LOGINSelena segera berbalik dan berjalan cepat menuju ujung lorong. Ia berusaha menjaga langkahnya tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. "Hei! Tunggu!" Seseorang keluar dari ruangan dan memanggilnya. Selena tidak menoleh. Ia terus berjalan sampai akhirnya berbelok ke area parkir kecil di samping gedung. Adrian yang sejak tadi menunggu tidak jauh dari sana langsung menghampirinya. "Ada apa, Nyonya Selena?" "Kita harus pergi dari sini." Adrian mengamati wajahnya. "Apa yang terjadi?" "Aku mendengar percakapan yang mencurigakan. Mereka sedang membicarakan pengiriman barang, perubahan catatan, dan cara menyembunyikan jumlah sebenarnya dari kantor pusat." Wajah Adrian berubah serius. "Apakah mereka melihat Anda?" "Aku tidak yakin. Tapi seseorang sempat memanggilku." Adrian segera memeriksa keadaan sekitar. "Kita sebaiknya kembali ke penginapan dan menyusun langkah berikutnya." Selena mengangguk, tetapi sebelum mereka mencapai kendaraan, ponselnya bergetar. Sebuah
Satria segera mengalihkan pandangan. "Tidak. Aku hanya merasa pernah melihatnya." Kevin tidak bertanya lebih lanjut. Satria memasukkan kedua tangan ke saku celananya, lalu memperhatikan Selena yang sedang berbicara dengan seseorang di dekat pintu masuk. Ia ingin segera menghampiri istrinya, memastikan bahwa semuanya baik-baik saja, lalu membawanya pergi dari tempat yang mulai terasa mencurigakan itu. Namun, ia mengurungkan niatnya. Ia sudah berjanji akan membiarkan Selena menjalankan penyelidikannya sendiri. Selain itu, kehadirannya di pulau tersebut bukan hanya untuk mengawasi istrinya. Ia juga harus menyelesaikan persoalan proyek yang ternyata memiliki hubungan dengan perusahaan itu. "Kevin," panggilnya. "Ya, Tuan?" "Jadwalkan pertemuan dengan pengelola kawasan industri. Jangan sebutkan namaku kepada pihak PT Arunika Sejahtera terlebih dahulu." "Baik." "Dan satu lagi." Satria kembali menatap Selena. "Cari tahu siapa saja yang memiliki akses terhadap catatan pengirima
Pak Damar, Direktur operasional yang namanya pernah disebut oleh para karyawan. Inilah orang yang bertanggung jawab mengurus kegiatan perusahaan sehari-hari. Seorang pria yang tampaknya lebih tertarik menikmati waktu di ruang berpendingin udara daripada mencari solusi atas kesulitan yang sedang dihadapi para pekerjanya. Selena hendak melangkah pergi ketika suara lain terdengar dari dalam ruangan. "Kalau boleh jujur, saya justru tidak mengerti mengapa kita harus repot-repot mempertahankan perusahaan ini," ujar seorang pria yang lebih muda. "Kalau perusahaan dinyatakan bangkrut, bukankah kita bisa mengurus bisnis lain?" Selena membeku mendengar percakapan orang-orang itu. Damar terkekeh. "Kau pikir semuanya sesederhana itu?" "Setidaknya, kita sudah punya pegangan untuk memulai usaha baru." "Jangan bicara terlalu keras," tegur Damar, meskipun nada suaranya tidak menunjukkan kekhawatiran yang berarti. "Belum waktunya." Pria muda itu merendahkan suaranya. "Bagaimana dengan p
Laporan yang diterimanya hanya menyebutkan keterlambatan pembayaran gaji pada sebagian karyawan dalam beberapa pekan terakhir. Ia meminta sopir menghentikan kendaraan."Maaf," kata Selena pada dua pria setelah turun dari mobil yang ditumpanginya. "Apakah kalian bekerja di PT Arunika Sejahtera?"Keduanya menoleh. Mereka tampak sedikit curiga terhadap perempuan asing yang tiba-tiba mendekati mereka."Iya. Memangnya kenapa?""Apakah benar pembayaran gaji sedang bermasalah?" Selena langsung to the point tanpa basa-basi. Pria yang lebih tua tertawa hambar. "Bermasalah? Itu sudah terlalu halus untuk menggambarkan keadaan kami, Bu. Kenapa Anda sangat ingin tahu. Apakah Ibu pegawai baru di sini? Sayang sekali. Anda bekerja di tempat yang salah."Selena menahan keterkejutannya. "Apa maksud Anda?""Sudah dua bulan gaji kami tidak dibayar penuh. Ada yang menerima sebagian, ada yang belum menerima sama sekali. Katanya perusahaan sedang kesulitan keuangan.""Apakah Anda yakin. Ini perusahaan besa
Di sebuah kamar hotel yang terletak tidak jauh dari pelabuhan keberangkatan, Satria berdiri di depan cermin sambil memasang jam tangannya. Kemeja putih yang dikenakannya telah diganti dengan kemeja abu-abu gelap. Ia juga mengenakan jaket kasual dan membawa sebuah tas kerja hitam. Penampilannya tidak mencolok seperti ketika ia menghadiri rapat direksi Young Group.Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari asistennya.Proyek pengembangan kawasan industri di Pulau Arunika sudah memasuki tahap negosiasi akhir. Pihak setempat meminta kehadiran Anda untuk menyelesaikan beberapa persoalan terkait lahan dan distribusi bahan baku.Satria membaca pesan itu, lalu mengetik balasan singkat.Saya akan tiba hari ini. Jangan umumkan kedatangan saya kepada pihak mana pun sebelum saya memberikan instruksi.Setelah mengirim pesan, ia membuka percakapan lain.Nama Selena tertera di layar. Satria menatapnya beberapa saat sebelum menggeleng kecil."Benar-benar keras kepala," gumamnya sambil tersenyum tip
Satria mengusap wajahnya, lalu mengembuskan napas panjang. "Sepertinya aku tidak punya pilihan lain selain menerima keputusanmu." Selena tersenyum kecil. "Kau selalu punya pilihan. Kau bisa memilih untuk mempercayaiku. Setidaknya, aku ingin buktikan pada keluargamu kalau akulah yang paling layak menjadi pendamping hidupmu. Sampai sekarang, keluargamu masih belum menerimaku sepenuhnya." Satria menatapnya cukup lama sebelum akhirnya tertawa pendek. "Mereka menerimamu, hanya belum menunjukkannya padamu. Kau tahu apa masalah terbesarku sekarang?" "Apa?" "Istriku ternyata jauh lebih keras kepala daripada yang kubayangkan." Selena tertawa. "Dan kau baru menyadarinya sekarang?" Satria menggeleng pasrah. "Tidak. Aku sudah mengetahuinya sejak lama. Hanya saja, aku selalu berharap suatu hari nanti kau akan sedikit lebih mudah dibujuk." "Sayangnya, harapanmu itu tidak akan pernah terwujud." "Ya, aku mulai menyadarinya.""Tapi aku bersyukur bertemu denganmu. Jika tidak, mungkin ak







