Share

CHAPTER 05

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-10 13:53:37

Hazel akhirnya sudah berada di dalam mobil, menunggu keberangkatannya menuju tempat tinggal barunya bersama Adrian. Ia melirik keluar jendela, melihat ayah dan suaminya tengah mengobrol tidak jauh dari mobil.

Entah apa yang mereka bicarakan karena Hazel tidak dapat mendengarnya dari sini. Tapi, toh, dia tidak peduli.

Tiba-tiba, jendela mobilnya diketuk. Ternyata Maya yang melakukannya. Ia menghampiri Hazel sebelum putrinya itu pergi dibawa suaminya.

Hazel segera menurunkan jendela mobil.  Ia mengulas senyuman tipis yang dipaksakan. Melihat itu, Maya kembali mengelus lembut lengan Hazel. 

“Mama barusan dapat kabar kalau orang tua Adrian belum bisa hadir karena urusan dadakan di luar negeri, kamu tidak masalah dengan hal itu, Sayang?”

Hazel mengangguk lemah, “Iya Ma, tidak apa-apa.”

Maya tersenyum lembut pada Hazel seraya mengusap air matanya dengan tisu, “Jaga diri ya nak, kalau ada apa-apa, pulang ya?”

Ingin rasanya Hazel membalas kata-kata mamanya. Namun Hazel sudah tidak memiliki tenaga lagi, jadi ia hanya mengangguk pelan.

Adrian tiba-tiba datang menghampiri Maya dan meminta salam pada ibu mertuanya itu.

“Ibu, saya dan Hazel pamit dulu ya.” ucap Adrian seraya meminta salim pada Maya.

“Ya ampun! Panggil Mama saja nak, kamu sudah Mama anggap seperti anak sendiri.”

Mendengar itu, Adrian tersenyum tipis pada Maya.

Hazel melihatnya sekilas, lelaki itu memang tampan ketika tersenyum. Namun hatinya tetap tidak merasakan apa pun.

“Baik, Ma. Kalau begitu, permisi…”

Setelah itu, Maya hanya menganggukkan kepalanya dan melihat Adrian memasuki mobil.

Lelaki itu duduk di kursi penyupir karena Adrian sendiri yang meminta untuk pergi bersama Hazel berdua saja tanpa supir. Tak menunggu waktu lama lagi, mereka berangkat meninggalkan mansion keluarga Adiwangsa.

Saat di dalam perjalanan, tidak ada yang berbicara selain suara mesin mobil yang terdengar halus.

Namun, setelah belasan menit berjalan, Hazel tiba-tiba berkata, “Um… Mas? Atau Adrian?”

Mendengar itu, Adrian melirik Hazel sekilas lalu membalas, “Mas saja, saya lebih tua lima tahun dari kamu.”

“Oh…”

Lalu kembali hening lagi.

Hazel memainkan jarinya, sedikit ragu dengan apa yang akan ia katakan. Namun, ia butuh untuk menyampaikannya.

“M-mas…”

“Ya?” Balas Adrian singkat.

“B-boleh ke apartemenku dulu? Laptopku… ketinggalan di sana.”

Tanpa berbicara lagi, Adrian menganggukkan kepalanya dan segera membelokkan setir untuk pergi menuju apartemen Hazel. Melihat hal itu, Hazel ingin bertanya lagi.

Bagaimana Adrian tahu bahwa apartemennya berlawanan arah dengan jalan menuju tempat tinggal barunya?

Tetapi, Hazel mengurungkan niatnya. Entah kenapa terdapat rasa sungkan untuk menanyakan hal tersebut pada Adrian. Toh, bisa saja pria itu tahu dari orang tuanya, kan?

Ketika mereka sudah sampai di sana, Adrian pun ikut turun menemani Hazel mengambil laptopnya.

Hazel melangkah menyusuri lorong apartemen yang sudah sangat akrab di matanya. Ia bisa mendengar suara langkah kaki Adrian di sebelahnya.

Suasana ini terasa familiar.

Dulu, Damian sering berjalan di sini bersamanya. Lelaki itu akan merangkul bahunya dengan posesif, bibirnya tak henti menghujani Hazel dengan pertanyaan interogatif atau kritik halus tentang cara berpakaiannya. 

Dulu, lorong ini terasa sempit dan menghimpit karena ego Damian yang memenuhi udara.

Tapi, Adrian sekarang tidak melakukan apapun padanya. Meski hawa di sampingnya terasa dingin, namun entah bagaimana... tidak terasa mengganggunya.

Hazel sedikit melirik ke arah Adrian. Lelaki itu memiliki tubuh yang menjulang tinggi dan proporsional. Bahkan kepala Hazel saja hanya seukuran dada bidang lelaki itu.

Sadar terlalu lama mengamati, Hazel kembali mengalihkan pandangannya dan fokus ke depan. Mereka berdua akhirnya sampai di depan pintu apartemen Hazel. 

Hazel menoleh ke Adrian lalu berkata dengan suara pelan, “Tunggu di sini saja ya? Aku tidak akan lama.”

