LOGINHazel menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang menjulang tinggi. Ia mengeratkan pegangannya pada tas dan koper yang ia bawa.
Mansion megah bertingkat dengan balkon melingkar yang disokong pilar, halaman luas dengan taman berundak, kolam luas yang berisi ikan-ikan koi.
Dan sekelilingnya, pagar besi menjulang kokoh mengitari seluruh area, membuat tempat ini terasa eksklusif dan terpisah dari dunia luar.
Mata Hazel memandang semua itu dengan menyimpan rasa sedih di dalam hatinya.
Hazel masih ingat dengan jelas bagaimana ia berusaha mati-matian keluar dari mansion ini, hanya untuk memperjuangkan cintanya yang kandas.
Tak ingin membuang waktu lagi untuk beristirahat, Hazel segera membuka pintu yang ada di depannya ini. Ia butuh hibernasi untuk menenangkan pikirannya.
“Anakku!” sahut seorang wanita dari balik pintu yang segera datang memeluk Hazel. Maya Adiwangsa, ibunya.
Mendapat pelukan yang dadakan itu, Hazel sontak memundurkan langkahnya sedikit. Ia tidak membalas pelukan mamanya itu.
“Anak Mama pulang juga! Kamu gimana kabarnya Sayang? Mama udah nyiapin kamar kamu—”
Ucapan Maya berhenti tepat ketika ia melonggarkan pelukan dan melihat wajah cantik Hazel.
Maya paham betul bagaimana perangai Hazel. Daripada memaksa anaknya bercerita, ia akan memilih untuk memberi perhatian dulu saja.
“Sudah datang?”
Suara besar dan mendominasi itu terdengar dari atas lantai dua.
Baskara Adiwangsa muncul. Ia adalah pemimpin keluarga Adiwangsa juga ayah dari Hazel.
“Segera ke ruang kerja.”
Mendengar suaminya yang menggunakan nada diktator itu, Maya menatapnya tidak suka.
“Mas, anak kita baru pulang. Nanti saja dulu bicaranya. Hazel pasti mau istirahat dulu.”
Tak ingin mamanya terlibat pertikaian dengan sang Papa, Hazel memegang tangan Maya secara spontan.
“Tidak apa-apa, Ma. Hazel juga mau bicara sama Papa.”
Setelah beberapa waktu kemudian, Hazel segera pergi ke ruang kerja papanya. Di sana, hanya ada mereka berdua sebagai ayah dan anak.
Klek.
Begitu suara pintu itu tertutup, hanya tersisa keheningan yang canggung di dalam ruangan itu.
“Bagaimana kabarmu?”
Suara berat itu kini bertanya pada Hazel, tetapi Hazel tidak menjawab pertanyaan itu sama sekali.
Mendapati respons yang tidak mengenakkan dari putrinya, Baskara pun mengambil amplop dan mengeluarkan setumpuk dokumen yang lalu diserahkan pada Hazel.
“Drama pacaranmu sudah selesai, kan? Kalau begitu, kamu akan segera saya nikahkan dengan Adrian Winata. Tidak ada penolakan, paham?”
Hazel hanya menatap datar kertas dokumen yang ia pegang saat ini. Di sana, sepertinya terdapat beberapa data terkait Adrian Winata.
Namun, Hazel memilih untuk tidak membacanya, ia justru menurunkan tangannya lalu menarik napas pelan. Mendengar kata ‘pernikahan’ itu membuat Hazel ragu dengan masa depannya.
Pikiran buruk akan masa depan yang tidak ia ketahui kini memenuhi isi kepala Hazel, ia ingin merefleksikan dirinya sejenak.
"Aku…" Hazel sedikit meremas beberapa kertas yang ia pegang dan menatap Papanya. "Aku bersedia mempertimbangkan pernikahan ini, Pa. Tapi bisakah aku meminta waktu sebentar saja untuk memikirkannya? Aku… aku belum siap, Pa."
Baskara lantas menatap anaknya dengan dingin, “Masih ingat janjimu terakhir kali sebelum meninggalkan mansion ini?”
