Mag-log inMendengar itu, Bram gemetar menahan amarah, matanya langsung memerah. Selama bertahun-tahun, ia selalu merasa bahwa kakak dan kakak iparnya telah memikul tanggung jawab utama dalam merawat orang tuanya. Karena itu, ia lebih memprioritaskan mereka secara finansial dan materi, bahkan mengabaikan keluarga kecilnya sendiri. Namun siapa sangka, orang-orang yang ia besarkan justru tidak memiliki hati nurani! Suara Meilay terdengar dari dalam rumah. “Kalau Ibumu itu mati, apakah kita masih bisa dapat uang dari adikmu?” Kakak Bram, Ryan meludah dengan kesal. “Dapat apa?! Bram cuma guru miskin, tidak punya uang. Memangnya dia bisa punya berapa banyak?" "Aku sudah tanya ke agen properti, rumah mereka tidak ada nilainya. Kalau tidak, aku tidak akan nekat pinjam 500.000 yuan lalu kabur." "Siapa sangka kalian malah ambil 900.000 yuan, sementara aku sudah susah payah memikirkan cara menghidupi keluarga ini!” Meilay mengerutkan bibir. “Tapi dengar, Aria sekarang sepertinya sudah terke
Tepat saat Bram hendak berbicara, pria tua di hadapannya mengangkat tangan, memberi isyarat, “Ssst. Ikutlah denganku.”Bram menatap pria itu sejenak. Usianya tampak lebih dari sepuluh tahun lebih tua darinya. Wajahnya tidak menunjukkan tanda-tanda sebagai orang jahat, sehingga ia pun mengikuti pria itu menuju sebuah ruang privat di kedai teh.“Tuan, ada apa Anda membutuhkan saya?”Pria tua itu mengeluarkan ponselnya, membuka foto Bobby, lalu menunjukkannya kepada Bram, “Apakah kau sedang mencoba mengikutinya?”Bram terkejut. “Bagaimana Anda tahu?”Pria tua itu menjawab tegas, “Karena aku juga telah menyelidikinya… selama bertahun-tahun.”Hati Bram semakin yakin bahwa Bobby bukan orang baik. Ia segera bertanya, “Mengapa Anda menyelidikinya? Apakah Anda polisi?”Namun, ia langsung merasa ada yang janggal. Orang seusia ini seharusnya sudah pensiun.“Karena putriku telah ditipu olehnya!” suara pria tua itu tiba-tiba menjadi berat. “Dia menipu hati dan tubuh putriku hingga membuatnya bunuh
Setelah berbicara, Della melirik dua pria yang tampak “rukun” itu—keduanya sedang sibuk memecahkan kenari… Apakah mereka benar-benar seharmonis itu? Menikmati “berkah” memilik dua suami? Sebuah bayangan yang tidak pantas tiba-tiba muncul di benak Della: dua pria tampan luar biasa, satu menyuapi Anatasya kenari, yang lain memijat bahunya. “Um… apakah aku datang di waktu yang salah?” Anatasya memutar matanya. “Cepat, langsung ke intinya.” Della mengambil tablet, berjalan mendekat, lalu membuka sebuah video pendek. “Lihat ini, kakak ipar korban sudah muncul dan mengungkap detailnya.” Anatasya dan Ainsley tanpa sadar menatap wanita dalam video itu—sekitar berusia tiga puluhan. Dengan marah, wanita itu berkata kepada wartawan, “Adik ipar saya masih dirawat di ICU, nyawanya di ujung tanduk, tapi Yayasan Amal Jiangcheng yang katanya itu bahkan tidak datang menjenguk! Ini keterlaluan!""Adik ipar saya hanya ikut kelas ‘kebajikan pria’ beberapa hari. Setelah pulang, dia mengalami ganggu
Anya tidak menjawab, tenggelam dalam kesedihannya.Cinta?Dia sendiri tidak begitu yakin. Dia hanya tahu bahwa Jhon dan Leah adalah keluarganya. Kehilangan Jhon sama seperti kehilangan seseorang yang dicintainya.Perasaan yang samar dan rumit itu bahkan belum sempat menemukan jawabannya sebelum Jhon meninggal, apalagi sekarang setelah dia tiada.Setelah rambutnya dikeringkan, Anya langsung berbaring di tempat tidur Bima.“Tanganku terkilir, tidak nyaman kalau tidur di sofa,” ucapnya.Bima: ..…Setelah itu, Anya menatap Bima dengan mata jernihnya dan berkata polos, “Aku akan berbaring, tolong selimuti aku. Tanganku terkilir.”Bima: ...…Ia, yang akhirnya memilih tidur di sofa, merasa dirinya benar-benar payah.Saat berbaring, ia tiba-tiba terpikir untuk membeli pakaian untuk Anya.Karena tidak tahu ukurannya, dia diam-diam bangun, berjingkat menuju tumpukan pakaian, dan mengambil bra merah muda milik Anya.Kebetulan saat itu Anya bangun hendak ke kamar mandi dan melihatnya.Bima: …!!!