Adrian kembali menyetujui Hazel tanpa pertanyaan apapun.

Hal itu cukup asing bagi Hazel. Pria itu sangat berbanding terbalik dengan Damian.

Dulu, jika Hazel memutuskan untuk melakukan sesuatu sekecil apa pun, Damian akan mempertanyakannya sampai lelaki itu mendapatkan hal yang ia mau.

Sedangkan Adrian? Menolak saja tidak, apa lagi bertanya.

Entahlah, aneh rasanya.

Baru saja Hazel hendak menempelkan kartu aksesnya pada pintu, sebuah suara yang sangat ia kenal dan sangat ia benci, menggelegar di ujung lorong yang sunyi.

"Hazel Adiwangsa!"

Tubuh Hazel seketika membeku. Kartu di tangannya nyaris terjatuh. Ia tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemilik suara parau yang sarat akan amarah itu.

"Kemana saja kamu selama seminggu ini, hah?!" teriak Damian lagi sembari melangkah lebar mendekatinya. 

Wajah lelaki itu tampak kacau, matanya merah, dan aura posesifnya yang berlebihan meledak di udara. 

"Aku mencarimu ke mana-mana seperti orang gila, dan sekarang kamu malah muncul bersama laki-laki lain?!"

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 55

    "Jadi, untuk hari terakhir ini, apa kamu mau mengucapkan kata 'terserah' lagi kepada saya, Hazel?" tanya Adrian.Hazel langsung mengerjapkan matanya dengan cepat, berusaha menyembunyikan wajahnya yang mendadak memerah karena teringat aturan ketat yang dibuat Adrian selama liburan singkat mereka ini.Selama tiga hari menghabiskan waktu bersama di villa pegunungan ini, Adrian memang tidak pernah mengizinkan Hazel mengucapkan kata legendaris tersebut setiap kali dia ditanya tentang keinginan atau kegiatannya.Adrian selalu menuntut Hazel untuk mengutarakan apa yang sebenarnya dia inginkan, mulai dari memilih sudut pemandangan yang ingin digambar, menentukan aktivitas harian, hingga bahan makanan yang ingin mereka masak bersama di dapur villa.Hasilnya, Hazel kini berhasil membawa beberapa lembar gambar pemandangan alam yang sangat indah, sekaligus ingatan manis tentang bagaimana hangatnya suasana saat mereka berdua bekerja sama membuat makan malam selama dua hari terakhir."Aku... aku ti

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 54

    "Mas... pemandangannya cantik banget…" kagum Hazel saat dia baru saja melangkah turun dari mobil.Hazel berdiri mematung di tepi bukit dengan kedua mata yang berbinar cerah, menatap hamparan pemandangan hijau yang membentang luas di bawahnya.Di hadapan mereka, terlihat deretan pegunungan yang sangat megah dengan sisa-sisa kabut putih tipis yang bergerak lambat di sela-sela pepohonan pinus yang tinggi.Sebuah danau kecil berair jernih tampak tenang di dasar lembah, memantulkan warna langit pagi yang biru bersih tanpa ada awan mendung sama sekali.Udara pagi di puncak bukit itu terasa sangat bersih, segar, dan juga sangat dingin menyentuh kulit wajah Hazel yang putih bersih.Hazel memejamkan kedua matanya sejenak, menghirup udara pegunungan itu dalam-dalam, merasakan ketenangan yang luar biasa masuk ke dalam dadanya.Adrian yang berdiri di samping mobil perlahan berjalan mendekati Hazel, ia memperhatikan perubahan ekspresi wajah Hazel yang tampak sangat bahagia, membuat perasaan lega t

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 53

    "Mbak, suaminya sudah menunggu di dekat mobil sejak subuh tadi," ucap pengurus penginapan tua itu ramah saat melihat Hazel baru saja membuka pintu kamar dengan wajah panik.Hazel tertegun mendengar ucapan bapak tua itu, lalu buru-buru mengangguk pelan sebagai tanda terima kasih sebelum kembali masuk ke dalam kamarnya yang sunyi.Pagi itu, Hazel terbangun dengan kondisi kamar yang sudah sangat terang karena sinar matahari yang menerobos masuk di sela-sela dinding kayu penginapan tua tersebut.Ia langsung panik saat menyadari dirinya telah bangun kesiangan, dan sisi kasur di sebelahnya yang semalam ditempati oleh Adrian kini sudah kosong dan mendingin.Di atas meja kayu kecil di sudut ruangan, Hazel mendapati secarik kertas putih dengan tulisan tangan suaminya.“Mobil kita sudah selesai diperbaiki oleh mekanik yang datang subuh tadi. Saya sudah memindahkan semua koper kita kembali ke dalam bagasi mobil.”“Saya menyisakan satu tas jinjing berisi peralatan mandimu di atas meja. Bersiap-si

