berdiri di samping mobil perlahan berjalan mendekati Hazel, ia memperhatikan perubahan ekspresi wajah Hazel yang tampak sangat bahagia, membuat perasaan lega t
"Mbak, suaminya sudah menunggu di dekat mobil sejak subuh tadi," ucap pengurus penginapan tua itu ramah saat melihat Hazel baru saja membuka pintu kamar dengan wajah panik.Hazel tertegun mendengar ucapan bapak tua itu, lalu buru-buru mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.Pagi itu, Hazel terbangun dengan kondisi kamar yang sudah sangat terang karena sinar matahari yang menerobos masuk di sela-sela dinding kayu penginapan tua tersebut.Ia langsung panik saat menyadari dirinya telah bangun kesiangan, dan sisi kasur di sebelahnya yang semalam ditempati oleh Adrian kini sudah kosong dan mendingin.Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, Hazel mendapati secarik kertas putih dengan tulisan tangan suaminya.“Mobil kita sudah selesai diperbaiki oleh mekanik yang datang subuh tadi. Saya sudah memindahkan semua koper kita kembali ke dalam bagasi mobil.”“Saya menyisakan satu tas jinjing berisi peralatan mandimu di atas meja. Bersiap-si
"Saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu, Hazel. Jadi, kamu tidak perlu merasa setegang itu," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat tenang.Kalimat itu diucapkan Adrian saat melihat Hazel yang masih berdiri mematung di samping tempat tidur dengan wajah yang memerah sempurna di bawah cahaya lampu kamar yang redup.Hazel langsung meremas ujung kaos panjangnya dengan sangat erat, merasa sangat malu karena ucapan spontannya yang mengajak tidur bersama tadi baru saja disetujui oleh suaminya."A-aku hanya tidak ingin Mas Adrian kembali jatuh sakit karena tidur di luar ruangan yang sangat dingin ini," jawab Hazel mencoba membela diri dengan suara lirih.Adrian mengangguk pelan, menghargai kekhawatiran istrinya yang tulus meskipun hatinya sendiri sebenarnya ikut bergetar mendengar ajakan yang cukup berani tersebut dari Hazel.Ia berjalan mendekati sisi tempat tidur bagian luar, lalu menarik selimut tebal yang melipat rapi di sana untuk mereka gunakan bersama-sama malam ini."Tidurlah
"Mas Adrian sebaiknya segera mandi menggunakan air hangat agar tidak masuk angin lagi," ucap Hazel dengan suara yang sangat pelan.Hazel buru-buru memalingkan wajahnya ke arah samping, tidak berani lagi menatap tubuh bagian atas suaminya yang terlihat sangat kokoh itu.Adrian menatap Hazel dengan pandangan sedikit heran saat melihat reaksi istrinya yang tampak sangat gugup dan salah tingkah di hadapannya.Namun, Adrian tidak berpikiran macam-macam dan menganggap reaksi terkejut Hazel adalah hal yang biasa karena mereka memang jarang berada di situasi seperti ini.Adrian melangkah mengambil handuk kering yang ada di gantungan baju dekat pintu, lalu berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata apa-apa.Sebelum menikah dengan Hazel, saat Adrian masih tinggal bersama keluarganya di rumah utama keluarga Winata, melihat Adrian berjalan tanpa atasan setelah berolahraga atau berenang adalah hal yang sangat biasa bagi Bunda dan adiknya.Mereka berdua tidak pernah memberikan reaks
"Mas yakin kita harus masuk ke sini? Tempat ini... terlihat sedikit tidak meyakinkan." Ucap Hazel Ragu.Lantas, gadis itu menatap bangunan kayu besar di hadapan mereka berdua dengan pandangan yang penuh waspada.Bangunan itu tampak sangat tua dengan cat cokelat yang sudah banyak mengelupas di berbagai sisi dindingnya.Suasana di sekitar tempat itu juga sangat gelap, sunyi, dan hanya menyisakan suara gemuruh air hujan yang turun semakin deras.Satu-satunya sumber cahaya di teras bangunan tersebut hanyalah sebuah lampu bohlam kuning kecil yang tampak berkedip sesekali.Kabut tebal yang turun dari arah gunung juga membuat jarak pandang mereka berdua menjadi sangat terbatas di kala sore menjelang malam itu.Adrian yang berdiri di samping Hazel sambil menjinjing dua koper besar dan tas mereka sebenarnya juga merasakan keraguan yang sama.Namun, ia tahu bahwa bertahan di dalam mobil yang mogok di tengah jalanan sepi dan gelap seperti ini jauh lebih berbahaya untuk keselamatan mereka."Saya
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang. Adrian sudah rapi dengan setelan kerjanya, menyesap kopi hitam sambil sesekali memeriksa tablet di tangannya dengan raut wajah datar seperti biasa.Hazel duduk di seberangnya, berusaha menikmati sarapannya meski kepalanya masih memikirka
Hazel masih mematung menatap layar ponselnya. Video Naura yang baru saja viral itu terus berputar di kepalanya, memberikan rasa puas sekaligus cemas yang aneh.Namun, bukan video itu yang benar-benar menyita pikirannya sekarang. Melainkan kata-kata Pak Darmawan yang terus terngiang seperti kaset ru
Naura menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan Hazel bercerita tentang kekacauan di ruang rapat hotel kemarin dan bagaimana Adrian membongkar pengkhianatan orang dalam."Jadi, Damian dan Sherly benar-benar niat ya sampai sejauh itu?" tanya Naura pelan.Haz
Hazel berjalan meninggalkan gerbang kediaman Adiwangsa tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tidak terburu-buru, namun juga tidak ada niat untuk berhenti. Selain itu, Hazel bisa mendengar derap langkah Adrian yang mengejar di belakangnya, tetapi Hazel memilih untuk tidak peduli.Setiap inci dalam