Anya berteriak, meraih kepala pancuran, lalu menghantamkannya ke kepala Bima.Bug!“Kau—kau mesum!”“Bima, kau benar-benar mesum!”“Aku akan memukulmu sampai mati!”Hantaman kepala shower itu membuat Bima tertegun sesaat. Begitu sadar, ia segera meraih lengan Anya dan secara refleks memelintirnya.Krak!Lengan Anya langsung terkilir.“Sakit... sakit... sakit...”Punggung Anya menghadap Bima, satu lengannya terpelintir di belakang punggung, memperlihatkan punggungnya yang telanjang.“Sakit... Bima, tanganku terkilir...”Tangis kesakitannya membuat kepala Bima berdenyut. Ia segera memalingkan wajahnya, sedikit canggung. “Siapa yang menyuruhmu memukul kepalaku?”Sebagai pengawal Ainsley, sebagian besar reaksinya bersifat refleks.“Tidak mungkin aku membiarkan seseorang memukul kepalaku begitu saja.”“Tapi kau mengintipku saat aku mandi! Kalau aku tidak memukulmu, lalu siapa yang harus kupukul?!”Anya menghentakkan kaki dengan marah, semakin kesal.Bima masih mencengkeram lengannya. “Aku
“Aku kesal.” Ainsley melonggarkan dasinya dengan jengkel.“Apa yang mengganggumu?” Tuan Addison berhenti sejenak, lalu menyingkirkan bidak catur di tangannya.Ainsley menjelaskan situasinya secara singkat. “Meskipun aku tidak percaya pada metafisika, masalah ini memang terasa agak misterius.""Anna tampaknya merasa tidak enak badan jika terlalu lama jauh darinya, tetapi Dipta tidak menemukan sesuatu yang salah pada tubuhnya.""Sejak kecil, aku selalu menghormati sains. Namun, dalam kehidupan nyata, memang ada beberapa hal yang tidak dapat dijelaskan oleh sains.""Di banyak pulau misterius, sihir masih diyakini ada. Bahkan di Tiongkok, beberapa peramal mampu memprediksi hal-hal yang tidak diketahui dengan cukup akurat.""Meskipun di dalamnya ada unsur probabilitas, perjudian, dan analisis data besar, kita tetap tidak bisa sepenuhnya menyangkal keberadaan metafisika.”Ainsley mempercayai sains.Namun, dia khawatir jika sudut pandangnya yang terlalu sempit justru akan memengaruhi penilai
Shopie menyalakan kamera ponselnya untuk melakukan siaran dan melangkah cepat ke arah kerumunan. Senyum sinis tersungging di bibirnya."Semuanya, lihat ini! Aku sekarang berada di Yayasan Amal Jiangcheng."Ia mengangkat kameranya, memperlihatkan keributan di depan. "Coba tebak apa yang kulihat? Rel
Setelah semua urusan mengenai Alfred selesai, Anatasya akhirnya bisa bernapas lega. Tubuhnya terasa letih luar biasa, jadi ia merebahkan diri di kursi malas, membiarkan matanya perlahan terpejam.Sementara itu, Ainsley yang baru saja selesai rapat mendengar kabar kejadian di lantai atas. Tanpa piki
Mata Shopie meredup. Ia menyerahkan sebuah daftar dan foto kepada Tian Mei dengan santai, bibirnya melengkung tipis.“Kita bersaudara. Aku tak tega melihat gelarmu dirampas oleh orang seperti dia.”Tian Mei menerima dokumen itu dengan girang. Saat ini, posisinya berada di urutan kedua. Anatasya mas
"Sa… saat wawancara. Manejer bilang aku harus menari sekali dulu, lihat reaksi penonton, baru bisa diputuskan apakah aku diterima atau tidak." Jantung Lili berdebar kencang, sama seperti anak magang yang takut salah bicara di depan bos dan kehilangan kesempatan menjadi karyawan tetap."Manejer juga