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 52

    "Saya tidak akan menyentuhmu tanpa izin darimu, Hazel. Jadi, kamu tidak perlu merasa setegang itu," ucap Adrian dengan nada suara yang sangat tenang.Kalimat itu diucapkan Adrian saat melihat Hazel yang masih berdiri mematung di samping tempat tidur dengan wajah yang memerah sempurna di bawah cahaya lampu kamar yang redup.Hazel langsung meremas ujung kaos panjangnya dengan sangat erat, merasa sangat malu karena ucapan spontannya yang mengajak tidur bersama tadi baru saja disetujui oleh suaminya."A-aku hanya tidak ingin Mas Adrian kembali jatuh sakit karena tidur di luar ruangan yang sangat dingin ini," jawab Hazel mencoba membela diri dengan suara lirih.Adrian mengangguk pelan, menghargai kekhawatiran istrinya yang tulus meskipun hatinya sendiri sebenarnya ikut bergetar mendengar ajakan yang cukup berani tersebut dari Hazel.Ia berjalan mendekati sisi tempat tidur bagian luar, lalu menarik selimut tebal yang melipat rapi di sana untuk mereka gunakan bersama-sama malam ini."Tidurlah

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 51

    "Mas Adrian sebaiknya segera mandi menggunakan air hangat agar tidak masuk angin lagi," ucap Hazel dengan suara yang sangat pelan.Hazel buru-buru memalingkan wajahnya ke arah samping, tidak berani lagi menatap tubuh bagian atas suaminya yang terlihat sangat kokoh itu.Adrian menatap Hazel dengan pandangan sedikit heran saat melihat reaksi istrinya yang tampak sangat gugup dan salah tingkah di hadapannya.Namun, Adrian tidak berpikiran macam-macam dan menganggap reaksi terkejut Hazel adalah hal yang biasa karena mereka memang jarang berada di situasi seperti ini.Adrian melangkah mengambil handuk kering yang ada di gantungan baju dekat pintu, lalu berjalan perlahan masuk ke dalam kamar mandi tanpa berkata apa-apa.Sebelum menikah dengan Hazel, saat Adrian masih tinggal bersama keluarganya di rumah utama keluarga Winata, melihat Adrian berjalan tanpa atasan setelah berolahraga atau berenang adalah hal yang sangat biasa bagi Bunda dan adiknya.Mereka berdua tidak pernah memberikan reaks

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 50

    "Mas yakin kita harus masuk ke sini? Tempat ini... terlihat sedikit tidak meyakinkan." Ucap Hazel Ragu.Lantas, gadis itu menatap bangunan kayu besar di hadapan mereka berdua dengan pandangan yang penuh waspada.Bangunan itu tampak sangat tua dengan cat cokelat yang sudah banyak mengelupas di berbagai sisi dindingnya.Suasana di sekitar tempat itu juga sangat gelap, sunyi, dan hanya menyisakan suara gemuruh air hujan yang turun semakin deras.Satu-satunya sumber cahaya di teras bangunan tersebut hanyalah sebuah lampu bohlam kuning kecil yang tampak berkedip sesekali.Kabut tebal yang turun dari arah gunung juga membuat jarak pandang mereka berdua menjadi sangat terbatas di kala sore menjelang malam itu.Adrian yang berdiri di samping Hazel sambil menjinjing dua koper besar dan tas mereka sebenarnya juga merasakan keraguan yang sama.Namun, ia tahu bahwa bertahan di dalam mobil yang mogok di tengah jalanan sepi dan gelap seperti ini jauh lebih berbahaya untuk keselamatan mereka."Saya

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 39

    Pagi harinya, suasana di meja makan terasa jauh lebih tenang. Adrian sudah rapi dengan setelan kerjanya, menyesap kopi hitam sambil sesekali memeriksa tablet di tangannya dengan raut wajah datar seperti biasa.Hazel duduk di seberangnya, berusaha menikmati sarapannya meski kepalanya masih memikirka

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 38

    Hazel masih mematung menatap layar ponselnya. Video Naura yang baru saja viral itu terus berputar di kepalanya, memberikan rasa puas sekaligus cemas yang aneh.Namun, bukan video itu yang benar-benar menyita pikirannya sekarang. Melainkan kata-kata Pak Darmawan yang terus terngiang seperti kaset ru

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 37

    Naura menatap Hazel dengan tatapan yang sulit diartikan. Sejak tadi, ia hanya mendengarkan Hazel bercerita tentang kekacauan di ruang rapat hotel kemarin dan bagaimana Adrian membongkar pengkhianatan orang dalam."Jadi, Damian dan Sherly benar-benar niat ya sampai sejauh itu?" tanya Naura pelan.Haz

  • Menikah Dadakan Setelah Disakiti Mantan   CHAPTER 31

    Hazel berjalan meninggalkan gerbang kediaman Adiwangsa tanpa menoleh sedikit pun. Langkahnya tidak terburu-buru, namun juga tidak ada niat untuk berhenti. Selain itu, Hazel bisa mendengar derap langkah Adrian yang mengejar di belakangnya, tetapi Hazel memilih untuk tidak peduli.Setiap inci dalam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status