Lagi. Ucapan ‘janji’ ini lagi.
Hazel menggigit bibir dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat.
Perjodohan adalah salah satu alasan terbesarnya meninggalkan rumah ini beberapa tahun lalu. Dengan kesepakatan bisnis, ia dijodohkan oleh Adrian Winata, putra pemilik perusahaan raksasa di negara ini.
Hazel masih muda dan ingin melakukan banyak hal, termasuk mencari cintanya sendiri. Sebab itu, ia pergi dari rumah.
Keputusan itu membuat ayahnya murka. Dan ia hanya mau menerima Hazel kembali dengan perjanjian; Hazel harus menerima perjodohan itu.
“Aku tahu, Pa. Aku tahu kalau aku kembali ke sini, berarti aku harus nurut sama Papa. Aku tahu. Aku hanya minta waktu sebentar sebelum Papa memutuskan tanggal pernikahannya…”
Baskara menggelengkan kepalanya pelan.
"Waktu? Kamu sudah membuang lima tahun untuk sampah itu, Hazel." Suaranya tegas, namun terdengar kekhawatiran tersirat di sana.
"Papa mengenal Adrian sejak lama. Dia bukan pria sembarangan. Stabil, mapan, dan dia punya kemampuan untuk menjagamu dengan benar. Papa hanya ingin kamu berada di tangan pria yang tidak akan membiarkanmu menderita sendirian."
Hazel terdiam.
"Besok Papa akan menghubungi Adrian. Kita rencanakan pernikahannya secepatnya." Baskara melirik Hazel sekali lagi. "Tepati janjimu."
Setelah itu, Baskara meninggalkan Hazel sendirian di ruang kerjanya.
Hazel sudah tahu, semua hal ada harganya.
Menghindari Damian adalah alasan ia kembali ke mansion ini, mencari perlindungan yang tidak bisa ia dapatkan jika ia hanya sendirian.
Namun, Hazel masih resah.
Saat berhasil menenangkan dirinya semalam, ia baru bisa berpikir jernih atas keputusan apa yang telah ia perbuat.
Memang benar jika ia bisa mendapatkan perlindungan dari sosok Damian, apalagi lelaki itu sudah menunjukkan bibit-bibit untuk melakukan kekerasan.
Tetapi bagaimana dengan Adrian Winata?
Setelah menyaksikan sendiri sisi mengerikan Damian, ia tidak yakin bisa memercayai orang lain lagi. Bagaimana jika Adrian sama saja, atau bahkan justru lebih kejam daripada Damian?
Hazel harus melakukan sesuatu.
—
Keesokan harinya.
Langkah kaki Hazel terasa sangat berat saat menyusuri karpet tebal menuju ruang privat di sebuah restoran mewah, tempat janji temu antara dirinya, Baskara, dan Adrian Winata.
Maya tidak hadir. Sebelum berangkat, Baskara hanya mengatakan dengan dingin bahwa Baskara memang melarangnya. Itu adalah cara sang Papa untuk memastikan tidak ada celah bagi Hazel memohon pembatalan pernikahan.
Ketika akhirnya mereka tiba di ruangan yang dimaksud, Hazel spontan menundukkan kepalanya lebih dalam.
Ia tidak ingin melihat rupa pria yang ia anggap akan 'membelinya' dari sang Papa. Namun di saat yang sama, indra pendengarannya mendadak menjadi sangat tajam akibat rasa waspada yang meninggi tanpa diminta.
Tap. Tap.
Suara pantofel beradu lantai yang tenang namun tegas terdengar mendekat. Kemudian sebuah suara menyapa, memecah kesunyian ruangan dengan aura yang begitu pekat hingga membuat bulu kuduk Hazel meremang.
Seorang pria masuk. Tinggi tegap, dengan penampilan rapi dan sempurna. Kemeja dan jas melekat di badannya dengan pas, rahang tegas dan tatapan mata yang tajam.
"Selamat sore, Om Baskara dan…" Pria itu berhenti sebentar, pandangannya bergeser ke arah Hazel. "Hazel, benar?"
"Jadi, untuk hari terakhir ini, apa kamu mau mengucapkan kata 'terserah' lagi kepada saya, Hazel?" tanya Adrian.Hazel langsung mengerjapkan matanya dengan cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah karena teringat aturan ketat yang dibuat Adrian selama liburan singkat mereka ini.Selama tiga hari menghabiskan waktu bersama di villa pegunungan ini, Adrian memang tidak pernah mengizinkan Hazel mengucapkan kata legendaris tersebut setiap kali dia ditanya tentang keinginan atau kegiatannya.Adrian selalu menuntut Hazel untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dia inginkan, mulai dari memilih sudut pemandangan yang ingin digambar, menentukan aktivitas harian, hingga bahan makanan yang ingin mereka masak bersama di dapur villa.Hasilnya, Hazel kini berhasil membawa beberapa lembar gambar pemandangan alam yang sangat indah, sekaligus ingatan manis tentang bagaimana hangatnya suasana saat mereka berdua bekerja sama membuat makan malam selama dua hari terakhir."Aku... aku ti
"Mas... pemandangannya cantik banget…" kagum Hazel saat dia baru saja melangkah turun dari mobil.Hazel berdiri mematung di tepi bukit dengan kedua mata yang berbinar cerah, menatap hamparan pemandangan hijau yang membentang luas di bawahnya.Di hadapan mereka, terlihat deretan pegunungan yang sangat megah dengan sisa-sisa kabut putih tipis yang bergerak lambat di sela-sela pepohonan pinus yang tinggi.Sebuah danau kecil berair jernih tampak tenang di dasar lembah, memantulkan warna langit pagi yang biru bersih tanpa ada awan mendung sama sekali.Udara pagi di puncak bukit itu terasa sangat bersih, segar, dan juga sangat dingin menyentuh kulit wajah Hazel yang putih bersih.Hazel memejamkan kedua matanya sejenak, menghirup udara pegunungan itu dalam-dalam, merasakan ketenangan yang luar biasa masuk ke dalam dadanya.Adrian yang berdiri di samping mobil perlahan berjalan mendekati Hazel, ia memperhatikan perubahan ekspresi wajah Hazel yang tampak sangat bahagia, membuat perasaan lega t
"Mbak, suaminya sudah menunggu di dekat mobil sejak subuh tadi," ucap pengurus penginapan tua itu ramah saat melihat Hazel baru saja membuka pintu kamar dengan wajah panik.Hazel tertegun mendengar ucapan bapak tua itu, lalu buru-buru mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.Pagi itu, Hazel terbangun dengan kondisi kamar yang sudah sangat terang karena sinar matahari yang menerobos masuk di sela-sela dinding kayu penginapan tua tersebut.Ia langsung panik saat menyadari dirinya telah bangun kesiangan, dan sisi kasur di sebelahnya yang semalam ditempati oleh Adrian kini sudah kosong dan mendingin.Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, Hazel mendapati secarik kertas putih dengan tulisan tangan suaminya.“Mobil kita sudah selesai diperbaiki oleh mekanik yang datang subuh tadi. Saya sudah memindahkan semua koper kita kembali ke dalam bagasi mobil.”“Saya menyisakan satu tas jinjing berisi peralatan mandimu di atas meja. Bersiap-si
"Saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu, Hazel. Jadi, kamu tidak perlu merasa setegang itu," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat tenang.Kalimat itu diucapkan Adrian saat melihat Hazel yang masih berdiri mematung di samping tempat tidur dengan wajah yang memerah sempurna di bawah cahaya lampu kamar yang redup.Hazel langsung meremas ujung kaos panjangnya dengan sangat erat, merasa sangat malu karena ucapan spontannya yang mengajak tidur bersama tadi baru saja disetujui oleh suaminya."A-aku hanya tidak ingin Mas Adrian kembali jatuh sakit karena tidur di luar ruangan yang sangat dingin ini," jawab Hazel mencoba membela diri dengan suara lirih.Adrian mengangguk pelan, menghargai kekhawatiran istrinya yang tulus meskipun hatinya sendiri sebenarnya ikut bergetar mendengar ajakan yang cukup berani tersebut dari Hazel.Ia berjalan mendekati sisi tempat tidur bagian luar, lalu menarik selimut tebal yang melipat rapi di sana untuk mereka gunakan bersama-sama malam ini."Tidurlah
"Mas Adrian sebaiknya segera mandi menggunakan air hangat agar tidak masuk angin lagi," ucap Hazel dengan suara yang sangat pelan.Hazel buru-buru memalingkan wajahnya ke arah samping, tidak berani lagi menatap tubuh bagian atas suaminya yang terlihat sangat kokoh itu.Adrian menatap Hazel dengan pandangan sedikit heran saat melihat reaksi istrinya yang tampak sangat gugup dan salah tingkah di hadapannya.Namun, Adrian tidak berpikiran macam-macam dan menganggap reaksi terkejut Hazel adalah hal yang biasa karena mereka memang jarang berada di situasi seperti ini.Adrian melangkah mengambil handuk kering yang ada di gantungan baju dekat pintu, lalu berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata apa-apa.Sebelum menikah dengan Hazel, saat Adrian masih tinggal bersama keluarganya di rumah utama keluarga Winata, melihat Adrian berjalan tanpa atasan setelah berolahraga atau berenang adalah hal yang sangat biasa bagi Bunda dan adiknya.Mereka berdua tidak pernah memberikan reaks
"Mas yakin kita harus masuk ke sini? Tempat ini... terlihat sedikit tidak meyakinkan." Ucap Hazel Ragu.Lantas, gadis itu menatap bangunan kayu besar di hadapan mereka berdua dengan pandangan yang penuh waspada.Bangunan itu tampak sangat tua dengan cat cokelat yang sudah banyak mengelupas di berbagai sisi dindingnya.Suasana di sekitar tempat itu juga sangat gelap, sunyi, dan hanya menyisakan suara gemuruh air hujan yang turun semakin deras.Satu-satunya sumber cahaya di teras bangunan tersebut hanyalah sebuah lampu bohlam kuning kecil yang tampak berkedip sesekali.Kabut tebal yang turun dari arah gunung juga membuat jarak pandang mereka berdua menjadi sangat terbatas di kala sore menjelang malam itu.Adrian yang berdiri di samping Hazel sambil menjinjing dua koper besar dan tas mereka sebenarnya juga merasakan keraguan yang sama.Namun, ia tahu bahwa bertahan di dalam mobil yang mogok di tengah jalanan sepi dan gelap seperti ini jauh lebih berbahaya untuk keselamatan mereka."Saya
Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang. Adrian sudah rapi dengan setelan kerjanya, menyesap kopi hitam sambil sesekali memeriksa tablet di tangannya dengan raut wajah datar seperti biasa.Hazel duduk di seberangnya, berusaha menikmati sarapannya meski kepalanya masih memikirka
Hazel masih mematung menatap layar ponselnya. Video Naura yang baru saja viral itu terus berputar di kepalanya, memberikan rasa puas sekaligus cemas yang aneh.Namun, bukan video itu yang benar-benar menyita pikirannya sekarang. Melainkan kata-kata Pak Darmawan yang terus terngiang seperti kaset ru
Naura menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan Hazel bercerita tentang kekacauan di ruang rapat hotel kemarin dan bagaimana Adrian membongkar pengkhianatan orang dalam."Jadi, Damian dan Sherly benar-benar niat ya sampai sejauh itu?" tanya Naura pelan.Haz
Hazel berjalan meninggalkan gerbang kediaman Adiwangsa tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tidak terburu-buru, namun juga tidak ada niat untuk berhenti. Selain itu, Hazel bisa mendengar derap langkah Adrian yang mengejar di belakangnya, tetapi Hazel memilih untuk tidak peduli.Setiap inci dalam







